
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
‘Aku akan mencoba lagi meneguhkan komitmen aku sebagai istri kamu.’
Malia telah memutuskan, untuk kembali kepada komitmen setelah ia menerima untuk menikah dan menjadi istri Reiji.
Komitmen yang ia pikir bukan hanya akan berpengaruh pada hubungannya dengan Reiji, tapi juga antara keluarga mereka, yang sudah bersahabat bahkan dari sebelum Malia ada di dunia.
Dan untuk itu, Malia telah memutuskan untuk memberi dirinya dan Reiji kesempatan menghadirkan cinta dalam pernikahan mereka.
Cinta dalam hati Malia untuk Reiji utamanya.
Dan Malia akan memberikan Reiji kesempatan lebih untuk itu.
Meski, untuk sekali lagi, Malia harus mengubur kembali perasaannya pada Irsyad.
Malia menatap sebentar Reiji yang tidur membelakanginya setelah ia meletakkan ponselnya yang telah dinonaktifkan kembali ke atas nakas di samping tempat tidur pada sisi dimana dirinya biasa tidur.
Ragu, namun pada akhirnya Malia beringsut mendekat ke punggung Reiji, lalu memeluk suaminya yang terlelap itu dari belakang.
“Bantu aku Rei, untuk bisa menerima kamu seutuhnya dan mencintai kamu-“
Malia menggumam.
Namun kemudian Malia terbelalak saking terkejut, kala Reiji menanggapi gumamannya itu.
“R-ei?---“ Malia tergagap.
*
“Kata orang, anak bisa mengeratkan kehidupan pernikahan-“
Reiji melepaskan genggamannya dari kedua tangan Lia, lalu ia membalikkan tubuhnya yang tadi Malia peluk dari belakang, dimana Malia nampak menggigit bibir bawahnya sendiri.
“Yuk?” kata Reiji yang kini sudah berbaring miring sambil menatap Malia. “Kan tadi minta dibantu, agar kamu bisa menerima aku seutuhnya dan membuat kamu mencintai aku –“
Reiji lanjut bicara, dan ada kesan jahil di wajahnya.
“Nah, anak kan bisa mempererat ikatan suami istri. Jadi ayuk, kita bikin lagi? ...”
Dimana Reiji tersenyum lebar dan Malia membelalakkan lagi matanya.
"Insya Allah, tiga kali lagi aku kuat ..." kata Reiji lagi, sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Malia. “Kalo cape, biar aku aja yang ‘kerja’ ...”
****
REIJI
“Gila!”
Lia langsung merutuk dan menghempaskan satu bantal padaku kala aku menggodanya untuk main ‘kuda-kudaan’ lagi. Dan tawaku pecah karena melihat ekspresi Malia yang nampak sebal, namun wajahnya sedikit merona. Ekspresi yang pernah lama tidak aku lihat dalam beberapa waktu belakangan itu, malam ini aku lihat lagi.
Aku tertawa bukan hanya karena puas menggoda Malia.
Tapi tawaku juga pancaran kebahagiaan dalam hati yang sedang aku rasa saat ini. Saat aku dengar kalimat yang ia katakan saat Lia bergumam sambil memelukku dari belakang tadi.
Dimana Lia ingin aku membantunya untuk menerima aku seutuhnya dan Lia bisa juga mencintaiku sepenuhnya.
Begitu kira-kira.
Yang mana-hal itu, membuatku cukup bahagia dan lega.
Setidaknya-mungkin benar perkiraanku, jika kedekatannya dengan si bibit pebinor itu, hanya refleksi kekesalan Lia padaku atas apa yang aku sembunyikan darinya.
Perasaan cintaku pada Shirly dulu.
Well, aku tidak ada maksud untuk menyembunyikan juga sih sebenarnya. Aku memang tidak pernah membahasnya dengan Lia, karena menurutku itu bukan hal penting juga.
Lia saja yang terlalu membesar-besarkan hal itu.
Ah tapi sudahlah, sekarang hal itu sudah tak penting lagi untuk dibahas.
Jika Lia sudah berkata-meskipun tidak berkata langsung padaku, jika ia ingin aku membantunya menghadirkan cinta yang bulat di hatinya untukku, itu berarti kesempatan emas untukku mengupayakan segala cara, agar ke depannya hanya aku saja di mata Lia.
-
“Pake baju sana ih.”
Lia yang barusan merutuki sambil melempar bantal padaku, kemudian berucap lagi.
__ADS_1
“Ga dingin apa? ...”
“Kan ada kamu yang bisa bikin anget, Yang.” godaku.
“Amit ih Rei! ... Dah ah aku mau tidur!”
Lia langsung membalikkan tubuhnya membelakangiku, lalu berbaring miring sambil menyelimuti dirinya.
Aku hanya memperhatikan gerak-gerik Lia itu dari posisiku.
Dan setelah aku rasa Lia sudah oke dengan posisinya itu, aku beringsut mendekati istriku yang saat ini jadi istri yang manut.
“Rei iiihhh aku mau tidur ...”
Protes kecilpun keluar dari mulut Lia.
“Aku Cuma mau peluk aja kok. Ga boleh ya?”
Aku berucap dengan memang aku memeluk Lia dari belakang.
Hanya ingin memeluk saja, tidak lebih.
Ya kalau Lia mau di iya-iyain lagi sih, sukur Alhamdulillah. Rezeki jangan ditolak.
Hehehe ...
“Y,a boleh ...”
Lia menyahut, namun aku rasakan tubuhnya menegang, dan aku juga merasakan ‘pusaka’ ku juga menegang, karena bersinggungan dengan bulatan sintal milik Lia yang sempurna di bagian belakang.
Sepertinya aku tarik kembali kata-kataku untuk hanya memeluk Lia saja, kalau ‘pusakaku’ sudah kian mulai menggeliat menegang seperti ini.
“R, ei ...” Lia berucap pelan dan sedikit terbata.
“Hmm? ...”
“Aku-mau, ti-duur ...”
Lia mulai gelagapan karena aku mulai mengusel di lehernya. Dan jemari tangan kiriku refleks sedang menari-nari sensual di perut Lia, dan entah sejak kapan sudah menelusup ke balik piyamanya.
Dimana disaat itu aku merasakan, selain tubuh Lia yang mulai menegang, bulu-bulu halus di tubuhnya mulai meremang.
“Ya udah, tidur aja-“
Aku menyahut dengan suaraku yang mulai parau, karena hasratku kian naik ke permukaan, tapi aku tidak ingin memaksa Lia, yang aku yakin pasti dia keletihan setelah permainan ‘kuda-kudaan’ kami sebanyak tiga ronde beberapa jam yang lalu.
“Sekali lagi Yang, boleh ya? ...”
Dasar aku yang tiada akhlak.
Tak tega, tapi aku migrain ini kalau ga dapet penuntasan.
Dengan tak tahu malunya aku merengek ringan pada Lia, untuk satu ronde lagii aja ...
“Aku ca-pe ... Rei ...”
Lia pun ikut merengek ringan-meski nafasnya mulai tak beraturan, karena jemariku perlahan tapi pasti sudah berada di bawah dua pabrik susu yang belum berproduksi itu.
Duh, gemasnya aku untuk menangkup itu pabrik susu dalam cengkramanku.
“S-orry ...” ucapku yang kemudian mengeluarkan tanganku dari balik piyama Lia, lalu merapihkan piyama itu lagi sambil membetulkan selimut Lia agar ia dapat tidur dengan nyaman.
Aku sangat ingin lagi ‘menyatu’ dengan Lia memang, tapi aku juga menghargai keinginannya, selain aku juga tidak mau memaksanya dan aku paham jika Lia letih setelah pergulatan tiga ronde kami yang cukup menyita waktu dan tenaga.
“Good night ...”
Aku mencium belakang kepala Lia, dan hendak beringsut dari ranjang untuk berpakaian.
Dan yah ... sekalian ke kamar mandi juga, karena ‘pusaka keramat’ ku ini masih menegang dan susah tidur lagi kalau sudah tersengat oleh tubuh Lia yang walaupun berpakaian.
Dan obat tidur ‘pusaka keramat’ ku ini hanya mandi air dingin. jadi itu yang mungkin akan aku lakukan-jika setelah berpakaian, ‘pusaka keramat’ ku ini tidak tidur juga. Adik kecil ga ada akhlak emang.
-
“Rei –“
Aku mendengar Lia memanggilku saat aku hendak beringsut dari ranjang.
Dan aku langsung saja menoleh dan mengurungkan niat untuk membebaskan tubuhku yang masih polos ini dari selimut.
“Kamu, marah? ...”
Lia sudah berbalik ke arahku, saat aku menoleh padanya.
Sekaligus Lia bertanya. Dengan sorot matanya yang seperti khawatir.
__ADS_1
Aku memposisikan diriku berbaring miring di sampingnya, dengan satu tanganku yang menopang kepalaku.
Aku tersenyum pada Lia, sambil membingkai wajahnya dengan satu tanganku yang bebas.
“Kenapa nanya begitu?” tanyaku.
“Karena aku ‘menolak’?”
Aku pun tersenyum penuh arti.
“Engga Yang ... Aku ga marah soal itu ... Aku tau kamu cape, dan aku udah makasih banget buat yang tadi.”
Aku menggeleng dan berucap lembut pada Lia.
“Jangan skeptis.” Candaku dan Lia langsung mencebik.
“Berhenti ngatain aku skeptis ----“ tukas Lia dan aku terkekeh kecil.
“Iya iya, sorry ...” sahutku sambil membawa Lia dalam dekapan.
“Eeennnngg Rei...”
Lia bergumam, lalu memanggilku sambil melonggarkan dirinya dari dekapanku sambi ia mendongak sedikit untuk menatapku.
“Kenapa?”
Aku sontak bertanya.
“Besok kita berangkat jam berapa dari sini?”
“Kamu beneran jadi mau ikut ke acara family gathering maskapai aku?—“
“Iya. Jadi.” Jawab Lia.
“Beneran?”
Aku memastikan, dan Lia mengangguk seraya tersenyum tipis.
“Kalo mau ikut konvoi dengan yang lain ya seengganya jam sembilan sudah harus sampai ke kantor pusat ... Kalo mau dateng sendiri langsung ke Villa pun diperbolehkan. Jadi kalau kamu beneran mau ikut serta, ya aku kembalikan ke kamu aja maunya gimana.”
Aku pun menerangkan panjang lebar.
Lia hanya manggut-manggut sambil berdehem pelan.
“Jadi kamu maunya ikut konvoi atau maunya kita berangkat langsung ke tempat acara aja?”
Aku bertanya lagi.
“Terserah kamu aja Rei, enaknya gimana ...”
“Ya udah kalo gitu, kita liat besok deh ya. Aku mau ke kamar mandi dulu.”
“Kamu mau mandi?” tanya Lia dan aku mengangguk. Lia nampak menggigit bibirnya. “Air dingin?-“
Aku pun berdehem mengiyakan.
“Karena Cuma air dingin yang bisa menidurkan tongkat aku ini Yang.” Ucapku sambil nyengir kuda.
“Nanti kamu sakit Rei—“
“No choice Yang ..” jawabku terus terang, dan aku yakin Lia paham.
Pasti paham, karena itu yang selama ini terkadang aku lakukan jika hasratku sudah sampai di ubun-ubun dan Lia sedang datang bulan.
“Ga usah mandi –“
Lia bicara pelan dan nampak ragu serta malu – malu.
“Kalau memang besok ga berangkat buru – buru, ya udah ayo ...”
“A, yo???-----“
“Tenangin adik kecil kamu biar ‘bobo’ tanpa harus mandi air dingin tengah malam buta begini—“
“Serius, Yang? ...” Aku memastikan ucapan Lia yang ‘mengundangku’ itu barusan.
“I, ya ...”
Oh indahnya dunia ...
“Satu ronde aja tapi ya?”
“Insya Allah—“
***
__ADS_1
Bersambung ...