
Selamat membaca....
***
MALIA
Empat hari sampai dengan hari ini, aku belum menemukan jawaban – apakah aku bahagia dengan Reiji atau tidak selama kurang lebih empat bulan pernikahanku dengannya.
Dan selama empat hari ini juga, komunikasiku dengan Reiji selama ia dalam tugasnya, terkesan hambar.
Reiji hanya mengirimiku pesan saja ketika ia sampai di Paris, lalu mengingatkanku untuk jangan lupa makan saat waktu makan disini tiba.
Dan pertanyaan standar mengiringinya. ‘Udah makan?’.
Yang aku jawab dengan singkat saja, ‘Ya’ dan ‘Udah’.
Danpaling aku balikkan lagi pertanyaannya padaku soal makan itu.
‘Kamu sendiri?’.
----
Sebelum perkara atas perasaan Reiji dimasa lalu pada Shirly aku tahu, aku ingin selalu Reiji bisa cepat pulang saat aku telah sampai di apartemen, dan Reiji belum pulang.
Tapi sekarang tidak lagi.
Aku tak lagi merasa kesepian saat Reiji punya jadwal terbang selama lebih dari satu hari seperti saat ini.
Sejak ‘kembalinya’ Irsyad.
Well, aku juga tidak bertemu dengan Irsyad saat Reiji sedang berada di Paris - Hatiku seolah melarangku untuk menemui Irsyad kali ini.
Aku benar-benar ingin memikirkan tentang apa dan siapa yang ada di dalam hati ini, yang rasanya sih jelas, jika Irsyad berada di atas Reiji.
Dan pada kenyataannya, apa yang aku rasa pada Irsyad dan Reiji berbeda. Aku mencintai Irsyad, sementara pada Reiji adalah rasa sayang.
Dengan keduanya selama tiga hari belakangan hanya saling bertukar pesan.
Namun jika dengan Reiji terasa hambar, tidak begitu jika aku berkirim pesan dengan Irsyad, yang juga terkadang menghubungiku.
Aku banyak tersenyum jika berkomunikasi dengan Irsyad pada ponsel.
Dia masih Irsyad yang sama, yang selalu punya banyak cerita untuk dibagi.
Irsyad juga menepati kata-katanya untuk membiarkanku berpikir atas ucapannya di Restoran soal ingin diberikan kesempatan untuk membahagiakanku.
Selama tiga-empat hari ini pun, Irsyad tidak pernah menyinggung soal ‘tawarannya’ itu. Menghargai juga permintaanku untuk tidak dulu bertemu, sampai aku dapat menemukan jawaban,
‘Bahagiakah aku dengan Reiji selama empat bulan pernikahan kami ini?’
Dan sampai detik ini, aku belum bisa menemukan jawaban untuk itu. Karena alih-alih berpikir soal itu, atau mungkin mencari solusi atas masalahku dengan Reiji yang bermula pada fakta soal Reiji yang pernah mencintai sahabat perempuannya itu-aku malah lebih menikmati berkomunikasi dengan Irsyad.
Aku sadar sampai disini aku cukup egois pada Reiji.
Tapi mau bagaimana?....
Aku sudah mulai menikmati pertemananku yang terjalin lagi dengan Irsyad setelah ia kembali dalam hidupku.
----
Hari ini Reiji kembali ke Jakarta setelah dari Paris, dan setelah tiga hari kami tidak bertemu.
Dan Reiji sampai di apartemen kami, tepat saat aku sudah siap untuk berangkat ke kantor. Yang kemudian membuatku sedikit merasa lega.
Setidaknya aku tidak harus langsung menghadapi Reiji untuk bicara dari hati ke hati sekarang ini, seperti yang Reiji katakan dalam pesan chatnya sebelum ia bertugas ke Paris.
Reiji terlihat lelah.
Entah lelah karena bekerja atau lelah karena memikirkan hubunganku dengannya yang sedang kurang baik saat ini.
Entahlah.
Tapi yang jelas, saat melihat wajah Reiji yang seperti ini, hatiku rasanya iba.
__ADS_1
Hanya saja aku belum merasa siap untuk bicara dulu sekarang ini.
Dan atas dasar apa aku merasa tak siap untuk pembicaraan dari hati ke hati dengan Reiji.
Mungkin, karena takut pembicaraan dari hati ke hati ku dengan Reiji nanti, akan menyeret cerita masa laluku yang berhubungan dengan Irsyad.
Yang mana, rasanya aku belum benar-benar siap, untuk memberitahukan Reiji soal Irsyad sekarang ini.
Pengecut memang, sikapku ini.
----
“Udah mau berangkat?” tanya Reiji saat aku menghampirinya, setelah ia menutup pintu apartemen.
Aku tetap melakukan hal yang biasanya aku lakukan, dan memang hal yang seharusnya seorang istri lakukan pada suami yang baru saja pulang ke rumah.
Menyalim dengan takdzim punggung tangannya.
Meskipun, aku dan Reiji sedang dalam kondisi ‘canggung’ akibat perdebatan kami hari itu.
“It’s okay Yang.. Kamu berangkat aja.” Kata Reiji saat aku hendak meraih navy bagnya. Yang ingin aku simpan-kan ke dalam kamar.
Aku mengangguk saja. “Udah makan?”
Gantian Reiji yang mengangguk.
“Udah.” Jawab Reiji. “Sorry aku ga bisa anter Yang.” ucapnya kemudian.
“Iya.” Sahutku. “Lagian muka kamu kayaknya ngantuk gitu.”
“Iya memang.”
“Ya udah langsung istirahat deh sana.”
Aku kemudian mengulurkan tanganku untuk menyalim takdzim tangan Reiji sekali lagi, sekaligus aku berpamitan untuk bergegas berangkat ke kantor.
Dan kelegaan untuk sementara waktu aku rasakan di hatiku.
Beruntung Reiji pulang saat aku hendak berangkat ke kantor, karena jika tidak, meskipun Reiji terlihat begitu lelah, Reiji akan menepiskan hal tersebut dan langsung mengajakku bicara.
**
“Aku berangkat dulu, Rei ....” pamit Malia.
“Bawa mobil?” tanya Reiji.
“Iya.”
Malia menyahut dan mengangguk.
“Naik taksi aja gimana? ....” ujar Reiji.
“Kenapa emangnya?”
“Pengen aja jemput kamu pulang kantor nanti sore.”
Malia terdiam.
“Udah lumayan lama juga kan aku ga anter jemput kamu kerja? ....”
“......”
“Yang? ....” panggil Reiji.
“Eh! Iya? ....”
Malia terkesiap.
“Kenapa? ....” tanya Reiji yang menyadari jika Malia sempat melamun sejenak.
“Ga apa-apa ....” jawab Malia dan Reiji tersenyum tipis.
“Kamu inget kata-kata aku di chat sebelum aku berangkat ke Paris kalo setelah aku pulang kita perlu bicara dari hati ke hati? ....”
__ADS_1
“Iya aku inget ....” jawab Malia seraya mengangguk.
“Ya udah kalo gitu kamu naik taksi aja, jadi nanti sore aku jemput kamu di kantor,” kata Reiji lagi.
“Euum ....” Malia menggumam samar.
**
‘Hari ini bisa ketemu, Li?’
‘Iya bisa Kak.’
**
“Kamu ga ada lembur kan hari ini?” tanya Reiji.
“Uum, aku ga tau akan lembur atau engga hari ini.”
Malia melipat bibirnya.
“Namanya kerjaan ya ga tau apa bakal selesai cepet atau engga,” tak lama Malia berucap.
“Huumm ....”
“Dan kayaknya aku tetep bawa mobil Rei. Takes time kalo aku pesen taksi online sekarang.”
“Dibawah kan ada yang standby, Yang.”
“Belum tentu masih ada kalo jam segini.”
“Hm. Ya udah kalo begitu.” Sahut Reiji. “Kita ketemu disini aja saat kamu pulang kerja nanti.” Tambah Reiji.
“Oke ....”
**
Selama bekerja, Malia diliputi kegamangan.
‘Duh, gimana ya?’ Malia bertanya sendiri dalam hatinya.
Sesungguhnya Malia bimbang karena ia sudah keburu menerima ajakan Irsyad untuk bertemu selepas pulang kantor nanti, namun Reiji juga sedang menunggunya di apartemen untuk bicara dari hati ke hati.
Waktu bergulir cepat bagi Malia.
Dan kini Malia telah kembali ke meja kerjanya, setelah ia selesai makan siang bersama beberapa rekan satu divisinya, di rumah makan yang berada di gedung belakang tempat Malia bekerja tersebut.
Setelahnya, Malia mengambil peralatan sholatnya untuk menunaikan kewajiban Dzuhur-nya dan Malia berharap dirinya mendapat pencerahan untuk kegamangan-nya saat ini.
Drrrttt....
Ponsel Malia yang ia setting ke mode silence itu, ia rasakan bergetar di dalam saku blazer kerjanya.
Kamu lembur atau engga?.
Satu pesan chat yang masuk ke nomor kontak ponselnya itu, Malia buka dan baca.
Pesan chat dari Reiji.
‘Duh gimana ya?....’ batin Malia yang masih merasa bingung.
Dimana jemarinya belum bergerak untuk mengetikkan pesan balasan pada Reiji.
Dan disaat itu juga, satu pesan chat lain masuk ke ponsel Malia. Namun bukan Reiji pengirimnya.
Nanti jadi, Lia?. Eh iya, Kamu lembur ga?.
‘Kak Irsyad ....’ bisik hati Malia saat melihat pesan chat yang kedua setelah pesan chat dari Reiji masuk.
Sama seperti perlakuan Malia pada pesan chat dari Reiji, pesan chat dari Irsyad pun tak langsung ia balas. Malia sedang berpikir, satu dari dua pria yang kurang lebih sama pertanyaannya, serta menghendaki untuk bertemu dengannya selepas ia pulang kerja tadi – yang mana, yang akan Malia pilih untuk ia temui.
Aku kayaknya lembur, Rei.
**
__ADS_1
Bersambung..
Terima kasih masih setia ☺