
Happy reading ..
***
REIJI
Malia itu memang cantik.
Dan seperti yang aku katakan, sejak ia duduk di bangku SMA, aku semakin menyadari kecantikan Malia sebagai
seorang perempuan, dari mata seorang laki-laki.
Tapi tidak ada rasa yang bagaimana-bagaimana, karena kala itu aku sedang jatuh cinta pada seorang perempuan. Tapi atas dasar kesadaranku dengan kecantikan Malia, bisa dikatakan peranku sebagai kakak laki-laki sampai padanya.
Seperti halnya pada Avi, aku memberikan beberapa nasehat dari ragam sudut pandang pada Malia untuk bisa menjaga dirinya. Dan untungnya, ya Malia mendengarkan. Meski Malia tergolong bebas hidupnya, karena orang tuanya tidak terlalu membatasinya, namun Malia memang bisa menjaga dirinya.
Salah satu alasan yang membuatku memiliki kebanggaan tersendiri pada Malia. Tapi ya itu, aku heran. Bahkan
hingga di wisuda pun, aku tidak pernah mendengar cerita Malia punya pacar. Tidak dari cerita Avi, dan rasanya memang aku tidak pernah melihat Malia pergi berduaan atau berjalan mesra dengan seorang pria.
Aku penasaran, tapi tidak pernah aku tanyakan.
Namun sejak Malia sudah menjadi seorang mahasiswi, aku akui jika pesona Malia sebagai seorang wanita sudah kian terlihat.
Kadang aku merasa ada sesuatu yang aku rasakan setiap kali bertemu Malia sejak ia duduk di bangku kuliah.
Namun aku menepiskannya, jika itu suatu rasa ketertarikan seorang laki-laki pada lawan jenisnya.
Hingga saat Malia memelukku dihari wisudanya, desiran yang kadang aku rasa menggelitik di poros kiri dadaku, menjadi sebuah dentuman yang..
Membuatku sulit tidur di malam harinya.
Lumayan mengganggu ketenangan hatiku.
Bahkan aku lebih sering memikirkan Malia karenanya.
Namun terus juga aku anggap itu hanya sekedar baper nan alay aja.
Hingga hari itu datang. Hari saat keluarga kami memutuskan untuk liburan sebagai perayaan kecil-kecilan wisuda
Avi dan Malia.
Yang diselipkan rencana terselubung dua pasang orang tua hebring itu, bahkan mungkin juga termasuk si Avi yang berujung pada perjodohanku dan Malia.
Dan dihari itu aku merasa, seperti itu saja. Kala Papa memulai pembicaraan yang membuatku cukup terkejut namun tidak ku perlihatkan keterkejutan ku kala itu.
“Reiji, Lia, kami selaku orang tua kalian ingin membuat kita yang seperti keluarga ini, benar-benar menjadi satu keluarga ... Jadi untuk itu, kami berencana untuk menjodohkan kalian ...”
Aku yang sedang bersandar landai di atas sofa kala itu sempat terkejut sampai aku menegakkan tubuhku, lalu aku
tercenung sesaat.
Memandangi Papa, Mama, Om Bram, Tante Ralisa bergantian tanpa suara.
“Wow!” Ujarku spontan waktu itu, lalu aku memandangi Malia yang ekspresi terkejutnya luar biasa, dan aku menangkap ketidak sukaan tentang perjodohan antara aku dan dirinya yang disampaikan oleh Papa, di wajah Malia saat itu.
“Gimana Ji?”
Suara Om Bram membuatku yang sedang tercenung dan curi-curi pandang melihat ekspresi Malia itu membuatku terhenyak pelan.
“Oke”
Dimana jawabanku itu membuat semua orang menoleh menatapku.
Hingga tak lama, ada senyuman mengembang di wajah orang tuaku, orang tua Malia, termasuk di wajah adikku,
Avi.
Namun tidak di wajah Malia.
Saat kulihat senyuman orang tuaku dan orang tua Malia, aku merasa jika aku telah melakukan hal yang benar.
Menurutku ..
Tapi tak lama, Malia merepet.
“Kamu kan Pilot, memang ga ada Pramugari single gitu yang bisa kamu gebet?. Atau ga cewe-cewe di tiap-tiap
tempat yang kamu datengin kan pasti banyak yang cakep? Ga mau apa hunting cewe-cewe dulu? Mau gitu? Terima aja gitu? Dijodohin sama aku?”
Begitu kira-kira repetan Malia yang aku ingat. Dan beberapa ucapan lain yang menunjukkan jika Malia tidak setuju dengan perjodohanku dengannya.
“Kenapa aku harus ga terima dijodohin sama kamu?”
Itu balasan jawabanku atas repetan Malia yang membuatnya melongo.
Nampak lucu, hingga aku meredam geli sendiri melihatnya.
Tapi anehnya, Malia juga tidak dengan lantang bilang ‘Tidak’. Entahlah apa yang ada di pikiran Malia. Waktu dia tanya lagi,
“Rei, kamu ga punya pacar emang?. Mau gitu terima aja dijodohin sama aku? ...”
“Aku sih mau-mau aja .. Kamunya mau ga?”
Dan Malia nampak membeku. Namun menatapku.
Dan aku balas menatap pada Malia.
Hingga untuk beberapa detik netra kami bersinggungan.
Dan suara papa kemudian membuat aku dan Malia terhenyak.
“Tuh, anak Om udah setuju....”
Begitu kata papaku
“Lia, gimana?....”
Malia tidak langsung menjawab. Ia sempat melirik padaku.
Tapi aku hanya diam saja.
Jujur, hatiku penasaran,
Jujur lagi, deg-degan lebih tepatnya.
Aku membatu, namun kubuat wajahku sesantai mungkin.
Dan saat Malia bilang,
“Iya udah, Malia terima perjodohan Malia sama Rei”
Sudut bibirku tertarik spontan, namun sangat tipis. Tapi, di hati, aku tersenyum lebar.
Dan aku tidak tahu mengapa aku merasa senang sekali mendengar jawaban Malia saat itu.
***
Dari sejak acara liburan dengan diselubungi rencana perjodohanku dan Malia yang berakhir dengan kebahagiaan di wajah orang tuaku dan Malia, hubunganku dan Malia masih jalan ditempat saja.
Malah lebih dapat dikatakan canggung sebenarnya. Aku sendiri merasakan kecanggungan itu saat untuk pertama
kali aku ‘ngapelin’ Malia setelah seminggu lewat dari acara perjodohan kami. Aku yang sudah menyelesaikan jam terbangku, langsung saja menyambangi Malia ke rumah orang tuanya.
Dan kami macam orang gagu.
Sama-sama terdiam seribu bahasa.
Bingung mau membahas apa, saat aku dan Malia ditinggal berduaan dengan anaknya oleh orang tua Malia, di teras
belakang rumah mereka.
Sekalinya ngomong, hanya pertanyaan garing yang keluar dari mulut Malia.
__ADS_1
‘Lo baru pulang terbang?..’
Begitu Malia bertanya.
Dan pertanyaan garing yang sama juga keluar dari mulutku untuk Malia.
‘Belum tidur?’
Pertanyaan bodoh.
Ya jelas si Malia belum tidur makanya dia ada sama gue waktu itu.
Aku ini pinter, tapi saat itu entah kenapa aku jadi Pe-a!.
Dan waktu canggung nan garing itupun terselamatkan, karena Tante Ralisa memanggil aku dan Malia untuk makan
malam.
Tapi kenyataannya aku dan Malia dihadapkan lagi dengan kecanggungan yang sama seperti saat kami berduaan di
teras belakang rumah orang tua Malia sebelum makan malam. Karena setelah makan malam, lalu aku, Malia dan orang tuanya mengobrol sebentar, Tante Ralisa dan Om Bram meninggalkan aku dan Malia berduaan lagi.
'Besok free ga?'
Hingga pertanyaan itu kemudian tercetus dari mulutku.
***
Dan disinilah aku sekarang.
Sudah bersama Malia di dalam mobil yang sedang aku kendarai.
Mengajaknya ‘kencan’, yah anggap saja begitu untuk yang pertama kalinya.
Dan untuk yang pertama kalinya aku benar-benar menyadari, pesona Malia sebagai seorang wanita dewasa, meski
usianya terpaut cukup jauh dibawahku.
Ya ga jauh-jauh amat juga.
Setidaknya aku ga akan dianggap Sugar Daddy kalau jalan sama Malia sekarang ini.
Dan tadi, saat aku menjemputnya, pesona Malia baru benar-benar aku perhatikan, hingga aku sampai terpana.
Saat Malia muncul dari kamarnya bersama Tante Ralisa.
Bahkan aku masih terpana, tanpa sadar memandangi Malia saat kami sudah berada didalam mobil.
“Jalan woy”
Sampai akhirnya suara Malia membuyarkan lamunanku.
Hish, ga sopan bener ini calon bini!.
****
Dan saat Malia masih berlaku ‘tidak sopan’ padaku, aku melayangkan protes kecilku padanya.
Dan perdebatan kecil antara kami pun terjadi, sampai aku menjalankan mobil keluar dari rumah orang tua Malia.
Hingga tau-tau, satu kalimat gombalan meluncur begitu saja dari mulutku.
“Apalagi calon istrinya cantik begini”
Eh, alih-alih aku berharap Malia tersipu seperti wanita pada umumnya kalo abis digombalin, apalagi yang
ngegombalin cowok most wanted kek Reiji Shakeel ini, Malia malah membuang mukanya ke arah jendela mobil disampingnya. Kan, nyebelin tuh si Malia.
Pake berkilah lagi.
“Siapa juga yang buang muka ..”
Gitu kata Malia.
Dengan asal nyeloteh aja aku menyahut demikian, menjawab ucapan Malia yang berkilah kalau dia tidak buang
muka.
Well, yah selipkan sedikit gombalan. Hehe....
Eh, si Malia malah mencibir. Dan kakiku entah kenapa, tau-tau nginjek rem.
“Ngomong apa barusan?”
Lalu ku layangkan tatapan yang sedikit tajam pada Malia.
“Ap-apa..”
Eh, kok dia gugup?
Tapi, bikin gemes jadinya.
Terus aku sok-sok an deh cecar Malia soal ucapannya yang menyinggung hati aku.
Ah cie.
“Ya.. bu ..”
Malia pun nampak semakin gugup dan tergagap.
“Tersinggung tau ga nih?..”
Sok-sok an aja sih aku sebenarnya ngomong begitu ke Malia.
Ga tersinggung beneran. Cuma rada sebel aja waktu Malia bilang aku kepedean.
Dan Malia pun meminta maaf dengan wajah yang nampak tidak enak padaku.
Makin bikin gemes itu anak saat aku kasih ultimatum awas aja kalau dia bilang aku kepedean lagi.
Sepertinya Malia mau menyahut.
“Cium bibirnya nanti”
Tapi aku langsung menyambar dengan ucapan itu.
Iseng aja ini mulut pengen godain Malia. Pikirku tadi, paling-paling kalo ga Malia bilang,
“Omes lo!”,
Paling banter dia ngepret tangan gue.
Eh tapi ternyata oh ternyata, ga dua-duanya.
Malia bungkam dan menatapku dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Dan eh, kalo mataku ga katarak, rasanya aku melihat pipi Malia merona sebelum ia memalingkan wajahnya dariku
dengan berdecak kecil, lalu mengerucutkan bibirnya.
Duh, jadi pengen cium bibir Malia beneran kan?.
***
Untuk beberapa saat, aku dan Malia sama-sama terdiam.
Biasanya aku betah tak bicara banyak dengan Malia jika kami bertemu.
“Kira-kira kita mau kemana? ...”
Tapi tidak lagi sepertinya.
Dan aku memecah kebungkaman ku dan Malia dengan pertanyaan tadi.
__ADS_1
Dan Malia pun langsung menoleh padaku.
“Dih, kan elo yang ngajak Ji?”
Begitu jawaban Malia.
Tapi aku tidak langsung menjawab.
Entah kenapa rasanya sebal gitu mendengar Malia masih membahasakan dirinya ‘elo’ padaku.
“Ya kan nanya pendapat. Siapa tau kamu mau pergi kemana gitu?... Mungkin ada tempat yang mau kamu kunjungi?....”
Baru kemudian aku berbicara lagi, setelah menghela pelan nafasku. Tapi bukannya menjawab, si Malia malah....
“Bengong!”
Ku sentil saja kening si Malia itu saking sebal dengan sikapnya.
Dan yah, lagi-lagi Malia berkilah.
“Kok aneh?” Malia ternyata mendengar gumaman ku. Dan langsung bertanya saat aku menyebut kata ‘aneh’ dalam
gumaman ku.
Dan aku bicara saja apa adanya pada Malia mengenai pendapatku yang menyebut kata ‘aneh’ tadi.
“Kamu ga ngerasa nyaman ya jalan berdua bareng aku sekarang ini?”
Lalu sebaris kalimat pertanyaan itu terlontar dari mulutku.
Jujur, aku sedang merasa tak nyaman juga sebenarnya saat ini.
Bukan tak nyaman pergi berduaan bersama Malia. Melainkan, karena sikapnya yang nampak tak ikhlas pergi denganku sekarang ini yang membuatku tak nyaman.
“Gue bukannya ga nyaman..”
Kalimat itu yang kemudian terlontar dari mulut Malia, setelah aku sempat bicara cukup panjang padanya.
Dan aku menoleh padanya sembari membagi fokus ku pada jalanan didepan.
Malia sedang menatapku ternyata. Dan beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya aku telaah baik-baik.
Hingga ..
“Sini,” Kataku.
Sembari aku mengulurkan tanganku pada Malia.
Dan yah sesuai perkiraanku, Malia pasti menolak memberikan tangannya untuk aku genggam.
Toh Malia malah diam saja. Tak mau menyambut uluran tanganku yang ingin menggenggam tangannya.
Ya sudahlah.
“Rei..”
Aku dengar Malia memanggilku.
Seperti hendak mengatakan sesuatu padaku.
Penolakan apalagi?.
Pasti beralasan canggung atau belum siap.
Klise.
Namun sebelum Malia berbicara lebih panjang, aku memotong dengan cepat ucapannya.
Aku bilang pada Malia, jika aku paham mengapa ia tak ingin tangannya aku genggam.
Dan yah, suka tidak suka, aku memang harus memahami posisi Malia.
Akhirnya, agar tidak menjadi tambah canggung, sekaligus aku menutupi rasa maluku atas penolakan Malia yang
tidak mau ku genggam tangannya, aku pun mengalihkan suasana dengan ucapanku.
“Ya udah mau lanjut jalan atau mau pulang nih? Nanti kalau aku bablas tetep ajak kamu jalan sesuai pilihan aku jangan protes loh ya?.. Mumpung tol masih agak jauh nih.. nanti..”
Namun sebelum aku selesai berbicara, ada sesuatu yang halus yang menyentuh tangan kiriku yang sedang
memegang perseneling mobil.
Aku sempat terhenyak saat sesuatu yang halus itu terasa di punggung tangan kiriku.
Dimana aku sontak menghentikan cerocosanku, lalu menatap ke arah punggung tangan kiriku itu.
Tangan kanan Malia yang berada disana.
Demi Tuhan aku tidak percaya, Malia yang menempelkan tangannya pada tanganku.
Dan saat aku menoleh ke arah wajah Malia, ada seutas senyuman nan cantik disana. Meski tipis dan terlihat sedikit
canggung, tapi aku merasakan ada kupu-kupu yang sedang menggelitik dadaku.
Aku pun sontak tersenyum sembari memandang Malia. Untung lampu merahnya agak lama.
“Terpaksa apa kasian nih?”
Iseng aja aku bertanya begitu.
Siapa tahu bener. Meski hatiku kok rasanya seneng Malia mau memegang tanganku walau terpaksa atau hanya
sekedar kasian padaku.
Malia hanya menjawabku dengan tarikan sudut bibirnya yang lebih melengkung ke atas.
Bersamaan dengan lima jemari tangannya yang kemudian menyentuh ke balik punggung tanganku.
Didetik itu aku teringat lagu lawas yang sering dinyanyikan si Mama.
🎶
‘Hatiku Gembira, Riang Tak Terkira....’
🎶
Ku pandang teduh wajah Malia, dan didetik berikutnya ku balikkan tanganku dan menautkan jemarinya disela jemariku.
Aku merasa sakit jantung.
Dan kurasa .... Aku Sudah Jatuh Cinta.
Apa iya secepat itu? ...
***
Bersambung ...
Masukkan karya ini ke pustaka kalian, jika ingin merasakan gremet-gremet asmaranya Reiji dan Malia yah my
bebi bala-bala semua ....
Tapi Emak kaga maksa sih ....
Suka, beri jempol.
Ga suka, please jangan berkomentar julid, cukup komentar yang membangun.
Tararenkyu,
Loph Loph
Emaknya Queen
__ADS_1