WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 58


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Yang ...” panggil Reiji pada sang istri saat ia dan Malia telah sampai di apartemen mereka.


Malia pun menjeda langkahnya yang sudah dipersilahkan masuk terlebih dahulu oleh Reiji.


“Ya, Rei?...” tanggap Malia.


“Besok aku ada penerbangan ke Korsel, dan minggu baru balik lagi kesini ...”


“Wuih! Asik banget tuh ke Korsel! ...”


Malia terlihat sedikit antusias. Reiji tersenyum.


“Asiknya?...” tanya Reiji.


“Ya asik aja.” jawab Malia.


“Memang udah pernah kesana kamu? ...”


“Itu pertanyaan apa sindiran?....”


Malia memicingkan matanya pada Reiji.


“Yah, kok disangka nyindir sih? ... Aku nanya beneran, Yang.”


Reiji menjawab, sembari melingkarkan tangannya di pinggang Malia.


“Kamu udah pernah ke Korsel apa belum? .....”


“Belum.”


“Terus kamu bilang asik?”


“Ya itu, karena belom pernah kesana, trus ngeliat suasana disana, aku jadi pengen kesana, tapi belum kesampean, makanya aku bilang kamu asik bisa pergi kesana....”


“Hmmm.”


“Waktu itu sih udah sempet ngerencanain buat pergi kesana sama Avi sampe ngumpulin duit saking pengen bener-bener nikmatin liburan disana .... eh pas duit aku sama Avi udah ke kumpul, aku malah keburu diterima kerja ... pending deh sampe sekarang....”


Reiji tersenyum mendengar cerocosan Malia.


“Kamu kan udah dua atau tiga tahun kerja di kantor kamu yang sekarang, harusnya ada cuti tahunan kan?”


“Dih, lupa emang cuti tahunan aku itu waktu itu aku pake buat apaan? ...”


“Hm, seinget aku dua tahun yang lalu sih kalo ga salah kamu pake cuti tahunan kamu waktu kita semua liburan ke Labuan Bajo, yang tahun kemaren kan keluarga kita engga ngadain liburan gede-gedean.. kenapa ga dipake aja cuti tahunan kamu yang tahun kemaren? ...”


“Tuh si Avi kan ngajakin nya ke Sin saking dia pengen banget ke US.” Tukas Malia, menanggapi ucapan Reiji barusan. Dan Reiji pun manggut-manggut.


“Oh iya, ya ... si Avi ngajakin aku waktu itu ...” ucap Reiji.


“Dah ah, gerah nih ...”


Malia menggerakkan dirinya, dan Reiji melepaskan rengkuhannya di pinggang istrinya itu.


“Aku mandi duluan, ya?”


“Mandi bareng aja gimana?” goda Reiji pada Malia.


“Yang ada bukannya mandi!”


“Hahahaha!!!!”


Reiji sontak tergelak, sedangkan Malia buru-buru kabur dari Reiji. Takut di grep sama suaminya yang ‘doyan’ itu.


****


“Haaahhhhh.” Malia menghela nafas lega saat ia sedang berkaca di cermin wastafel dalam kamar mandi selepas ia selesai membersihkan dirinya sembari membungkus dirinya dengan handuk. “Cape kali dia ....”

__ADS_1


Bukan tanpa sebab Malia menghela nafas penuh kelegaan. Pasalnya dia was-was kalau Reiji akan masuk ke kamar mandi dan ‘menyerangnya’.


Karena sejak mereka menikah lalu telah bersatu padu di atas ranjang, ‘Reiji si freezer frozen food’ itu, berubah jadi ‘Reiji si pak pilot yang gampang turn on’.


Asal ada kesempatan, yang diada-adain sama suaminya itu.


Ceklek ....


Malia membuka pintu kamar mandi, dan keluar perlahan sambil celingukan.


“Aman keknya ....” gumam Malia.


Reiji sedang menerima berbicara di ponselnya entah dengan siapa, tapi sepertinya terlihat seru mengobrol dengan orang yang sedang berbicara dalam sambungan telepon pada ponsel itu.


“Sering-sering kek itu dia terima telpon pas gue mandi, jadi posisi gue aman terus dari sergapan itu suami buser.”


Malia kembali menggumam, sembari berjalan masuk ke dalam kamar. Membiarkan suaminya itu asik berbicara di telepon yang entah dengan siapa, dan memang Malia tidak mau mengganggu.


Karena Reiji juga tidak pernah mengganggunya jika Malia sedang menerima telpon atau sibuk chattingan di ponsel.


***


REIJI


Aku berjalan dengan langkah kaki lebar setelah tugasku yang sebagai pilot ini selesai.


Aku berjalan cepat menuju area penjemputan untuk menaiki mobil jemputan yang akan mengantarku pulang.


Kebetulan aku tidak membawa mobil saat berangkat dari apartemen untuk bekerja tadi pagi, karena aku masih cukup mengantuk.


Jadi aku meminta dijemput oleh mobil jemputan yang biasa menjadi fasilitas untuk para kru pesawat saat bertugas.


Dan saat pulang aku pun menggunakan mobil jemputan juga.


Namun aku tidak langsung minta diantar ke apartemen, melainkan ke kantor Malia. Aku sudah menghubunginya setelah aku sampai di Jakarta, dan setelah menyelesaikan semua kewajibanku dalam bertugas.


Dan Malia bilang dia membawa mobil hari ini. Kebetulan juga ia membawa mobilku, karena mobil Malia sendiri, sedang dipinjam oleh Avi yang mobilnya sedang berada di bengkel.


Jadi aku mengatakan padanya kalau aku akan langsung ke kantornya setelah dari Bandara, agar kami pulang bersama ke apartemen.


Singkat kata, aku sudah sampai di kantor Malia, namun Malia belum nampak batang hidungnya, jadi aku tunggu saja Malia di lobi kantornya.


Dan saat aku melihat istriku itu berjalan bersama beberapa temannya, senyumku langsung mengembang ke arahnya,  Malia yang sudah melihatku itu pun langsung menghampiriku.


Kami pun segera keluar dari lobi gedung perkantoran tempat Malia bekerja menuju parkiran tempat Malia memarkirkan mobil, setelah berpamitan pada beberapa rekan kerja Malia yang tadi berjalan bersamanya.


*


Obrolanku dan Malia dimulai dengan pertanyaan,


“Kamu udah makan?”


Yang keluar dari mulut yang memiliki bibir merah muda rasa cherry yang kini tertutup warna lipstick yang lebih tua dari warna bibir Malia.


Sampai kepada kelakar yang aku lontarkan hingga membuat Malia merungut, mencebik dengan ekspresi yang membuat aku merasa gemas melihatnya, seperti selalunya jika Malia menampakkan ekspresinya yang seperti itu.


Ingin sekali aku sambar bibirnya itu, andai kami ada di apartemen. Atau seandainya aku dan Malia sedang tidak berada di parkiran gedung kantornya yang sedang lumayan ramai ini.


Tapi untuk menyalurkan rasa gemas ku, aku mencubit gemas pipinya Malia saja.


Setelahnya, selama perjalanan kami membahas soal makan, dimana aku memang sengaja tidak makan setelah aku selesai bertugas, karena aku ingin makan bersama Malia saja. Demi quality time bersama istri yang belum mencintaiku itu.


Jadi bagiku setiap menit bersama Malia terasa berharga. Ya tentu saja aku anggap berharga setiap menit itu, karena aku sedang berjuang dan berusaha keras untuk bisa bertahta di hati Malia. Maka dari itu, akan aku pergunakan waktu luang ku untuk berjuang dan berusaha memenangkan hati Malia.


Pembicaraan soal makan tercetus untuk makan diluar aja dari mulutku.


Semata-mata aku tidak mau Malia kecapean, karena sudah bekerja seharian, lalu harus memasak lagi di rumah, sementara besok dia sudah harus pergi bekerja lagi.


Namun belum sempat memutuskan untuk makan dimana, Malia keburu berbicara dengan mengatakan, “Kayaknya mendingan kita makan di rumah aja deh Rei? ..”


Yang aku patahkan dengan alasan aku takut Malia kecapean.

__ADS_1


Tapi kemudian Malia bilang dan membahas soal seragam pilotku.


Yang membuatku sedikit mengernyitkan dahi karena tidak paham maksud hubungan antara makan diluar dengan aku yang masih berseragam pilot. Sampai kemudian terlontar ucapan seraya pertanyaan dari mulutku,


“Kenapa emangnya kalo aku masih pakai seragam pilot dan kita makan diluar? .. kamu malu?”


Yang dijawab dengan omongan Malia yang bilang kalau nanti dia jalan denganku yang berseragam pilot ini, orang-orang yang melihatnya akan mengatakan jika Malia sedang pamer.


“Emang kenapa?”


Pertanyaan itu sontak keluar dari mulutku.


Dan jawaban Malia, membuatku cukup tercengang.


“Ya aku dateng sama cowok yang berseragam pilot aja orang udah pasti pada ngeliatin, secara mereka pasti udah ngebayangin penghasilan pilot berapa dan tau pasti pilot kan mapan rata-rata ..”


“Terus pilotnya ganteng, bodi proporsional .. nanti kan jalan kamu pasti gandeng aku. Sok-sok mesra gitu kan kamu kalo jalan sama aku .. “


“Which is orang-orang udah pasti nerka kamu pasangan aku. Ya aku pasti dibilang pamer lah, punya pasangan yang masuk kriteria laki-laki idaman ..”


Wow, seperti itukah tanggapan Malia tentangku?.


“Jadi aku laki-laki idaman?” Dan akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulutku, saking aku penasaran tentang pendapat Malia yang terdengar sebagai pujian yang meninggikan ku.


Dimana Malia langsung mengangguk mantap mengiyakan. Membuat sesuatu terpikirkan olehku, hingga sebuah pertanyaan keluar lagi dari mulutku.


“Kalau menurut kamu aku laki-laki idaman, kenapa kamu sulit ya mencintai aku, Yang? ..”


Hanya pertanyaan iseng sih, tapi ternyata pertanyaanku itu membuat Malia nampak tergugu.


Dan kata maaf kemudian keluar dari mulut Malia, dimana suaranya terdengar sedikit terbata juga dengan kepala yang tertunduk.


Membuatku jadi merasa sedikit tidak enak jadinya sih, tapi mau bagaimana, pertanyaan tadi spontan saja terbersit dipikiranku, dan aku penasaran untuk menanyakan hal itu, walau aku tidak ada maksud yang gimana-gimana.


Tapi melihat Malia yang jadi bermuram durja begitu, membuat hatiku sedikit merasa tidak nyaman.


Jadi aku memanggilnya, sembari satu tanganku yang tadinya berada di perseneling mobil terulur untuk menggenggam tangan Malia.


“Aku hanya sekedar ngomong, jangan terlalu kamu anggap serius...” Aku coba mencairkan suasana yang seketika menjadi canggung karena ucapan spontan ku tentang jika aku adalah laki-laki idaman di matanya, tapi kenapa sulit bagi Malia mencintaiku.


Dan kemudian Malia mengangguk mengiyakan, namun anggukan nya terlihat lesu. Ah, rasanya aku salah ngomong, ya? ...


Sepertinya sih iya, karena Malia jadi terdiam saja setelahnya. Untuk itu, akhirnya tanganku terulur ke puncak kepala Malia yang wajahnya ia palingkan ke arah jalanan.


Dengan aku meminta agar Malia tidak mengambil hati soal omonganku yang sepertinya menyinggung perasaan Malia karena merasa aku sindir. Entahlah.


Yang jelas aku merasa tidak enak saja jadinya.


“Kita lupain soal ini ya? .....” Kataku pada Malia, dan Malia pun mengiyakan.


Lalu aku sedikit berkelakar, dan Malia terkekeh kecil.


Dan tentu saja itu membuatku senang, karena Malia tak tampak murung lagi.


Lalu interaksi kami normal lagi, sampai kami tiba di apartemen kami. Dimana Malia yang sempat aku rengkuh pinggangnya setelah kami memasuki unit apartemen kami yang tidak seberapa luas namun kiranya nyaman itu, kemudian melepaskan diri dariku setelah kami mengobrol kecil.


Udah gerah katanya. Sambil Malia menggerakkan dirinya, lalu melepaskan rengkuhanku dari pinggangnya, kemudian pergi masuk ke kamar. Sementara aku yang sedikit merasa haus, langsung pergi ke pantri untuk mengambil minum dari dalam kulkas.


Tentu saja aku sedikit menggoda Malia untuk mandi bersama, yang tentu saja mendapatkan protes kecil dari Malia dengan ekspresi wajahnya yang lagi-lagi membuatku gemas, hingga aku sampai tertawa karenanya. Yang ia pergunakan untuk segera kabur dari hadapanku, seolah dia sudah paham, betapa omes suaminya ini. Yah, gimana ga omes kalo punya istri yang ga hanya cakep mukanya, tapi luar biasa aduhai bodinya kek Malia, istriku itu.


Melihat Malia yang sudah keluar lagi dari kamar setelah membuka blazer kerjanya dengan membawa handuk bersih ke kamar mandi, sontak saja membuat ‘Omes’-ku ini langsung konek dengan cepatnya, mau menyusul Malia ke kamar mandi.


Dan.. yah taulah, apa efek dari ‘Omes’ kalo nyusul istri ke kamar mandi.


Tapi sesaat setelah Malia masuk ke dalam kamar mandi, dan aku hendak menyusulnya, ponsel dalam saku celanaku terdengar berbunyi sekaligus bergetar.


Ingin ku abaikan, tapi saat kulihat nama pemanggilnya, aku urung mengabaikan panggilan telepon yang masuk ke ponselku itu. Karena panggilan itu, adalah panggilan dari sahabat lamaku.


Orang yang selalu membuatku betah ngobrol berlama-lama.


Shirly.

__ADS_1


***


Bersambung .....


__ADS_2