
Selamat membaca....
****************
MALIA
Aku sungguh tak menyangka, bila rencanaku untuk ‘kabur’ sejenak dari Rei, malah menjadi hal yang membuat diriku sendiri menjadi terancam.
Dimana aku dipertemukan oleh seseorang yang sudah aku lupakan, sejak hubunganku menjadi kian mesra dengan Rei. Yang mana aku pikir, jika seseorang itu telah tidak lagi ada di Jakarta bahkan di Indonesia.
“Hai, Lia...”
Namun ketika suara sapaan itu aku dengar berikut sosoknya yang ada di hadapanku, aku spontan menahan nafasku. “Kenapa, kamu bisa ada di sini... Irsyad?...”
Iya pria itu yang tahu-tahu muncul dihadapanku pada sebuah resto yang aku kunjungi. Irsyad. Laki-laki dari masa laluku yang telah aku hindari, ketika gelagat ketidakberesan dengannya aku tangkap.
Selain, Irsyad sudah pernah melecehkanku dengan menciumku secara paksa pada satu waktu. Belum lagi Irsyad pernah berusaha memprovokasi Rei dengan berani menemui suamiku itu dan memberikan foto-foto dengan banyak rekayasa.
Lalu Irsyad menghilang. Sampai Rei yang ‘memburunya’ itu akhirnya bosan menantang Irsyad lewat nomor kontaknya yang kemudian lama tidak nampak aktif. Dan kala itu aku berpikir, jika Irsyad telah hengkang dari Jakarta. Karena dihari terakhir aku bertemu dengannya—dimana seperti sebelumnya Irsyad yang suka tiba-tiba muncul di hadapanku saat aku makan siang di kantor, hari itu pun sama.
Irsyad sudah tahu-tahu ada di dekatku ketika aku mencapai mobilku sehabis aku selesai berbelanja sedikit kebutuhan dapurku dan Rei. Dimana alibi Irsyad saat itu adalah untuk tulus meminta maaf padaku soal perbuatannya yang kurang ajar padaku dengan mencium paksa serta sedikit kasar diriku kala itu, lalu mengatakan padaku kalau ia akan kembali ke pekerjaan yang ia tinggalkan demi mengejarku.
Yang mana momen itu dengan segala interaksi kami di parkiran sebuah hypermart, Irsyad manfaatkan dengan menyuruh orang memfoto kami berdua guna memberikan kesalahpahaman pada Rei agar mencurigaiku telah main belakang darinya.
Dan sejak itu, aku merasa sedikit takut pada Irsyad.
Hanya saja selama beberapa waktu di belakang, sudah tidak aku pikirkan lagi ketakutanku itu padanya.
Karena kehidupanku dan Rei sungguh tenang adanya.
Well, sebelum kejadian Rei membohongiku ini.
Tapi aku sungguh aku tidak menyangka, jika aku akan bertemu lagi dengan Irsyad.
Dan aku kembali dibuat was-was olehnya, karena ketika aku bertanya tentang mengapa dia bisa ada di tempat yang sama denganku, Irsyad bilang,
“Takdir,”
“Kamu, bukannya... udah pergi dari Jakarta?” Aku yang sempat terdiam sesaat, lalu melontarkan pertanyaan pada Irsyad untuk menutupi kegugupanku yang bertemu dengannya itu.
-----
Hanya saja, pertanyaanku tadi tidak dijawab oleh Irsyad. Yang entah dia tidak mendengarnya atau sengaja mengabaikan pertanyaanku itu yang mungkin tidak ingin ia jawab.
Malahan, Irsyad meminta ijin bergabung di mejaku dengan begitu percaya dirinya. Yang mana belum sempat aku bersuara untuk menolak, Irsyad dengan seenaknya telah mengambil tempat di area mejaku.
“Aku lihat kamu masuk tadi—“
“Aku ga persilahkan kamu untuk mengambil tempat disini, Irsyad...” tukasku pada Irsyad yang sudah mendudukkan dirinya di sampingku itu.
Masa bodoh jika Irsyad tersinggung karena aku secara tidak langsung mengusirnya. Karena aku sungguh tidak ingin Irsyad ada lagi di dekatku.
Namun alih-alih pergi, dan aku lihat wajahnya tidak nampak tersinggung sama sekali dengan ucapanku yang bermaksud mengusirnya tadi—Irsyad malah mengucapkan kalimat yang membuatku sedikit was-was.
“Aku mempersilahkan diri aku sendiri...”
-----
Irsyad nampak percaya diri sekali.
“Tapi ini meja aku, dan aku berhak untuk tidak memberi ijin pada kamu bergabung dengan aku.“
Dan aku rasa aku harus lebih tegas pada Irsyad.
Tapi sekali lagi, Irsyad nampak mengabaikan keberatanku dengan keberadaannya di dekatku saat ini.
Bahkan ia terlihat santai sekali. Apa karena Irsyad melihat jika aku sendirian makanya ia terkesan ‘berani’?...
Tapi apapun itu, yang jelas aku harus segera mengusirnya dari dekatku.
Atau aku saja yang lebih baik pergi dari restoran yang seharusnya menjadi tempat untukku melepas penat dan kesal. Tapi malah aku menjadi kian kesal dengan adanya Irsyad yang seperti waktu itu, tahu-tahu muncul dihadapanku.
-----
__ADS_1
Aku memutuskan lebih baik aku pergi saja dari restoran tempatku berada saat ini. Jujur, daripada harus bersama Irsyad di sini lebih baik aku pulang saja ke apartemen dan bertemu Rei meski aku sedang sangat kesal dengannya.
“Sekalian saya minta bill ya, mba?”
Dan kebetulan sekali, pelayan restoran datang untuk mengantarkan minuman pesananku—jadi aku langsung saja meminta bill padanya.
Tapi setelah aku pikir, setelah pelayan tersebut dan mengangguk mengiyakan permintaanku, lebih baik aku langsung saja pergi ke kasir untuk membayar.
Aku meraih ponselku di atas meja restoran tempatku, dan aku dengar Irsyad bicara pada pelayan restoran yang mengantarkan minuman pesananku itu.
“Sekalian bill saya juga ya?--Tadi saya udah info kalau pindah meja.” Begitu kira-kira. Masa bodohlah. Tapi kemudian ucapan Irsyad membuatku terkesiap. “Dan Bill teman saya ini, satukan saja dengan punya saya.”
-----
Aku hendak memberi penolakan dengan menyergah permintaan Irsyad kepada si pelayan restoran untuk menggabungkan bill minumanku dengan miliknya, yang mana aku tidak ingin berhutang sedikitpun pada Irsyad, jika mengingat dirinya yang tidak terima kala aku mengatakan padanya jika aku telah mencintai Rei, dan itu karena sikapku yang lunak padanya.
“Saya tunggu ya?”
Namun Irsyad menjegal rencanaku itu—membuatku terkesiap dan terdiam dengan spontan saat dia sedikit mengangkat tangannya untuk menyergahku, lalu berdiri menghalangiku menghadap pada si pelayan restoran tersebut.
Aku hendak mengejar pelayan tersebut dan melarangnya untuk menggabungkan billku ke billnya Irsyad.
“Ga usah diperbesarkan Lia,” Namun Irsyad dengan cepat lagi bicara sambil menahan langkahku dengan berdiri menghadap padaku.
“Oke, aku terima traktiran kamu. Tapi sekarang kamu bisa tinggalin aku sendiri?”
Tak ingin memperdebatkan sesuatu yang tak penting, maka aku iyakan saja apa yang tadi ia minta pada pelayan restoran.
Tapi tetap, aku menunjukkan sikap antipati pada Irsyad yang sayangnya itu tidak berpengaruh sama sekali---Karena Irsyad kemudian bilang,
“Bisa. Tapi aku ingin tetap disini...”
Dengan santainya. Dan aku kembali menjadi was-was dengan sikap Irsyad itu.
Dan rasanya juga, aku lebih baik pergi saja dari restoran tempatku berada dengan segera.
******
Malia sudah merencanakan untuk segera pergi dari hadapan Irsyad dan dari restoran tempatnya berada.
Dan Malia juga mengingat tentang ‘kacaunya’ Irsyad ketika Malia menolaknya dan mengatakan jika ia telah mencintai Reiji sepenuhnya hingga Irsyad menciumnya dengan paksa dan cukup kasar.
Karena ingatannya akan sosok Irsyad kala itu, Malia jadi agak bergidik.
“Sorry, kalau aku terdengar maksa. Tapi kayaknya kamu lagi butuh teman ngobrol buat berbagi kekecewaan kamu, Lia ...“
Malia sudah hendak hengkang setelah ia memegang ponsel dan tas kerjanya tanpa berpikir untuk berpamitan pada Irsyad. Tapi sebelum itu terjadi, Irsyad bicara lagi.
Dan Malia kemudian menangkap makna yang ambigu dari kalimat Irsyad yang barusan itu.
Lalu Irsyad berkata lagi, “Bukankah saat ini kamu sedang kecewa berat, Lia?...“
“Maksud kamu?...“
Malia spontan bertanya.
“Kamu baru saja menemukan fakta kalau suami kamu selingkuh, bukan begitu?“
“Kamu—“
“Seharusnya kamu pilih aku, Lia—“
“Jadi kamu, orang misterius yang mengirimkan foto-foto itu???...”
Malia langsung bertanya tanpa memperhatikan kalimat yang Irsyad ucapkan dalam gumamannya.
“Iya.” Irsyad menjawab tanpa ragu.
Dan Malia langsung terpaku di tempatnya sambil otaknya berasumsi.
“Apa kamu mengawasi gerak-gerik aku selama ini?—“
“Aku memperhatikan kamu, Lia.”
__ADS_1
“Apa kamu tahu, kalau hal itu melanggar batas privasi seseorang dan ada hukum yang mengaturnya?”
Malia berucap serius sambil memandang tajam pada Irsyad.
Namun Irsyad mengulas senyuman.
“Tapi batas yang aku langgar pada akhirnya membantu kamu, kan?”
“............”
“Membuat kamu mengetahui kalau suami kamu telah mengkhianati kamu,” sambung Irsyad.
“Apapun yang Rei lakukan termasuk kehidupan rumah tangga aku, bukan urusan kamu.”
“Lia—“
“Tolong minggir.”
Malia mengabaikan Irsyad yang ingin berbicara.
“Tolong minggir, atau aku teriak?—“
“Tidak bisakah kamu menghargai apa yang aku lakukan untuk kamu, dengan menguak fakta tentang betapa brengsek suami kamu itu yang memiliki wanita lain di luar?—“
“Minggir aku bilang,” tukas Malia dengan memandang tajam pada Irsyad yang menghalangi jalannya itu. Dan Irsyad bergeser.
*****
MALIA
Aku langsung bergegas setelah Irsyad menggeser tubuhnya dan memberiku jalan untuk pergi dari hadapannya.
Tak memikirkan apa-apa selain aku harus segera mencapai lift dan sampai ke lobi gedung, kemudian kembali ke apartemen.
Dan merasa lega ketika aku telah sampai di depan sebuah lift.
Namun sedikit kesal, karena lift tidak langsung terbuka dan merutuki diriku sendiri kenapa harus pergi ke sebuah tempat yang letaknya di lantai lima puluhan sebuah gedung yang berlabel dari sebuah Bank tersohor di Indonesia.
Habis, mana tahu jika aku akan bertemu dengan itu si bibit pebinor itu?...
Hah, ingat dua kata itu aku jadi ingat Rei. Karena sebutan untuk Irsyad itu tercetus darinya.
“Lia,” aku dengar seseorang yang memanggilku. Dan aku mengenali betul suara siapa itu, yang tahu-tahu sudah lagi ada di dekatku.
Aku bertahan untuk tidak menoleh, sambil menekan terus tombol lift agar segera terbuka. Dan akan melesat masuk ke dalamnya lalu akan benar-benar teriak jika Irsyad sampai mengekoriku masuk ke dalamnya.
“Lia... aku antar ya?...”
“Tidak perlu!”
Aku menyahut ketus.
“Tapi kamu terlihat kurang sehat, Lia—“
“Jangan kurang ajar kamu!”
Aku melotot tajam pada Irsyad yang meringsek ke depanku itu menyentuh pipiku dengan cepat.
“Maaf aku ga bermaksud untuk itu...”
Aku mendengar kalimat itu keluar dari mulut Irsyad.
Namun setelahnya pendengaranku mulai tak jelas, dan aku merasakan tubuhku perlahan melemas.
“Lia...”
Aku masih mendengar suara Irsyad, namun kian lama pandanganku makin kabur dan tubuhku kian lemas.
Bahkan saking lemasnya, aku tidak melakukan penolakan ketika Irsyad kemudian meraih tubuhku dan sebentar aku rasakan kakiku terseret pelan.
Masih dapat menyadari jika aku dibawa Irsyad memasuki lift.
Tapi setelah lift bergerak, aku merasakan perutku mual dan kesadaranku mulai menjauh hingga pandanganku gelap sempurna setelahnya.
__ADS_1
********
Bersambung......