WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 164


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


“Y-Yang? –“


Aku terkejut bukan main saat aku masuk ke dalam kamarku dan Lia setelah aku selesai dengan ponselku.


Mataku seketika membola, dengan jakunku yang tidak bisa aku kontrol untuk bergerak naik turun saat aku mendapati pemandangan di depanku.


Pemandangan yang sungguh membuatku ser-ser-an karena sungguh meresahkan hingga membuatku menegang, saking pemandangan itu terlalu menggiurkan.


Betapa tidak menggiurkan, jika saat ini aku disuguhkan dengan pemandangan, dimana Lia menggunakan sebuah lingerie dengan warna merah menyala, juga cukup menerawang.


Bikin penasaran.


Jadi aku ingin lebih memastikan pandangan, dengan melangkahkan kakiku untuk mendekat pada Lia yang berdiri tak jauh dari walk in closet, karena ia baru saja keluar dari sana saat aku masuk ke kamar kami.


Aku sudah dibuat sedikit megap-megap ketika melihat penampilan Lia saat ini untuk yang pertama kalinya tadi. Dan semakin megap-megap ketika kini aku telah begitu dekat dengan Lia, dimana pemandangan yang menerawang tadi sedikit lebih jelas di mataku.


Pakaian yang Lia pakai itu kurang bahan, tapi sumpah aku bahkan lebih ingin mengurangi bahannya, agar dapat lebih lagi memanjakan indra penglihatanku atas tubuh Lia ditiap lekuknya, dan setelahnya aku buat tanda di setiap incinya.


“L-ia, kamu .....” ucapku dengan suara yang sedikit tercekat, karena sibuk menelan saliva karena sebagian bukit kembar tak berbunga milik Lia itu menyembul meresahkan dari dalam gaun tidur dengan potongan rendah di bagian dadanya.


Lia tersenyum dan memandangku malu-malu.


“Kamu .... suka?” Lia bersuara kemudian, bertanya dengan sedikit tergugu.


Apa kata Lia? ....


Suka? ....


Oh man, I love it!


Lia nampak menunggu jawabanku, dengan menatapku harap-harap cemas, sambil dia menggigit bibir bawahnya.


Menggemaskan!

__ADS_1


“Aku bloon atau mungkin buta kalo aku bilang ga suka Yang.”


Aku hanya bisa jujur.


“Aku lega kalo kamu suka Rei-“ ucap Lia dengan menyentuh dadaku.


Tubuhku yang tadi sempat meremang hanya dengan melihat penampilan Lia saja, kini semakin meremang saat Lia menyentuh dadaku pelan, padahal aku masih mengenakan kaos.


“Tadinya aku ragu mau beli, karena takut ga pantes pake baju kayak gini.” Sambung Lia, sambil memandangku ragu-ragu dan tangan yang bergerak pelan di dadaku.


“Besok beli yang banyak-“ ucapku dengan nafas yang sudah semakin memburu dari sebelumnya karena sentuhan Lia di dadaku yang membuat darah kelakianku bergejolak.


****


Setelah ucapan terakhir Reiji pada Malia, tanpa menunggu lagi, Reiji langsung menyambar bibir Malia, saking Reiji sudah terdesak hasrat.


Kedua tangan Reiji sudah dengan cepat mengangkat tubuh Malia, dan menggendongnya ala bridal.


Reiji membaringkan tubuh Malia di atas ranjang mereka yang putih bersih itu dengan belum melepaskan tautan bibirnya dan Malia.


Lalu sesaat Reiji mengangkat sedikit kepalanya, hingga tautan bibirnya dan Malia terlepas. Mengangkat perlahan tubuhnya, hanya untuk sekedar memandangi keindahan lekuk tubuh Malia yang terpampang menggoda dihadapannya.


“Anda benar-benar menggoda iman saya, Nyonya Reiji Shakeel ....”


Sementara satu tangan Reiji lainnya menelusuri dengan perlahan dan lembut kulit wajah Malia, hingga sampai ke leher.


Malia terkekeh mendengar ucapan Reiji, namun kemudian menggigit bibir bawahnya karena sentuhan Reiji di wajah dan lehernya.


“I love you, Nyonya Reiji Shakeel ....”


Reiji berbisik mesra.


Lalu dengan cepat juga Reiji menyambar bibir Malia, tanpa memberikan kesempatan bagi Malia untuk membalas kalimat mesranya.


Reiji tersenyum di sela ciumannya dan Malia, karena istrinya itu membalas dengan sangat manis ciumannya.


Membuat Reiji enggan untuk berhenti menikmati satu-satunya bibir yang membuatnya candu itu.


Namun, ada hal lain yang Reiji rasanya tak tahan untuk ia nikmati juga selain bibir Malia.

__ADS_1


Hingga akhirnya ciuman Reiji mulai menjalar. Dari bibir hingga ke leher Malia. Lalu bahu mulus Malia pun disapu Reiji dengan kecupan tanpa celah sedikitpun.


Dan dua tali tipis yang mengganggu kemulusan bahu Malia itu Reiji turunkan dengan perlahan, termasuk kain yang menyambung dengan dua tipis tersebut, yang kemudian juga perlahan ikut diturunkan, hingga merosot ke bawah kaki Malia.


Merosotkan juga, sepotong kain transparan di balik gaun tidur Malia yang sudah lolos dari tubuh istrinya itu.


Lalu cumbuan pada tubuh Malia, kembali Reiji lakukan. Yang mana korban cumbuan itu menggigit bibirnya sendiri dengan kelopak mata yang terpejam, karena tak tahan dengan sensasi cumbuan yang suaminya sedang berikan saat ini. Bergerak gelisah, menikmati rasa, yang Malia sukar ungkapkan dengan kata-kata.


Reiji mengangkat tubuhnya dari atas Malia.


Meninggalkan Malia sejenak, hanya untuk membuka celana pendeknya. Lalu Reiji memposisikan dirinya duduk di atas tempat tidur, dengan punggungnya yang ia sandarkan di sandaran tempat tidur pribadinya dan Malia tersebut.


“Touch me, just like I’ve touched you (Sentuh aku, sebagaimana aku menyentuhmu)” bisik Reiji parau, sambil Reiji menarik tubuh Malia, hingga istrinya itu kini berada di atas pangkuannya. Malia mengangguk.


Malia mencumbu Reiji sebagaimana Reiji mencumbunya tadi.


Dimana Malia, sudah tak punya rasa canggung lagi, untuk saling melakukan hubungan simbiosis mutualisme dengan kegiatan panasnya bersama sang suami, yang akan Malia prioritaskan keinginannya.


Terutama dalam hal ini, hubungan suami istri.


Dimana Malia, akan memberikan ‘service’ terbaiknya untuk Reiji.


Hingga kemudian suara geraman tertahan Reiji terdengar, karena sudah tak tahan untuk segera melakukan ‘pengeboran’.


Lalu dua insan itu saling mendesis, ketika bor sudah memasuki gua dengan sempurna. Nafas Malia selalu saja tersengal jika ‘alat bor’ Reiji itu tertanam di tubuhnya.


Padahal seharusnya Malia sudah biasa.


Namun tidak, Malia masih saja akan terkesiap jika alat tersebut masuk ke dalam gua.


Reiji tersenyum memperhatikan wajah Malia. Dan didetik berikutnya, Reiji yang tak ingin membuang waktu itu, menegakkan dirinya, hingga apa yang terpasang dan tertanam, terposisi dengan sempurna.


Kedua tangan Malia pun spontan bertumpu pada pundak Reiji.


“Bergerak, sayang ....” bisik Reiji sambil menatap intens Malia, yang kemudian mengangguk samar sambil menggigit bibir bawahnya.


Hingga kemudian, suara-suara misteri menggema di seluruh ruangan kamar Reiji dan Malia, setelah Malia mulai ‘bergerak’.


***

__ADS_1


Bersambung ....


Selanjutnya, reader bergerak masing-masing aja yak. 😁


__ADS_2