WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 243


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Tapi sepertinya itu ide bagus. Mengirimkan foto-foto kebersamaan kita di kamar ini pada suamimu itu...“


Adalah Irsyad yang bicara pada Malia dalam sebuah kamar yang temaram di suatu tempat yang hanya Irsyad ketahui.


“Ja-ngan, Irsyad... aku mohon. Jangan...“


Malia sudah benar-benar ketakutan dengan Irsyad saat ini.


“Makanya kamu harus patuh sama aku, Lia. Oke?...” ucap Irsyad yang kini ekspresi wajahnya telah berubah lagi menjadi lembut.


Namun begitu, tetap Malia tidak berhenti merasa takut pada Irsyad yang nampak sudah melembut bahkan mengulas senyuman.


Karena tetap saja meskipun Irsyad telah melembut dan menyertakan senyuman, Irsyad tetap terlihat menyeramkan untuk Malia karena dari sikap Irsyad padanya saat ini itu, Malia sedikit banyak dapat menyimpulkan jika Irsyad mengalami gangguan kejiwaan.


‘Rei...’ Malia melirih dalam hatinya. ‘Semoga kamu mencari aku...’


Menepis rasa kesalnya yang teramat pada Reiji, Malia sungguh berharap jika Reiji dapat melacak keberadaannya sekarang dan membebaskannya dari Irsyad yang Malia takut akan bertindak di luar batas padanya, dengan melecehkannya.


***


“Lia...”


Suara Irsyad membuat Malia yang sedang memikirkan Reiji itu terkesiap.


“A-apa---“


“Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi---“


“P-pertanyaan---“


“Mau patuh pada aku atau engga?”


“A---“


“Kamu aku larang keras untuk menyebut nama suami kamu itu didepanku,” ucap Irsyad lembut, namun nampak penegasan dari sorot matanya yang sedang memandang pada Malia yang kini sedang Irsyad kukung itu.


“I-iya...” gagap Malia yang kini berpikir untuk mengiyakan saja permintaan Irsyad itu untuk mengamankan dirinya dari Irsyad yang bisa saja menggila jika dirinya tidak mengiyakan permintaan laki-laki dari masa lalunya tersebut.


***


MALIA


“Good... Ini baru Malia yang aku kenal. Selalu denger omongan aku...” ucap Irsyad setelah aku mengiyakan ucapannya yang memintaku agar jangan menyebut nama Rei di hadapannya. Dan Irsyad nampak puas, lalu mengusap kepalaku macam sedang membujuk anak kecil.


“Sekarang tolong jaga batasan kamu.”


Kuberanikan diri untuk mendorong tubuh Irsyad yang mengukungku itu agar menjauh.

__ADS_1


Jika sampai dia marah dan melakukan hal yang tidak senonoh padaku, aku bersumpah akan membunuh diriku setelah itu bagaimanapun caranya.


Dan aku langsung mengambil sikap waspada setelah aku mendorong Irsyad dengan sedikit kasar.


Sambil aku memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama dan mengurutkan dengan cepat apa saja yang kiranya bisa aku lakukan sebagai bentuk perlawanan jika Irsyad menunjukkan tanda-tanda akan melakukan pelecehan terhadapku.


Pokoknya aku akan mempertahankan harga diriku sekuat tenaga yang aku punya untuk melawannya, melawan Irsyad yang sudah hilang akal ini. Yang aku sadari jika dia rasanya sudah terobsesi denganku.


Apapun itu, aku sungguh tidak sudi disentuh olehnya. Oleh orang gila ini...


Oh Tuhan, kenapa Engkau menempatkanku pada situasi seperti ini?...


Dan Rei, semoga saja dia peka jika aku tidak sedang menyembunyikan diri darinya.


Lalu Irsyad yang tidak waras ini, segera meninggalkanku sendiri agar aku bisa mencari celah untuk kabur.


“Tentu saja aku akan menjaga batasanku,” ucap Irsyad dengan menampakkan senyumnya padaku.


Syukurlah Irsyad tidak nampak tersinggung karena aku mendorongnya.


Namun aku tetap tidak ingin lengah.


---


“Dengan catatan, kamu tidak membuat aku kesal, Lia. Apa kamu mengerti?---“


“Iya aku mengerti, dan sekarang bisa kamu tinggalkan aku sendiri???” tukasku.


“Baik, aku akan memberikan kamu privasi. Apa kamu lapar?---“


“Tidak sama sekali,” tukasku lagi dengan cepat, datar dan dingin pada Irsyad.


“Ya sudah. Jika kamu merasa lapar atau butuh sesuatu, kamu hanya tinggal membunyikan lonceng ini...”


Irsyad mengeluarkan sebuah lonceng kecil dari sakunya yang kemudian ia letakkan di atas nakas samping tempat tidur tempatku dalam kamar tempatku berada ini.


Cih!


Tidak akan pernah aku sentuh lonceng yang mengingatkanku pada satu film horor indonesia itu.


“Aku akan segera datang buat kamu...” kata Irsyad lagi.


Masa bodoh!


Kemudian Irsyad berbalik dan mulai mengayunkan langkahnya menjauh dariku, menuju pintu kamar.


“I love you, Lia,” ucapnya ketika ia sudah berada di tengah titik antara ruangan kamar dan pintunya, sambil menoleh dan tersenyum padaku.


Aku jijik sekali mendengarnya. Dan muak ketika mendengar Irsyad bicara lagi dengan begitu percaya dirinya sambil menatapku.


“Dan aku yakin, kalau kamu juga mencintai aku, Lia...”

__ADS_1


Heh!


Aku memalingkan wajahku.


Namun alih-alih segera pergi dan meninggalkanku sendiri, Irsyad malah berbicara lagi.


“Kebersamaan kamu di sini denganku, akan menyadarkan kamu akan itu. Bahwasanya aku yang kamu cintai. Dan kamu terpaksa menerima laki-laki yang menjadi suamimu itu. Tapi tenang saja, aku akan segera membebaskan kamu dari belenggu perjodohan kamu dengannya. Percaya padaku, oke?”


Dasar gila!


Dan orang gila itu pada akhirnya mengayunkan langkahnya menjauh dariku.


Tapi aku masih bergeming di tempatku berdiri.


Namun kemudian Irsyad menghentikan langkahnya.


“Ingat Lia, jangan macam-macam---“


“ingat juga, kalau kamu harus menghargai privasi aku dengan tidak sembarangan masuk ke kamar ini---“


“Maaf Sayang. Untuk yang satu itu aku tidak bisa. Aku harus mengecek calon istriku biar bagaimanapun---“


“Tolong segera tinggalkan aku sendiri,” potongku. Aku sudah muak mendengar setiap ucapan Irsyad yang kian ngaco itu.


Yang ingin aku sergah, namun aku teringat kembali peringatan Irsyad padaku tadi.


Jadi untuk sekarang lebih baik aku diam, agar pria gila itu segera berambus dari hadapanku.


Dan agar aku bisa dengan cepat menemukan cara untuk melarikan diri dari Irsyad yang langsung mengiyakan permintaanku agar ia meninggalkanku sendiri di kamar tempatku berada ini dengan segera.


Aku tidak langsung bergerak ketika Irsyad telah keluar dari kamar dan menutup pintunya. Aku baru bergerak ketika seperti yang sudah aku duga sebelumnya, bahwa laki-laki itu akan mengunciku di dalam kamar tempatku berada ini.


Tas kerjaku!


Benda itu yang aku ingat, karena ada ponselku di dalamnya.


Tapi setelah mataku memperhatikan dengan cepat dan seksama area sekitar tempat tidur, aku tidak melihat tas kerjaku itu.


Hingga pada akhirnya aku menyisir seluruh bagian kamar tempatku berada untuk mencari tas kerjaku, agar aku bisa menggunakan ponselku dan menghubungi Rei.


Dan kali ini aku mencari dengan pelan-pelan tas kerjaku itu di seluruh bagian kamar, dengan mata dan telingaku berjaga-jaga jika suara kunci kamarku yang hendak dibuka terdengar.


Namun setelah rasanya aku dengan seksama mencari, aku tidak menemukan tas kerjaku.


Kalau begitu, pasti laki-laki gila itu sudah menyembunyikannya saat aku tengah tidak sadarkan diri.


Ya Tuhaann, bagaimana ini?... bagaimana aku akan menghubungi Rei dan mengatakan jika Irsyad telah menculikku?...


******


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2