WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 93


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Maafin aku.”


Reiji berbicara, ingin memperbaiki hubungannya dan Malia.


“Minta maaf untuk apa?” tukas Malia seraya bertanya.


“Maaf kalau aku punya salah dalam sikap dan ucapanku ke kamu...”


“Ga ada yang perlu aku maafkan, jadi kamu ga perlu minta maaf karena kamu ga aku rasa ada salah sama aku.”


Dimana Reiji menghela lagi nafasnya menghadapi sikap Malia saat ini padanya.


Reiji pun hendak lagi berbicara, menanggapi sahutan Malia padanya barusan.


Namun sebelum Reiji membuka mulutnya lagi untuk berbicara, Malia sudah keburu bicara.


“Aku mau keluar sebentar lagi.” Malia yang sebelumnya sedang diajak bicara dengan Reiji itu, tahu-tahu bangkit dari posisinya yang sedang duduk di ruang tamu dalam apartemennya dan Reiji.


“Kemana?...”


Reiji pun spontan bertanya.


“Ketemuan sama temen.” Malia pun menjawab cepat, dan dengan cepatnya juga dia berlalu dari hadapan Reiji.


“Teman yang mana?” tanya Reiji sambil menahan Malia dengan mencekal pelan lengan istrinya itu.


“Kamu ga kenal.”


Malia kemudian melepaskan cekalan tangan Reiji yang pelan dari lengannya itu dengan pelan juga, namun Malia melakukannya dengan cepat dan langsung masuk ke kamarnya dan Reiji.


Dimana Reiji tak lama langsung juga menghela nafas frustasi sambil memandangi punggung Malia yang sedang berjalan masuk ke kamar mereka. Lalu Reiji meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil menghela-hembuskan nafasnya sejenak.


“Jadi kamu beneran mau pergi?” tanya Reiji pada Malia yang nampak sedang bersiap-siap itu, setelah ia memutuskan untuk menyusul Malia masuk ke dalam kamar mereka. “Yang, aku lagi ngomong sama kamu ini?” ucap Reiji karena tak mendapat sahutan dari Malia yang sedang berganti baju di dalam walk in closet pada kamar tersebut.


Malia menoleh pada Reiji saat dia telah mengganti pakaian rumahannya dengan kemeja salur kasual dengan warna pastel serta rok berbahan denim yang panjangnya sampai di batas lutut Malia. “Ya kan kamu udah liat aku ganti baju begini? Berarti aku jadi pergi.”


Malia lalu duduk di meja rias, memulas sedikit wajahnya. Reiji berdiri di belakang Malia.


Menyoroti Malia dengan matanya, namun Malia nampak bergeming dengan kegiatannya, acuh pada Reiji.


“Kita seharusnya bicara loh Yang—“


Reiji bersuara lagi.


“Ga ada yang perlu dibicarakan.” Namun sebelum Reiji menyelesaikan kalimatnya, Malia sudah dengan cepat memotong.


“Tentu aja ada yang perlu kita bicarakan, Yang.” Sahut Reiji. “Kita perlu meluruskan beberapa hal.”


“Ga ada yang perlu dibicarakan atau diluruskan diantara kita.” Tukas Malia. Kemudian ia berdiri dari duduknya di kursi meja rias, lalu meraih sling bag miliknya yang ia sudah letakkan lebih dulu di atas meja rias, dekat dengan tangan kirinya.


“Mau kamu sebenarnya apa sih, Yang?” Reiji menahan langkah Malia yang sudah hendak berlalu keluar dari hadapannya. “Dan kamu mau tetap pergi ketimbang memperbaiki hubungan kita?”


“Sekarang kamu mengakui kalo hubungan kita emang udah ga baik?” tukas Malia. “Kenapa baru sekarang mau kamu bahas apa yang aku mau sebenarnya?” sambung Malia sambil menatap Reiji.


“Karena aku sudah sulit menebak apa yang ada dalam pikiran dan hati kamu.” Sahut Reiji. Dimana Malia kemudian berdecih sinis, dan kembali mengayunkan langkahnya untuk pergi dari hadapan Reiji.


“Memangnya perduli apa kamu sama apa yang ada di otak dan hati aku?” sinis Malia.


“Kamu tanya perduli apa aku?”


Nada suara Reiji terdengar mulai gusar.


“Tentu saja aku perduli karena aku suami kamu, laki-laki yang tidak hanya  harus bertanggung jawab pada kamu, tapi juga menyayangi dan mencintai kamu.”


“......”


“Tentu aja aku perduli, karena aku merasa kamu terlalu banyak berpikir hal yang negatif tentang aku, hingga pikiran kamu itu jadi ga benar, Yang! You need to fix it!!”


Nada lantang dan tegas kemudian terdengar dari tiap ucapan Reiji. Sedikit meninggi.


“Perbaiki aku kalau begitu!” Malia menukas cepat kalimat terakhir Reiji, dengan matanya yang mulai nampak berkaca-kaca.

__ADS_1


“Maaf ....”


Reiji yang tersadar jika dirinya telah membentak Malia itu langsung dengan cepat meraih tubuh Malia dan mendekapnya.


“Maaf udah bentak kamu, Yang,” ucap Reiji yang mendekap Malia dan merasakan jika tubuh istrinya itu bergetar akibat isakan Malia di dadanya.


Satu kecupan Reiji gulirkan di pucuk kepala Malia. Sambil masih merasakan isak tangis sang istri yang seolah tertahan. Berharap, setelah ini, Malia mau berbaikan dengannya.


Setidaknya, Malia mau Reiji ajak bicara dari hati ke hati.


Namun sayang, yang terjadi berikutnya, nyatanya tak sesuai dengan harapan Reiji. Malia tak lama melepaskan dirinya dari dekapan Reiji.


“Yang....” Reiji kembali menahan Malia yang hendak langsung berlalu dari hadapannya, setelah istrinya itu melepaskan diri dari dekapannya.


“Aku butuh waktu sendiri....” ucap Malia seraya menjauh dari Reiji, dengan membawa sling bagnya lalu keluar dari dalam walk in closet dan kamar mereka.


Reiji terpaku.


Ingin menahan Malia, namun kakinya seolah membatu.


***


‘Pernikahan itu laksana lembah yang dalam nan misteri.’


***


REIJI


Aku sadar betul akan banyaknya perbedaan antara aku dan Lia. Tapi seyogyanya perbedaan diantara kami itu membuat pernikahan kami menjadi berwarna, bukan malah dua warna saja.


Hitam dan putih.


Namun meski hitam dan putih, tetap dapat diselaraskan bukan?.


Kopi dan susu contohnya. Berbeda. Namun jika disatukan, bukankah nikmat rasanya?.


Tapi hitam dan putih dalam pernikahanku dan Lia, tidak seperti layaknya kopi dan susu. Bercampur, namun kopi dan susu pada posisiku dan Malia terasa kian hambar.


Sampai dengan detik ini, Lia dan sikapnya seolah masih menjadi misteri untukku.


Ditiga bulan pendekatan, Lia seolah terlihat mulai menerimaku sebagai calon pendamping hidupnya.


Dan ya memang, perkara sebagai ‘menjadi istri yang baik’ untukku itu Lia wujudkan sejak kami telah resmi menjadi suami istri.


Lia menjalankan perannya dengan baik sebagai istri, setidaknya di mataku.


Meski, Lia mengatakan hanya baru menyayangiku.


Yang mana aku mengerti hal itu. Yang mana aku merasa cukup dengan itu.


Asal Lia tidak tertekan dijodohkan dan menikah denganku. Dia menyayangiku sebagai suaminya, itu memang sudah aku rasa cukup.


Aku hargai kejujuran Lia yang mana memang seharusnya Lia yang aku kenal adalah orang yang blak-blakan. Hanya saja sikap Lia padaku mulai berubah sejak dia SMA.


Semakin kurasa berubah sejak kami dijodohkan.


Namun kemudian mulai berjalan membaik setelah kami menikah.


Lia yang dulu kukenal mulai kembali, selain aku memang menangkap ketulusan dari kata ikhlasnya menjadi istriku, walau dengan embel-embel ‘demi orang tua kami’.


Aku terima, karena akupun memiliki alasan yang sama dengan Lia. Hingga sampai rasa yang disebut cinta itu datang menyapaku, serta sudah menguasaiku.


Cintaku pada Lia, istriku.


Aku tak hanya ikhlas menjadikan Lia istriku, tapi juga bahagia.


Semakin bahagia, kala merasakan Lia perlahan menerima, lalu terbiasa denganku sebagai suaminya.


Bahkan Lia tak menolak memberikan ‘hak-ku’ sebagai suaminya, dan rutin melakukannya.


Membuatku berpikir jika pernikahanku dan Lia akan baik-baik saja ke depannya.


Aku pikir, Lia sudah perlahan mencintaiku.


Tapi melihat sikapnya padaku akhir-akhir ini, membuatku meragukan lagi hal itu.

__ADS_1


Entahlah, sulit aku jabarkan dengan kata-kata mengenai sikap Lia yang misterius ini.


Lia yang katanya ingin dan akan terbuka padaku, saling berbagi, saling melengkapi, pada kenyataannya tidak seperti itu.


Ada yang belum Lia bagi denganku.


Dan sebelum hal yang belum Lia bagi denganku itu aku ketahui - yang akupun sulit untuk menebaknya, cerita masa laluku dan Irly seolah menjadi alasan bagi Lia untuk semakin tertutup padaku.


Dan seringkali juga, hal itu menjadi pemicu kemarahan Lia padaku.


Kedekatan ku dan Irly yang selalu Lia pertanyakan, membuatku merasa jika Lia sedang cemburu pada sahabatku itu, hingga kadang tak ada juntrungannya, Lia bisa tahu-tahu emosi.


Padahal tak setiap hari juga aku berkomunikasi dengan Irly meski dia sudah kembali pindah untuk tinggal di Jakarta, apalagi sering bertemu?.


Jadwal kerjaku saja sudah padat.


Dan karena kepadatan jadwalku sebagai pilot itu, aku akan memilih menghabiskan waktu bersama Lia saat aku punya waktu luang.


Tapi aku rasa Lia sangat meragukan hal itu.


Lia, masih tidak mempercayai jika perasaanku dan Irly tak lebih dari persahabatan - menurut pendapatku.


Jadi sedikit saja ada sesuatu yang menyerempet tentang Irly, itu seolah menjadi pemicu cekcok mulutku dengan Lia. Lalu Lia akan acuh tak acuh padaku. Bahkan mendiamkan ku.


Benarkah Lia yang sekarang benar-benar berubah karena cerita masa lalu tentan perasaan spesial ku pada Irly yang membuatnya kian menjauh dariku?.


Atau hal itu hanyalah sebuah alibi dari hal yang Lia pendam dan enggan ia bagi denganku?.


Irly dan perasaan yang pernah aku punya padanya seolah menjadi alasan sempurna Lia untuk berargumen denganku.


Lalu setelahnya, ya itu, Lia akan menjadi begitu pendiam.


Hanya saja biasanya tak lama, lalu kami akan kembali baik setelah berbicara.


Tapi sekarang Lia berbeda. Dia terkesan mulai menghindariku, menjaga jarak denganku.


Apa Lia masih mendaki tahap kedewasaannya?.


Atau dikarenakan?...


Ah sudahlah, aku tak mau berburuk sangka, dan terbuai oleh pikiran negatifku tentang Lia. Lalu semakin mengacaukan hubunganku dengan istriku itu. Istri yang aku cintai dan akan aku pertahankan.


***


Author’s POV ..


“Aku butuh waktu sendiri....”


Kalimat yang Malia katakan saat bertengkar dengan Reiji lagi untuk yang kesekian kalinya dalam waktu yang tak berjauhan dari pertengkaran sepasang suami istri yang menikah karena dijodohkan itu.


Kalimat yang Malia katakan, meski Reiji telah meminta maaf padanya untuk sesuatu yang Malia rasa jika Reiji tidak memiliki salah padanya. Malia bahkan sebenarnya tidak mempermasalahkan nada suara Reiji yang sempat meninggi, yang suaminya itu anggap sebagai bentakan.


Dirinya yang sempat menangis tadi lalu langsung di dekap Reiji bukan karena ucapan Reiji yang bernada tinggi. Melainkan Malia sedang menumpahkan sesak yang ada di dalam rongga hatinya sekarang ini. Atas masalahnya sendiri, atas kemelut di dalam hatinya yang mana pada akhirnya berimbas pada hubungannya dan Reiji.


Kemelut yang timbul sejak Irsyad hadir kembali dalam hidup Malia.


Membuat adanya perang antara malaikat dan iblis di dalam hatinya.


Dimana sisi malaikat di hati Malia itu, merasa bersalah pada Reiji. Karena setiap kali keluar untuk bertemu teman, teman yang Malia temui itu adalah Irsyad. Seseorang yang tidak Reiji kenal, yang bahkan Reiji tidak tahu soal laki-laki dari masa lalu Malia itu.


Dan laki-laki dari masa lalu itu, menjadi alasan iblis bersarang di hati Malia untuk mengganggu hubungannya dengan Reiji yang seharusnya baik-baik saja. Hingga alibi perasaan spesial yang pernah Reiji punya untuknya sahabat perempuannya itu, semakin menambah ‘iblis’ tersebut untuk tetap bersarang di dalam hati Malia. Yang sudah beberapa kali Malia biarkan tertawa riang, karena Malia selalu mengiyakan setiap ajakan Irsyad untuk bertemu.


Seperti saat ini.


Alih-alih, “Aku butuh waktu sendiri....”


Saat ia mengatakan kalimat itu pada Reiji sebelum ia keluar dari apartemen mereka. Meninggalkan Reiji yang hanya diam memandangi kepergiannya tadi.


Pada kenyataannya, Malia tidak sedang sendiri saat ini.


“Hei.”


“Hei Kak Irsyad. Udah nunggu lama?”


Author’s POV off ..

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2