
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
MALIA
“Andai gue tau, kalau gue akan secinta ini sama Lia dan andai gue ga begitu naif dengan membuat gue merasa bertanggung jawab pada lo dan Argan—bahkan sampai gue menikah dengan Lia. Sampai membuat gue jadi melangkahi kepalanya. Terkait itu, gue menyesal. Sangat. Jadi gue minta sama lo, mulai sekarang jauh-jauh dari hidup gue termasuk jangan lo bawa lagi Argan ke depan gue, karena gue ga akan mempedulikan.”
Aku speechless dalam ketakjuban pada Rei selepas aku mendengar kalimat panjangnya yang ia tujukan pada Shirly itu. Dan entah bagaimana ekspresi empat orang lainnya yang sedang bersama aku dan Rei saat ini selain dari anak lelaki Shirly yang masih menangis dalam gendongan ibunya itu, yang jelas aku tercengang setelah ucapan Rei setelah ucapan panjangnya barusan pada Shirly sebelumnya. Dan Shirly nampak pias. Selain matanya yang sebelumnya hanya berkaca-kaca saja, kini sudah nampak basah.
Selepas Rei yang masih bicara pada Shirly dengan fokus menatap pada perempuan itu bilang,
“Apa lo sadar, dengan kehadiran lo sekarang berikut sikap lo? lo ga tampak seperti sahabat. Dari mulai chat terakhir lo sampai dengan kehadiran dan sikap lo sekarang, lo malah terkesan seperti perempuan yang ga punya harga diri dengan menggunakan anak lo untuk dapatkan perhatian gue....”
“Ji—“
“Terakhir sebelum ini gue udah pernah bilang sama lo, istri gue udah menyatakan ketidaksukaannya pada persahabatan gue dan lo dan gue memilih untuk ikut maunya dia, kenapa? Karena gue cinta sama dia. Gue bucin mampus menurut kalian? terserah! I really don’t care. Yang jelas gue ga mau kehilangan Lia....”
Aku dengar Abbas dan Aldo hendak menyergah Rei setelah mereka melihat Shirly meneteskan airmatanya—mungkin tak tega pada sahabat perempuan mereka yang nampak betul tertekan oleh ucapan Rei, karena memang terdengar menohok sekali kalimat yang keluar dari mulut suamiku itu pada Shirly.
Namun Abbas dan Aldo tak lanjut bicara, ketika Rei yang kembali bersuara sambil sejenak memandangi satu per satu sahabatnya dengan cepat. Kemudian Rei beralih lagi memandang pada Shirly. Bahkan si Irfan yang sebelumnya nampak betul membela Shirly, kini bungkam saja. Setelah tadi—sebelum Rei melontarkan kata-kata menohoknya pada Shirly, Rei terlebih dulu mengeluarkan kata-kata yang ia tujukan pada Irfan.
***
“Ya gue cuma ga rela aja kalo Reiji mutusin persahabatannya sama gue termasuk dia bersikap kejam sama Argan yang udah kelewat sayang sama dia, cuma karena—“
“Ngomong jelek lagi tentang istri gue, gue robek mulut lo—“
“Rei....”
“Ji....”
“Lo, Fan. Kenapa lo harus ikut campur terlalu dalem soal gue dan Irly saat Babas udah kasih tau lo tentang penegasan gue terkait hubungan persahabatan gue sama Irly? – consider lo care sama dia dan Argan. Apa sama seperti lo care sama Qilla? – engga jawabannya. Care lo pada Irly kurang lebih sama seperti gue dulu. Berlebihan untuk ukuran sahabat dan itu salah saat lo udah memilih seorang pasangan dalam hidup lo. Qilla mungkin belum jadi istri lo, tapi paling engga saat gue sudah memilih Lia gue masih bisa memutuskan untuk menjadikan dia prioritas pada akhirnya walau belakangan gue sempet melupakan itu karena Argan. Ga menghargai usaha dia dalam membahagiakan gue karena gue kelewat khawatir pada kondisi Argan waktu itu....”
“....”
“Tapi paling engga, andai disaat yang sama Lia mendapat hal seperti yang sama pada Qilla dihari dimana Argan angfal, gue akan memilih untuk menemani dia di rumah sakit. Tapi lo? .... lo ninggalin Qilla yang baru habis kecelakaan cukup serius waktu itu cuma karena Irly demam. Sorry kalo lo ga tau soal itu, La—“
“Gue tau kok, Rei.”
“Qilla dan Lia kurang lebih sama. Sama-sama masih mau bertahan dengan pasangannya yang bahkan mencurahkan perhatian buat perempuan lain yang walau konteksnya hanya sahabat. Sorry, kalo gue ngebandingin diri gue dengan lo. Tapi lebih baik jadi bucin mampus daripada jadi pasangan yang ga peka. Lebih baik—buat gue,kehilangan sahabat daripada kehilangan perempuan yang gue cinta dan mencintai gue karena saat gue tua nanti, Lia yang pastinya akan ada di sisi gue buat ngurus dan ngerawat gue. Walau gue percaya kalo lo semua akan bantu ngurus dan ngerawat gue atas nama persahabatan. Tapi ga mungkin kan, kalo lo-Babas ataupun Aldo akan 24 jam buat ngurus dan ngerawat gue saat gue sakit atau gue tua nanti? Tentu engga, karena lo semua punya kehidupan sendiri—“
“....”
“Tapi Lia, gue yakin dia akan ada selalu ada buat gue saat gue sakit dan saat gue tua nanti.... 24/7, dan gue ga akan menyiakan itu, ga akan ambil resiko buat kehilangan dia. Dan persahabatan gue dengan Irly punya resiko besar gue kehilangan perempuan yang gue cintai yang bahkan udah gue nikahi, tentu gue pilih perempuan yang gue cintai dan sama mencintai gue. Paham lo?—“
__ADS_1
***
REIJI
Meski memang Lia terkadang keras kepala, atau benar seperti yang Irly dan Irfan katakan kalau Lia cemburu buta pada Irly – tetap aku ga bisa terima kalau ada orang yang mengatakan hal buruk tentang Lia. Walaupun itu sahabatku sendiri.
Aku sendiri saja tidak pernah mengatakan secara frontal pada Lia tentang kekeras-kepalaannya karena menjaga perasaan istri sekaligus wanita yang aku cintai itu. Jadi mana mungkin aku membiarkan begitu saja orang lain menjatuhkan Lia seperti itu di depan mataku?
Mau orang lain yang tidak ada hubungan denganku ataupun tidak aku kenal, atau juga sahabatku - judulnya aku tidak terima jika mereka sampai mengatakan hal buruk tentang Lia yang walau tidak menghinanya dengan sangat. Namun tetap, Aku Tidak Akan Menerima Hal Itu.
“Dan lo....” selepas aku merepet pada Irfan, aku langsung beralih pada Irly sambil aku mengarahkan telunjukku secara spontan padanya karena aku sudah cukup geram dibuat oleh Irly.
Ya bagaimana aku tidak geram?
Sudah aku tegaskan kepadanya secara langsung dan via chat kalau demi Lia aku harus memutuskan persahabatanku dengannya.
Tapi Irly sepertinya menganggap enteng hal tersebut.
Yah, sedikit banyak ada salahku juga sih dari sikap Irly itu.
Karena sikapku belakangan setelah Irly kembali ke tengah-tengah aku, Babas, Aldo dan Irfan—sedikit banyak aku masih memberikan perhatianku padanya walau sebenarnya aku lebih tepat dikatakan memperhatikan Argan.
Namun tetap saja, kian kemari Irly menjadi begitu menyebalkan dan sekarang mengesalkanku dengan sangat.
Rangkaian kalimat dalam chatnya yang terakhir sudah begitu memprovokasi Lia hingga kami sampai sempat bertengkar hebat.
Sudah aku tegaskan kembali lewat Babas selain aku sudah memblok nomornya, namun Irly terus saja berusaha memojokkanku, dan sekarang?.... dia malah membawa Argan ke tempat tinggalku dan Lia—walau hanya di luar lobi gedung saja. Tapi tetap Irly seperti membawa bensin yang siap untuk menyulut api diantara aku dan Lia yang belum lama padam.
Bahkan saat diperjalanan menuju apartemen, aku dan Lia sempat sedikit bersitegang. Dan baru saja aku mulai membaikkan Lia yang untungnya tidak baper karena sempat bersitegang denganku, karena Lia mau menyambut uluran tanganku dan berjalan bergandengan—eh malah Irly nongol dan membiarkan begitu saja Argan menghampiriku, serta coba memanasi Lia dengan ucapannya—yang aku sempat tangkap dengan mata dan telingaku.
“Apa lo sadar, dengan kehadiran lo sekarang berikut sikap lo? lo ga tampak seperti sahabat. Dari mulai chat terakhir lo sampai dengan kehadiran dan sikap lo sekarang, lo malah terkesan seperti perempuan yang ga punya harga diri dengan menggunakan anak lo untuk dapatkan perhatian gue....”
Jadi mohon maaf, jika akhirnya ucapanku menyertakan kalimat yang terkesan merendahkan Irly. Tapi ya, aku hanya menyuarakan pendapatku dengan jujur—selain saking kesal pada Irly yang terus saja seolah menempatkan dirinya sebagai korban dari Lia, sekali lagi—dengan menyertakan Argan, yang membuatku jadi hilang respect pada Irly yang sebelumnya sempat aku kagumi sebagai single parent yang tangguh.
Namun dengan sikap Irly yang seperti sekarang ini, kekagumanku menguap sudah padanya. Yang ada aku menjadi begitu kesal pada Irly, yang terakhir ucapannya masih coba untuk menyalahkan Lia selain memojokkanku. Jadi sorry Ir, kalau gue sampai tega merendahkan lo dengan ucapan gue—ditambah lo terus mendesak gue menggunakan Argan, yang notabene ga bisa gue berikan simpati lagi. Karena—memang Argan ga ada salahnya dalam urusan persahabatan yang putus ini, namun sedikit banyak kehadiran anak itu dan panggilannya padaku berhubungan dengan keharmonisan rumah tanggaku dan Lia yang masih belum kembali seperti semula.
“Soal perhatian kamu ke si Shirly emang udah ga mau aku pikirin lagi.”
“Tapi hubungan anaknya ke kamu, itu yang masih bikin hati aku ga nyaman.”
“Karena buat aku dia udah ngelangkahin calon anak kita yang bahkan belum ada..”
“Ya dia anggap kamu bapaknya?”
“Aku ga rela.”
__ADS_1
“Masih belum rela, hak anak aku yang seharusnya lebih dulu menyematkan panggilan ‘Papi’ ke kamu diduluin sama anak perempuan lain....”
Karena ini.
Ucapan Lia saat dalam perjalanan tadi dari rumah orang tuanya menuju apartemen kami, yang membuatku dan Lia sempat sedikit bersitegang.
Yang mungkin kekanakkan, tapi aku tetap coba pahami perasaan Lia yang seperti itu dengan bagaimana hubunganku dan Argan selama ini—selain aku harus menghormati keinginan istri yang merangkap wanita yang aku cintai itu.
Dimana aku benar-benar menginginkan anak lahir dari perut Lia, dan demi itu—tentunya aku harus menanggapi serius ucapan Lia terkait Argan yang membuatnya masih kekeh untuk tidak meneruskan promil yang sudah setengah jalan, bahkan tingkat keberhasilannya sudah positif.
---
“Yuk, Yang....” ucapanku yang aku rasa menyakitkan bagi Irly menjadi penutup pembicaraanku dengannya, termasuk dengan tiga sahabat lelakiku. Aku langsung meraih tangan Lia dengan lebih erat aku genggam untuk langsung mengajaknya segera hengkang dari tempat kami sekarang.
Terserah jika aku dibilang tak punya etika atau tak berperasaan.
Atau mungkin setelah ini, tidak hanya persahabatanku saja dan Irly yang berakhir—tapi juga dengan Babas dan Aldo, serta dengan Irfan yang begitu membela Irly tadi.
“Sekali lagi—“
Alih-alih ingin cepat membawa hengkang dari tempat kami sekarang dan menjauhi tiga sahabat lelakiku termasuk Irly dan Argan juga Qilla yang adalah tunangannya Irfan, aku menjeda langkah—karena teringat perihal hubungan persahabatanku dan Irly. Yang ingin benar-benar aku tegaskan sekali lagi, sekalian dihadapan banyak saksi, termasuk Lia.
“Persahabatan lo dan gue, gue anggap udah berakhir. Ga hanya itu. Mulai sekarang, gue ga mau ada urusan sama lo dan apapun yang terkait dengan hidup lo. Jauh-jauh dari gue, jauh-jauh dari istri gue, jauh-jauh dari kehidupan kami—“
“Tetep lo tega sama Argan, Ji?....” Sekali lagi Irly menukas ucapanku, dengan dirinya yang sudah berlinang airmata dengan memelas memandangiku. Dan sekali lagi, dia membawa Argan—entah untuk membujuk atau memojokkanku.
Tapi sungguh, aku sudah tidak mau peduli.
“Berhenti. Ir. Lo makin bikin gue muak,” aku menukas cepat ucapan Irly kemudian, “Jangan pernah dateng lagi ke sini, karena gue ga akan segan buat nyuruh satpam ini gedung buat ngusir lo. Jangan pernah lagi muncul dengan gue, kalau ga ingin gue permalukan lo lebih dari ini tanpa atau dengan Argan. Gue ga akan segan buat mempermalukan lo kalau lo masih coba mengusik gue dan istri gue.”
Aku berucap lagi pada Irly dengan datar, namun penuh penekanan dan penegasan.
Dan aku serius dengan kata-kataku itu. Terserah jika aku dinilai keterlaluan, tega dan kejam.
Aku hanya ingin hidup tenang bersama istri sekaligus perempuan yang aku cintai, tanpa lagi ada tantangan darinya untuk bercerai.
Selain aku berharap, kalau setelah ini--setelah melihat sikap antipatiku langsung pada Irly dengan matanya, Lia akan merubah keputusannya yang kekeh menghentikan program dalam kami memiliki momongan.
Yang mana sebaliknya, Lia mau kembali menjalankan promil.
Tak apa meski harus mengulang lagi dari awal. Yang penting aku bisa memiliki buah dari cintaku dan Lia dalam pernikahan kami ini.
Dan akan seterusnya harmonis selayaknya pernikahan para orang tua kami.
*****
__ADS_1
Bersambung....