WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 176


__ADS_3

Baca dulu sebelum Like/Comment, yah?


Thank you.


***


Selamat membaca...


***


MALIA


“Lia,”


Sebuah suara memanggilku, kala aku belum lama meminta seorang satpam gedung untuk mencarikan taksi untukku.


“Kak Irsyad?...” ucapku dengan spontan, saat orang yang memanggilku itu telah ada di hadapanku.


Jangan ditanya betapa kagetnya aku saat melihat orang yang kusebut namanya itu ada dihadapanku saat ini.


Entah apa Irsyad menyadarinya atau tidak, tapi mataku sampai terbelalak saat kulihat dia sudah berdiri di dekatku kini.


“Apa kabar Lia?” sapa Irsyad padaku.


“Baik, Kak.”


Aku mencoba menguasai kekagetanku, dan langsung membalas sapaan Irsyad.


Irsyad melemparkan senyumannya padaku, yang mau tidak mau aku pun balas tersenyum padanya. Tapi ya senyum balasan yang aku berikan pada Irsyad aku rasakan canggung.


Entah Irsyad menyadari atau tidak senyum balasanku padanya yang aku rasa canggung itu.


***


“Kak Irsyad sendiri, apa kabar?” tanggap Malia pada Irsyad yang menyapanya itu.


Mencoba bersikap wajar disela keterkejutannya, Malia berbasa-basi pada Irsyad.


“Tidak begitu baik.”


Irsyad menjawab dengan ucapan yang sedikit pelan, agak lirih.


“Apa Kak Irsyad sedang kurang sehat? ....”


“Aku ingin bicara, Lia.”


Irsyad tidak menggubris pertanyaan Malia soal kesehatannya.


Melainkan Irsyad berkata to the point tentang maksud kehadirannya di hadapan Malia saat ini.


Kalimat yang sesungguhnya enggan untuk Malia dengar dari Irsyad, karena hal itu akan membuatnya menjadi dilema.


Bukan apa, hari sudah malam, meski belum terlalu.


Namun rasanya Malia juga merasa tidak etis jika ia mengikuti keinginan Irsyad yang kemungkinan akan mengajaknya ke suatu tempat untuk bicara.


Dan lagi, Malia sudah merasa jika memang tidak ada hal penting untuk ia bicarakan dengan Irsyad, selain mungkin jika nanti keadaan sudah tidak terasa canggung dan menjalin pertemanan dengan Irsyad atas ijin Reiji.


Dimana Malia juga berencana untuk memperkenalkan Reiji dan Irsyad, jika memang hubungan pertemanannya dengan Irsyad dilanjutkan tanpa embel-embel masih ada kenangan dari cinta masa lalu. Tapi tidak untuk sekarang.


***


“Maaf, Kak Irsyad, ini udah malam. Dan aku juga abis lembur, jadi –“


“Kamu kenapa terkesan menghindari aku ya, Lia? ....”


Malia memandang pada Irsyad yang tampaknya sedang menatapnya penuh selidik.


“Jangan berprasangka buruk begitu, Kak –“


“Supaya aku ga berpikiran begitu, bisa kan kita bicara? –“


“Eummm ....”

__ADS_1


“Setidaknya hargai aku yang udah nungguin kamu dari tadi, Lia? –“


“Kak Irsyad sengaja nungguin aku?”


“Iya ....” jawab Irsyad, seraya mengangguk.


“Tapi kenapa?” Malia lantas bertanya.


Irsyad tersenyum tipis. “Ya karena aku memang ingin bicara secara pribadi sama kamu, Lia –“


“Ya tapi kenapa Kak Irsyad ga hubungi aku dulu sebelumnya?” potong Malia.


“Ya aku berpikir kamu sedang menghindari aku, makanya aku datang tanpa pemberitahuan sejak sore tadi sebelum jam kantor kamu selesai –“


“Hah? ....” Malia kembali dibuat terkejut oleh Irsyad. “Kak Irsyad sudah ada disini dari tadi sore? –“


“Iya .... Aku udah nunggu kamu di kedai kopi sana ....” Irsyad menunjuk kedai kopi yang ada di area dalam lobi gedung perkantoran Malia.


Dan Malia latah menengok mengikuti telunjuk Irsyad mengarah.


“Tapi sampai lobi sepi aku ga liat kamu, jadi aku minta resepsionis lobi ini menghubungi resepsionis kantor kamu, yang bilang kalau divisi kamu berikut kamunya lembur hari ini. Dan waktu aku hubungi resepsionis kantor kamu dia bilang kamu lagi sholat.”


Lalu Irsyad bicara panjang lebar setelahnya.


“Jadi aku putuskan aku menunggu kamu sampai kamu selesai lembur, Li ....”


“Oh –“


“So, bisa kamu luangkan waktu kamu sebentar buat aku? ....” Irsyad kembali menanyakan kesediaan Malia untuk berbicara secara pribadi dengannya.


Malia membutuhkan waktu beberapa detik untuk menjawab.


“Suami kamu ga jemput kan? –“


“Kak Irsyad kok  tau? ....”


Malia mengernyit seraya bertanya.


Irsyad tersenyum tipis. “Aku denger kamu minta dicariin taksi ke satpam tadi –“


“Oh –“


“Jadi aku rasa, kamu bisa pergi bersamaku kan, Lia? –“


Hatinya memang tidak ingin menerima ajakan Irsyad sekarang ini, tapi Malia juga ingin menolak dengan tanpa terang-terangan yang bisa membuat Irsyad tersinggung karena Malia masih mempertimbangkan hubungan pertemanannya dengan Irsyad dulu.


***


MALIA


“Baik, Kak.”


Aku menjawab kikuk pertanyaan Kak Irsyad yang menanyakan kabarku, setelah aku dikejutkan dengan kemunculan Irsyad yang tiba-tiba dihadapanku.


“Kak Irsyad sendiri, apa kabar?”


Dimana aku mencoba bersikap wajar disela keterkejutanku, dan berbasa-basi menanyakan juga kabar Irsyad.


“Tidak begitu baik.”


Irsyad menjawab lirih, dengan senyuman yang tipis. Dan entah ini hanya perasaanku saja-jika aku tidak salah menilai, kalau senyum Irsyad itu nampak sedikit misterius untukku.


-


Irsyad memintaku untuk meluangkan waktu bicara dengannya. Yang mana aku rasanya enggan untuk menerima ajakannya itu.


“Jadi aku rasa, kamu bisa pergi bersamaku kan, Lia? –“


Namun Irsyad nampak bersikukuh dengan keinginannya, setelah sempat panjang lebar ia berbicara, mengatakan jika ia sudah menungguku sejak sore hari-yang mana hal itu membuatku terkejut juga.


Mana sikap Irsyad pun sama misteriusnya seperti dua waktu-dimana ia juga pernah datang secara tiba-tiba sebelumnya.


Pertama waktu jam makan siang-dimana kedatangannya bersamaan dengan Rei yang menyambangi kantorku, dan yang kedua kala aku dan Rei sedang menginap di rumah orang tuaku.

__ADS_1


Dimana tau-tau, Irsyad bilang sudah ada di parkiran gedung apartemen tempat tinggalku dan Rei. Dan yang sekarang adalah yang ketiga kalinya Irsyad datang tanpa pemberitahuan sebelumnya padaku, atau setidaknya bertanya apakah aku punya waktu atau tidak untuk pergi bersamanya yang katanya ingin bicara-entah membicarakan apa.


Aku memang ingin berbicara pada Irsyad. Ingin menegaskan bentuk hubungan yang ingin aku jalin dengannya sekarang ini. Pertemanan!. Seperti saat kami kuliah dulu.


Well, dengan interaksi pertemanan yang biasa-biasa saja-tidak seperti dahulu saat kuliah, dimana kami bisa dikatakan sebagai dua orang yang masuk ke dalam kategori Teman Tapi Mesra.


Dan meskipun tidak mesra- mesra amat juga. Hanya sering pergi bersama, pernah beberapa kali berjalan sambil bergandengan tangan. Tidak lebih dari itu.


Dan rencanaku untuk berbicara pada Irsyad mengenai rencanaku tersebut-menegaskan jika aku hanya ingin berteman, adalah setelah aku berbicara pada Rei mengenai Irsyad.


Namun malah aku tidak terpikirkan akan itu sama sekali, padahal aku sebenarnya punya banyak kesempatan untuk membicarakan soal Irsyad pada Rei, karena beberapa waktu belakangan-sejak kami menjadi kian mesra, rasanya mood Rei cukup baik jika aku membahas soal Irsyad.


Sayangnya aku sedang terlena dengan sikap dan perlakuan manis suamiku itu, hingga soal Irsyad sama sekali tidak hinggap di kepalaku, sampai setelah lebih dari dua minggu-tanpa kami saling berkomunikasi sama sekali, Irsyad sudah keburu muncul lagi dihadapanku saat ini.


Membuat aku dilema, untuk mengambil keputusan atas permintaan sekaligus ajakan Irsyad untuk bicara berdua. Dan Rei masih belum bisa dihubungi pula!.


Karena selepas aku meminta satpam mencarikan taksi untukku sebelum Irsyad muncul dihadapanku-aku sempat mengecek kolom chatku dan suamiku itu, yang mana tanda centangnya masih berwarna abu-abu, plus masih satu.


“Tapi aku udah terlanjur minta satpam untuk carikan taksi.”


Aku mencoba mencari alasan, agar aku bisa menghindari ajakan Irsyad untuk pergi berdua saat ini.


Setidaknya aku tidak secara terang-terangan apalagi keras memberi penolakan pada Irsyad, mengingat selain embel-embel Teman Tapi Mesra dihubungan kami saat kuliah dulu, hubungan pertemananku dan Irsyad memang sangat baik.


“Dan lagi, aku harus cepat pulang  -“


“Kalo gitu kita bisa bicara sekalian aku anter kamu pulang.”


Irsyad memungkas dengan cepat ucapanku yang  tetap berusaha mengelak dari ajakannya itu.


“Tapi, Kak –“


“Mba, masih mau nunggu dicariin taksi?”


Belum selesai aku menjawab tawaran Irsyad yang ingin mengantarku pulang, satpam yang tadi aku mintai tolong datang kehadapanku yang sedang bersama Irsyad itu.


“I –“


“Engga Pak, Mba ini pulang sama saya.”


Hey, kenapa jadi Irsyad yang menjawabnya?


“Oh ya udah kalo gitu, Mas .... Soalnya taksi kosong juga agak susah dari tadi saya tungguin di depan, tapi ada penumpangnya terus.”


Pak satpam itu berbicara lagi padaku dan Irsyad, dimana Irsyad nampak mendengarkan dengan sikap welcome, sementara aku tersenyum tipis.


Selain aku sedang merutuki diriku sendiri-dalam hati, yang seharusnya memesan taksi lewat aplikasi saja tadi. Setidaknya, jikapun aku terpaksa harus menerima ajakan Irsyad-aku tidak perlu berada satu mobil dengannya.


Karena rasanya aku tidak siap jika harus pulang bersama Irsyad sekarang ini-apalagi berdua saja dengannya di dalam mobil karena aku yang sudah merasa canggung dengannya, meskipun Rei kemungkinan besar baru akan kembali ke Jakarta esok hari.


Aku masih terganggu dengan ucapan dan sikap Irsyad saat di restoran siang itu sebenarnya, jadi aku berpikir jika ada kemungkinan Irsyad membahas soal itu lagi-dimana aku merasa itu tidak seharusnya lagi Irsyad lakukan, meminta kepastian padaku.


Tapi aku mencoba berpikir positif. Aku sudah beberapa kali mengingatkan Irsyad lewat pesan chat, dan terakhir saat ia menghubungiku saat aku sedang berada di rumah kedua orang tuaku. Jadi rasanya, Irsyad cukup pintar untuk memahami dengan jelas setiap ucapanku padanya, yang menegaskan jika aku memang sudah mencintai suamiku, dan hal mengenai pernikahan perjodohanku dengan Rei itu sudah tak memiliki arti keterpaksaan lagi.


Jadi seharusnya, perasaan Irsyad padaku, tidak perlu ia tekankan lagi.


Tapi ....


"Aku ga main-main dengan apa yang aku katakan waktu di restoran waktu itu Lia .... Aku cinta kamu, sangat ...."


Kenapalah aku tidak membawa mobil sendiri hari ini? ....


"Aku kembali ke Jakarta, itu karena kamu."


Irsyad memegang tanganku.


"Dan aku ga percaya, waktu kamu bilang, kalau kamu udah cinta sama suami kamu ...."


What the hell?????!!!!! ....


"Jangan membohongi hati kamu. Karena dari sejak kita bertemu lagi lalu menghabiskan waktu bersama, aku yakin kalau kamu juga mencintai aku, Lia -"


Oh Tuhaaannnn.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2