WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 32


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Kantor Malia


“Li!” seseorang memanggil Malia dari sebrang meja kerjanya.


“Uy,” sahut Malia.


“Karokean nyok ah! ..”


Rekan kerja Malia yang berada dalam satu divisi itu pun mengajak Malia untuk menghabiskan waktu dimalam libur.


“Gimana gaes? Mau ga? ..” lalu si rekan kerja Malia itu menoleh ke arah teman-teman di sekelilingnya dan Malia.


“Boljug! Besok libur ini!..” salah seorang rekan kerja yang lain menimpali.


“Gimana Li, ikut yak?! ..”


“Hmm okelah ..”


“Seeepppp!!!” seru rekan kerja perempuan Malia yang paling ceriwis di divisinya itu.


Malia kemudian tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya melihat rekan-rekan yang berada satu divisi


dengan dirinya itu kemudian grabak-grubuk membereskan meja kerja dan barang-barang mereka untuk segera hengkang dari kantor mereka itu, karena jam kerja telah berakhir.


‘Oh iya, gue belom ngasih tau Rei soal testfood besok!’ batin Malia. ‘Eh, tapi ini si Reiji belom hubungi gue


seharian ya? Baru gue inget. Apa dia ada jadwal terbang lagi hari ini? ....’


“Li!....”


Suara salah seorang rekannya membuyarkan lamunan Malia.


“Yes?” sahut Malia seraya menoleh ke arah rekan kerja yang memanggilnya barusan, yang sudah berdiri di dekat meja kerja Malia.


“Ayo!....”


Rekan kerja Malia itu mengajak Malia untuk bergegas.


“Wait gue matiin pc dulu ....”


“Oke, gue tunggu di depan lift yak! ....”


Malia pun mengangkat satu jempolnya pada rekan kerjanya itu yang kini sudah berdiri tak hanya sendiri.


“Cepet Li, GPL!” seru rekan kerjanya yang lain.


“Iya, bawel!” sahut Malia. Lalu ia mendengus geli pada rekan kerjanya yang kemudian berlalu dari hadapan Malia,


meninggalkan Malia dan beberapa rekan kerja lain yang masih belum selesai membereskan meja kerja dan barang-barang pribadi mereka seperti Malia.


***


Lift yang berada di lantai kerja Malia sudah nampak ramai saat Malia dan beberapa rekan satu divisinya telah


menyusul beberapa rekan kerjanya yang lain yang masih nampak berdiri di depan lift sembari mengobrol dan cekakakan.


“Eh Neng Malia!.... lama tak bersua, makin cakep aja!” suara bariton seorang laki-laki terdengar dari belakang Malia yang sudah berdiri juga membelakangi pintu kaca kantor yang memisahkan bagian dalam dan bagian depan tempat mereka menunggu lift yang baru saja naik dari lantai satu.


“Wah playboy cap kampret baru keliatan! ....”


Malia langsung melempar ledekan saat laki-laki yang menegurnya barusan kini sudah juga berada di dekatnya dan


teman-teman satu divisinya yang sedang menunggu lift sampai di lantai kerja mereka.


Laki-laki yang di bilang playboy cap kampret itu pun langsung tergelak karena ledekan Malia yang sudah


ditempelkan padanya itu. Rekan kerja yang sedang berada di dekat Malia pun sontak ikut tergelak juga.


“Wangi banget kek jablay anjir!”


Salah seorang rekan kerja Malia pun mengeluarkan celetukannya untuk si playboy cap kampret tersebut.


“Anyingg ....”sahut si playboy cap kampret lalu terkekeh.


Hal yang sudah biasa terjadi di lingkungan kerja Malia jika mereka sedang berkumpul seperti ini, mau saat


istirahat makan siang, atau saat pulang barengan seperti ini.


Meski jika tidak janjian untuk pergi ke suatu tempat bersama, tapi andai bertemu walau sebentar, ya candaan-candaan kecil kadang receh akan terdengar bersahutan.


“Mau nyari mangsa pasti! ....”


“Sa ae Neng Malia....” sahut si playboy cap kampret.


Ting!.


Pintu lift terbuka di lantai kerja Malia.

__ADS_1


Dua lift yang letaknya bersebrangan itu pun sama-sama terbuka, dan mereka yang berada di depan lift tersebut kemudian terbagi menjadi dua bagian dan masuk di dua lift yang berbeda.


“Kalian pada ada acara ga sekarang? .....” ucap si playboy cap kampret saat ia sudah berada di dalam lift bersama Malia dan beberapa temannya.


“Kenapa emang?”


“Mau gue ajak senang-senang kalo lo semua ga ada acara wahai kaum duafa!”


“Widiihhhhh! .....”


“Abis dapet tante tajir roman!”


“Anyingg .....” sahut si playboy cap kampret menanggapi celotehan rekan-rekannya itu. “Tau aja lo pada!”


“Hahaha!! .....”


Tawa pun menggema di dalam lift yang berisi para karyawan yang kesemuanya dari lantai kerja yang sama dengan


Malia itu.


“Jadi, lo semua pada punya acara ga?. Gue mo nraktir nih seriusan! Bonus gue gede nih bulan ini. jadi gue mau


berbagi sama kalian wahai kaum duafa yang doyan gratisan!”


“Ba-bi .....”


“Hahaha!!”


“Serius lo mau nraktir kita orang? .....”


“Serius dong Malia sayaaannnggg.....” sahut si playboy cap kampret nan slengean itu pada Malia yang barusan nyeletuk.


“Peyang!”


Malia segera menyambar geli disaat yang bersamaan pintu lift terbuka.


“Serius lo mau nraktir nih, Riz?”


Salah seorang rekan kerja Malia kemudian nyeletuk sembari berhambur keluar dari dalam lift bersama dengan yang lainnya.


“Serius lah!” sahut si playboy cap kampret. Kemudian suara riuh terdengar.


“Asyik! Kebetulan kita orang mau karokean! Lo yang bayar itu room sama makanan ya?!”


“Oke, bungkus!”


Si playboy cap kampret yang di panggil Riz itu pun menyahut dan sambutan antusias kemudian terdengar lagi.


“Tangan anda tolong dikondisikaann .....”


Malia berkata dengan nada candaan pada si playboy cap kampret yang tangannya memang enteng merangkul siapa aja, cewe-cewe pastinya.


Dan itu sudah dimaklumi oleh para rekan kerja si playboy cap kampret termasuk Malia yang juga sudah lama kenal


dengannya.


Lagipula si playboy cap kampret itu hanya sebatas berlaku sok akrab saja dengan merangkul pundak para rekan


kerjanya, tanpa bermaksud melecehkan.


Hanya suatu sikap keakraban, dan dianggap sudah biasa oleh Malia dan rekan-rekan kerjanya.


“Belom ada pacar ini lo kan, Li?” ucap si playboy yang bernama asli Riza itu, sembari tetap meletakkan satu tangannya dengan santai di salah satu pundak Malia yang jalan berdampingan dengannya di belakang teman-temannya yang lain.


‘Pacar ga punya emang, calon suami adanya!’ batin Malia.


“Udah, mending ama gue aja si Li?.....” celoteh Riza.


“Idiihhh ogah amat!”


“Wa elah!.....”


Riza pun terkekeh sembari menoel dagu Malia dengan masih merangkul pundak Malia.


“Ck! Ramah banget tangan lo!”


Malia mencebik pada Riza yang masih terkekeh.


Keduanya nampak asik bersenda gurau hingga kemudian langkah keduanya terjegal, karena rekan kerja Malia yang berjalan di depannya dan Riza berhenti mendadak.


“Paan sih?!.....”


Malia sontak berucap heran.


“Ya ampun, rahim gue menghangat seketika!”


Malia mengernyit melihat ekspresi beberapa rekan kerja perempuannya yang nampak heboh dan seolah terkagum-kagum pada apa yang sedang mereka lihat, hingga kalimat-kalimat absurd keluar dari mulut para perempuan rekan kerja Malia itu.


Dan Malia pada akhirnya menoleh ke arah sumber keriuhan para rekan kerja perempuannya yang seolah terpaku di


tempat mereka. Dan didetik berikutnya Malia seolah ikut terpaku.

__ADS_1


Sosok yang ada dalam pandangannya itu juga sedang melihat ke arahnya. Namun wajahnya datar saja.


Tidak seperti biasanya sejak mereka dekat, senyuman selalu ada menghiasi wajah tampan sosok pria itu jika


bertemu Malia.


Kali ini sosok pria yang paling dekat dengan Malia selain papa kandungnya itu, wajahnya nampak berekspresi datar dengan mata yang sedang menyorot pada Malia di setiap langkah sosok pria tersebut yang berjalan mendekat pada Malia.


Tapi sepertinya bukan pada Malia, melainkan pada sebuah tangan yang sedang bertengger di pundak Malia. Dan Malia menyadarinya.


‘Oh damned!’ batin Malia.


****


Baru saja Malia hendak menjauhkan tangan si playboy cap kampret dari pundaknya, pria yang adalah Reiji itu sudah berada tepat di hadapan Malia dan menampakkan senyum tipis, sangat tipis.


“Eumm R---“


“Sorry,” Reiji menyingkirkan tangan Riza dari pundak Malia dengan tersenyum pada si playboy cap kampret yang


nampak heran sembari melihat ke arah Reiji, lalu melihat Malia.


Reiji kemudian menarik Malia dengan merengkuh pelan pinggang Malia yang sedikit salah tingkah hingga menjauh


dari Riza.


Cup!.


Sebuah kecupan mendarat di pipi Malia dari Reiji dengan cepatnya.


Dan Malia sontak dibuat terkejut bukan main karenanya.


“Miss you.....” ucap Reiji setelah mengecup pipi Malia yang nampak bersemu akibat tindakan Reiji yang tiba-tiba menciumnya walau hanya di pipi saja.


Sementara rekan kerja Malia yang tadi nampak takjub luar biasa pada Reiji, kompak melongo saat Reiji menarik


Malia dengan merengkuh pinggangnya dan mengecup pipi Malia.


“Mereka temen-temen kerja kamu, Sayang?”


Belum selesai Malia dengan keterkejutannya serta menetralkan jantungnya yang menjadi sedikit berdebar


cepat karena kecupan di pipinya yang diberikan Reiji, panggilan yang tersemat dibelakang kalimat Reiji barusan menambah keterkejutan Malia.


Malia agak-agak kaget dengan sikap Reiji yang nampak mesra padanya. “Ga mau kenalin aku ke mereka? .....”


“Oh, i-iya .....” sahut Malia yang agak sedikit kikuk itu. “Guys, kenalin ini Reiji .....” Malia pun memperkenalkan Reiji pada rekan-rekan kerjanya itu.


Reiji tersenyum dan menyodorkan tangannya pada para rekan kerja Malia yang akhirnya mengerubung itu.


“Reiji,” ucap Reiji. “Tunangannya Lia .....”


Reiji menjabat tangan rekan-rekan kerja Malia secara bergantian, termasuk pada Riza yang nampak meringis karena merasa tidak enak sendiri karena sempat merangkul pundak Malia tadi.


“Oh, my gat Liaa .....”


Salah seorang rekan kerja Malia pun mengeluarkan celetukan antara takjub dan tak percaya, jika laki-laki dan


para teman wanitanya kagumi itu adalah tunangan Malia yang selama ini dikenal sebagai salah satu jomblo di kantor mereka.


“Sorry Bro, gue ga tau kalau Lia udah punya tunangan.....” ucap Riza yang merasa kikuk sendiri.


“Sekarang udah tau kan? .....”


Reiji menyahut pada Riza dengan menampakkan senyumnya.


“Kalau Malia udah ada yang punya.”


Cup!.


Sekali lagi Reiji mengecup pipi Malia, hingga Malia kemudian menoleh ke arahnya, dan Reiji menampakkan senyum manisnya, kemudian merangkul Malia dengan posesif.


“Yuk, Yang,” ajak Reiji. “Kami duluan yah? .....”


Reiji langsung berbalik dengan tetap merangkul Malia secara posesif, hendak membawa Malia berlalu dari hadapan


rekan-rekan sekerja Malia.


“Guys, sorry gue ga jadi ikut yah?.....” ucap Malia pada rekan-rekannya itu.


Yang langsung diiyakan oleh semua.


“Yuk, gue duluan .....” pamit Malia sembari mengangkat satu tangannya.


“Lupa ya punya tunangan? Sampe di rangkul cowo tadi kamu diem aja? .....”


Reiji berbisik di telinga Malia, dan tangan yang tadi melingkar posesif di pinggang Malia, kini telah berpindah ke pundak Malia seperti Riza yang merangkul pundak Malia tadi.


‘Ya ampun, jangan bilang kalo si Rei ini ..... lagi cemburu?’


****

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2