
Selamat membaca....
************************
“Rasa – rasanya sih seingat saya, memang saya belum melihat bu Malia kembali ke sini sejak kemaren pagi deh pak.”
Reiji tertegun kala ucapan itu tercetus dari seorang resepsionis apartemen tempat tinggalnya dan Malia sejak mereka menikah.
Sedikit, ada rasa was – was yang langsung menyelusup di hati Reiji. “Bisa jadi kamu ga liat istri saya dateng karena barengan waktu kamu ke toilet kali?....”
Namun dengan cepat Reiji tepiskan, karena Reiji masih ingat betul sebelumnya ia menghubungi hotel yang kemarin dipesan Malia --- lalu resepsionisnya bilang kalau Malia sudah check out dari semalam.
Jadi, pastinya Malia kembali ke apartemen mereka. “Atau bisa jadi istri saya langsung parkir di unit F....”
Yang Reiji yakini, jika saat Malia tiba di gedung apartemen --- si resepsionis yang bersangkutan sedang tidak ada di balik mejanya.
‘Eh tapi Lia bukannya ga bawa mobil kemarin?....’
Kemudian ada galau yang hinggap di hati Reiji.
‘Ah siapa tau Lia balik dulu ke sini ambil mobil. Bisa aja begitu.’
Tapi galau itupun Reiji hapus dengan praduga atas satu kemungkinan.
**
REIJI
Aku berpamitan pada Eka lalu mengayunkan langkahku untuk masuk ke dalam lift, mengabaikan rasa was – was ku tentang apa yang tadi pria yang usianya masih dibawahku katakan soal Lia yang ia rasa belum kembali ke unit apartemen kami.
Aku percaya diri dengan pendapatku yang aku rasa Eka mungkin tidak melihat saat Lia kembali ke gedung apartemen yang kami tinggali sejak menikah ini. Toh si Eka itu tidak dua puluh empat jam ada di balik mejanya kan?
Kecuali dia adalah satpam pribadi yang aku pekerjakan untuk berdiri di depan unit apartemenku yang pastinya tahu betul soal Lia apakah sudah datang atau belum sejak semalam, baru aku akan percaya 100 persen ucapan Eka yang bilang Lia belum kembali ke apartemen kami.
--
Orang bilang, ‘Jangan suka kepedean’.
Kalimat itu sekarang aku rasa mengena padaku.
Karena pada kenyataannya, apa yang resepsionis apartemen bilang padaku tentang Lia yang tidak kembali ke apartemen --- benar adanya.
Salamku tidak mendapat jawaban dari Lia, berikut orangnya yang tidak aku temui di tiap ruangan dalam apartemen kami. Semua benda pun nampak tetap pada di tempatnya sebelum aku dan Lia berangkat kemarin pagi.
Ya Tuhaan.... Kemana Lia?....
--
Aku panik dan khawatir juga.
Kucoba hubungi ponsel Lia hampir tanpa jeda, tidak tersambung juga.
Masih non aktif jika kulihat centang pada pesan yang aku kirimkan padanya dalam private room chat nomor kontakku dan Lia.
Kuhubungi ke rumah orang tuanya dan orang tuaku dengan alibi aku baru saja sampai Jakarta dan menanyakan apa Lia ada di sana agar jika ada aku tidak kembali ke apartemen pun, nihil adanya.
Lia tidak ada di sana.
Berpikir apa mungkin Lia sudah berangkat ke kantor?....
Aku kira tidak, mengingat ini masih jam setengah tujuh pagi.
Tapi tetap aku menelepon juga ke kantor Lia daripada penasaran.
“Orang kantor belum ada yang dateng, Pak.”
Begitu ucapan dari orang yang menerima panggilanku ke kantor Lia, yang merupakan seorang petugas cleaning service itu.
Sampai waktu sampai di angka yang aku rasa para karyawan di kantor Lia sudah berdatangan---dan mungkin saja Lia pun sudah juga datang, aku kembali menghubungi ke sana untuk mencari tahu keberadaan Lia.
--
__ADS_1
“Mba Lianya ijin ga masuk hari ini, Pak.”
Aarggh!!
Jawaban dari perempuan yang aku yakini adalah resepsionis kantor Lia membuatku sungguh frustasi.
Yang, dimana?
Ada sekitar sepuluh baris pertanyaan yang sama aku kirimkan ke ponsel Lia, dari sejak tidak kutemukan keberadaan istriku itu dimana – mana --- di tempat – tempat yang kupikir dimana bisa Lia berada jika tidak di apartemen.
Hanya satu orang saja yang belum aku hubungi.
Avi.
Adik perempuanku.
Tapi Avi kan di Jogja?....
Masa iya Lia membawa ngambeknya padaku yang tidak datang pada candle light dinner yang ia siapkan untukku itu sampai ke Jogja?....
Hish! Ampun deh Lia!
Marah sih marah.
Tapi ga juga membuat panik begini.
Bicara baik-baik apa susah?!
Kalau begini, kan aku kesal juga jadinya?!
**
MALIA
Aku berpikir untuk membolos masuk kantor dan pergi kemana gitu hari ini.
Menyambangi Avi ke Jogja mungkin?....
“Mba Lia. Barusan aja suaminya telfon....”
Tapi nyatanya aku urung untuk membolos kerja, karena aku berpikir tidak seharusnya urusan pribadiku mempengaruhi profesionalisme kerjaku sebagai seorang karyawan.
Dan kini aku sudah berada di kubikel kerjaku, menerima panggilan yang masuk ke interkom yang ada di atas meja kubikelku ini.
**
Malia tersenyum di tempatnya, ketika ia mendengar jawaban dari resepsionis kantornya yang ia minta untuk berbohong jika Reiji mencarinya dengan menghubungi ke nomor telepon kantor.
“Udah aku bilangin seperti yang Mba Lia pesenin ke aku....”
“Makasih cantiik----“
“Lagi berantem yak sama hubbynya?....”
Malia terkekeh kecil mendengar pertanyaan dari resepsionis kantornya itu.
“Lambe turah mode on.”
Lalu Malia berkelakar, dan si resepsionis yang selalu Malia panggil cantik itu terkikik di ujung sambungan interkom.
“Ya udah ya, Mba Lia. Ada telfon masuk nih,” ucap si resepsionis kemudian. “Ada lagi yang mau dipesenin kalo ada yang nyari lagi?....”
“Ga ada. Buat itu aja si bapak pilot itu pesennya,” jawab Malia. “Pokoknya sampe kamu pulang nanti, kalau dia telfon lagi, ya bilang aja alasan yang sama kayak yang aku pesenin itu.”
“Oke, sip,” sahut si resepsionis. “Wes, aku terima telfon masuk dulu,” ucapnya lagi.
“Iya,” sahut Malia. “Makasih sekali lagi yah?”
“Sama-sama....”
“Nanti maksi aku traktir....”
__ADS_1
**
Malia kembali berkutat dengan pekerjaannya selepas berbicara dengan resepsionis kantornya itu, yang menyampaikan laporan pada Malia bahwa Reiji menghubungi kantor dan mencari dirinya.
Dan sebagaimana Malia meminta resepsionis hotel untuk berbohong, resepsionis kantornya pun dimintai tolong untuk melakukan hal yang sama----yakni membohongi Reiji tentang keberadaannya.
Lalu imbalan Malia berikan pada mereka yang melancarkan kebohongannya itu, untuk mencegahnya berbicara apalagi bertemu Reiji walau kemungkinan besar saat ia pulang nanti, ia pasti akan bertemu dengan suaminya itu.
Meski rasanya Malia masih malas untuk bertemu Reiji.
Tapi ya sudah biarlah, liat nanti bagaimana dirinya akan bersikap bila bertemu Reiji di unit apartemen mereka.
Namun untuk sekarang ini, Malia menghindari berkomunikasi dengan Reiji.
Hatinya belum stabil, karena kecewa mengetahui Reiji membohonginya, yang entah atas alasan apa.
Bahkan ponselnya pun tetap Malia biarkan mati saja kondisinya. Sengaja.
Biar Reiji tahu rasanya menunggu kabar dengan gelisah selama berjam-jam, sama seperti dirinya semalam.
Sudahlah begitu, tambah Reiji tidak jujur pula.
Membuat khawatirnya Malia berubah menjadi kesal.
Biarlah, jika dibilang begitu kekanakkan sikapnya.
Namanya orang kesal, mau gimana?......
**
MALIA
Waktu terasa berlalu lebih cepat dari biasanya, aku rasa hari ini.
Karena tahu-tahu waktu pulang kerja sudah tiba, dan aku tetap masih betah duduk berleha-leha di kursi kerjaku.
Walau siang tadi aku tidak pergi makan siang keluar bahkan, dan memesan makanan online saking aku malas beranjak dari kursi kerjaku.
Dan berhubung aku sudah janji untuk mentraktir makan siang resepsionis kantorku itu, jadinya aku memintanya untuk memesan makanan yang ia inginkan lalu aku ikut nebeng pesanan saja sekalian di tempat yang si Cantik pilih.
Aku tinggal memberikannya uang untuk membayar.
---
Membuat alasan sekenanya pada rekan kerjaku yang hendak makan di luar, aku memilih untuk tinggal di kubikelku saat makan siang tiba.
Sesekali aku melirik ponselku yang masih belum aku aktifkan, walau rasanya gatal sekali ingin tahu apakah Rei mengirimiku banyak pesan chat untuk menanyai keberadaanku atau tidak.
Tapi penasaranku kalah dengan kekukuhanku yang sedang kesal pada Rei ini. Jadi aku bertahan untuk membiarkan ponselku tidak aktif sampai jam pulang tiba.
Lagian malas juga jika seandainya pesan chat dari Rei nyatanya adalah kalimat yang menggambarkan dirinya kemungkinan besar juga marah karena aku nampak sekali menghindarinya.
Sampai aku sudah menunggu lift untuk sampai ke lobi lalu memesan taksi pun, ponselku belum aki aktifkan. Nanti saja, kalau tidak mendapat direct taksi---baru aku akan menyalakan ponselku untuk memesan taksi online.
Dimana aku berpikir, aku tidak ingin langsung pulang ke apartemen.
Main dulu ke Mall, mengulur waktu bertemu Rei di tempat tinggal kami itu.
Hm, sepertinya itu gagasan bagus untuk memperbaiki moodku.
Shopping itu bisa jadi terapi menenangkan untuk wanita bukan?...
---
Hatiku mantap untuk tidak langsung pulang ke apartemen, melainkan ingin menghabiskan waktu dulu di sebuah Mall yang tak jauh dari gedung perkantoran tempatku bekerja.
Sudah berada di lobi utama gedung sekarang, dan aku membuka tasku untuk mengambil ponsel sebagai persiapan jika aku tidak bisa mendapatkan taksi secara langsung. Namun rencanaku ngemol rasanya akan gagal, ketika aku menangkap sosok yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis lobi utama.
Dan dia juga sudah melihatku.
****
__ADS_1
Bersambung........