WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 79


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Buat minuman untuk kamu sendiri aja.”


Suara Reiji yang terdengar saat Malia hendak mengambil satu cangkir lagi di dalam salah satu kabinet yang berada di pantri, membuat tangan Malia urung mengambil cangkir setelah ia membuka pintu kabinet tersebut.


Malia melirik pada Reiji yang berada disampingnya, yang juga sedang melihat padanya.


“Oke.” Ucap Malia singkat.


Reiji juga tak bersuara.


Datar saja wajahnya, walaupun ada senyuman sangat tipis yang tersungging di bibir Reiji.


“Aku ga tau gimana rasanya menurut kamu.... Tapi setidaknya aku rasa nasi goreng cukup layak buat dimakan.”


Suara Reiji kembali terdengar, dimana Reiji sedang menyendokkan nasi goreng yang telah selesai ia buat ke atas piring.


“Ini.”


Reiji tersenyum tipis pada Malia, sembari meletakkan piring berisikan nasi goreng di atas meja pantri dekat Malia yang sedang mengaduk gula dalam teh di cangkirnya.


Meski rasanya Malia masih merasakan ganjalan dalam hatinya perihal Reiji dan masa lalunya sehubungan perasaan yang pernah Reiji punya pada sahabat perempuannya, namun dengan Reiji membuatkan Malia salah satu makanan kesukaannya, membuat Malia juga menyunggingkan senyum yang sama tipisnya dengan Reiji.


“Makasih.” Ucap Malia.


“Sama-sama.” Sahut Reiji.


Malia melirik nasi goreng yang ada didekatnya sekarang.


Ada yang ganjil menurut Malia. Hanya sepiring nasi goreng saja.


‘Kenapa cuma satu piring aja?’ tanya Malia dalam hatinya. “K—“


“Tapi kalau menurut kamu rasanya ga enak, ya buang aja.” Reiji berucap, tepat saat Malia hendak berbicara.


Reiji hanya menoleh sekilas ke arah Malia, lalu menutup wajan teflon dimana masih ada setengah dari nasi goreng yang ia buat yang kemudian Reiji tutup dengan sebuah tutup kaca.


“Kamu sendiri ga makan?” tanya Malia dengan nada suara yang datar. Membuat Reiji yang tengah berjalan menuju kamar mereka itu menjeda langkahnya, lalu menoleh pada Malia.


“Nanti aja.. aku mau jogging dulu.”


Malia menggerakkan sekali kepalanya.


“Oh.”


Respon Malia.


***


“Rei ..” panggil Malia saat Reiji telah keluar kamar dan sudah mengganti slippernya dengan cushioning shoes, alias sepatu jogging atau lari.


“Ya? ..” sahut Reiji yang kemudian mengarahkan matanya pada Malia yang kini berada dihadapannya itu.


“Temenin aku sarapan..”


Malia berucap.


“Lagian kamu jangan jogging dengan perut kosong.” Kata Malia lagi. Reiji pun tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Udah aku siapin teh manis anget sama nasi goreng kamu di meja makan .....”


Malia kembali berucap, lalu langsung berbalik dan berjalan menuju meja makan.


Reiji mengekori istrinya itu.


**


“Kalau menurut kamu ga enak, atau ga suka, jangan dipaksain buat dimakan—“


Reiji bersuara kala ia dan Malia telah duduk bersama di meja makan, dan Malia nampak akan menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.


“Nanti aku beliin bubur ayam atau makanan lainnya buat sarapan kamu –“


“Ini aja belum masuk ke mulut aku, Rei..”


Malia memotong ucapan Reiji, dengan sendok yang menggantung di udara dalam pegangan tangannya.


Reiji pun terdiam.


Dan Malia melanjutkan untuk memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Reiji pun melakukan hal yang sama dengan Malia.


“Enak.” Malia bersuara setelah menelan nasi gorengnya. “Ga cuma bisa dimakan.”


Reiji yang langsung menoleh pada Malia saat satu kata pujian keluar dari mulut istrinya itu, kemudian menyunggingkan senyum.


Dan senyuman Reiji tidak lagi tipis seperti sebelumnya.


“Thanks..” sahut Reiji.


“You’re welcome..”


Malia juga menarik sudut bibirnya.


“Beneran enak, atau cuma mau nge besarin hati aku aja nih?”


Reiji yang tadinya banyak diam itu dan berbicara sekenanya itu, kini sudah nampak santai dari sebelumnya, dan sudah mau berbasa-basi santai dengan Malia.


“Aku ngomong jujur kok. Malah kayaknya kamu lebih jago masak dari aku ..” jawab Malia, lalu kembali menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Cuma nasi goreng aja Yang ..”


Reiji menimpali.


“Eumm .. Rei ..”


Malia menjeda sarapannya.


“Ya? ..” sahut Reiji setelah melirik sebentar pada lengannya yang sedang disentuh Malia saat ini.


“Apa kita akan baik-baik aja? ..”


Malia bertanya, dengan tangannya yang menyentuh lengan Reiji, seraya menatap suaminya itu.


Reiji nampak menghela pelan nafasnya, lalu setelahnya ia berucap seraya bertanya pada Malia.


“Kamu masih meragukan apa yang aku katakan soal perasaan aku ke Irly?”


“Iya ..” jawab Malia pelan, seraya mengangguk dengan pelan juga.


Reiji kembali menghela nafasnya. “Hilangkan pikiran-pikiran negatif dalam otak kamu, Yang ..”


Reiji berucap, dengan tangannya yang kini menyentuh punggung tangan Malia yang sedang menyentuh lengannya itu.


“Jangan overthinking.”

__ADS_1


“Ya mungkin kamu benar.” Sahut Malia. “Aku overthinking soal masa lalu kamu ....” sambung Malia. ‘Terlalu overthinking hingga masa lalu kamu dengan Shirly pada akhirnya mengingatkanku pada cerita masa laluku dengan Irsyad.’ Batin Malia.


“Apa yang udah aku katakan ke kamu soal aku dan Irly, soal perasaanku yang memang udah ga ada ke dia, bahkan dari sejak kita belum dijodohkan itu yang sejujurnya. Dan aku berharap dengan aku yang jujur ke kamu itu, dapat menuai sedikit aja kepercayaan kamu ke aku.”


Reiji menggenggam tangan Malia kemudian.


“Aku mencintai kamu sekarang, Yang .... bahkan sudah mulai mencintai kamu dari sejak kita memulai pendekatan sebagai pasangan yang akan menikah ....”


Malia menggigit bibirnya.


“Jadi tolong percaya aku.”


Reiji mengeratkan genggamannya pada tangan Malia.


“Setidaknya jangan lagi mempersoalkan bagaimana perasaan aku ke Irly, yang tidak lebih hanya menganggap dia sebagai seorang sahabat, sebagaimana kamu dan Avi ....”


Reiji menatap dalam pada netra Malia, yang kemudian mengangguk pelan.


“Perlu aku belah dada kiri aku?”


Reiji berceloteh.


Dan Malia terkekeh kecil kemudian.


“Lebay banget.” Kata Malia.


Reiji pun mendengus geli. Lalu tersenyum penuh arti pada Malia.


“Kita baik-baik aja, dan akan selalu baik-baik aja, selama kamu mempercayai aku, Yang.”


Malia yang sempat terkekeh dan melemparkan ledekan kecil pada Reiji kemudian tersenyum kala Reiji kembali bicara serius namun dengan raut wajah yang teduh, dengan seutas senyum di sudut bibirnya.


Malia pun mengangguk pelan, dan kekehan kecilnya telah berubah menjadi senyuman.


“Eh iya Rei, nanti kamu ada jadwal terbang?....” tanya Malia setelah Reiji melepaskan genggaman tangannya dari tangan Malia, dan mereka melanjutkan makan.


“Ada. Sore tapi. Kenapa?” Reiji menjawab, lalu balik bertanya pada Malia.


“Ga apa-apa sih, tadinya pengen ngajakin kamu ke rumah mama sama papa ....”


Malia menjawab santai.


“Ya udah ayo.”


Reiji merespon positif ajakan Malia.


“Tapi kan kamu kerja?. Tadinya mau ngajak nginep juga sekalian ketemuan sama Avi yang udah balik dari Jogja.”


“Aku kan bisa berangkat dari sana, Yang.”


“Ga kejauhan kamu jadinya? ....” kata Malia seraya bertanya.


“It wouldn’t matter, my love ( Itu ga masalah, sayangku ) ....”


“Sok sweet banget kamu, Rei.”


Malia melempar ledekan kecil pada Reiji atas celotehan suaminya itu, sembari tersenyum geli.


“Emang aku udah sweet dari dulu juga kan? ....”


Malia tersenyum saja mendengar celotehan suaminya itu.


Kemudian keduanya tak mengobrol lagi sampai mereka menghabiskan nasi goreng pada piring mereka masing-masing.


“Oh iya Rei, ngomong-ngomong kamu lepas tugas hari ini juga atau besok? ....” tanya Malia yang telah menandaskan nasi goreng di piringnya.


Reiji menjawab seraya hendak berdiri dengan sudah memegang piring berikut sendok dan garpu yang ia letakkan di atasnya, berikut cangkir bekas teh manisnya yang juga sudah tandas isinya.


“Aku aja ....” ucap Malia sambil meraih peralatan bekas makan dan minum Reiji, yang kemudian ia satukan dengan peralatan bekas makan dan minumnya juga.


“Biar aku yang bawain cangkirnya ....” Reiji telah ikut berdiri seperti Malia dan mengambil dua cangkir bekas minumnya dan Malia.


Lalu Reiji dan Malia sama-sama berjalan menuju wastafel dan meletakkan bekas makan dan minum mereka itu, dan Malia yang sudah bersiap untuk mencucinya.


“Biar aku yang cuci ....”


Malia menawarkan diri, saat Reiji nampak juga hendak mengambil alih untuk mencuci bekas makan dan minum mereka itu. Reiji pun mengangguk.


“Habis itu cuciin aku mau ga?”


Reiji berkelakar.


Malia menoleh dan mendengus geli pada Reiji.


Tangan Reiji terulur untuk mengacak pelan rambut Malia. Hatinya sudah normal sekarang.


Hati Reiji sudah tak dirundung amarah seperti semalam, saat Malia melemparkan tuduhan padanya.


Saat Malia mengatakan hal-hal yang membuat Reiji merasa teramat kesal


Dan kekesalan itu sempat masih bertengger di hati Reiji, kala ia yang pada akhirnya jatuh terlelap di ruang serbaguna itu terbangun saat pagi telah menjelang.


Namun sekarang, marah dan kesal itu sudah menguap dari hati Reiji, karena Malia sudah terlihat tak segusar semalam. Meski pembicaraan soal masalah yang membuat mereka bertengkar semalam sempat terselip saat Reiji dan Malia sedang sarapan.


Malia bertanya tentang hubungan mereka kedepannya akan bagaimana.


Dan Reiji meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


Reiji yang berusaha meyakinkan Malia dengan ucapannya itu, setidaknya membuat beban yang menghimpit dalam dada Malia juga mulai menguap.


Malia berpikir, jika mungkin memang tidak seharusnya ia meragukan semua ucapan Reiji mengenai masa lalu suaminya itu, atas perasaannya pada sahabat perempuan Reiji.


“Kamu kan udah mandi bukannya, Rei?....”


“Kalau kamu mau mandiin aku, ya aku sih ga nolak kalo harus mandi lagi.”


Malia mendengus geli mendengar sahutan Reiji yang mengulum senyumnya.


“Dasar.”


Malia merutuk sembari mendengus geli sekali lagi, dan Reiji menarik lebih sudut bibirnya, lalu mengacak pelan lagi rambut Malia yang lanjut mencuci peralatan makan dan minum bekasnya dan Reiji sarapan.


“Jadi mau ke rumah mama sama papa?...” tanya Reiji yang kini kembali duduk di tempatnya tadi, pada kursi meja makan.


Malia tak langsung menjawab Reiji.


Reiji memperhatikan Malia dari tempatnya duduk.


“Tapi kan kamu ada jadwal terbang hari ini, Rei?” ucap Malia.


“Ya kan aku bilang tadi, kalo aku bisa berangkat dari sana,” sahut Reiji.


“Beneran ga apa-apa, kalo kamu jadi agak jauh nanti buat pergi ke bandara? ...”


Malia memastikan dan Reiji menggeleng.

__ADS_1


“As I said, My love. Ga masalah.”


“Ya udah kalo gitu jadi aja deh ke rumah mama sama papa hari ini.”


“Oke Bos!”


Reiji menyahut sambil mengangkat jempolnya pada Malia yang telah selesai mencuci piring.


Dan Malia pun menoleh pada Reiji dengan menampakkan senyuman yang kini terlihat lebih natural.


“Tapi besok pas sampe sini lagi, kamu langsung ke rumah mama sama papa ya?...” pinta Malia.


“Your wil is my command, My love ( Permintaanmu adalah perintah bagiku, Sayangku )” sahut Reiji.


Malia pun tersenyum lagi, setelah mendengar sahutan Reiji tersebut.


‘Mungkin memang seharusnya gue ga pernah sedikitpun meragukan Reiji ....’ batin Malia.


*


REIJI


“Ngomong-ngomong, Rei ....”


Aku yang sedang berada di walk in closet bersama Lia yang sedang memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam sebuah tas travelling berukuran sedang untuk dibawa karena Lia akan menginap di rumah orang tuanya itu menoleh seraya menggumam menanggapi Lia yang berbicara padaku.


“Hm? ....”


“Semalem kamu tidur dimana? ....”


Lia bertanya sambil memasukkan pakaiannya ke dalam tas. Padahal setahuku, masih ada pakaian Lia yang memang sengaja tidak dibawa dari rumah orang tuanya saat kami pindah kesini.


Tapi ya namanya juga perempuan. Waktu aku ingatkan kalau seharusnya Lia tidak perlu membawa pakaiannya karena dia masih memiliki persediaan pakaian dalam kamarnya yang berada di rumah mertuaku itu, Lia menjawab,


‘Buat jaga-jaga...’


Jaga-jaga apa tau.


“Di kamar sebelah.” Jawabku atas pertanyaan Lia yang menanyakan tidur dimana aku semalam.


“Maafin aku, Rei...” ucap Lia, yang kemudian berdiri menghadapkan dirinya padaku, setelah ia selesai memasukkan pakaian kami ke dalam tas. Wajah dan tatapannya terlihat tulus padaku.


Aku juga telah selesai menyiapkan barang bawaan yang akan aku bawa untuk bertugas sore ini.


“Maaf buat apa, Yang?...”


Aku bertanya, sembari menatap Lia yang berdiri menghadapku itu.


“Maaf karena udah bikin kamu tidur di kamar sebelah.”


Malia menjawab dengan senyum iseng yang nampak.


Akupun tersenyum geli sambil mengacak lagi rambutnya.


Lia menampakkan senyumnya yang manis seperti biasa.


Senyum yang aku suka, senyum yang aku puja. Dan tentunya aku berharap, senyumnya yang seperti itu tak lagi memudar seperti semalam.


Aku juga tetap menampakkan senyumku. Dan tanganku yang tadi mengacak pelan rambut Lia, kini sudah aku letakkan di satu bagian garis rahangnya.


Ku dekatkan wajahku pada wajah Lia kemudian.


Lia bergeming.


Akupun menempelkan bibirku pada bibir Lia.


Lia tak menghindar.


Bibirku yang hanya menempel tadi kini sudah ku rekatkan kuat di bibir Lia.


Ku sesap lembut bibir atas dan bawahnya bergantian, Lia membalas lembut ciumanku.


Ya udah, lanjut kalo gitu.


Rezeki jangan ditolak dong?.


Satu ronde sebelum berangkat ke rumah mertua, bisa kali?.


*


Reiji dan Malia telah berada di dalam mobil milik Reiji untuk pergi menuju rumah orang tua Malia. Wajah Reiji yang semalam begitu kusut dan pagi tadi masih terlihat suntuk, kini sudah segar dan sumringah. Satu ronde keintiman bersama Malia seperti harapannya telah ia dapatkan sebelum berangkat tadi.


“Udah ngabarin mama sama papa kalau kita mau kesana?” tanya Reiji.


“Udah,” jawab Malia.


“Mau beli something dulu ga buat dibawa kesana?...”


Reiji menawarkan pada Malia membeli buah tangan untuk dibawa ke rumah mertuanya.


“Hmmm, boleh deh.”


Malia pun mengiyakan.


“Mau beli apa?....”


Reiji kembali bertanya.


“Roti-rotian aja deh....” jawab Malia dengan pilihannya, sesuai dengan kesukaan orang tuanya.


“HB?”


“Iya boleh ....”


Reiji pun mengangguk, dan mengarahkan kemudi mobilnya pada sebuah toko roti yang dimaksud.


“Kamu ke mobil aja duluan, Yang....”


Reiji yang sedang berdiri didepan di kasir, setelah ia dan Malia sampai pada toko sebuah toko roti yang cukup dikenal oleh masyarakat Jakarta, meminta Malia untuk menunggunya di mobil setelah beberapa roti yang mereka pilih telah dikemas rapih dalam dua buah dus kue.


Jumlah pembelian roti-roti pilihan Reiji dan Malia telah dihitung, dan Reiji akan melakukan pembayaran.


Malia pun mengangguk, lalu berjalan meninggalkan Reiji dengan membawa dua plastik berisikan masing-masing satu dus yang terisi roti-roti sebagai buah tangan untuk orang tua Reiji dan Malia.


Malia telah masuk ke dalam mobil Reiji terlebih dahulu, dan langsung memasang sabuk pengaman setelah meletakkan plastik berisikan dus roti di dalamnya pada kursi penumpang belakang. Mata Malia tertuju ke kaca mobil di depannya, sembari menunggu Reiji keluar dari dalam toko roti yang mereka sambangi itu.


Mata Malia kemudian memicing, dengan tubuhnya yang ia sedikit majukan untuk memastikan penglihatannya, saat Reiji keluar dari dalam toko. Dimana Reiji nampak bertabrakan pelan dengan seorang pria, lalu Reiji dan pria tersebut sama-sama terlihat saling meminta maaf.


‘Ga mungkin!’


Malia berseru dalam hatinya.


‘Irsyad?!’


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2