WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 133


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


Malia menempatkan dirinya sebagaimana layaknya istri pada Reiji yang sedang berusaha keras untuk menunjukkan pada Malia jika dia adalah suami yang memang layak untuknya.


Sepasang suami istri yang menikah karena cetusan perjodohan dari kedua orang tuanya itu sedang sama-sama mencoba menjadi layak untuk satu sama lain.


Reiji dan Malia juga tak segan mengatur ulang jadwal kebersamaan mereka untuk melakukan segala hal mulai dari yang terkecil, selain pembagian tugas dalam mengurus apartemen mereka.


Keberuntungan secara pribadi juga Reiji dapatkan dari pemilik maskapai tempatnya bekerja. Meski belum didaulat untuk menjadi pilot pribadi pemilik tunggal dari maskapai tempat Reiji bekerja sebagai Pilot selama ini, namun Reiji kerap diminta menjadi pilot pengganti jika pilot pribadi sang owner sedang berhalangan.


Membuat Reiji jadi sedikit spesial di tempatnya bekerja, hingga untuk waktu bekerja pun Reiji dipersilahkan untuk mengatur sendiri jadwalnya, termasuk hari libur yang ia inginkan.


Jadi Reiji bisa mengambil libur terbang saat weekend, menyamakan hari liburnya dengan Malia.


Reiji bahagia.


Semesta seolah begitu mendukung Reiji untuk mendapatkan kesempatan yang besar dan bagus untuk memenangkan hati Malia.


Dengan menyamakan hari liburnya dengan Malia, Reiji bisa mengantar kemanapun yang Malia minta.


Termasuk, jika Malia ingin menghabiskan weekend di luar sebagai pasangan. Bahkan jika Malia minta diantar untuk ke salon pun, akan Reiji iyakan.


Apapun akan Reiji lakukan, agar Malia lepas dari bayang-bayang masa lalu perasaannya pada seorang laki-laki di masa lalu istrinya itu. Lalu cinta di hati Malia akan ada hanya untuk dirinya saja, suami sahnya Malia.


**


REIJI


“Yang,” Aku langsung memanggil Lia yang katanya sudah sampai di apartemen saat aku tanyakan keberadaannya ketika aku sampai kembali di Jakarta, lalu selesai dengan tugasku hari ini sebagai Pilot.


Aku cek keberadaan Lia di pantri dan balkon.


Tapi tidak aku temukan istriku itu di dua tempat tersebut.


Sejak hubungan kami membaik sejak kurang lebih seminggu yang lalu-hampir dua minggu, Lia selalu akan sudah ada disaat aku sampai di apartemen.


Lia benar-benar menepati ucapannya padaku, untuk kembali menjunjung komitmennya sebagai seorang istri untukku.


Dan lagi, sikapnya aku rasa menjadi sedikit lebih manis dari sebelumnya sekarang padaku. Akupun mensyukuri hal itu.


Lia tak segan untuk menghubungiku terlebih dahulu, atau sekedar mengirimkan chat untuk mengucapkan selamat malam, jika aku sedang tidak berada bersamanya saat waktu tidur tiba.


Lalu sebaris kalimat seperti,


“Malem Yang, met bobo, Miss you.”


Akan aku ucapkan atau aku ketik dan kirimkan ke ponsel Lia.


Dimana sekarang aku akan mendapatkan balasan dari Lia baik dengan ucapan ataupun ketikan pesan,


“Hm .. Miss you too, tapi sedikit.”


Jawaban yang dapat membuat sudut bibirku melengkung ke atas.


Yang membuatku jadi gede rasa, karena berpikir, jika perlahan, aku sudah mulai ada di hati Lia.


Dimana rasa untukku yang kata Lia adalah rasa sayang, perlahan mulai tumbuh menjadi cinta, walau baru kuncupnya saja.


----


Langit baru saja berubah hitam saat aku telah sampai di apartemenku dan Lia, namun belum sampai waktu tidur tiba.


Dan dijam-jam begini, biasanya Lia akan berada di kamar, entah itu sudah berleha-leha di atas ranjang sambil memangku laptopnya, atau sedang melakukan sesuatu pada wajahnya.

__ADS_1


Aku melihat ke arah meja makan yang ada di dekat pantri, dan sepertinya sudah ada makanan yang tertutup tudung saji disana.


Makanan yang Lia beli, saat perjalanan pulang ke apartemen sepulangnya bekerja tadi. Dan biasanya juga kami memesan makanan delivery online.


Lia jarang masak, kecuali saat weekend, itupun tergantung moodnya. Yah, begitulah Lia.


Tapi dari awal aku memang tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Toh banyak tempat makan diluaran, dan kalau malas keluar, cuma tinggal ambil handphone kemudian berselancar di aplikasi pesan makan online.


Simpel, ga pake ribet.


----


Well, aku hanya melirik saja meja makan tanpa mendekati untuk mengecek ada makanan apa disana.


Aku tak peduli Lia menyiapkan apa, karena makanan apapun yang Lia sediakan untukku akan aku makan.


Selain aku bukan orang yang suka pilah pilih makanan - meskipun aku juga punya makanan favorit, tapi seorang suami harus menghargai setiap apa yang istrinya lakukan untuk melayani kebutuhan suaminya kan?.


Meskipun makanan yang disediakan bukan sang istri yang membuat, pun bukan makanan favorit sang suami yang disajikan. Tak perlu dipermasalahkan, apalagi dibesar-besarkan.


----


Aku tidak begitu lapar, jadi aku memilih untuk menemui Lia terlebih dahulu, sekaligus menanyakan apa dia sudah makan duluan atau belum.


Selain aku sudah tak sabar ingin memeluknya, dan meresapi harum tubuhnya yang aku rindukan setiap waktu itu. Terlebih, setelah hubungan kami sekarang sudah jauh lebih baik lagi.


Akupun melangkahkan kakiku ke kamarku dan Lia dalam apartemen kami.


Namun tidak ada Lia di atas ranjang dan area sekitarnya.


Lalu aku pikir jika Lia sedang berada di dalam walk in closet dan duduk di meja rias dan sedang melakukan ritual pada wajahnya.


Tapi tidak ada juga Lia disana. Ah iya, di kamar mandi kayaknya.


----


“Yang,”


Jadi satu-satunya tempat keberadaan Lia dalam apartemen saat ini adalah kamar mandi. Meski bisa saja Lia sedang pergi ke luar unit apartemen kami untuk jajan di bagian bawah gedung apartemen yang menyediakan mini market dan beberapa kedai kekinian makanan dan minuman selain gerai laundry.


Tapi kalau Lia sedang pergi jajan di sekitar area kawasan gedung apartemen kami, dalam masa percobaan kami yang kedua untuk mengharmoniskan pernikahan kami ini-katakanlah begitu, Lia pasti akan memberitahuku.


Dan jika aku memang sedang dalam perjalanan pulang ketika Lia sedang jajan plus aku sudah sebentar lagi sampai, Lia pasti akan menungguku di tempat jajannya lalu kami akan bersama kembali ke unit apartemen kami. “Yang? .....”


Aku masih mencoba mengecek keberadaan Lia di dalam kamar mandi, jadi aku memanggilnya sekali lagi, meski aku tidak melihat ponsel Lia tergeletak di kamar kami.


“Yang? .....”


Hening saja. Tidak aku dengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Jangan-jangan benar, jika Lia sedang keluar?. Tapi kok ga ngasih tau?. Apa moodynya Lia sedang kambuh?.


Haish ..... begini nih kalo punya istri dan istri itu adalah perempuan yang sudah dicintai sampai sebegitunya, terus dia punya penyakit yang namanya ‘moody’.


Membuat aku sebagai suami yang masih dalam tahap masa percobaan dicintai oleh istri yang moody-an itu, dan sedang coba aku menangkan hatinya bulat-bulat-jadi suka merasa was-was berlebihan.


Takut bikin salah, terus Lia membatalkan masa percobaanku yang ingin memenangkan hatinya bulat-bulat itu-lalu akan muncul lagi celah buat si bibit pebinor itu kembali mengganggu diantara aku dan Lia.


Hell No!. Tidak akan aku biarkan itu terjadi!.


Akupun segera merogoh saku celana pilotku untuk mengambil ponsel yang aku masukkan ke dalamnya, untuk menghubungi dan mencari tahu keberadaan Lia sekarang.


Namun didetik berikutnya aku mengurungkan niatku untuk menghubungi Lia, kala sayup-sayup aku mendengar senandung dari dalam kamar mandi.


Tanpa lagi aku memanggil Lia, aku pastikan jika itu adalah istriku yang sedang berada di dalam kamar mandi.


Ga mungkin istri orang lain kan?.


Jadi aku memutar langsung knob pintu kamar mandi, berharap tidak dikunci dari dalam.

__ADS_1


Dan senangnya hatiku, ternyata Tuhan mengabulkan doa suami yang baik hati ini. Pintu kamar mandi tidak dikunci dari dalam oleh Lia. Rezeki!.


Semakin senang hatiku. Dan begitu senangnya-sampai tanganku otomatis langsung membuka sendiri satu per satu kancing pada seragam pilotku, kala melihat Lia sedang berendam di dalam bathtub dengan mata terpejam dan telinganya tersumpal headset yang tersambung dengan ponsel yang ia letakkan di dekat kepala pada ruang di permukaan atas pinggir bathtub.


Dasar Lia.


Kebiasaan sekali membawa ponsel saat mandi.


Jika aku sedang dalam masa bersitegang dengan Lia, aku pasti mencurigai dirinya sedang menghubungi atau berkirim pesan dengan Irsyad di dalam kamar mandi agar aku tidak sampai tahu tentang hal itu, dengan membawa serta ponselnya ke kamar mandi.


Tapi untungnya persiteganganku dan Lia telah berlalu. Dan hubungan kami semakin baik disetiap harinya, sejak malam dimana Lia mengatakan ingin kembali berkomitmen dengan pernikahan kami ini.


Sebaik perasaanku melihat Lia yang sedang berendam santai di dalam bathtub, dengan mata terpejam, lalu bersenandung-yang aku pastikan sedang mendengarkan musik dari ponselnya tersebut.


Asik sekali kulihat Lia yang sedang berendam itu. Dan akupun akan ikutan merasa asik jika aku segera ikut masuk bergabung ke dalam bathtub, dan merengkuh tubuh Lia yang aku yakin seribu persen polos macam bayi baru lahir.


Membuat bibirku melengkung ke atas, membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya antara aku dan Lia. Ah, air liurku seolah mau menetes meski baru membayangkannya saja.


“Ah!” Aku disambut oleh suara pekikan kecil Lia yang nampak terkaget-kaget setelah aku mengecup bibirnya. “Rei ih!”


Akupun terkekeh melihat ekspresi keterkejutan Lia yang lalu mendelik dan memukul perih lenganku setelah ia terkaget-kaget dan memekik kecil itu.


“Mau bikin aku mati mendadak apa ngagetin aku begitu?! –“


Lia mengepret lagi lenganku dengan wajahnya yang nampak sebal, sambil melepaskan headset dari telinganya. Aku masih terkekeh.


“Ya abis kamu aku panggilin ga jawab-jawab.” Sahutku. “Ini juga nih, kebiasaan kalo mandi bawa hp –“ aku  lanjut bicara. “Terus dengerin musik sampe volumenya full begini ..”


Tanganku mengambil alih headset Lia berikut ponselnya yang kemudian aku pindahkan ke bagian ujung wastafel yang kering.


“Kalo ada apa-apa gimana?” aku berdiri sejenak didekat wastafel lalu berkacak pinggang sambil memandang pada Lia yang masih merendamkan dirinya di wastafel dengan pipinya yang ia gembungkan sedikit. “Ga akan denger kan kamu kalo dengerin musik pakai headset dengan volume yang full begitu?—“


Aku sedikit merepet.


“Ya abis aku iseng banget kalo berendem keadaannya sunyi senyap.”


“Kan ada music player portable ---“


“Ga keingetan.”


Lia dengan cepat memotong kalimatku.


Masih dengan wajah merajuk yang ia pasang.


Wajah merajuk menggemaskan, seperti saat Lia kecil dulu.


“Masih muda udah pikun—“ ledekku.


Didetik dimana Lia mencipratkan air dari dalam bathtub padaku.


“Sembarangan bilang aku pikun!----“ ketus Lia.


“Wah!----“ tukasku. “Basah nih kan celana aku? ...” Aku mencebik.


Lia menjulurkan lidahnya padaku selepas aku melayangkan protes kecil padanya.


“Lebay! Kecipratan gitu doang!”


“Oh aku cipratin juga ya.”


“M-mau apa?....” Lia tergagap kemudian, saat aku mulai berjalan mendekatinya kembali sambil membuka kaitan ikat pinggangku.


“Mau nyipratin kamu lah.” Aku menyeringai sambil terus menatap Lia, sambil membuka celana panjangku.


Dan Lia memalingkan wajahnya, dengan menggigit bibir bawahnya. Nampak kikuk.


Lalu memalingkan wajahnya saat hanya tinggal pengaman segitigaku yang hanya tertinggal di tubuhku saat ini.


“Ga pake air tapi.”

__ADS_1


**


Bersambung..


__ADS_2