
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
REIJI
Aku sedang menenangkan diri di ruang serbaguna dalam unit apartemenku dan Lia setelah aku beringsut dari ruang makan bahkan sebelum makananku habis dan rasa laparku terpenuhi dengan sempurna, karena sedikit tak tahan dengan cibiran Lia yang di telingaku agak cukup merendahkanku – dalam penilaianku.
Dan aku memang sedang menjaga emosiku agar tidak terprovokasi karena cibiran Lia padaku yang sudah beberapa kali aku dengar sejak aku menjemput Lia tadi.
Selain aku juga ingin memberikan waktu bagi Lia untuk mendinginkan kepalanya yang aku tahu sedang disesaki oleh emosi. Yang bila aku timpali, kemungkinan Lia akan menjadi kian ketus dan sinis lebih dari sebelumnya padaku.
Dan aku tidak ingin itu terjadi berlarut – larut. Selain aku sendiri juga masih menahan kesalku atas Lia yang membatalkan promilnya secara sepihak, memupuskan mimpiku untuk memiliki buah hati. Dan itu karena Lia larut dalam emosinya.
Yang mana aku tidak tahu apa hubungan kesalahanku yang selama ini memberikan uang pada Irly, dengan promil yang Lia lakukan hingga ia memutuskan begitu saja untuk menghentikan promil yang sudah setengah jalan bahkan kemungkinan besar sukses.
Lia begitu enteng memupuskan mimpiku untuk memiliki buah hati dalam sekejap. Dan jujur, hatiku tidak terima.
Namun membahas hal itu lebih jauh pun percuma sekarang ini, dengan kondisi Lia yang masih dirajai emosi.
Yang selalu membalas kata – kataku dengan ketus dan sinis, serta tatapan permusuhan atau keremehan.
Dan jujur, harga diriku sebagai seorang laki – laki dan suami sedikit tergores atas sikap Lia itu. Yang mana jika mengikuti ego dan juga emosiku, aku akan menimpali juga setiap ucapan Lia yang bisa aku balikkan dan aku hubungkan setiap kesalahan yang pernah ia lakukan padaku.
Memang aku tidak pernah lagi memikirkan kesalahan Lia padaku, tapi aku juga masih ingat hal – hal mengenai ketersinggunganku sebagai suami padanya sebelum Lia mencintaiku.
Tapi tidak, aku masih bisa berpikir lurus untuk tidak melakukan hal itu. Apalagi setelah Lia menyinggung tentang perceraian.
Bahkan singgungan Lia tentang perceraian itu, dia katakan dengan nada tantangan.
Dan jika aku menanggapi dengan emosi, tantangan Lia itu akan menjadi sebuah tuntutan.
**
**
Diam, menjadi pilihan Reiji kemudian. Untuk meredam emosinya, selain untuk membuat Malia tenang yang kiranya ketenangan Malia itu Reiji butuhkan agar dapat berbicara dengan kepala dingin.
Reiji mulai diam saat Malia menantangnya untuk menceraikan saat di mobil dalam perjalanan pulang dari kantor istrinya itu, hingga sampai di apartemen. Dan memilih untuk menyendiri saja sementara waktu.
Terlebih, Malia mengundang Avi untuk menginap di apartemennya dan Reiji dengan tanpa meminta persetujuan Reiji.
Berikut menyuruh Avi untuk tidur di kamarnya dan Reiji tanpa peduli kesediaan Reiji untuk memberikan ijin atas hal tersebut.
Namun Reiji memilih mengalah dan mempersilahkan Avi untuk menginap di apartemennya dan Malia, karena Reiji berharap, keberadaan Avi dapat membuat perasaan Malia sedikit membaik.
Lalu Reiji juga berharap, jika kemungkinan Avi dapat memberikan saran pada Malia untuk bagaimana menyelesaikan masalah yang sedang terjadi diantara dirinya dan Malia. Jadi Reiji biarkan Avi menginap di apartemen mereka atas keinginan Malia.
**
Untuk beberapa saat, suasana di apartemen Reiji dan Malia tenang.
Malia berada di kamarnya dan Reiji bersama Avi, sementara Reiji yang memilih untuk berdiam di ruang serbaguna dalam apartemennya dan Malia itu memilih untuk membaca buku tanpa menyentuh ponselnya yang ia letakkan sembarang di samping tempat ia duduk.
Beberapa kolom chat dari beberapa nomor telah ia arsipkan. Semata agar tidak terganggu dulu oleh chat – chat yang masuk dari beberapa nomor kontak tersebut.
Selain Reiji juga sudah menyetel ponselnya ke mode diam, karena dia memang sedang butuh ketenangan. Namun ketenangan yang Reiji sudah mulai dapatkan kemudian terusik. Saat ia mendengar seruan Avi.
**
MALIA
Aku dibuat terkejut oleh Avi yang bangkit secara tiba – tiba dari posisinya setelah aku berbicara soal Rei yang memberi uang setiap bulan kepada si bibit pelakor bernama Shirly itu bahkan setelah kami menikah.
Avi ternyata belum mendapatkan cerita itu dari Rei.
Makanya Avi nampak terkejut.
Namun ia juga membuatku terkejut dengan bangkit tiba – tiba lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar, lalu tak lama kemudian aku mendengarnya berseru memanggil Rei.
“Eh, Vi!” seruku kala Avi bangkit dan melangkah menuju pintu sebelum suaranya yang memanggil Rei dengan agak gusar itu terdengar. Aku pun mengekori Avi dengan spontan. Dan ketika aku telah berada tepat di belakang Avi yang sebenarnya ingin aku cegat dan bertanya untuk apa ia menghampiri Rei, suamiku itu telah keluar dari ruang serbaguna.
Aku sempat menangkap ekspresi heran Rei saat ia sudah berhadapan dengan Avi.
Pun, aku sempat saling tatap dengan Rei. Hanya sesaat saja, karena kemudian kami teralihkan oleh ocehan Avi yang ia tujukan pada Rei.
“Lo beneran nafkahin si Shirly itu tiap bulan bahkan setelah lo nikahin Lia?!....”
Begitu Avi mengoceh dengan mencecar Rei yang menatapnya sejenak, lalu Rei menatapku.
Rei tak langsung menjawab cecaran Avi, dan Avi hendak lagi bicara. Namun sebelum Avi selesai dengan kalimatnya, Rei sudah keburu bersuara sambil terus menatapku.
--
“Aku ga masalah kalau kamu mau curhat sama Avi tentang keburukan aku. Tapi kalau memang kamu mau menyuarakan ketidaksenangan kamu, ngomong langsung ke aku.”
Perkataan Rei yang jelas sekali ia tujukan padaku.
Yang mana terdengar seperti tudingan di telingaku.
Dan untuk itu, emosiku yang memang sedang labil ini tersulut.
Lalu dengan cepat aku membalas perkataan Rei padaku itu.
Menghujani Rei dengan kalimat – kalimat sengit nan ketus, dimana setelah beberapa kalimat sengit - ketus dan sinis keluar dari mulutku, Rei berseru tajam padaku.
Sambil Rei menunjuk dan menatapku dengan tajam juga. Dan hal itu kian membakar emosiku. Pasalnya aku ingat saat Rei pernah membentakku karena si bibit pelakor itu dan anaknya.
__ADS_1
“Jaga ucapan kamu Lia!” begitu bentakan Rei padaku. Yang langsung aku tanggapi bentakan Rei itu dengan pernyataan tajam kalau aku akan melakukan apa yang ia serukan dengan tajam padaku.
Menjaga ucapanku.
Sekalian aku katakan aku akan menjaga jarak darinya.
Dengan catatan kalau Rei harus menceraikan aku, dan kali ini aku serius memintanya----tidak seperti saat di mobil kala perjalanan pulang ke apartemen, dimana aku menyinggung soal perceraian, namun sepintas lalu.
--
Aku lihat Rei terkejut, mungkin Avi pun sama.
Tapi aku sedang fokus menatap Rei dengan tatapan menantang, selain dadaku sudah mulai naik turun.
Rei terdiam. Namun aku yang sudah kadung emosi, tak ikut diam. Aku terus merepet mengatakan ketidakterimaanku pada Rei.
Semua kesalahan Rei yang berhubungan dengan si bibit pelakor Shirly itu----yang aku ingat, kiranya aku sebutkan satu per satu dengan cepat.
Lalu meminta Rei untuk segera menceraikanku dengan keras.
“Kenapa diem?! Talak aku sekarang! Perlu aku ambilin Qur’an?---“
Aku masih merepet serta sengit menatapnya, saat Rei diam membisu dengan menatapku dengan tatapan terkejut campur tidak percaya.
Lalu coba menghentikanku yang sudah hilang kendali, namun aku masih mengikuti emosiku, masih terus menantang Rei untuk menceraikanku dengan menyelipkan hinaan pada Shirly.
“LIA!”
Teriakan itu bukan dari Rei, melainkan Avi.
Akupun spontan terdiam.
Dan Avi lalu bicara lembut membujukku.
Sementara----walau diam, aku masih menatap penuh permusuhan pada Rei.
--
Emosiku belum surut.
Namun aku tidak lagi ingin mengeluarkan kata – kata yang aku tujukan pada Rei.
Rasanya pun aku tidak ingin berada di dekat Rei sekarang. “Lo ga usah nginep di sini malam ini, Vi.... Lo balik, dan gue ikut lo....“ kataku pada Avi yang aku tatap dengan mataku yang sudah basah.
“Kamar dulu, yuk?....” balas Avi atas ucapanku dengan membujukku. “Tenangin diri lo, dulu, oke?....”
Akupun mengangguk mengiyakan. Lalu bertanya pada Avi saat aku dan dia telah berada di dalam kamarku dan Rei. “Lo bawa mobil ga?—“
“Neng.... duduk dulu sini.”
“Gue mau masukin baju ke koper dulu.”
Aku tak mengikuti bujukan Avi. “Neng, dengerin gue dulu—“
“Iya lo ngomong aja. Gue bisa dengerin lo sambil gue beresin barang-barang gue.”
Aku yang keras kepala.
**
**
Namun pada akhirnya kekeraskepalaan Malia yang sedang digulung emosi, dapat diredam oleh Avi.
“Lo masih anggep gue sahabat lo, ga?” ucapan Avi yang membuat Malia tidak jadi membereskan pakaian dan barang-barangnya untuk ia masukkan ke dalam koper. “Kalo emang masih, lo duduk sini dulu, kita ngomong. Tapi kalo lo masih kekeh mau beresin itu baju lo sebelom kita ngomong, gue out dari sini sekarang.”
Malia pun mengikuti apa yang Avi katakan.
Mengambil tempat bersama sahabatnya itu, di sofa santai dalam kamarnya dan Reiji.
“Gue ngerti perasaan lo sama Bang Rei sekarang. Lo kesel lo marah sama dia.... gue paham....”
Avi berujar sambil menyeka pipi Malia atas beberapa bulir yang jatuh dari pelupuk mata Malia atas kekesalannya dan Malia sampaikan dengan keras unek-unek dalam hatinya pada Reiji beberapa menit yang lalu.
“Kalo lo emang udah ga nyaman sama Bang Rei dan memutuskan buat selesai sama dia pun gue ga akan mencegah lo bercerai dari dia.... Tapi Neng, perceraian baiknya ga lo putuskan saat emosi gini.... dan kalo gue boleh jujur, gue ga mau sampe lo dan Bang Rei cerai.”
“Tapi lo ngerti prinsip gue gimana, Vi?....” lirih Malia.
Sambil ia menyusut air mata kesalnya.
**
“Ngerti Neng, gue ngerti banget prinsip lo....”
Avi menanggapi dengan pengertian ucapan Malia sebelumnya.
“Ga ada orang di dunia ini yang mau dibohongin sama pasangan, termasuk gue.”
Avi berujar lagi.
“Tapi Neng----ini bukan gue belain Bang Rei karena dia kakak gue ya, tapi ini persepektif gue secara pribadi—“
**
“Bang Rei salah. Dengan dia ngasih uang bulanan sama si Shirly itu. Tapi gue yakin, Abang gue itu bukan laki – laki nista seperti yang lo kira. Dia cuma murni mau ngebantu temen dengan dia ngasih duit tiap bulan ke si Shirly itu. Dan gue yakin, saat ini Bang Rei lagi syok berat gara – gara lo maksa dia buat nalak lo tadi. Dan kalo ga salah, dia juga ingkar janji sama lo buat ngejauhin itu perempuan. Dan buat itu juga gue paham perasaan lo. Tapi Neng, masalah lo dan Bang Rei ini masih bisa diomongin secara baik – baik—“
“Gue udah males ngomong sama suami yang udah bohongin gue mentah – mentah, Vi....” tukas Malia, dan Avi mengangguk dengan segera.
__ADS_1
“Iya, gue ngerti. Tapi tetep, baiknya lo dan Bang Rei duduk, ngomong berdua----dengan kepala lo yang udah dingin dulu tapi. Lo kasih tau dengan detail maunya lo apa, lo mau dia gimana.... karena Bang Rei tuh laki pada umumnya lah, yang sering ga peka kalo ga dikasih tau. Walau setelah ini sih gue yakin radar kepekaannya ke elo akan dia pertajam.”
Malia mendengus kecil mendengar kalimat terakhir Avi.
“Kayaknya dia ga perlu pertajam radar kepekaannya buat gue.”
Avi paham maksud kalimat Malia barusan ini. “Dan lo tetep ingin bercerai dari Bang Rei?”
Malia bergumam samar.
Mengangguk kecil, namun terkesan ragu.
“Ga sayang?”
Avi berujar.
“Setau gue lo udah cinta sama Bang Rei....”
Avi lanjut berujar.
“Dan setau gue, Abang gue tuh cinta mati sama lo.”
“Bullshit lah Vi—“
“Ilang cinta lo sama Bang Rei gara-gara masalah ini?—“
“Tau lah—“
“Terus elo mau kasih chance itu si bibit pelakor buat deketin Bang Rei kalo lo tetep kekeh mau cerai?”
“Terserah deh—“
“Yakin lo bakal rela? Gue rasa engga. Selain Malia yang gue kenal, punya hati yang setia. Lo udah cinta sama Bang Rei, tapi ego lo mendesak buat meminta cerai dari dia. Abis itu apa?.... lo bakal terpuruk, contoh----sorry, waktu lo nungguin Irysad.”
“.....”
“Beda case emang. Lo cinta sama Irysad tapi lo gengsi dan ragu buat bilang lebih dulu ke dia. Dan ujungnya?.... lo tau itu dengan jelas.”
Avi masih mendominasi pembicaraannya dengan Malia.
“Sekarang Bang Rei. Lo cinta sama dia, tapi dia ga jujur sama lo. Lo ga mau denger penjelasan dia, dan berandai jadi cerai. Karena ego. Ujungnya?.... apa lo akan bahagia dengan cepet setelah lo cerai dari Bang Rei?.... kecuali lo udah punya PIL sekarang, I don’t think lo akan cepet bahagia setelah pisah dari orang yang lo cintai hanya karena ego semata. Dan lagi Bang Rei tuh ga selingkuh dari lo Neng, gue yakin itu—“
“.....”
“Gue ga bilang, ‘Cuma gitu doang salahnya Bang Rei ngasih nafkahin temennya yang janda muda tiap bulan’, dan gue juga ga nyalahin prinsip lo yang merasa dibohongi mentah-mentah sama abang gue a.k.a suami lo itu. Tapi Neng, kesalahan Bang Rei ga sebegitu fatalnya dengan dia yang nyelingkuhin elo sampe lo harus bercerai dari dia....”
“.....”
“Kasih dia kesempatan kedua, buat nebus kesalahannya ini ke elo. Terserah kalo lo mau kasih dia syarat—“
“.....”
“Karena gue----jujur, ga rela sampai lo dan Bang Rei bercerai.”
**
“Lo istirahat gih. Bawa tidur. Paling engga bisa bantu meredam emosi lo. Atau lebih bagus lagi lo sholat dua rakaat, biar tenang beneran hati lo.”
Avi menutup pembicaraannya dengan Malia yang langsung tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Avi barusan.
“Lagian kayaknya gue liat lo belom Isya deh? Atau lo lagi pms?....” Avi berkata lagi.
“Iya sih, gue belom Isya,” tanggap Malia. “Tapi gue baring dulu deh sebentar. Kalo gue ketiduran lo bangunin gue....”
“Ya udah. Senyaman lo deh. Gue mau bikin teh. Lo mau?”
“Engga ah Vi, thanks.... lo aja. Nah lo sendiri udah Isya?—“
“Pms gue—“
“Hmm.... ya udah. Gue baring dulu ya?....”
**
Ego, seringkali menghancurkan daripada meluruskan.
Berbesar hati, tak berarti lemah.
**
Disaat dirinya sedang berbaring miring di atas tempat tidurnya dan Reiji, Malia merasakan pergerakan di atas ranjang tersebut. Dimana Malia pikir, jika itu adalah Avi yang sudah beberapa menit lalu rasanya keluar dari kamar dan mengatakan ingin membuat teh.
Malia urung untuk melanjutkan baringnya dengan tidur, dan memutuskan ingin mengobrol saja dengan Avi sampai terlelap sendiri nanti kalau sudah capek curhat.
Sebelumnya berniat untuk menjalankan satu kewajibannya yang ia tunda-tunda. Bahkan Malia baru ingat kewajiban di waktu sebelumnya pun ia tidak laksanakan karena dari kantor langsung pulang, lalu sampai di parkiran apartemen pada penghujung waktu maghrib.
Malia hendak berbalik, serta ingin bertanya pada Avi tentang keberadaan Reiji.
Karena Malia ingin pergi ke kamar mandi yang ada diluar kamarnya dan Reiji dalam apartemen.
Namun sebelum Malia sempat berbalik, sebuah tangan melingkar di perutnya bersamaan dengan suara bariton yang berbisik lirih di telinganya.
“Maafin aku, Yang.... Maaf.... hukuman apapun aku terima.... tapi tolong.... jangan melangkah pergi.... jangan.... Yang.... jangan....”
****
Bersambung.......
__ADS_1