WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 44


__ADS_3

Selamat membaca..


***


MALIA


“Sekali lagi, Malia, Sayang, se sumbang apapun suara aku saat aku menyanyikan satu lagu ini buat kamu, tapi ini perasaan aku..”


Aku begitu terharu saat empat kata terakhir yang Reiji katakan padaku, kala ia mengajakku naik ke atas panggung hiburan dalam resepsi pernikahan kami yang baru berlangsung kemarin di sebuah Hotel yang berada di daerah Jakarta.


Ucapan serta suara Reiji menggambarkan betapa tulusnya dia saat mengatakan itu padaku, kala ia melepaskan genggaman tangannya dariku, dan memindahkan tangannya itu ke wajahku, lalu menatapku dalam dan lembut.


Aku seolah terbius oleh tatapan dari dua netra bening milik Reiji, hingga aku terpaku dengan juga mengunci tatapanku hanya kepada Reiji yang sedang menatapku itu.


Dan sepertinya bukan hanya aku saja yang terbius oleh sikap dan ucapan Reiji saat itu.


Tetapi semua orang yang berada dalam Ballroom Hotel dan menyaksikan perlakuan serta mendengarkan ucapan Reiji padaku.


Karena, suara-suara kekehan dan guyonan yang tadinya sempat riuh, tau-tau menjadi hening seketika.


Hingga kemudian suara dentingan piano nan indah mengurai nada, lalu sebuah lagu Reiji persembahkan untukku. Dan Reiji yang melantunkan lagu milik Bryan Adam itu, sukses menggetarkan hatiku.


Everything I Do, I Do It For You.


Sebaris bait lagu itu, disertai tatapan Reiji yang teduh berikut senyumannya, membuatku merasa, jika itu tak hanya sebatas bait lagu, tapi juga gambaran perasaannya....


Padaku....


Tulus, bukan sekedar gombalan.


Bahwa dia akan melakukan apapun untukku, yang pastinya mengenai kebahagiaanku.


Dia....


Reiji Shakeel....


Suamiku....


Dan orangnya sedang....


“Yang, kamu mau mandi duluan?....”


Bertanya padaku, selepas aku dan Reiji sudah berada di dalam kamar hotel, yang sudah dihias dengan indahnya, dimana jurusannya adalah....


Malam pengantin....


Malam pertama....


Ah, apapun itu.


Yang jelas, ya aku sedang nervous saat ini.


****


“Yang, kamu mau mandi duluan?....”


Suara Reiji yang bertanya, membuat Malia yang tadi sedang bergeming karena melamun, seketika terkesiap.


Reiji dan Malia akan menginap semalam dalam hotel, dimana Ballroom-nya menjadi tempat resepsi pernikahan keduanya tadi.


Sebuah kamar suite yang memang sudah disewa khusus untuk sepasang pengantin baru, yang telah dihias sedemikian rupa hingga berkesan romantis.


“Iya, kenapa Rei? ....”


Melihat Malia yang nampak sedikit gugup itu, membuat Reiji mengulas sebuah senyuman.


“Kamu mau mandi duluan? ....” Reiji pun mengulangi pertanyaannya.


“Oh, kamu aja duluan deh, Rei. Aku mau ngelonjorin kaki dulu sama mau bukain ini jepitan-jepitan yang ada di rambut....”


‘Kirain mau buka apaan....’


Reiji membatin geli sendiri. Dan sejenak kemudian, Reiji telah berada di dekat Malia yang duduk di sofa dalam kamar mereka.


“Sini aku bantuin kalo gitu ....” Tawar Reiji, namun ia sudah mendudukkan dirinya di lengan sofa panjang yang diduduki Malia.


“Ga usah, bisa kok aku ....” Tolak Malia dengan halus.


Tolakan halus dengan senyuman yang Malia tampakkan pada Reiji.


Reiji tak menyahut, tapi tangannya sudah berada di kepala Malia, dan matanya sudah menjelajah rambut istrinya itu, seperti sedang mencari-cari sesuatu disana.


“Done.” Ucap Reiji kemudian, setelah rambut Malia tergerai.


Dan beberapa buah jepitan kecil yang tadi ada di kepala Malia, kini sudah berada dalam genggaman satu tangan Reiji.


“Makasih ya....”


Reiji mengulas senyuman saat Malia menoleh dan berterima kasih padanya.

__ADS_1


“Iya sama-sama ....” Sahut Reiji, seraya berdiri dari duduknya.


“Aku mandi duluan kalo gitu ya? ....”


“Iya....”


Malia menyahut dengan kepalanya yang bergerak mengiyakan.


“Aku ini udah jadi suami kamu, Lia. Jadi jangan terlalu sungkan untuk hal-hal kecil ....”


Reiji berucap sembari mengacak pelan rambut Malia sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.


Malia mengiyakan ucapan Reiji dengan gerakan kepalanya lagi, berikut senyuman yang juga terpasang di bibirnya.


‘Fuuhhh.’


Malia menghembuskan nafas lega saat Reiji sudah masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


‘Baru dia bukain jepitan rambut di kepala gue aja, hati udah ga karuan gini deg-degannya! .... Gimana dia bukain pakaian gue nanti?????....’


***


Malia memindai kamar suite dengan matanya, sembari menunggu gilirannya untuk menggunakan kamar mandi setelah Reiji selesai dengan urusannya di dalam sana nanti. Lalu mata Malia terkunci ke arah ranjang dalam kamar tersebut, yang sekiranya dihias sebagai ranjang pengantin.


Ranjang dengan seprai warna putih dengan taburan kelopak mawar di atasnya, seketika membuat wajah Malia sedikit memanas, karena sekelebat bayangan akan sebuah ritual ehem ehem pengantin baru, tahu-tahu mampir di otak cantik Malia.


‘Ya ampun Maliaa!!!!. Kenapa otak lo jadi ngeres begini siiii?????!!!!’ Malia merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


***


“Aku udah selesai ....” Suara bariton bernada santai, mengejutkan Malia yang sedang sibuk memikirkan apa yang akan terjadi dalam kamar tersebut bersama Reiji.


Saking Malia melamunkan perihal ritual malam pengantin yang membuat jantungnya mulai tak santai, Malia sampai tidak mendengar pintu kamar mandi dibuka, dan Reiji keluar dari dalamnya. Dan yang semakin membuat hati Malia tidak santai adalah, penampilan Reiji yang sudah ada di dekatnya saat ini.


Suaminya itu hanya menggunakan handuk putih hotel yang ia lilitkan mulai dari batas pinggangnya, tanpa terlihat canggung dihadapan Malia.


Malah Malia yang jadi kikuk dan salah tingkah sendiri. Dan pada akhirnya Malia memalingkan wajahnya, selang beberapa saat.


Lalu bergegas untuk berdiri dari duduknya, untuk langsung pergi ke kamar mandi.


“Ak-u mandi dulu kalo gitu ....”


“Kenapa?”


Reiji spontan bertanya pada Malia, karena Malia tidak melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamar mandi.


“Itu ak-u belum nyiapin baju ganti kamu....” Jawab Malia yang mau tidak mau menoleh pada Reiji yang hendak masuk ke dalam Walk in closet, setelah Malia mengingat jika sebagai istri, Malia harus menyiapkan pakaian untuk Reiji yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Karena kemungkinan setelah Malia selesai mandi, baju dan celana Reiji akan tidak lagi terpasang di tubuh Reiji.


‘Aigooo!.... Otakku yang cantik dan cerdas, kenapa saat ini kamu begitu mesum siiiihhh???!!!!’ Batin Malia yang gemas pada dirinya sendiri. ‘Lagian, kenapa dia ga sekalian bawa baju ganti sih tadi sebelum masuk kamar mandi???....’


“It’s okay, Yang....” Suara Reiji membuat Malia kembali fokus pada perut atletis Reiji.


Eh, pada sosok Reiji, maksudnya.


“Kamu mandi aja gih, biar aku yang ambil sendiri pakaian ganti aku ....”


“Y-a udah, iya ....” Sahut Malia yang tersenyum kikuk, lalu buru-buru balik badan.


“Pake air hangat mandinya ....” Reiji berucap saat Malia sudah akan masuk ke dalam kamar mandi.


“Iya ....”


Malia menyahut sambil masuk dengan cepat ke kamar mandi.


Dan di dalam kamar mandi, Malia berkali-kali menghela dan menghembuskan nafasnya sembari memegang dadanya, dimana degupan-nya sudah tak beraturan.


***


Malia memilih untuk mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower, karena melihat bathtub yang menurut Malia adalah sebuah jacuzzi itu masih belum terpakai. Dimana air berikut taburan kelopak mawar yang ada di bathtub tersebut masih nampak rapih.


Sepertinya Reiji juga mandi dibawah kucuran air shower tadi.


Sebenarnya Mali merasa tergoda sih, untuk berendam di dalam bathtub bertabur kelopak mawar, yang meski mungkin airnya sudah dingin namun harum aromaterapi yang menguar di dalam kamar mandi itu terasa cukup menenangkan.


Dan pastinya, air dalam bathtub tersebut juga sudah dibubuhkan cairan aromaterapi untuk relaksasi.


Namun Malia urungkan, karena rasanya ia sayang untuk menggunakan air dalam bathtub yang cantik itu.


‘Aigoo!!!!!....’


Malia memalingkan wajahnya dari bathtub dan langsung mengarahkan kakinya menuju bilik shower setelah ia berhasil melepaskan kebaya pengantinnya untuk segera membersihkan diri.


‘Memang harus diguyur ini kepala, biar otak ngeres gue luntur kebawa air ..’ Gerutu Malia, yang sempat memiliki pikiran nakal tentangnya dan Reiji di dalam bathtub.


***


REIJI

__ADS_1


Selama resepsi pernikahanku dan Malia tadi, perhatianku tertuju pada para tamu undangan yang hadir, yang rasanya tak habis-habis itu.


Selain tertuju pada istriku, tentunya. Yang nampak cantik luar biasa dengan balutan kebaya pengantin resepsi yang terpadu sepadan dengan pakaian pengantinku pastinya. Anggun, mempesona hati Babang Reiji lah pokoknya.


Termasuk juga mempersiapkan senyum sumringah, karena ada fotografer yang akan mengabadikan momen bahagia untukku ini. Mudahan untuk Malia juga, meski dia belum mencintaiku. Tapi melihat senyumnya yang juga tak pernah hilang seperti senyumku selama resepsi, bolehkan aku merasa, jika Malia juga berbahagia dengan pernikahan kami ini?.


Sudah atau belum Malia mencintaiku, tapi melihat gurat wajah Malia yang santai selama resepsi dan dari sejak akad, rasanya aku cukup bersyukur karena tidak nampak sedikit pun raut tertekan di wajah Malia. Malah, kami sesekali bersenda gurau dengan santainya di atas pelaminan.


Begitu saja, aku sudah cukup berbahagia.


Kurang lebih dua jam, acara resepsi pernikahanku dan Malia akan berakhir.


Maka sebelum itu berakhir, aku akan melakukan sesuatu dihari istimewaku ini.


Sesuatu yang aku persembahkan khusus untuk istriku tercinta. Malia Leonard, yang mulai hari ini bergelar sebagai Nyonya Reiji Shakeel.


Aku menggenggam erat tangan Malia untuk naik ke atas panggung hiburan.


Ya, aku mempersembahkan satu lagu untuk istri cantikku itu.


Lagu yang menggambarkan perasaanku. Aku yang akan berusaha untuk memenangkan hatinya, dan melakukan apapun semampu yang aku bisa untuk membuat Malia bahagia.


Sabodo amat sama suara yang ga punya pitch control ini.


Yang penting,


Everything I do, I do it for you, Lia....  and it’s true....


Singkat kata, pesta pun berakhir.


Aku dan Malia, berikut keluarga kami, menginap di hotel tempat resepsi pernikahanku dan Malia dilangsungkan dalam Ballroom-nya.


Ingin lebay rasanya, menggendong Malia dengan ala ala bridal style.


Tapi tidak. aku tidak melakukannya.


Aku hanya menggandeng Malia dengan mesra untuk sampai ke kamar kami dalam hotel.


Sebuah kamar suite yang telah disulap menjadi kamar pengantin. Yang membuat otakku seketika travelling, saat mataku sampai pada ranjang bertabur kelopak mawar.


Terlebih kebaya resepsi Malia cukup pas, bahkan terkesan ketat ia kenakan, karena bodinya yang aduhai itu cukup tercetak dari balik kebaya panjang serta gaun dalaman yang juga panjang dalam lapisan kebaya.


Yang bukan hanya membuat Malia pantas menjadi ratu saat resepsi tadi, karena kecantikannya begitu naik ke permukaan.


Cantik dan ....


Seksi! ....


Ah, beruntungnya aku!.


Jadi pengen buru-buru....


Apalagi pas udah selesai mandi begini.


Mau pakai baju kok males ya?....


**


Malia telah selesai membersihkan dirinya, lalu memakai bathrobe yang telah ia dekatkan letaknya dengan bilik shower agar dapat langsung ia kenakan saat ia telah selesai di dalam bilik mandi tersebut, sehingga ia tidak polos tanpa busana berkeliaran di dalam kamar mandi.


Malia menyadari sesuatu, lalu ia menepak jidatnya saat sudah berdiri di depan cermin wastafel, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Malia merapihkan jubah mandi yang menutupi tubuh polosnya, lalu mengeratkan tali jubah mandi tersebut agar setidaknya menutup rapat bagian sensitif Malia.


‘Ini gue ga ada maksud buat sengaja-sengaja mancing Reiji loh ya?!’ Batin Malia bermonolog. 'Pure, lupa bawa baju ganti kedalem sini.' Sambungnya dalam hati. ‘Oon banget emang gue nih!’


Malia merutuki dirinya, sembari berjalan ke arah pintu kamar mandi. Setelah beberapa langkah tangan Malia sudah mencapai knob pintu kamar mandi.


Namun Malia tidak segera membuka pintu tersebut, melainkan sedang menarik hembuskan nafasnya terlebih dahulu.


‘Tarik nafaas .... Buang ....’


Malia menenangkan dirinya.


‘Ga akan mungkin gue langsung ‘diserang’ Reiji pas buka ini pintu kan????’


Malia pun memutar pelan knob pintu kamar mandi.


Dimana..


“Yang..”


Gluk!.


Malia seketika menelan ludahnya, kala ia telah membuka pintu kamar mandi, dan Reiji sudah berdiri di depan pintu tersebut.


“R-rei ....”


“Yang, itu....”


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2