
Selamat membaca...
***
“Kamar atau ruang tamu? Belum pernah loh kita main disana ----“ ucap Reiji yang sedang mendekap erat Malia yang ia dudukkan di atas permukaan wastafel, seraya ia bertanya.
Perbincangan hangat dan mesra yang sempat Reiji dan Malia lakukan, kini berubah menjadi tatapan dengan kilatan gairah pada masing – masing keduanya. Keinginan untuk bercinta, sama – sama Reiji dan Malia rasakan sudah menggulung mereka.
“Kamar aja.”
Reiji pun tersenyum mendengar jawaban Malia, meski Malia memotong kalimatnya
“As your wish my queen---“ Reiji pun langsung menggendongku keluar dari dalam kamar mandi.
Dan Malia pun spontan melingkarkan tangan dan kakinya lebih erat di leher dan pinggang Reiji-hingga Reiji merebahkan Malia di atas ranjang, dalam kamar pribadi mereka di unit apartemen yang merupakan tempat tinggal Reiji dan Malia setelah menikah itu.
Bibir Reiji dan Malia terus saja bertautan dengan rakusnya.
Malia jauh lebih pro aktif membalas setiap ******n bibir Reiji di bibirnya sekarang ini.
Tentu saja Malia menjadi seperti itu karena ia sudah mencintai Reiji. Dan berciuman dengan orang yang kita cintai rasanya lebih sedap serta perlu dengan sangat untuk dinikmati, selain memberikan servis yang baik untuk pasangan, bukan?..
Kira-kira seperti itulah yang Malia pikirkan saat ini. Disaat dirinya dan Reiji sedang saling menginginkan. Hingga pergulatan bibir keduanya seolah tak mau berhenti, seolah hari esok tidak akan ada lagi. Dan pergulatan bibir Reiji serta Malia terus berlanjut hingga sampai di tempat tidur mereka.
Di tengah sesi ciuman Reiji dan Malia yang hot itu, Reiji melepas ikatan bathrobe Malia, hingga tubuh bagian depan Malia terpampang tanpa sensor dihadapan Reiji yang terdengar menggeram tertahan kala ia mengurai sesi ciuman panasnya dengan Malia lalu bangkit setelah tangan terampilnya sukses membuka ikatan bathrobe yang Malia kenakan dan membuka bathrobe tersebut lebar-lebar tanpa melepaskannya dari tubuh Malia.
**
Reiji menatap Malia dengan lekat, dengan bibir yang melengkung ke atas sambil melepaskan balutan handuk yang menutup area pinggang ke bawahnya. Lalu tak lama Reiji kembali merangkak naik ke atas tempat tidur, dan mencumbui lagi Malia.
Malia menyambut penuh minat cumbuan Reiji yang diawali lagi dengan ciuman lembut oleh suaminya itu.
Ciuman dari satu-satunya pria yang pernah mencium bibirnya, bahkan sampai saat ini.
**
“Lia ..” Reiji menggeram tertahan memanggil nama Malia, dengan suara geraman yang terdengar serak.
Malia menegang, sampai dia mencengkram kuat tubuh Reiji kala suaminya itu melakukan penyatuan dengannya.
Nyatanya, meski bukan untuk yang pertama kalinya Reiji ‘memasuki’ dirinya, Malia selalu saja dibuat tegang jika ‘pusaka’ suaminya itu sudah melesak masuk ke inti tubuhnya.
Mungkin karena ukuran ---
__ADS_1
Ah sudahlah ..
Yang jelas, selain Malia rasanya belum imun dengan otot-otot yang tercetak pas sesuai porsi ditubuh Reiji, rasanya Malia juga belum imun dengan ‘pusaka’ Reiji.
Reiji sudah menghentakkan pinggulnya, dan Malia memejamkan matanya meresapi ‘penyatuan’ yang baru saja dilakukan oleh suaminya itu.
Namun Malia dibuat terkejut oleh Reiji yang sedikit mencengkram tengkuknya dan berkata dengan sedikit mengintimidasi Malia untuk menatapnya.
“Lihat aku Yang.” Pinta Reiji ditengah kegiatannya memaju-mundurkan pinggulnya di atas tubuh Malia yang rapat dengannya itu. Dimana Malia langsung saja menatap suaminya itu.
Sampai kemudian Malia menelan air liurnya saat Reiji menarik tengkuk Malia sedikit lebih tinggi dari posisinya dan memaksa Malia untuk menengok ke area bawah mereka. Dimana ‘pusaka’ suaminya itu sedang ‘bekerja’ disana.
“Hanya aku Yang, hanya aku yang boleh melakukan ini ke kamu!” ucap Reiji sambil menatap Malia sesaat, lalu ia juga menoleh sesaat ke area bawahnya dan Malia, lalu menatap Malia lagi lekat-lekat dengan nafas yang sudah memburu serta mata yang sudah sayu. “Kamu, hanya milik aku Yang –“
Reiji terdengar seperti sedang meracau.
Ditengah dirinya yang sedang ‘menjajah’ Malia, dia teringat pada pria yang Reiji sebut sebagai bibit pebinor.
Efeknya, untuk sesaat rasa gusar muncul di hati Reiji, mengingat si bibit pebinor itu pernah menjadi lelaki impian Malia. Dan hubungan mereka pernah dekat meski Malia sudah berstatus sebagai istrinya.
“Just mine ( Hanya milik aku )!” ucap Reiji sebelum dia kembali menyambar bibir Malia sambil Reiji terus menggerakkan pinggulnya menghujam Malia.
**
Mata Reiji dan Malia saling memaku sesekali di sela buaian kenikmatan di atas tempat tidur yang sedang diterpa gempa lokal. Jantung keduanya berdetak kencang, sebagaimana diri yang sudah terdesak hasrat dan sedang dilampiaskan saat ini.
Meski tadi Reiji sempat dibuat kesal atas bayangan Malia yang pernah mencintai Irsyad lalu mengabaikan dirinya. Hanya sesaat saja, karena Reiji orang yang kadar pemikiran positifnya amat sangat lebih besar dari pemikiran negatifnya. Jadi Reiji kembali pada pikiran, Malia sudah mencintainya betul-betul, dan si bibit pebinor itu sudah benar-benar jadi masa lalu Malia.
**
Nafas Reiji dan Malia sudah memburu dengan banyaknya ******* dan erangan yang tercipta atas pergulatan keduanya di atas tempat tidur pribadi mereka itu.
Suasana di kamar pribadi Reiji dan Malia memanas seiring gairah yang telah membakar keduanya begitu hebat Reiji dan Malia rasa.
Penyatuan yang sedang dilakukan keduanya sungguh membuat Reiji dan Malia terombang – ambing dalam kenikmatan yang rasanya enggan untuk diselesaikan dengan cepat.
Dan Reiji pun ambruk di atas Malia setelah ia mendapatkan pelepasannya.
“Ka, mu .. udah sampe Yang?” tanya Reiji dengan nafasnya yang masih tersengal di atas tubuh Malia yang tidak terlalu ia bebani dengan bobot tubuhnya.
Padahal Reiji tahu jika Malia juga sudah sampai, mengingat tubuh Malia mengejang hebat bersamaan dengan dirinya yang sama mengejang juga.
Bahkan pelepasan Malia yang barusan adalah pelepasan keduanya setelah Reiji sukses membuat Malia mendapat pelepasan pertamanya hanya dengan tangan dan lidahnya saja.
__ADS_1
Namun begitu, Reiji tetap melontarkan pertanyaan perihal apakah Malia telah mendapatkan pelepasannya atau tidak, semata-mata untuk menghargai Malia sebagai istri yang telah ‘melayaninya’.
Hal simple, namun tidak mau Reiji lewatkan, sebagai bentuk cinta kasihnya pada Malia-istrinya, mengingat beberapa mereka yang berpredikat suami kadang tidak memperhatikan hal kecil tersebut. Dalam hal ini, urusan ranjang.
Banyak suami yang hanya mementingkan kepuasan diri mereka sendiri saja saat bercinta dengan istri-istri mereka, tanpa mau peduli apakah istrinya juga sudah terpuaskan atau belum. Dan Reiji bukanlah suami macam itu, untuk digaris bawahi.
“Udah sampe?”
Reiji yang sejenak ambruk tadi kini telah sedikit mengangkat tubuhnya yang kemudian Reiji topang dengan kedua tangannya.
“Hm?” tanya Reiji sambil merapihkan rambut Malia yang sudah acak kadul akibat dahsyatnya goncangan akibat pergerakan mereka beberapa saat yang lalu.
“U,dah..” jawab Malia yang masih mengatur nafasnya. Reiji pun tersenyum sambil memperhatikan wajah Malia yang masih tersengal itu orangnya.
“Jadi, apa Nyonya Malia puas dengan pelayanan saya?..”
Reiji berseloroh, dan Malia mendengus geli mendengarnya.
“Jadi berapa saya harus membayar?” balas Malia atas selorohan Reiji yang langsung terkekeh karenanya.
“Bayar dengan cinta yang tulus –“ ucap Reiji kemudian sambil menatap teduh pada Malia. “Itu udah lebih dari cukup.” sambungnya.
“Makasih ya Rei? –“ sahut Malia sambil melingkarkan tangannya di leher Reiji. “Makasih udah sabar sama aku.”
Reiji tersenyum seraya mengangguk, lalu melepaskan dirinya dari Malia. “Sama-sama Yang –“ ucap Reiji kemudian. “I love you..”
Lalu Reiji mengecup lembut kening Malia. “I love you too Rei..”
Malia membalas ucapan cinta Reiji dengan lembutnya. Hal yang sudah Reiji tunggu sejak ia resmi menikahi Malia.
Dan pada akhirnya, saat yang Reiji tunggu tiba.
Malia membalas cintanya.
Jadi senyum Reiji mengembang dengan indahnya, sambil ia menarik tubuh Malia dan mendekapnya erat.
**
“Menjalin hubungan bukan berarti tanpa pertengkaran. Kita bertengkar, tapi setelah itu saling memaafkan dan mencintai satu sama lain lebih, lebih dari sebelumnya.”
**
"Di mana ada cinta yang besar yang disertai ketulusan dan kesabaran, selalu ada keajaiban yang mengiringi."
__ADS_1
**
Bersambung ..