
Selamat membaca....
****************
MALIA
“YANG!”
“IBU!”
“MAMIII!”
Tiga bentuk suara yang memekik kaget itu yang langsung terdengar ketika aku melayangkan tas kerjaku dengan keras ke wajah Shirly yang langsung terjerembab ke atas ranjang di dalam kamarnya itu.
Yang entah apakah ranjang itu pernah digunakan dua orang yang menjadi sumber emosiku saat ini.
Su’udzon memang.
Habis bagaimana jika kalian menemukan suami kalian dalam apartemen perempuan lain?...
Di dalam kamar pula.
Dan dengan begitu akrabnya.
Yang perempuan menopang santai tangannya di atas bahu suami orang, dan si suami orang terlihat oke-oke aja.
Ditambah, si bibit pelakor itu berani sekali menamparku.
Walau yah, sekarang aku menyadari jika mungkin aku cukup tega dengan mengatakan jika anak lelaki si bibit pelakor itu adalah anak haramnya dan Rei.
Mana tahu, kan?
Jika nasibku ternyata seperti nasib satu tokoh dalam cerita fiksi dimana suaminya membohonginya selama bertahun – tahun dengan menyembunyikan keberadaan WIL dan telah memiliki keluarga lain bersama WIL di belakang istrinya itu.
Amit – amit sih, jangan sampe!
Tapi kan, siapa tahu?
Dan jika memang seperti itu, Rei dan si bibit pelakor itu akan berada diurutan pertama orang yang paling aku benci di dunia ini.
--
Kembali kepada tindakanku terhadap si bibit pelakor yang katakanlah --- bar – bar.
Karena selain aku memukul wajahnya dengan tas kerjaku, aku kemudian mendudukinya lalu menampar dan menjambak rambutnya.
Atas nama emosi, aku seolah gelap mata dan rasanya tenagaku berkali lipat jadinya.
Dimana aku merasakan rengkuhan Rei yang mencoba menarikku untuk segera melepaskan si bibit pelakor itu, namun tubuhku seolah terpaku.
__ADS_1
Tenagaku yang membuatku menahan diri pada posisi menduduki si bibit pelakor itu, macam terpatri oleh paku bumi yang sulit untuk di cabut.
Lalu ketika aku menjambak rambut si bibit pelakor yang meronta dan sudah berderai air mata itu, aku merasakan beberapa tangan memegang tanganku untuk mencoba melepaskan cengkramanku itu.
Yang aku tepiskan, lalu tak lama kemudian aku mendengar teriakan panik, yang disusul dengan suara bentakan. “LIA!” yang tentunya aku kenali itu suara siapa. Menyebut nama panggilanku, bukan menyebut panggilan kesayangan Rei padaku.
--
Bentakan Rei itu benar – benar menyadarkanku jika aku telah menyakiti seorang anak kecil.
Yang mana hal itu aku tidak lakukan dengan sengaja. Merasa bersalah sih, namun rasa bersalah itu tertutup kecewa ketika sekali lagi suara Rei terdengar.
“Kamu keterlaluan Lia!”
Tidak sekencang bentakan yang pertama, namun tetap saja itu dihitung Rei membentakku lagi.
Dengan Rei yang menatap tajam padaku.
Jika sebelumnya hatiku diliputi kekesalan dan amarah --- setelah dua bentakan Rei itu, hatiku kemudian di rundung kecewa dan kegetiran.
Katakanlah aku salah.
Tapi kenapa sampai membentakku di depan orang lain?..
Di depan si bibit pelakor itu lagi??!!..
Bukankah itu berarti Rei menurunkan harga diriku di hadapan si bibit pelakor itu?
Aku tersinggung dengan sikapnya itu, di tambah dia bukannya mempedulikanku malah nampak sibuk mengkhawatirkan anak si bibit pelakor yang menangis itu.
Bukannya aku kejam, tapi apa seharusnya Rei bersikap seperti itu?..
Sikap yang berlebihan, jika itu memang bukan anaknya dan si bibit pelakor itu.
Atas dasar itu, hatiku tersinggung dan teremat secara bersamaan dengan sikap Rei tersebut.
Aku terpaku dan membisu memperhatikan Rei yang sikapnya bak seorang ayah yang anaknya baru saja dijahati oleh orang lain.
Lalu sekali lagi, Rei membentakku.
“Puas kamu?...”
Begitu Rei bicara padaku, dengan menatap tak bersahabat padaku sambil mendekap anak si bibit pelakor itu.
Dan pemandangan keluarga kecil bahagia tersaji di depanku.
Seolah malah aku ini adalah pengganggu yang hadir di antara mereka.
Tercubit sekali hatiku.
__ADS_1
Suami yang tadi menyangkal jika ia dan perempuan yang dia sambangi apartemennya itu tidak ada apa – apa, terlihat begitu melindungi anak dari perempuan yang aku juluki dengan sebutan bibit pelakor.
Lalu sempat aku tangkap dia berbicara pada si bibit pelakor itu setelah menyuruh perempuan yang tadi membukakanku pintu untuk mengambil sesuatu, dimana cara bicara Rei padanya berbeda sekali dengan bagaimana Rei bicara padaku tadi.
Aku kesal, namun kecewaku lebih mendominasi.
Dimana kedua hal itu, sudah membuatku merasa jika air mataku hendak keluar.
Dan aku tidak sudi jika si bibit pelakor itu melihatku lemah dan kecewa, lalu dia berbangga hati karena sadar Rei berpihak padanya.
Jadi, aku memundurkan langkah perlahan tanpa Rei sadari lalu keluar dari kamar sialan itu tak mau peduli lagi.
Memantapkan langkahku lebar – lebar keluar dari unit apartemen yang juga sialan itu yang pintunya aku tutup dengan keras.
Tak peduli, jika para tetangga si bibit pelakor itu mendengarnya.
Mudahan aja rusak pintunya, seperti rusaknya kepercayaanku pada Rei sekarang.
-*
Lorong lift di lantai tempat unit apartemen si bibit pelakor itu sama sepi seperti saat aku datang tadi.
Sehingga tak lama bagiku untuk memasuki kotak besi yang tak lama terbuka pintunya setelah aku menekan salah satu tombol di satu dinding bagian lift tersebut.
Tak lagi aku menengok ke belakang saat aku memasuki lift yang juga langsung aku tekan satu tombol yang tersedia di dalamnya dengan cepat dan tergesa.
Aku hanya ingin cepat – cepat pergi dan keluar dari gedung apartemen yang membuat dadaku sesak ini, dan tanganku baru kurasakan sedikit gemetar kala aku mengingat lagi apa yang telah kulakukan pada si bibit pelakor tadi.
Yang mana aku sendiri tidak menyangka, jika aku bisa menggila seperti itu. Aku bisa sekasar itu.
Ah sudahlah, aku hanya ingin segera cepat pergi dari komplek apartemen yang sudah kucap terkutuk itu.
Dan meskipun aku tidak sampai memergoki Rei yang sedang berbuat asusila dengan bibit pelakor berlabel sahabat itu, tapi tetap saja hatiku tercubit karena telah di bohongi yang entah untuk yang keberapa kali oleh Rei atas nama kepentingan si Shirly dan anaknya.
Serta tercubit karena sikap Rei tadi di depan si bibit pelakor itu.
Tak mau peduli lagi, entah Rei mengejarku atau tidak.
Yang jelas, saat kulihat taksi yang baru saja menurunkan penumpang di lobi utama, aku langsung memasukinya.
Disapa oleh si pengemudi, yang lalu mereset argometer lalu mulai melajukan taksi yang ia kemudikan itu sambil menanyakan destinasi.
“Jalan aja dulu, Pak. Ke arah selatan...” begitu kataku pada si supir taksi yang aku tumpangi. Yang penting segera berambus dari lobi utama gedung apartemen yang sebelumnya aku sambangi.
Pak supir taksi tersebut pun menyahut mengiyakan, sambil kupikirkan destinasi kemana aku ingin diantar.
Yang jelas bukan ke apartemen tempat tinggalku dan Rei.
Maaf – maaf saja, aku sedang jijik padanya.
__ADS_1
***
Bersambung...