
Selamat membaca...
***
“Aku terganggu dengan ucapan kamu tadi, Yang.” Rei berucap datar, namun wajahnya nampak sedikit kurang bersahabat.
“Ucapan aku yang mana, Rei?----“
Malia menanggapi ucapan Reiji sebelumnya.
“Yang bilang kalau aku janjian sama itu perempuan... Aku ga suka dicurigain gitu...”
Reiji lanjut bicara, mengeluarkan sedikit unek – uneknya pada Malia, yang telah sampai di unit apartemen mereka sejak beberapa menit yang lalu – dimana sebelumnya Malia tertahan di luar pintu unit apartemen karena ada tamu yang tidak diundang, meskipun tamu tersebut pada akhirnya tidak dipersilahkan masuk oleh Reiji dan Malia.
“Ya maaf. Aku ga ada maksud----“
“Di maskapai, perempuan yang notabene mungkin lebih cantik dari dia itu banyak banget, Yang. Kalau aku mau curang di belakang kamu, ngapain aku main sama yang istilahnya deket sama mata kamu? - Aku bisa lebih leluasa having affair sama pramugari atau bahkan sama penumpang kalau aku macem laki – laki yang ga bersyukur punya istri yang cantiknya bukan main di rumah...”
Malia menggigit bibir bawahnya.
“Diabisin tehnya. Abis itu langsung bersih – bersih.”
Reiji berucap datar, sambil melengos dari pantri.
“Rei...” Malia menahan lengan Reiji. “Maaf----“ sambung Malia. “Ga ada maksud bikin kamu marah...”
“Hh----“
Reiji menghela pelan nafasnya.
Lalu Reiji menghadapkan Malia padanya.
“Aku ga marah, Yang----“
Reiji kemudian berujar, dengan Malia yang mendongak sedikit menatapnya.
“Cuma agak kesel aja disangkain begitu sama kamu,” lanjut Reiji. “Setelah semua yang aku lakukan, tunjukkan kalau aku ga akan macem-macem di belakang kamu----bahkan kartu atm aku kamu tahu pinnya, termasuk pin m-banking aku, lalu password ponsel kalau aku lupa menonaktifkannya saat pulang kerja... sampai aku persilahkan kapan aja kamu mau dateng kah, telfon kah ke kantor atau ke bandara----tapi aku masih kamu ragukan gini...”
***
“Maaf sekali lagi...“
Malia berucap lirih.
Di detik berikutnya Reiji mengulas senyuman. “Jangan diulangi lagi, oke?----“
“Iya...”
Malia dengan cepat menyahut.
Reiji meninggikan ulasan senyumnya. Lalu membawa tubuh Malia ke dalam rengkuhannya.
__ADS_1
***
MALIA
Aku balas memeluk Rei yang merengkuhku mesra.
“Ya udah, diabisin dulu tehnya----“
“Iya..”
Aku melonggarkan pelukanku saat menjawab ucapan Rei.
“Kamu beneran udah makan?..”
“Kamu?..”
“Kebiasaan kan kalo ditanya malah nanya balik?..”
Sambil Rei memencet gemas hidungku.
“Aku udah makan. Kan tadi aku udah bilang waktu tanya lewat chat----“
“Tapi beneran kan udah makan kamunya?”
Aku kembali bertanya untuk memastikan.
Rei mengangguk.
Aku mendengus geli kemudian.
“Ya udah nih makan,” godaku.
“Serius nih???----“
“Ya udah kalo ga mau......”
“Dih, enak aja. Rezeki nomplok masa ditolak?”
Aku terkekeh kecil sambil setengah berlari ke arah kamar mandi dan Rei mengejarku.
****
“Aku seneng kalo kamu cemburu.”
Reiji berucap selepas acara mandi bersamanya dengan Malia, meski Reiji sebenarnya sudah mandi tak lama setelah ia sampai di unit apartemennya dan Malia selepas pulang bekerja beberapa jam sebelumnya.
“Tapi ga juga nyangkain aku masukin cewe ke sini saat kamu ga ada, Yang,” tambah Reiji.
“Ya abis, momennya pas banget dia nyamperin kamu ke sini pas akunya lagi ga ada?”
Malia mengatakan apa yang tadi ada di pikirannya.
__ADS_1
“Ya aku was-was dong? –“
Cup.
“Besok aku beli CCTV,” ucap Reiji selepas memotong ucapan Malia dengan sebuah kecupan di bibir.
****
MALIA
Aku sungguh tidak menyangka, jika Rei serius dengan ucapannya soal membeli CCTV yang kata Rei akan di pasang di luar pintu unit apartemen kami.
Bahkan Rei bilang mau pasang di setiap sudut unit apartemen kami, agar tidak sedikitpun aku meragukan atau mencurigainya lagi.
Dan aku merasa geli sekaligus terharu juga disaat yang bersamaan.
Sampai seperti itu Rei melakukan hal untuk membuatku yakin padanya.
Jadi Rei yang libur hari ini itu menjemputku sepulang kerja dan mengajakku pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, dimana ada beberapa toko elektronik yang menjual perangkat CCTV segala rupa lalu membeli beberapa set CCTV candid yang nantinya akan dihubungkan layar kameranya di ponselku dan ponselnya.
Yang mana sempat aku katakan tidak usah, tapi Rei tetap kekeh untuk membeli CCTV yang nantinya akan dia pasang di area unit apartemen kami.
Dimana kata Rei, “Aku ga mau kehilangan kamu, Yang...... Dan untuk itu aku akan melakukan segala hal agar kamu yakin ke aku-selain membuat kamu terus cinta ke aku. Supaya ga ada alasan buat kamu untuk ninggalin aku. Termasuk pasang CCTV begini biar kamu bisa liat aku ngapain aja saat kamu lagi ga ada di deket aku, semata-mata agar jangan lagi kamu secuil pun ragu atas cinta dan setia aku ke kamu.”
Ya Tuhan, beruntungnya Engkau membuka mataku untuk melihat seorang Reiji Shakeel dan memilihnya.
****
Hari – hari Malia berlalu dengan rasa senang dan bahagia di setiap detiknya.
Terlebih, pembicaraan soal memiliki momongan sudah tercetus dari mulutnya dan Reiji.
Lalu cetusan soal program memiliki bayi sudah mulai direncanakan dan akan segera direalisasikan dengan segera.
Selain, dengan ijin Sang Pencipta tentunya.
Sudah tenang hidup Malia rasanya dalam satu bulan ini, terutama dari bayang-bayang pria yang Malia pernah cintai dimasa lalunya.
Yang pernah ia puja dan mimpikan hidup bersama dengan pria itu di masa depan.
Namun semua itu Malia hilangkan, setelah satu perlakuan yang Malia kurang ajar dari pria tersebut.
Dimana rasa tak terima Malia masih mendominasi sampai sekarang atas perlakuan dari pria itu padanya pada suatu hari yang telah lalu.
Lalu ancaman terlontar dari Malia pada pria dari masa lalunya tersebut, yang Malia pikir memang pria itu terima dengan serius karena dalam satu bulan ini tak ada tanda-tanda ataupun gangguan nyata dari pria tersebut.
Namun hari ini ...
“Lia ... Apa kabarnya kamu?”
*****
__ADS_1
Bersambung............