
Selamat membaca....
*************************
MALIA
“Ya udah sini aku yang pegangin ponsel kamu. Jadi kalo ada yang telfon, aku aja yang terima. Biar kamu ga repot dan kelewatan informasi, karena siapa tau penting?..”
Aku langsung berkata seperti itu saat aku dengar ponsel Rei berdering dengan nada panggilan telepon, namun enggan Rei terima dengan alasan, “Aku kan lagi nyetir, Yang..”
Kebetulan dong. Biar aku sekalian cari tahu sendiri perihal kebohongan Rei dari ponselnya jika ponsel itu berada di tanganku.
Yang tidak kesampaian, karena kemudian Rei bilang, “Urusan penting aku hari ini cuma kamu kok, Yang.” Sambil Rei memasukkan ponselnya ke kantong celana.
Hal yang sedikit tidak biasa, karena biasanya Rei letakkan sembarang saja ponselnya di ruang tengah kecil antara kursi penumpang dan kursi kemudi. Bahkan setelah hubungan kami begitu baiknya, Rei akan menitipkan ponselnya padaku setelah ia sempat menerima panggilan telepon jika ada yang masuk kala ia sedang mengemudi.
Yah, satu kebiasaan Rei yang patuh lalu lintas itu adalah dia hanya akan menerima telepon atau membaca pesan saat lampu merah bila sedang tidak ada yang urgent. Bahkan terkadang jika ada telepon atau chat yang ingin ketahui dari siapa dan ada apa, Rei akan memintaku untuk mengecek ponselnya jika ia sedang mengemudi.
Tapi tidak kali ini.
Mencurigakan.
Membuatku yakin jika memang ada hal yang sedang Rei sembunyikan.
Apa.. Rei selingkuh?..
Aku harus mencari tahu kalau begitu.
Tapi bagaimana ya caranya?..
🌿
“Kamu mau kemana?” tanyaku, ketika aku mengalihkan pandangan ke arah luar jendela mobil selepas aku iseng mengotak-atik layar kecil di tengah mobil. Yang mana ekor mataku curi-curi untuk memperhatikan gelagat Rei.
Namun karena setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Rei terlihat fokus mengemudi, aku kemudian memalingkan saja wajahku ke arah jalanan yang dilalui mobil Rei ini.
Hendak memikirkan cara bagaimana untuk membuat Rei mengakui kebohongannya padaku, lalu mengatakan fakta yang menjadi alasan dia membohongiku sampai mengorbankan jerih payahku kemarin.
Hanya saja aku urung berpikir, setelah aku menyadari jika jalanan yang diambil Rei bukanlah jalanan yang menuju ke gedung apartemen tempat kami tinggal.
“Kita ---“
“Iya udah, ini mau kemana? ---“
“Menepati janji aku.”
“Janji apa?..” tanyaku dan sedikit mengernyit.
“Janji untuk menebus kesalahan aku ke kamu kemarin.”
Rei tersenyum.
“Yang ga dateng di momen yang udah kamu siapin cape-cape, ja ---“
“Ya terus ini mau kemana sebenarnya?” potongku, dan Rei kembali menampakkan senyuman padaku.
Dan tak lama aku sadari, jika mobil Rei berbelok ke tempat dimana aku berada semalam. Hotel yang aku pilih sebagai tempat untuk candle light dinnerku dan Rei yang gagal total.
“Ke sini..” jawab Rei.
“Buat? ---“
“Ganti momen yang kemarin.”
🌿
“Buat apa?” Aku lantas bertanya selepas Rei berkata tentang ‘Ganti momen yang kemarin’ “Basi bukannya kalo mau ngerayain ultah kamu yang udah lewat? ---“
__ADS_1
“Baru lewat sehari, Yang ---“
“Tetap aja hitungannya udah lewat kan?”
“Iya sih,” respons Rei. “Tapi seengganya, aku mau bayar jerih payah kamu kemarin, Yang.”
Rei mengusap lembut kepalaku dengan satu tangannya yang menggerakkan kemudi, untuk lebih masuk ke area hotel.
“Udah berlalu, Rei.”
Aku tersenyum tipis.
“Lagian aku juga udah ga mikirin kegagalan dari apa yang udah aku siapin kemarin. Toh ulang tahun kamu juga..”
“Tapi aku pengen nebus aja, Yang.. Walaupun ga sekeren kamu persiapannya.”
“Kamu liat aja engga, Rei.. Atas dasar apa kamu bilang kalo yang udah aku siapin buat kamu kemarin itu keren?..”
Rei tersenyum selepas aku mengatakan itu. Entah dia menangkap atau tidak jika kalimatku barusan sebenarnya adalah sebuah cibiran.
“Iya emang aku ga liat.”
Lalu Reiji berucap demikan.
“Tapi aku udah bisa ngebayangin betapa kerennya pasti selera kamu dalam menyiapkan acara candle light dinner kemarin, Yang..” tambah Rei memuji.
🌿
“Balik aja, Rei. Kita makan di apartemen aja. Lagian aku males banget ke resto yang ada di hotel ini dengan masih pake pakaian kerja begini.. Ga pas. Lagian udah lusuh juga akunya.”
Aku yang malas ini beralasan.
Lalu Rei kembali mengulas senyuman.
“Kamu masih tetep keliatan cantik, Yang..”
“Lagian, ga usah pedulikan orang lain sih, Yang.”
Selanjutnya Rei berkata demikian.
“Toh istri kan bagusnya mempercantik diri pas di depan suaminya aja?” kata Rei lagi. “Kita parkir Vallet aja, ya?..”
Kemudian Rei memalingkan pandangan ke arah depannya yang sudah akan memasuki pelataran lobi hotel, sudah hendak berhenti sebelum aku berucap.
“Serius, aku lagi ga mood buat makan di luar sekarang. Ga nyaman dengan pakaian, jadi kita balik aja mendingan dan makan di apartemen aja..”
🌿
Rei tak jadi memberhentikan mobilnya di pelataran lobi hotel, setelah sebaris kalimat yang bermakna penolakan aku lontarkan atas ajakannya untuk makan di restoran tempat acara candle light dinner kami yang gagal.
Rei yang membuatnya gagal.
“Kan, aku bilang kalo ---“
“Yang..” potong Rei saat aku hendak bertanya kenapa ia malah masuk ke area parkir hotel. “Waktu aku bilang aku mau tebus kesalahan aku kemarin itu aku serius, Yang.” Lalu Rei lanjut bicara.
“Iya kan aku bilang ga usah, ga perlu. Udah berlalu dan aku kan juga ga minta kamu nebus apa – apa ---“
“Ini bentuk pertanggung – jawaban aku, Yang..”
“Ga usah terlalu dibesar – besarkan lah.”
“Ga aku besar – besarin,” ujar Rei. “Aku kepengen aja ajak kamu makan malam sekarang ini buat ganti yang kemarin. Itu aja ---“
“Ya akunya ga kepengen gimana? ---“
“Pengen ya? ---“
__ADS_1
“Males, Rei ---“
“Please?..” mohon Rei.
“Next time aja, Rei. Beneran aku lagi males.”
“Aku udah booking, Yang..” ucap Rei kemudian. “Aku udah booking tempat buat candle light dinner kecil – kecilan walaupun spot yang kemarin kamu booking udah keburu ada yang reservasi duluan.. Tapi, paling engga aku udah nyiapin set meja candle light dinner kayak yang kamu buat kemarin meskipun aku ga tau mirip atau engga..”
Rei bicara panjang lebar, setelah membawa mobil yang ia kemudikan melewati palang parkir otomatis. Kemudian berhenti di salah satu carport yang tersedia.
“Udah booking satu kamar juga buat kita menghabiskan malam di sini. Jadi jangan nolak ya, please?..”
Ah, Rei.. Andai aja aku ga tau kalau kamu membohongi aku soal kepulangan kamu kemarin, aku mungkin udah tersenyum bahagia sekarang.
“Kalau kamu insecure soal pakaian kamu sekarang, kayaknya bisa minta pihak hotel buat menyediakan pihak yang bisa nyiapin pakaian untuk kita pesan secara mendadak?”
Manis sih, penebusan maaf kamu, Rei. Tapi aku sudah kadung kecewa. Bukan karena kamu yang ga bisa datang kemarin. Kalau memang benar karena kendala pekerjaan dengan sejujurnya, aku tidak akan sekecewa ini. Aku kecewa karena dibohongi, dengan alasan yang tersembunyi.
Jadi..
“Sorry, Rei. Aku bener – bener lagi ga mood.”
Bagaimanapun terdengar sungguh – sungguhnya Rei yang ingin meminta maaf padaku sampai mengulang rencana kemarin yang gagal.
Bagaimanapun terdengar ---- manisnya kejutan dari Rei ini, bagiku sudah basi. Basi karena ketidakterbukaan Rei padaku. Mungkin keterlaluan sikapku, terlebih sebagai istri.
Yang suaminya udah cape – cape begini menyiapkan sesuatu yang romantis.
Sama, kemarin pun aku sudah cape. Repot bahkan. Mengatur untuk membagi fokus antara pekerjaan yang harus cepat aku selesaikan, serta mempersiapkan segala sesuatunya untuk perayaan ultah Rei yang sudah aku buat sedemikian romantisnya.
Terkesan seperti balas dendam, ya? --- Mungkin Rei berpikir begitu.
Yah, terserahlah Rei mau berpikir seperti apa.
Yang jelas keputusanku tetap sama.
“Ini.. Serius kamu ga mau turun? ---“
“Iya, serius ---“
“Aku beneran loh ini, udah nyiapin satu set spot buat candle light dinner kita sekarang sekaligus kamar hotelnya. Aku kerjain dari tadi siang sebelum pergi ke kantor kamu ---“
“Aku hargai itu, Rei..” potongku.
Lalu Rei terdiam dan menoleh padaku.
“Tapi aku juga beneran pengen cepet balik ke apartemen aja.”
Aku menarik lurus bibirku.
“Udah aku bayar lunas loh? Ga sayang uangnya?..” Gelagat Rei yang coba merayuku.
“Aku ganti..” jawabku, dan Rei terkekeh kecil.
Agak getir nampaknya.
Iba, ada. Tapi kecewaku pun juga ada.
“Ya udah.. Kita balik ke apartemen,” ucapnya kemudian setelah sejenak memandangiku.
“Thanks,” sahutku dan Rei mengangguk samar, lalu melajukan mobil keluar dari carport parkiran hotel.
Jadi setelah ini, apa kamu akan peka dan jujur padaku saat kita tiba di apartemen nanti, Rei?..
🌿🌿
Bersambung.....
__ADS_1