WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 149


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


“Apa Kak Irsyad ingat kalau kurang lebih dua minggu yang lalu aku mengirimkan Kakak pesan chat? ...”


Pertanyaan itu yang keluar dari mulutku setelah aku membuat sedikit sekali kegaduhan dari tempatku duduk.


Selepas Kak Irsyad bicara panjang lebar, dimana aku membiarkannya bicara sesuai dengan permintaannya.


Karena aku ingin menghargai Kak Irsyad. Itu saja.


Namun lama – kelamaan ucapan Kak Irsyad semakin membuat hatiku tak karuan.


Bukan ga karuan karena baper, tapi tak karuan karena aku mulai merasa tidak nyaman.


Tidak nyaman, karena semakin lama ucapan Kak Irsyad semakin menyentil hubunganku dengan Reiji.


Paham sih mengapa Kak Irsyad berbicara seperti itu padaku.


Dan aku merutuki diriku untuk itu. Untuk sikapku saat aku masih merasa mencintainya beberapa waktu yang lalu.


Sikap yang aku sungguh sesali sekarang, karena seolah itu menjadi boomerang untukku.


Haahh ...


Kenapalah aku harus menunjukkan sikap aku yang putus asa karena perjodohan?.


Dan kenapalah harus aku tunjukkan itu pada Irsyad?.


Sekarang malah jadi merepotkanku, karena Irsyad jadi berpikir seolah aku minta dibebaskan dari beban pernikahanku yang atas perjodohan dengan Reiji.


Hingga Irsyad jadi terang – terangan seperti ini serta kejauhan.


Dari mulai Irsyad yang mengatakan jika ia mencintaiku.


Yang mana aku sudah tahu – karena ia sudah pernah mengungkapkannya padaku.


Penyesalannya ...


Harapannya ...


Sampai – sampai melibatkan Tuhan.


Dan hal gila yang membuatku sampai menganga.


“.. kalau perlu aku yang bicara dengan suami kamu dan mengatakan padanya kalau kita saling mencintai –“


Aku ingin menyergah, tapi Irsyad selalu saja menyambar ucapanku, jadi aku biarkan saja dulu.


Tapi makin kebelakang, ucapan – ucapan Irsyad kian membuatku tidak nyaman.

__ADS_1


Mau membantuku lepas dari belenggu perjodohanku – kata Irsyad.


Yang langsung aku sergah tanpa peduli lagi jika Irsyad merasa tersinggung.


Terlebih, dia hendak mencium punggung tanganku bak seorang kekasih. Yang mana tentu saja tidak aku biarkan hal itu terjadi, sampai aku menyentak untuk menarik tanganku lepas dari genggaman Irsyad yang sempat menahannya.


---


“Iya, aku ingat ...” jawab Irsyad atas pertanyaanku perihal apa ia mengingat kata – kataku dalam chat yang aku kirimkan padanya kurang lebih dua minggu yang lalu.


“Berarti seharusnya Kakak sudah paham dengan apa yang aku katakan pada chatku itu--- Karena dalam chatku aku rasa aku sudah cukup jelas mengatakan, jika kita seharusnya mulai menjaga jarak. Ada hati yang harus aku jaga ...“


Aku mencengkram tanganku sendiri di bawah meja.


Untuk mengalihkan kegugupanku, selain aku tidak ingin Irsyad sampai menggenggam tanganku lagi seperti tadi.


“Hati suamiku— Karena aku sudah mencintainya.”


Well, aku tidak punya pilihan. Dan aku putuskan untuk mengatakan apa yang tadinya aku katakan padanya setelah aku bicara dulu dengan Reiji. Tapi berhubung aku sudah bertemu duluan dengan Irsyad sebelum aku sempat berdiskusi dengan Reiji, jadi ya sudah.


“Lia-“ Irsyad bersuara.


“Maaf jika sikap aku selama ini sejak kita ketemu lagi membuat Kak Irsyad berpikir kalau aku merasa terbebani dan tersiksa dengan pernikahanku.”


Namun sebelum Irsyad lanjut bicara, aku memotongnya.


Karena aku harus segera membuat Irsyad berhenti menyimpan perasaan cintanya untukku.


Serta juga menghentikan pikiran konyol Irsyad yang secara tidak langsung memintaku untuk bercerai dengan Reiji.


“Iya, sudah.” jawabku cepat.


Karena aku juga ingin segera pergi dengan cepat dari tempatku berada sekarang.


“Aku ga percaya...”


Akupun tidak percaya dengan reaksi Irsyad.


Kenapa Irsyad harus bilang kalau dia ga percaya dengan ucapanku yang mengatakan jika aku sudah mencintai suamiku?...


Tapi sudahlah, aku tidak ingin ambil pusing. Jahat sih bila aku katakan ini, aku tidak peduli Irsyad percaya atau tidak kalau aku telah mencintai Reiji.


Yang jelas aku harus segera mengakhiri pembicaraan dengan Irsyad ini, karena waktu istirahat kantor sudah hampir habis. Dan aku butuh waktu beberapa menit untuk sampai ke gedung perkantoran tempatku bekerja.


“Maaf Kak Irsyad –“ tukasku. “Aku tidak meminta kakak percaya atau tidak atas apa yang aku ucapkan. Aku rasa pun aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Aku mencintai suamiku. Itu saja.”


Aku melihat raut kekecewaan yang amat sangat di wajah Irsyad.


Tapi mau bagaimana? Aku kan harus memberi penegasan padanya?.


“Dan maaf, kalau aku harus segera pergi, karena waktu istirahatku hampir habis..”


Lalu aku bersiap bangkit dari dudukku. Irsyad menahanku.

__ADS_1


“Lia—“ ucap Irsyad, sambil memegang lenganku.


“Sekali lagi aku minta maaf Kak, maaf untuk membuat pengorbanan kakak kembali ke Jakarta jadi sia – sia, jika memang itu karena aku. Tapi aku sungguh bahagia dengan pernikahanku, dan aku mencintai suamiku..”


Aku tersenyum, sambil memegang lengan Irsyad untuk melepaskan pegangannya pada lenganku. Kemudian aku memundurkan kursiku dan segera berdiri dari dudukku.


“Aku harus segera kembali ke kantor—“ ucapku. “Permisi, Kak—“ sambungku. “Terima kasih dan maaf.”


“Lia..”


Aku mendengar Irsyad memanggilku.


Tapi aku tetap melangkahkan kakiku untuk segera keluar dari restoran.


Maaf, Kak Irsyad.


**


Suasana di gedung perkantoran tempat Malia bekerja nampak ramai, karena para karyawan telah selesai makan siang dan hendak kembali ke lantai kerja mereka masing-masing.


Sebagian sudah berdiri di depan pintu empat lift dimana yang dua telah terbuka. Dan mereka yang berdiri didepan pintu lift yang sudah terbuka tersebut, berhambur masuk dengan tertib ke dalam lift.


Sementara dua lift lagi belum terbuka, dan banyak karyawan yang sudah berdiri dengan setia di depan pintu lift yang masih tertutup tersebut. Termasuk Malia yang pasrah berada di gerombolan belakang-dan harus menunggu lagi untuk mendapat giliran masuk ke dalam lift, karena lift telah memenuhi kapasitas maksimal.


Mau tidak mau, ya Malia harus pasrah untuk menunggu kembali ada lift yang sampai ke lantai tempat lobi gedung berada. ‘Mudahan Irsyad ngerti dengan apa yang gue tegasin tadi.’ Malia sambil membatin seraya ia bersandar di salah satu dinding yang ada di antara empat lft.


Mata Malia sesekali melihat ke arah pintu masuk lobi, karena ia memiliki sedikit kekhawatiran jika Irsyad menyusulnya. Tapi berkali-kali Malia meyakinkan hatinya jika hal itu tidak akan terjadi. Malia yakin jika apa yang ia katakan serta sikapnya pada Irsyad-yang pasti mengecewakan Irsyad, sudah cukup jelas dimengerti oleh lelaki dari masa lalunya itu.


Malia memijat pelan pelipisnya sambil ia mengingat setiap ucapan Irsyad di restoran tadi.


‘Gila kali mau nemuin Rei buat minta gue.’ Gerutu Malia dalam hatinya. Sambil ia masuk ke dalam salah satu lift yang telah terbuka pintunya bersama beberapa karyawan lain yang tidak Malia kenal.


Yang Malia syukuri karena dirinya sedang enggan berbasa-basi saat ini.


***


Malia sudah keluar dari lift setelah ia sampai di lantai kantornya, dan ia pun langsung masuk ke kantornya itu setelah melewati pintu kaca yang memisahkan bagian kantor dan area lift.


“Mba Lia!”


Seorang resepsionis yang Malia akui kecantikannya itu memanggil dirinya.


“Iya cantik? ..” sahut Malia sambil mendekat pada si resepsionis. “Aya naon?”


“Aya Guest cari Mba Lia.”


“Siapa? ..”


“Suaminya.”


“Hah?!”


“Iya, udah nungguin dari tadi pas Mba Lia keluar maksi.”

__ADS_1


**


Bersambung ..


__ADS_2