
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
MALIA
Aku benar – benar dibuat kaget oleh tindakan Reiji yang tahu – tahu sudah memelukku posesif dari belakang, lalu berbisik mesra mengarah ke mesum, namun tidak dapat dikatakan berbisik juga karena ucapan Reiji masih terdengar jelas di telingaku yang sedang tertempel ponsel dalam genggaman satu tanganku.
Tak hanya itu, Reiji juga mengecup lembut leherku, sebelum dia menghisapnya pelan seperti yang seringnya Reiji lakukan saat kami sedang bercumbu. Aku terkejut memang dengan tindakan Reiji yang tiba – tiba menunjukkan kemesraan dan kode jika dia meminta untuk bercinta. Hal yang sudah agak lama aku dan Reiji tidak lakukan selama beberapa waktu belakangan.
Ditambah, kami kan masih perang dingin hitungannya.
Dan tadi, sikap Reiji saat aku menyambangi dia di ruang baca nampak datar serta acuh tak acuh padaku. Tapi tau – tau Reiji datang dengan tiba – tiba dan langsung berperilaku mesra seolah tidak ada masalah diantara kami. Aneh memang, tapi aku tidak sampai kepikiran dengan keanehan sikap Reiji itu. Karena sialnya aku terbuai dengan spontan dengan hisapan bibir Reiji di leherku.
Hingga dengan tanpa akhlaknya mulutku yang kadang sukar di rem ini, mengeluarkan suara ******* yang menggambarkan jika aku menikmati perlakuan Reiji itu. Namun sesaat saja, karena didetik berikutnya aku teringat jika aku masih tersambung pada panggilan telepon dengan Irsyad. Yang mana tepat setelah aku mendesah itu, Irsyad langsung mematikan panggilan teleponnya. Aku yakin Irsyad mungkin saja syok mendengar aku mendesah setelah sebelumnya mendengar Reiji mengatakan,
“Yang, aku kangen dihangatkan kamu--”
Yang mana pasti Irsyad paham arah kalimat Reiji itu mengarah, dan ditambah, akupun mendesah.
Dan mungkin, Irsyad jijik mendengarnya. Makanya ia langsung mematikan telepon secara sepihak. Namun bukan itu yang menjadi pikiran utamaku saat ini.
Bukan Irsyad yang mungkin risih atau tersinggung mendengar suara desahanku meski pendek, yang ia tahu tertuju pada siapa, karena bukan Irsyad yang ada disampingku melainkan Reiji. Suamiku-Yang menjadi pikiran utamaku.
Tapi keberadaan Reiji.
Dan karena hal itu, tubuhku sedikit menegang sekaligus meremang, karena setelah panggilan telepon dari Irsyad terputus, Reiji masih sibuk dengan leherku.
Bukan hal itu juga yang membuat tubuhku seolah kaku. Tapi kemunculan Reiji yang tiba – tiba di belakangku. Yang mana aku tidak tahu,sejak kapan Reiji telah berada di sana.
Apa Reiji tahu kalau aku sedang bertelpon ria?. Yang aku rasa dia tahu - karena jika dari posisinya yang berada lurus dibelakangku, Reiji pasti melihat jika aku sedang memegang ponsel yang aku pegang tertempel di telingaku.
Dan aku berdebar karenanya.
Was – was dan bertanya – tanya sendiri, apa Reiji tahu jika aku sedang bertelpon ria dengan Irsyad, yang mana membuat aku kepikiran.
Jujur saja, setelah aku mendengar ucapan Reiji pada temannya di telpon yang entah yang mana tapi yang jelas bukan Shirly itu, aku benar – benar kepikiran tentang emosi Reiji.
Aku takut pada akhirnya Reiji akan mewujudkan kata – katanya untuk memberi ‘pelajaran’ pada Irsyad, jika Reiji tahu jika aku sedang bertelpon ria dengan laki – laki dari masa laluku itu.
Jadi, aku buru – buru menurunkan ponselku dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
Lalu mengebelakangkan kedua tanganku, saat Reiji membalikkan tubuhku hingga berhadapan dengannya.
“Telfonan sama siapa?---“
Pertanyaan yang aku takutkan keluar dari mulut Reiji.
Pertanyaan yang tidak langsung aku jawab, karena aku sedang memikirkan alasan yang tepat. Aku yang tadinya berani dengan sempat mencak – mencak pada Reiji dan bukannya berterima kasih karena meski aku tahu Reiji sama lelahnya denganku karena bekerja – bahkan mungkin Reiji lebih lelah dariku, namun dia tetap menyempatkan diri untuk memasak makan malam kami, kini nyaliku seolah menciut.
“Irsyad?” tembak Reiji dan seketika jantungku berdentum.
Lalu aku memberanikan diri untuk menatap pada Reiji dan menggeleng.
Aku berbohong.
“Temen kantor,” jawabku, dengan diriku yang aku buat tak terlihat gugup.
Reiji berdehem dalam namun samar, lalu tersenyum tipis. Dan entah mengapa aku merasa was – was dengan senyuman Reiji itu.
“Yang ---“
“Ya?---“ jawabku.
“Aku kangen ---“
***
Biarlah untuk kali ini Reiji ingin bersikap egois pada Malia.
Toh Reiji sedang diliputi kekesalan pada Malia yang terlihat jelas lebih membela untuk bersama laki – laki dari masa lalunya, daripada dirinya – yang jelas betul adalah suami sah Malia.
Hingga sandiwara singkat ia lakukan untuk melihat apa Malia masih menganggap serius kata – katanya atau tidak, meski tidak Reiji sampaikan dengan langsung. Hanya ingin menunjukkan jika dirinya memiliki juga batas sabarnya pada Malia, walau Reiji tunjukkan dengan cara tidak langsung.
Sedikit saja, Reiji ingin Malia memikirkan perasaannya.
Dan ternyata Reiji harus memberikan penampakan sedikit emosi – yang walau hanya sandiwara, yang dapat membuat Malia akhirnya memikirkan atau sekedar mempertimbangkan perasaannya. Dimana hal itu nyatanya sukses membuat Malia menjadi bak anak kucing yang patuh.
Terbukti dengan Malia yang menyambangi Reiji di ruang baca, lalu mengatakan tentang perubahan keputusannya – yang tadinya kukuh tak ingin ikut ke acara kantor Reiji dan lebih memilih untuk mewujudkan janji temunya dengan lelaki impian dari masa lalu istrinya itu, namun mengatakan jika Malia bersedia ikut dengan Reiji.
Walaupun nampak ketidakikhlasan di wajah Malia – selain Malia nampak sedikit tertekan, namun Reiji mengebalkan dulu iba-nya. Serta menguatkan hatinya untuk menjadi egois walau hanya sementara. Namun ini usaha Reiji untuk menjaga ‘miliknya’.
‘Milik’ sah-nya. Istri, yang diakui oleh agama dan negara. Yang sudah terikat janji suci pernikahan dengannya.
Yang sedang gamang karena otak skeptisnya, ditambah kehadiran dari lelaki yang pernah diimpikan sang istri di masa lalunya. Dan Reiji jelas membaca jika rasa Malia pada lelaki itu masih kentara.
“Maaf ya Kak, maaf banget, aku terpaksa batalin janji buat nemenin Kakak besok, soalnya Rei baru bilang kalo kantornya ngadain acara---“
__ADS_1
Dimana Reiji spontan tersenyum getir, saat mendengar Malia berbicara di ponselnya, yang Reiji tahu pasti itu siapa. ‘Terpaksa...’
Reiji membatin getir kala mendengar Malia berkata seperti itu, selain begitu lembutnya Malia berbicara dengan bibit pebinor – kalo kata Reiji untuk Irsyad, di ponselnya saat ini.
‘Well, bicara tentang terpaksa –‘
Reiji membatin sambil tersenyum miring di belakang Malia, meski ia sedikit frustasi.
‘Aku mau lihat sejauh mana keterpaksaan kamu untuk melindungi dia, dari aku yang kamu pikir mau menghajarnya itu...’ hati Reiji berbisik licik.
***
Reiji menyeringai dalam hatinya, saat ia berhasil membuat Malia - yang Reiji tahu sedang terkejut, dengan kehadirannya yang tiba – tiba, lalu memeluk Malia dengan posesif dan kemudian Reiji mencumbui leher Malia.
Dan Reiji menyadari jika Malia telah menghentikan pembicaraannya pada panggilan telepon di ponsel istrinya itu.
Reiji pun tak mau perduli, siapa yang lebih dulu mematikan sambungan telepon itu diantara Malia dan si bibit pebinor. Namun Reiji tetap bertanya pada Malia, yang Reiji rasakan tubuhnya menegang saat Reiji tiba – tiba memeluknya tadi, dan masih nampak gugup saat Reiji membalikkan tubuh Malia hingga berhadapan dengannya.
Iseng Reiji bertanya, tentang dengan siapa Malia sedang berbicara di telepon dan tersenyum pahit, kala mendengar Malia berbohong. Kecewa, juga tersinggung.
Karena Malia nampak betul tidak ingin lelaki bernama Irsyad itu diapa –apain Reiji, istilahnya. Jadi untuk itu...
“Yang ---“ ucap Reiji menyebut nama Malia yang kini sedang saling tatap dengannya.
“Ya?---“ jawab Malia.
“Aku kangen ---“ ucap Reiji lagi, lalu dengan cepat ia menyambar bibir Malia.
Malia bergeming, namun tak memberikan juga penolakan. Jadi Reiji melepaskan tautan bibirnya dari bibir Malia dan bilang,
“I want you right now. Would you?”
Sambil Reiji menangkup wajah Malia dengan posesif.
Yang orangnya diam saja, namun matanya tak putus menatap pada Reiji.
“Aku anggap diammu, adalah ‘Ya’...”
Dan tanpa lagi banyak kata, Reiji menyambar lagi bibir Malia.
‘Sorry, Lia, jika aku penuh pemaksaan sekarang...’
***
Bersambung...
__ADS_1