
Selamat membaca...
Terima kasih masih setia.
***
MALIA
Hatiku sedikit berdebar kala aku hendak mulai memberikan penjelasanku pada Rei atas pembelaanku terhadap foto – foto yang menggambarkan kedekatanku seolah mesra dengan Irsyad, yang beberapa saat lalu Rei tunjukkan padaku.
Bukan karena aku ketahuan oleh Rei atas bukti perselingkuhanku ---- dimana memang tidak bisa dikatakan juga aku berselingkuh dengan Irsyad, karena aku menyediakan waktuku untuk bertemu dengan Irsyad kala itu, hanya sekedar bertemu dan itupun bukan bertemu di sebuah kamar hotel atau tempat – tempat semacam itu.
Bahkan aku dan Irsyad bertemu di tempat publik yang kadang ramai orang, dan sekalipun pergi ke tempat yang tidak begitu ramai orang ---- aku dan Irsyad paling mengunjungi museum atau ke pantai. Menonton di bioskop pun rasanya tidak pernah.
Jadi hatiku yang sedikit berdebar ini, bukan karena aku ketahuan selingkuh ---- melainkan aku takut Rei meragukan, bahkan sama sekali tidak percaya padaku.
Tapi biar bagaimanapun aku harus menjelaskan pada Rei, atas kejanggalan yang aku rasa pada foto – foto yang Rei dapat dari Irsyad secara langsung ini.
Aku mengambil satu foto yang sudah aku perhatikan sebelumnya.
“Ini .. Foto ini ..” Aku berucap sambil mendekatkan foto itu pada Rei, agar ia dapat memperhatikannya bersama denganku.
Dimana Rei sama sekali tidak memberi penolakan untuk ikut melihat dan memperhatikan foto tersebut.
“Foto ini benar, sama seperti foto – foto yang lain ..” ucapku. “Tapi tanggal yang tertera, salah .. Karena aku ingat betul kapan foto ini diabadikan ----“
“Kapan?”
Rei spontan bertanya, dimana aku memberikan detail jelas tanggalnya pada suamiku itu ---- karena memang aku masih ingat betul hari itu.
Bukan karena aku masih menyimpan kenangan karena Irsyad masih ada di hatiku.
Dia sudah benar – benar terhapus dari hatiku. Aku bahkan melupakan jika aku pernah mencintainya atas dasar ketidakterimaanku atas perlakuan kurang ajar Irsyad, meski beberapa hari lalu ia telah meminta maaf padaku.
“Aku ingat betul, karena ini kali pertama aku janjian dengan Irsyad setelah kami bertemu lagi.”
Aku kemudian menambahkan detail atas jawaban pembelaannya pada Reiji.
“Aku emang ga punya salinan foto buat menyamakan tanggal yang tertera dengan yang ada di foto ini. Tapi sebentar ..”
__ADS_1
Aku membuka tas kerjaku yang masih belum aku letakkan di kamar, karena memang saat sampai di unit apartemen kami ---- karena aku menuntut penjelasan Rei atas sikapnya yang lebih banyak diam dari saat ia menjemputku di kantor.
----
“Sebelumnya aku minta maaf, aku ga ada maksud untuk menyimpan momen tanggal aku ketemuan sama Irsyad. Tapi ini murni baru aku inget karena ada kejanggalan yang aku rasa di foto ini .. Atau mungkin di beberapa foto yang lain. Yang kalo aku ga salah tangkep tadi, tanggal-tanggal di foto itu adalah tanggal-tanggal dari sejak kita memulai semuanya dari awal ..”
Aku bicara panjang lebar, sambil mengeluarkan ponselku yang kemudian aku buka satu ikon yang menunjukkan kalender.
“Aku inget aku simpen tanggal janjian aku sama Irsyad waktu itu di jadwal dengan reminder.”
(Reminder = Pengingat)
Aku lihat Rei tersenyum getir. Membuatku menjadi rasa tak enak padanya. Yang aku yakin Rei merasa tak nyaman mengetahui bahkan aku menuliskan momen pertemuanku dengan Irsyad secara khusus di ponselku.
Sungguh aku benar-benar tidak mengingat reminderku akan pertemuanku dengan Irsyad ini. Tapi setelah masalah ini clear dan Rei bisa menerima penjelasanku yang mana ia mempercayaiku, maka akan segera aku periksa kalenderku dan menghapus jejak reminder-reminder lain soal Irsyad jika memang ada.
****
“Ini Rei, lihatlah ..” Malia berucap sambil ia meminta Reiji untuk memperhatikan apa yang ia tunjuk di layar ponselnya itu.
Reiji pun mengiyakan permintaan Malia tersebut.
Lalu Reiji memperhatikan apa yang Malia sedang tunjukkan padanya.
“Hm ..”
“Maaf Rei, aku ..” kikuk Malia yang menyadari deheman Reiji yang terdengar mengandung arti itu, karena catatan yang tertulis di kolom tersebut.
“I’m okay (Aku ga pa-pa) ..” tukas Reiji. “Terusin aja apa yang mau kamu omongin ..”
Reiji lanjut bicara, dan Malia mengangguk.
“Aku inget baju yang aku pakai hari ini. Baju yang ada di foto ini.”
Lalu Malia berujar menjelaskan.
Kemudian mengambil lagi foto lain yang terjejer di atas meja di hadapannya dan Reiji.
“Nah kalau yang ini ..”
__ADS_1
Malia kemudian fokus ke ponselnya dan membuka ikon kamera di ponsel tersebut hingga berhenti menggerakkan jempolnya saat layar ponselnya memperlihatkan satu foto.
Lalu Malia kembali mengajak Reiji untuk memperhatikan apa yang sedang ia tunjukkan, sebagai penguat pembelaan diri Malia atas foto – foto yang diberikan Irsyad pada Reiji.
“Kamu perhatiin foto ini .. foto ini aku ambil selfie saat aku menunggu Irsyad sampai .. perhatiin apa-apa yang ada disekeliling aku yang ada di foto ini, sama di foto ini ..”
Malia menunjukkan pada Reiji dua foto dengan gambar yang berbeda di dalamnya.
Reiji kemudian mengambil alih ponsel Malia berikut foto yang Malia pegang, kemudian memperhatikannya dengan seksama.
Malia menggigit bibirnya, berharap Reiji paham apa yang ia maksud ketika suaminya itu sedang memperhatikan dua foto yang berbeda, namun lingkungan disekitarnya sama.
“Kamu bisa lihat tanggal foto selfie aku itu di detail fotonya, Rei .. Dan aku harap kamu percaya kalau foto itu diambil dihari yang sama.”
Malia menyisipkan ucapan, saat Reiji masih nampak memperhatikan dua foto tersebut sambil satu jempol Reiji bergerak di layar ponsel Malia.
“Aku minta maaf kalau aku bisa sampai foto berdua dengan Irsyad ..”
Malia kembali berucap sambil ia menunduk sekarang.
“Tapi aku harap kamu percaya, bahwa sekalipun aku ga pernah berbuat diluar norma disetiap pertemuanku dengan dia ..”
Malia meremat tangannya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Reiji.
“Sejak aku memutuskan untuk kembali ke kamu, aku bahkan udah menghindari Irsyad, Rei. Aku ..”
Malia tak menyelesaikan kalimatnya, karena ia terkesiap disaat tubuhnya tertarik pelan dan didetik berikutnya ia sudah berada didalam dekapan Reiji.
Malia pun merasa lega seketika sekaligus haru diwaktu yang bersamaan ketika Reiji bilang, “Aku percaya kamu, Yang ..”
“Makasih, Rei ..”
“I love you ----“
“Love you too, Rei ..”
Malia membalas ucapan mesra Reiji seraya ia mendekap balik suaminya yang kini sedang menahan geramnya pada Irsyad itu.
“Aku harus buat perhitungan dengan dia karena sudah berusaha mengganggu kita dengan membuat fitnah atas kamu ----“
__ADS_1
*****
Bersambung...