WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 49


__ADS_3

Selamat membaca..


***


MALIA


Aku hanya bisa mematung kemudian saat mendengar cetar-nya suara Avi yang membahana kala memergoki aku dan Reiji sedang asik bercumbu.


Oh ya Tuhan, wajahku pasti merah padam karena aku merasa malu setengah mati setelah dipergoki oleh Avi sedang bermesraan menuju kemesuman meskipun dengan suamiku sendiri.


Dan bodohnya aku nih, apa emang otakku udah jadi mesum sejak nikah dan melihat desain kamar pengantin di hotel plus bathtub bertabur mawar, aku bisa-bisanya terbuai tanpa memperhatikan keadaan sekitar.


Pintu kamar dalam hal ini, yang entah sudah ditutup namun tidak dikunci oleh Reiji atau memang tidak tertutup dari sejak Reiji mengajakku masuk.


Ah entahlah!.


Yang jelas aku benar-benar merasa malu pada Avi yang kemudian berdebat soal Reiji soal apa yang baru saja kami lakukan itu, meski baru saling berpagut mesra saja.


Yah, udah agak menjurus juga sih Reiji-nya.


Dan ya itu, aku malah jadi terbuai dengan ciuman Reiji yang rasanya memabukkan itu.


Ya harap maklum jika perlakuan lembut Reiji meskipun lama-lama ciumannya terasa menuntut, itu sungguh membuatku terlena.


Aku bahkan jadi meragukan kalau aku adalah wanita pertama yang Reiji cium. Soalnya perasaan permainan bibir Reiji itu lihai banget.


Jadi membuatku betah berlama-lama dicium Reiji.


Eh,


Apa sih Malia? ....


Well, kembali ke Avi yang memergoki aku dan Reiji yang sedang bercumbu.


Sekali lagi aku merasa malu, karena teriakan cetar si Avi itu membuat mereka yang sedang berkumpul di lantai bawah rumah mertuaku itu langsung berbondong-bondong ke kamar Reiji.


Yang pada akhirnya, kelakuanku dan Reiji yang sedang bercumbu ray lalu dipergoki Avi itu sampai juga ke telinga mereka, termasuk kedua mertuaku.


Rasanya kalau bisa aku copot, aku mau copot dulu deh muka aku saking malu.


Eh tapi, alih-alih malu dan salah tingkah seperti aku mematung saking malu, Reiji malah keliatan woles aja.


Kupingku rasanya panas saat mendengar selorohan tak berakhlak dari para sepupu Reiji yang meledek suamiku itu.


Ya panas karena malu selain jengah. Tapi nyebelin-nya, malah ditanggepin itu celetukan tanpa akhlak oleh Reiji yang membalas celetukan-celetukan itu dengan ucapan tanpa akhlak juga yang keluar dari mulutnya.


Malah aku yang jadi makin malu.


Dan aku dapat sedikit merasa lega, saat mereka yang tadi mengerubung di kamar Reiji yang mana dapat kusebut sebagai kamarku juga, kemudian bubar.


Meski sebelum bubar kalimat ledekan yang serempak macem udah latihan sebelumnya terdengar. Ampun deh, ternyata se-gokil itu ya keluarganya Reiji dan Avi.


Seru juga.


***


Beberapa saat selanjutnya, aku pun mengajak Reiji untuk berkumpul bersama keluarganya yang sedang memang berkumpul dan bercengkrama di lantai bawah rumah mertuaku itu.


Beberapa dari mereka juga memang sudah menginap di rumah mertuaku, dari sebelum acara pernikahanku dilangsungkan.


Lalu ikut kembali ke rumah mertuaku setelah dari hotel, untuk mengambil barang-barang mereka yang masih ada disini baru kemudian akan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Namun karena hujan turun cukup deras jadi mereka menunda kepulangan mereka sejenak sampai hujan reda dan dirasa aman untuk melakukan perjalanan. Dan aku serta Reiji akhirnya ikut bergabung dengan mereka semua, walaupun sebelumnya Reiji sempat curi-curi kesempatan yang aku perkirakan ingin kembali mencumbuiku.


Malah ciuman Reiji aku rasakan lebih sangat brutal dibanding sebelumnya, hingga bibirku rasanya kebas. Bahkan pasokan udara yang masuk ke paru-paru langsung tersumbat sepertinya, karena Reiji menciumku dengan membabi buta. Belum lagi, sebelumnya Reiji menahanku saat ingin berdiri kala aku hendak pergi ke tempat mereka yang ada dalam rumah sedang berkumpul.


Dan karena tarikan Reiji yang mendadak meski tidak kasar itu, alhasil aku jadi terduduk di pangkuannya. Yang mana tentu saja, lagi-lagi aku menjadi salah tingkah. Udah gitu, sorot mata Reiji dengan tatapan sayu-nya itu seolah mengatakan dia ingin sekali melakukan ritual pengantin baru saat itu juga.


Namun untungnya aku membentengi diriku biar jangan terbuai lagi, lalu kepergok untuk yang kedua kali. Karena aku seketika ingat pintu kamar Reiji, yang belum terkunci. Dan memang belum terkunci. Bahkan pintu itu masih terbuka lebar, dan Reiji malah hendak mencumbuku lagi.


Dia sadar ga sih itu sama pintu kamarnya, coba?.


Dan sekuat tenaga, aku menarik diriku, agar bibirku yang rasanya sudah tebal ini dapat lepas daru cengkraman bibir Reiji.


Walau tanpa tenaga yang berarti, tetap saja aku harus berusaha keras untuk bisa melepaskan diri dari Reiji karena ia menahan tengkukku.


Dan untungnya ya, Reiji setuju dengan ajakanku untuk pergi ke lantai bawah dan bergabung dengan mereka yang ada disana. Membuatku bertanya-tanya sendiri, tentang bagaimana pribadi Reiji yang sebenarnya.


Karena Reiji yang selama ini aku kenal, orangnya ga banyak omong meskipun aku sudah mengenalnya selama hidupku sampai sekarang ini. Terus sekalinya ngomong kan suka pedes mulutnya.


Nyelekit, didukung dengan wajah serius nan dingin masa bodohnya itu. Cuek, bahkan kadang jika aku tanyai pendapat, datar saja Reiji menanggapinya.


Makanya aku berikan sebutan Freezer Frozen Food pada Reiji. Dingin, sendirian dipojokan.


Yang tau-tau berubah jadi hangat, saat kami dijodohkan. Ada kesan receh, semakin sering kami menghabiskan waktu bersama.


Reiji lebih banyak bicara. Ya mungkin dia berusaha mencairkan kecanggungan diantara aku dan dia sebelum pernikahan. Dan memang itu berhasil. Aku sudah menjadi nyaman berada didekat Reiji.


Dan fakta lain lagi, Reiji itu ternyata romantis dan hangat juga.


Fakta lain lagi, Reiji itu bocor banget mulutnya ternyata kalo lagi kumpul sama sepupu-sepupunya yang kalo ngomong ga ada saringan mulutnya.


Selain sepertinya aku menilai jika Reiji merupakan sosok yang menyenangkan di mata orang lain. Yang entah bagaimana sebenarnya pergaulan Reiji diluar, namun kalau dilihat dari banyaknya tamu yang merupakan teman-teman Reiji rasanya ya seperti itu.


Ramah, menyenangkan dan mungkin humble.


Rasanya kalau dengan kepribadian yang seperti itu, ditambah nilai sangat plus bagi paras dan fisik Reiji, belum lagi dia adalah pria yang mapan.


Reiji adalah paket lengkap seorang pria, meskipun bukan CEO tampan nan berkuasa seperti di novel-novel. Tapi dengan nilai plus seorang Reiji Shakeel seperti yang aku sebutkan tadi, aku rasa Reiji masuk kriteria pria idaman para wanita.


Seharusnya aku dengan mudah bisa jatuh cinta pada Reiji bukan?. Toh aku pun sudah merasa menyayanginya.


Jadi mungkin aku juga bisa mencintai Reiji dalam waktu dekat, seperti ia yang sudah mencintaiku.


Namun begitu, meski aku belum mencintai Reiji yang sudah menjadi suamiku itu, setidaknya aku sudah bertekad untuk menjadi istri yang baik bagi Reiji.


Dan setahuku, cinta datang karena terbiasa.


Jadi mungkin, mulai membiasakan dengan kehadiran Reiji dalam hari-hariku mulai sekarang, cintaku pada Reiji akan tumbuh seiring sejalan dengan waktu yang kami habiskan bersama dalam pernikahan.

__ADS_1


Tapi bicara soal menjadi istri yang baik bagi Reiji, melakukan kewajiban sebagai istri untuk yang pertama kali bagiku pada Reiji, sepertinya akan terjadi malam ini.


Karena setelah hujan reda selepas maghrib, para sanak saudara keluarga Reiji itu kemudian pamit dari rumah mertuaku untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


Dan aku hanya tinggal menunggu menit berlalu, hingga saat waktu istirahat malam tiba. Untuk bersiap jika Reiji memang akan meminta haknya sebagai seorang suami untuk yang pertama kali padaku, istrinya.


Yang mana waktu itu, sebentar lagi akan datang, kala Reiji bangkit dari duduknya, sewaktu kami sedang duduk santai sambil menonton televisi bersama Avi dan kedua mertuaku dan dia berucap,


“Yuk, Yang?” ucap Reiji sambil Reiji mengulurkan tangannya padaku.


Membuat kegugupanku jadi muncul di permukaan lagi karenanya.


Belum lagi celetukan-celetukan iseng Avi dan kedua mertuaku, membuat wajahku rasanya memerah saking malu.


“Ciee yang mau MP!.....”


“Mau minum jamu dulu ga Ji?”


“Nah iya tuh, tongkat ali mau tongkat ali?. Mama suruh bibi nih ke kios jamu di depan komplek.”


Yang parahnya lagi, ditimpali Reiji juga dengan celetukan-celetukan yang membuat aku sampai terperangah karenanya.


“Tongkat Reiji masih lebih yahud daripada tongkat si Ali!” - begitu Reiji menimpali ledekan kedua orang tuanya.


Oh astagaaaah!!!..


Ingin sekali aku bekap mulut suamiku tuuuuh.


Tapi tanganku yang lebih dulu sampai ke pinggangnya untuk kucubit.


Pinggang yang sepertinya sengaja di pres pakai mesin, karena aku tak dapat benar-benar mencubit pinggang Reiji dikarenakan kulit dibagian tersebut begitu nampak kencang terpatri disana.


Membuatku jadi penasaran untuk menyentuhnya secara langsung.


Eh?.


Haish!.


Mulai ngeres kan nih otak.


Bicara soal aku yang mencubit Reiji namun hanya sedikit saja, lalu ia terkekeh.


Aku berpikir, nanti kalau sudah di kamar, biar aku semprot Reiji karena suka ngomong ga pake saringan mulutnya.


Tadinya sih begitu.


Sebelum tahu-tahu dia mengangkat tubuhku ke udara dihadapan Avi dan kedua mertuaku.


Oh ya ampuun.


Membuat aku jadi nge-blank seketika.


Selain bertambah lagi malu yang aku punya, pada Avi dan kedua mertuaku, yang tergelak saat Reiji mengangkat tubuhku ala bridal style.


Bahkan si Bibi asisten rumah tangga Reiji pun mesam-mesem pas aku ga sengaja melihat ke arahnya yang sedang berada di dapur.


Aku pun membulatkan tekad untuk mengomelinya nanti saat di kamar.


Tapi kenyataannya, saat telah sampai di kamar kami, yang ada mulutku bungkam.


Saat aku dengar suara pintu terkunci di belakangku setelah Reiji menurunkan-ku dari gendongan ala bridal style tadi.


Dan didetik berikutnya, Reiji memelukku dari belakang.


Dengan bulu halusku yang meremang, kala Reiji bilang, “Kamu, udah siap, Yang?..”


Dan aku tahu kemana arah pertanyaan Reiji itu.


*****


Malia dan Reiji sudah berada di dalam kamar Reiji.


Kamar Reiji dan Malia lebih tepatnya, karena Malia sudah resmi menyandang gelar sebagai Nyonya Reiji.


Reiji menggenggam erat tangan Malia dari sejak mereka beranjak dan berpamitan pada tiga orang yang tadi bersama mereka di ruang santai.


Dan genggaman tangan Reiji kemudian pria itu lepaskan, saat ia hendak menutup dan mengunci pintu kamar, sementara Malia berdiri tak jauh dari sana.


Malia sedang memandang pada ranjang yang sebentar lagi jadi saksi penyatuan dua insan yang telah terikat dalam sebuah ikatan resmi, meskipun baru ada satu cinta saja yang bertahta.


Gugup memang kiranya Malia, namun untuk menjalankan kewajibannya melayani Reiji sebagai seorang istri untuk yang pertama kalinya, Malia tidak merasa terpaksa. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk membuka hatinya pada Reiji.


Namun gugupnya Malia saat ini memang cukup mendominasi dirinya.


Terlebih saat Malia merasakan kedua tangan kokoh yang melingkar di perut rampingnya, memeluk dirinya dari belakang.


Lalu si pemilik tangan bilang,


“Kamu, udah siap, Yang?..”


Dengan menyandarkan dagunya di pundak Malia.


Dan Malia langsung saja menoleh ke arah wajah yang dagunya tertopang manja di pundak Malia, seraya wanita itu tersenyum manis pada sang suami, yang kemudian balik tersenyum pada Malia, kala Malia kemudian mengangguk.


“Bener kamu udah siap?..”


Reiji kembali melontarkan pertanyaan, kala ia mengurai dekapannya pada Malia, lalu membuat diri mereka berhadapan.


Malia mengangguk lagi.


“Iya, aku siap Rei..” sahut Malia.


“Ga merasa terpaksa kan?” tanya Reiji lagi.


“Ga sama sekali Rei ..”


Malia menjawab sembari memandang pada suami yang sedang memandanginya itu.


Menatap lekat kedalam manik mata Malia, karena Reiji mencoba mencari jawaban atas ucapan sang istri yang ingin ia minta kesediaannya, untuk menjalankan kewajibannya pada suami untuk yang pertama kali.

__ADS_1


Guratan senyuman nampak lagi di bibir Reiji, kala ia tak menemukan keraguan kala ia menatap dalam manik mata Malia. Dan tatapan hangat dimana memang Reiji menatap penuh cinta pada Malia, yang memang sudah bertahta di hatinya.


Kemudian memindai wajah Malia dengan matanya, sembari tangannya memberikan usapan lembut dari pucuk kepala sampai ke wajah dan garis rahang Malia.


“Sama seperti kamu, ini juga pengalaman pertama aku. So we do it naturally ya?..” ucap Reiji dan Malia kembali mengangguk, dengan menampakkan juga senyumnya.


Reiji menaikkan sudut bibirnya kemudian. Lalu mata Reiji memandangi lagi Malia melalui tatapan yang begitu dalam pada kedua iris indah milik Malia.


Dimana pada detik berikutnya, tangan kanan Reiji terangkat untuk menyentuh dagu Malia. Mendekatkan wajah sang istri lalu menempelkan bibirnya pada bibir Malia.


Seperti yang Reiji katakan pada Malia, ia ingin melakukannya secara natural. Tidak ingin terburu-buru dalam meminta haknya sebagai suami Malia, sekaligus Reiji ingin Malia merasa nyaman.


Namun tetap, perlahan tapi pasti agar Reiji ga sampai kentang lagi.


“Yang..” panggil Reiji.


“Ya?”


“Baju tidur yang semalam kamu pakai di hotel, punya lagi ga?”


**


REIJI


Mendekati pukul 9 malam, aku mengajak Malia untuk beranjak dari ruang santai untuk pergi ke kamar kami.


Tak perduli meskipun masih ada kedua orang tuaku dan Avi yang masih duduk-duduk santai disana sembari menonton televisi.


Dan tentu saja, cie-cie-an plus ledekan candaan keluar dari ketiga orang yang sangat aku sayang dan kasihi itu.


Sekarang nambah satu deh yang benar- benar aku sayangi dan aku kasihi, bahkan aku cintai.


Istriku, Malia.


Yang orangnya nampak tersipu karena candaan Papa, Mama dan Avi saat aku mengajak Malia untuk pergi ke kamar kami.


Dan kemudian mendaratkan cubitan kecil di pinggangku karena aku menimpali ledekan dan candaan dari Avi serta kedua orang tuaku itu.


Namun didetik berikutnya, aku menikmati ekspresi keterkejutan Malia sekaligus wajah ter-sipunya yang merona, kala aku dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya, untuk segera aku bawa kabur dari hadapan tiga orang yang ada didekat kami itu.


Dan aku merasakan betul kegugupan Malia, saat kami telah sampai di kamar. Lalu aku turunkan Malia perlahan, karena aku ingin menutup pintu kamar sekaligus menguncinya.


Sebenarnya aku membawa Malia ke kamar bukan serta merta ingin mengajaknya buru-buru buat ulala beibeh kalau bahasa si Avi dan para sepupu tanpa akhlakku soal berhubungan suami istri.


Yah, meskipun ngarep juga sih, kalau Malia mau memberikan hak pertamaku sebagai suaminya di atas ranjang. Tapi kalaupun Malia bilang dia belum siap, yaa suka tak suka aku harus menerima dengan lapang dada.


Aku tidak ingin memaksanya, hanya karena aku tak mampu menahan gairah kelakian-ku untuk mendapatkan pelepasan nafsu. Meskipun hitungannya itu nafsu halalku, kan?. Karena yang aku inginkan untuk menyalurkannya adalah istri sah-ku.


Pasangan halalku.


Tapi tetap, andaikata Malia menolak pun, aku akan menerimanya.


Toh memang Malia belum mencintaiku. Meski menyalurkan hasrat juga tidak butuh cinta sih.


Terlebih kami adalah suami-istri yang sah, jadi sah-sah aja juga kalau mau bercinta.


Tapi aku tidak mau memaksa, walau bisa saja. Aku tidak mau Malia menjadi merasa tak nyaman nantinya.


Jadi aku sengaja memancingnya dengan gelagat serta pertanyaanku yang menjurus setelah aku menutup dan mengunci pintu kamar.


Selain karena aku penasaran, apa Malia mau memberikan hak-ku sebagai suaminya malam ini?. Soalnya setiap kali aku mencium dan mencumbunya walau tak lama, Malia tak memberikan penolakan.


Tapi tetap saja aku merasa ambigu. Malia mungkin mau menerima ciuman dan cumbuanku.


Namun lebih dari itu, aku belum tahu. Jadi aku harap-harap cemas dengan jawaban Malia, setelah aku mengajukan pertanyaan tentang kesiapan-nya malam ini, untuk menyempurnakan pernikahan kami ditahap awal.


Aku sabar menunggu jawaban Malia, sembari menyiapkan hatiku juga agar tidak menjadi kesal andai Malia menggeleng dan bilang, “Sorry Rei, aku belum bisa menjalankan kewajiban aku sebagai istri kamu sepenuhnya...”


Yang pada kenyataannya, kekhawatiranku itu tidak terjadi, kala Malia menoleh kearahku yang menopangkan dagu di pundaknya sembari merengkuhnya dari belakang, lalu ia mengangguk dan tersenyum manis.


Dan aku?..


Girang bukan kepalang.


Namun begitu, aku belum berpuas hati dengan anggukan dan senyuman Malia atas pertanyaanku yang pertama.


Jadi aku kembali melontarkan pertanyaan, kala aku mengurai dekapanku pada Malia, lalu membuat diri kami berhadapan.


Dan Malia mengangguk lagi.


Kemudian Malia bilang, “Iya, aku siap Rei..”


“Ga merasa terpaksa kan?” tanyaku pada Malia lagi.


Dan Malia jawab, “Ga sama sekali Rei ..”


Perfecto sekali nasibku ini rasanya.


Senyuman-ku mengembang secara otomatis kemudian.


Saat lamat-lamat selepas mendengar jawaban Malia ku-tatap kedua matanya dalam-dalam, dan yang kutemukan adalah memang ketulusannya saat mengatakan kesediaannya untuk benar-benar menjadi istriku seutuhnya.


Sampai akhirnya, ku-tarik wajah Malia melalui dagunya yang ku-jepit dengan ibu jari dan telunjukku, dan aku daratkan ciuman lembut penuh perasaan di bibir merah muda rasa cherry itu.


Ingin ku-gendong lagi Malia, namun kemudian aku mengingat sesuatu. “Baju tidur yang semalam kamu pakai di hotel, punya lagi ga?”


Iya, baju tidur seksi yang dipakai Malia semalam tahu-tahu berkelebat di otakku, dan aku ingin melihat Malia memakainya saat ini, hingga pertanyaan itu sontak keluar dari mulutku.


“Punya ...” jawab Malia dari aku langsung tersenyum lebar. Dan senyumku makin melebar, saat aku tanya, “Boleh ga kalo aku minta kamu pakai itu sekarang? ...”


Dan anggukan Malia membuatku semakin sumringah jadinya. Cihuy!.


Setelahnya, aku menunggu dengan sabar, duduk manis di atas ranjang, sambil menunggu Malia berganti baju di dalam walk-in-closet.


Menunggu dengan sabar, bak serigala lapar yang sedang menunggu buruannya melenggang agar bisa ku-telan bulat-bulat.


**


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2