
Selamat membaca..
***
Langit nampak gelap di luar rumah orang tua Reiji. Namun wajah Reiji malah secerah pagi yang disinari mentari.
‘Mudahan ujan jangan berhenti dulu ini malam,’ batin Reiji bermonolog.
Sambil sesekali pria yang sudah menyandang status sebagai suami Malia itu melirik ke arah walk-in-closet, dimana sang istri sedang berganti baju di dalamnya. Baju yang merupakan gaun tidur berpotongan seksi, yang ingin sekali Reiji lihat Malia memakainya lagi saat ini, dimalam mereka akan melakukan ritual sakral pengantin baru.
Malia memakai gaun tidur seperti itu saat di hotel semalam.
Hanya saja Reiji menunda malam pertama mereka sebagai pengantin untuk dilakukan malam ini, di kamar Reiji dalam rumah orang tuanya, tempat tinggal Reiji selama ini.
Dan karena malam ini Malia mengiyakan untuk memberikan hak Reiji sebagai suami untuk menyentuh tubuh Malia, Reiji rasanya ingin sekali memanjakan matanya dengan melihat Malia mengenakan gaun tidur berpotongan seksi tersebut.
**
A Flashback
“Yang..”
“Ya?”
“Baju tidur yang semalam kamu pakai di hotel, punya lagi ga?”
“Punya ...”
“Boleh ga kalo aku minta kamu pakai itu sekarang? ...”
“Emm .. Kalo gaun tidur yang semalam sih, udah aku satukan dengan pakaian kotor..”
“Yaahh ..”
“Tapi kalo gaun tidur yang semacam itu sih, ada satu set lagi. Soalnya itu kan dari Avi, Mama aku, Mama kamu..”
“Mama kita sayang.. mama aku sekarang kan mama kamu juga, dan begitu sebaliknya ..”
“Iya mama kita.. gaun tidur aku yang semalam itu dari mereka. Aku pikir hanya satu itu, ternyata ada dua set di dalem paper bag yang mereka kasih ..”
“Pake sekarang ya? Mau?..”
“Iya ..”
A Flashback off
***
Malia berdiri sambil mematut dirinya di depan cermin rias dalam walk in closet.
Sebuah gaun tidur berwarna merah marun telah membalut tubuh Malia sekarang. Model gaun tidur seperti yang Malia kenakan saat di hotel semalam.
Gaun tidur yang Reiji bilang pada Malia, jika suaminya itu ingin melihat Malia memakainya lagi saat ini.
Hanya saja, yang Malia kenakan saat ini bukanlah gaun tidur yang sama seperti semalam.
Karena gaun tidur tersebut, sudah Malia campur dengan pakaian kotor yang sebelumnya ia kenakan saat datang ke hotel sebelum acara pernikahannya dan Reiji.
Dan pakaian-pakaian kotor tersebut, termasuk juga milik Reiji, telah diberikan pada asisten rumah tangga yang ada di rumah orang tua Reiji untuk dicuci. Jadi, Malia mengenakan gaun tidur yang berbeda saat ini.
Karena kebetulan, hadiah gaun tidur dari Avi, Mamanya Malia dan Mama mertuanya itu ada dua set. Jadi Malia menggunakan gaun tidur satunya pemberian ketiga perempuan tersebut, semata-mata untuk menghargai permintaan Reiji.
Malia menghela hembuskan nafasnya sembari masih mematut di depan cermin rias.
Belahan dada gaun tidur yang rendah membuat dua aset kembar miliknya nampak angkuh menantang.
Malia memang sudah siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri untuk yang pertama kali pada Reiji di ranjang pengantin mereka malam ini.
Namun tetap saja kegugupan melanda diri Malia saat melihat dirinya berpenampilan yang menurut Malia sendiri ini sangat menggoda.
Malia menghela hembuskan nafasnya sekali lagi di depan cermin, sembari melihat dirinya sendiri dan menilainya apakah sudah cukup sempurna, sembari juga memikirkan pendapat Reiji saat melihat Malia nanti.
Karena gaun tidur yang Malia kenakan ini, memiliki warna yang meskipun bukan warna merah menyala, namun kiranya tetap terlihat menggoda. Ditambah panjang gaun tidur yang Malia kenakan ini sepertinya lebih pendek dari yang satunya.
‘Oke Lia, you are ready now ( lo udah siap sekarang ) ..’ kata Malia dalam hatinya, sembari ia menyatukan rambutnya, lalu ia ikat keatas hingga leher jenjangnya tampak jelas terlihat.
Helaan nafas kembali Malia lakukan, sebelum pada akhirnya ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam walk in closet untuk segera menemui Reiji yang dirasa sudah menunggunya.
***
Author’s POV
Malia melangkah pelan keluar dari dalam walk in closet. Seseorang yang sedang berdiri di dekat jendela kamar menoleh ke arah Malia, seolah mengetahui kehadiran Malia.
Padahal Malia tidak membuat suara saat melangkah dari walk in closet. Namun sosok yang sedang berdiri tersebut langsung tepat menoleh kala Malia muncul dari dalam sana.
Dimana sosok tersebut langsung tersenyum selain nampak tertegun melihat Malia saat ini. Dan Malia pun tersenyum balik pada sosok yang sedang tersenyum sembari memandanginya dengan intens dan mendominasi, meski senyuman Malia sedikit kaku.
__ADS_1
Author’s POV off
**
Reiji mengembangkan senyumnya pada Malia yang sungguh membuat dirinya begitu terpana dengan penampilan sang istri yang selain cantik, namun juga begitu seksi menggoda untuk Reiji saat ini.
Reiji yang sempat menelan salivanya bulat-bulat kala melihat Malia saat ini, itu sudah menunggu dengan sabar. Ia memang ingin membuat Malia merasa nyaman dan tidak terburu-buru untuk melakukan ritual sakral mereka sebagai pengantin baru.
Reiji kemudian berjalan perlahan untuk mendekat pada sang istri yang nampak berdiri canggung tak seberapa jauh darinya, setelah ia terpana dengan Malia. Juga setelah memanjakan matanya dengan memandangi keindahan lekuk tubuh sang istri yang terbalut gaun tidur seksi.
“Cantik,” Reiji langsung mengeluarkan pujiannya pada Malia, yang kini sudah berhadapan dengannya di dekat ranjang.
“Pasaran ah pujiannya ..”
Malia berkelakar, untuk menutupi kegugupan yang kini terasa kian nyata baginya. Reiji terkekeh kecil atas kelakar Malia barusan.
Lalu satu tangan Reiji terangkat, dan terulur ke kepala Malia lalu memberikan belaian pelan disana. Setelahnya, Reiji mengecup kening Malia.
“Kalo gitu aku ralat,” ucap Reiji kemudian. Lalu Reiji menatap Malia sembari memetakan wajah Malia dengan telunjuknya, hingga sampai ke leher Malia.
“Kamu ga hanya cantik, tapi juga seksi menggoda, Yang.” Kemudian Reiji sedikit merundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Malia.
Setelahnya, satu kecupan Reiji daratkan di tiang leher Malia dengan cukup dalam. Dan Malia menjadi merinding hebat karenanya, sampai Malia memejamkan sepersekian detik matanya, sambil menggigit bibir bawahnya.
“Beneran udah siap?” tanya Reiji.
Suara Reiji yang terdengar agak serak, menandakan jika ia sebenarnya sudah tak sabar ingin berbagi kehangatan dengan Malia.
Namun Reiji tetap ingin menanyakan lagi kesiapan Malia untuk melakukan ritual pengantin baru dengannya. Meski pun Reiji tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, jika Malia berubah pikiran dan akhirnya mereka gagal untuk melakukan penyatuan.
“Kalo aku ga siap, aku udah ke kamar Avi dan ga akan berpakaian begini di depan kamu.”
Malia mengerucutkan bibirnya, dan Reiji terkekeh lagi.
Didetik berikutnya, kemudian Reiji dan Malia saling melempar tatap.
Tangan kanan Reiji menyentuh dagu Malia dan ia memajukan wajahnya.
Reiji menyentuh bibir Malia dengan bibirnya. Mengawali permainan hangat di ranjang nanti dengan sebuah kecupan di bibir.
Kecupan lembut yang akhirnya terkesan tergesa-gesa, karena baik Reiji dan Malia kini sudah saling berpagutan. Reiji sudah merapatkan tubuh Malia dengannya, dan Malia dengan spontan melingkarkan tangannya di leher Reiji.
Kini kecupan Reiji mulai menjalar tidak hanya pada bibir Malia, namun terus bergulir ke bawah. Dimulai dari bahu putih nan mulus milik Malia disapu dengan bibirnya tanpa sedikitpun yang terlewat. Lalu kembali lagi naik keatas hingga mencapai lagi bibir Malia, dan kembali melahapnya.
Reiji mengurai tubuh Malia menjadi sedikit berjarak dengannya, namun tidak menjauhkan tubuh yang aroma selain bentuknya begitu memabukkan bagi Reiji.
Reiji melepaskan ikatan rambut Malia, hingga rambut Malia tergerai. Sedikit berantakan, namun malah Reiji menyukainya.
"Begini lebih cantik," puji Reiji, lalu jantung Reiji berdetak kencang tak karuan begitupun dengan Malia, kala Reiji mengangkat tubuh Malia ke udara, lalu direbahkan tubuh Malia oleh Reiji ke atas ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar.
Pelan tapi pasti, Reiji menegakkan tubuhnya dengan tanpa sedikit pun matanya teralih dari Malia yang sudah berbaring pasrah di atas ranjang pada hadapan Reiji dimana Reiji kini membuka kaos polos berwarna putih yang ia kenakan, lalu Reiji melemparnya ke sembarang arah dan kemudian bergerak kembali mendekat pada Malia.
Ditatap dengan lembut Malia oleh Reiji, namun dengan sorot mata dimana kobaran api gair*h nampak terbaca disana.
Sudah Reiji kukung tubuh Malia namun tanpa menempelkan tubuhnya.
Tangan Reiji bergerak ke dua tali kecil yang ter-sanggah di bahu Malia, yang kemudian Reiji turunkan dengan perlahan.
Tak hanya dua tali tipis yang ter-sanggah di bahu Malia, namun gaun tidur yang tersambung dengan dua tali kecil tersebut juga Reiji turunkan termasuk satu kain penutup yang berwarna senada dengan gaun tidur Malia.
Reiji benar-benar menelan salivanya melihat tubuh polos nan sintal milik Malia yang kini sudah terbaring pasrah di atas ranjang.
Yang sepersekian detik kemudian, Reiji cumbu inci per inci tubuh Malia dengan bibir juga tangan yang tidak Reiji biarkan menganggur.
Sementara Malia menikmati setiap cumbuan dan sentuhan Reiji dengan perasaan yang sulit untuk Malia gambarkan. Rasa asing, namun begitu membuai Malia hingga tanpa sadar sesekali ia mengerang kecil, saat Reiji menyentuh titik sensitifnya.
Mata Malia terpejam erat, tangannya mencengkram kepala dan rambut Reiji karena sensasi geli bercampur entah apalah namanya yang jelas Malia merasakan pening di kepala, namun ia begitu mendamba hal yang lebih jauh dari yang sedang Reiji lakukan saat ini.
Sementara Reiji, sudah tak sanggup menahan lagi dirinya yang sudah diselimuti kobaran api gairah yang begitu menggelora. Lalu seolah tergesa Reiji menanggalkan kain yang masih tersisa di tubuhnya, hingga ia sama seperti Malia. Polos, macam bayi yang baru lahir.
Ibarat mobil, milik Reiji kini sedang mencoba membuka garasi.
Jantung Reiji seakan berhenti berdetak, seiring dengan aliran darahnya yang berdesir kencang dengan nafasnya yang terasa memburu saat mobil sudah mulai ia coba untuk masukkan ke dalam garasi sempit milik Malia.
Dimana Malia langsung mendesis kuat sekaligus meringis saat merasakan sesuatu yang sedang mendesak masuk ke dalam garasinya.
Reiji tahu ini yang pertama bagi Malia, jadi ia tak menyegerakan untuk memaksa miliknya masuk ke dalam Malia. Reiji mencoba merilekskan Malia dengan kembali memberikan cumbuan lembut namun cukup menuntut, sembari ia kembali menggas dengan pasti mobilnya agar lebih masuk ke dalam garasi sempit Malia.
Dorongan pelan Reiji lakukan lagi seperti diawal, namun setelahnya ia menghentak sedikit kuat.
Dan hentakan itu akhirnya membuat mobil Reiji terparkir dengan sempurna di dalam garasi hangat milik Malia.
Rasa lega Reiji pun rasakan setelah ia benar-benar bersatu dengan Malia, sampai kemudian Reiji bergerak lagi secara perlahan dengan tempo yang pelan dan teratur.
Reiji sangat sabar.
Tidak terburu-buru dalam bergerak, semata-mata demi kenyamanan Malia.
__ADS_1
Perlahan sakit yang dirasakan Malia menguar, saat Reiji kembali bergerak. Tak tergesa-gesa, namun membuat Malia akhirnya bisa merasakan kenikmatan yang tiada terperi sampai suara seksi yang hanya terdiri dari dua huruf keluar dari mulut Malia.
Pertanda Malia menikmati hal yang sama seperti yang Reiji rasakan saat ini.
Detik pada jam kian berjalan seiring dua insan yang seolah saling berlomba mencapai apa yang mereka ingin dapatkan dari apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
Hingga sampai dimana gelombang kenikmatan terasa akan menghantam keduanya, “Lia,”
Reiji kembali lagi memanggil Malia dengan suaranya yang kian parau dan dalam.
Suara Malia yang terbata dan tertahan kemudian juga terdengar.
Reiji tahu apa maksud Malia, karena ia pun merasakan hal yang sama.
Jadi Reiji menaikkan tempo gerakannya dimana ia merasakan Malia yang mendekap erat dirinya.
Keduanya bergerak dengan saling mengikuti insting saja hingga kemudian rasa yang bak gulungan ombak terdahsyat itu datang menghantam Reiji dan Malia sampai keduanya merintih dalam bersama, akibat mendapat serangan kejang ringan yang menjalar mulai dari kaki hingga kepala mereka.
Dan setelahnya, Reiji pun ambruk di atas Malia.
Sedangkan Malia sedang berusaha mencari oksigen dengan wajahnya yang nampak kemerahan diiringi dengan nafasnya yang tersengal hebat.
Detak jantung Reiji maupun Malia berdetak sangat cepat dengan peluh yang membanjiri tubuh keduanya. Namun begitu, dalam posisi yang masih saling berdekapan, Reiji dan Malia sama-sama menyunggingkan senyuman sembari merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja menghantam mereka dengan dahsyatnya.
Kedua tangan Malia masih mendekap bahu bidang milik Reiji yang masih berada di atasnya. Suaminya itu seolah enggan untuk bergeser walau satu sentimeter saja dari atas dirinya.
Reiji tersenyum puas, seolah ia baru saja memenangkan sesuatu beberapa detik yang lalu.
Tepatnya Reiji merasa lega, karena haknya sebagai suami Malia terpenuhi dengan sempurna.
Sementara Malia juga merasakan kelegaan yang sama, karena bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri seutuhnya untuk Reiji.
Memang Malia belum memiliki cinta untuk Reiji, namun ia sudah bertekad tidak akan membentengi dirinya dengan Reiji yang notabene adalah suaminya yang sah.
Jadi Malia memberikan apa yang seharusnya menjadi hak Reiji suami dengan tanpa beban dalam dada. Dan lagi, Reiji sungguh sangat membawa Malia rasa bak terbang ke awang-awang dengan begitu nikmatnya beberapa saat yang lalu.
“Makasih ya sayang .... Love you, Lia ....”
Reiji berbisik di telinga Malia. Apa yang baru saja ia lakukan bersama Malia memang juga yang pertama baginya seperti halnya Malia yang jangankan berhubungan sejauh seperti apa yang ia lakukan dengan Reiji barusan bersama seorang pria, memiliki hubungan khusus dengan seorang pria saja baru dengan Reiji.
Namun begitu, biarpun ini pengalaman pertama bagi Malia juga dirinya, tetap Reiji merasa terhormat menjadi yang pertama untuk menyentuh Malia dengan sangat jauh dan dalam.
***
Reiji telah berguling ke samping dengan nafasnya yang terengah. Ia pun mengatur nafasnya yang sedang tak beraturan itu hingga dapat kembali menjadi normal dan menutupi tubuh polosnya dan Malia dengan selembar selimut yang terpasang di ranjang mereka.
Reiji membawa Malia ke dalam dekapannya. Lalu menarik dagu Malia agar wajah sang istri yang tertunduk seolah sedang menyembunyikan warna merah merona di sana dapat mendongak menatapnya, yang juga sedang memandangi wajah yang dihiasi peluh disekitar keningnya.
Reiji melemparkan senyumannya pada Malia yang sebentar saja mau menatapnya, lalu kembali menyembunyikan wajahnya di dada polos Reiji yang membuat Reiji menaikkan sudut bibirnya dan kembali mendekap erat Malia dengan rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Tangan Reiji mengusap terus kepala Malia, dan menggulirkan kecupan disana.
Reiji tak berucap kata.
Namun usapan dan kecupan Reiji seolah sudah dapat mengatakan perasaannya pada Malia.
Berharap jika Malia dapat merasakan betapa ia sudah mencintai istrinya itu. Dan untuk beberapa saat, baik Reiji dan Malia saling terdiam namun belum juga memejamkan mata mereka untuk tidur, karena masih merasakan debaran dada yang tadi sempat bertalu-talu dengan hebatnya.
Reiji dan Malia seolah sedang tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Dan dimenit berikutnya Reiji memanggil Malia seraya mengangkat kembali wajah Malia. “Yang,”
“Ya?..”
Malia menyahut.
“Sakit ya? ..” tanya Reiji.
“Sedikit..” jawab Malia.
“Kalau gitu ... aku minta sekali lagi, boleh?...”
Dimana Malia langsung saja terperangah selepas mendengar ucapan Reiji yang Malia tahu arahnya kemana.
Yang membuat Malia tak habis pikir pada Reiji, karena permintaan Reiji itu sungguh mencengangkan untuk Malia dengar.
Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bergulat dengan hebatnya.
Bahkan, rasanya peluh juga belum sepenuhnya mengering dari tubuh mereka. Namun Reiji mengajaknya untuk melakukan hal yang sama seperti tadi sekali lagi, dimana mereka saling menyentuh jauh dan dalam sampai nafas terasa hampir lepas dari raga.
Dan kini Malia tahu satu fakta, betapa Reiji adalah pria yang tak hanya tampan, dengan bentuk tubuh yang membuat mata betah menatapnya, namun juga sebagai pria, Reiji dapat dikatakan sebagai pria perkasa.
Entah harus takjub atau apa, yang jelas Reiji telah membuat Malia cukup letih dan lemas seperti habis lari ratusan kilo ibaratnya.
Namun Malia juga heran pada dirinya, karena entah kenapa kepalanya itu malah mengangguk menjawab pertanyaan Reiji yang berupa permintaan untuk mereguk kembali hal dahsyat seperti yang baru saja selesai beberapa menit yang lalu itu.
Membuat Reiji mengurai dekapannya pada Malia dan kembali bergerak untuk memposisikan dirinya berada di atas Malia. Dan didetik berikutnya, Reiji menyambar bibir Malia, dan memulai lagi dari awal untuk mengulang kegiatan dimana ia dapat merasakan dirinya yang bak merasa terbang ke Nirwana itu sekali lagi bersama Malia.
Mumpung hujan belum berhenti – kalo kata Reiji.
***
__ADS_1
Bersambung ...