WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 90


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Yang, hari ini kita makan siang di luar aja yuk?!”


Reiji mencetuskan ide sekaligus ajakan pada Malia, setelah sempat berdebat akibat panggilan telepon dari Shirly ke ponsel Reiji.


“Pulangnya kita mampir ke tempat Irly. Mau kan?. Ya? ....”


Sementara Reiji tak menyadari gurat wajah tak percaya di wajah Malia yang mengajaknya pergi untuk bertemu sahabat perempuannya itu.


“Aku udah keburu janjian sama temen aku barusan. Bete. Kamu juga kan katanya tadi ga mau kemana-mana hari ini....” tanggap Malia atas ajakan Reiji padanya.


“Ya udah ajak aja temen kamu gabung buat maksi bareng kita.... Abis itu hangout bareng sebentar sama dia kan bisa? sebelum aku ajak kamu ke apartemennya Shirly....”


Reiji menimpali ucapan Malia yang secara tidak langsung menolak ajakannya.


“Temen aku ga akan nyaman kalo ada kamu dan dia sendirian....” tukas Malia.


“Terserahlah, kalo gitu.” Timpal Reiji yang terlihat kesal setelah mendengar ucapan Malia.


Setelahnya, Reiji dan Malia menjadi bak dua kutub magnet yang saling tolak menolak.


Tidak bersama melakukan hal-hal kecil bersama, seperti seringnya untuk beberapa saat.


***


“Kamu jadi pergi ketemuan sama temen kamu?”


Reiji menghampiri Malia yang sedang duduk di depan meja rias.


“Yang bener itu harusnya kamu nanya aku dulu loh sebelum pergi....”


Malia menghentikan kegiatannya yang sedang memoles wajahnya itu, lalu melirik Reiji dari cermin meja rias.


“Trus sekarang jadinya kamu mau larang aku gitu?....” Malia berucap kemudian.


Reiji menghela nafasnya. “Aku ga ada niat mau ngelarang.... Cuma ngingetin aja.”


Reiji menanggapi ucapan Malia yang nampak sedikit sinis menatap, sekaligus sinis dalam berucap. “Ngingetin, apa nyindir?” tukas Malia.


“Tergantung bagaimana persepsi kamu.”


Reiji menanggapi Malia dengan santai.


Memang Reiji pada dasarnya tidak ada maksud untuk menyindir Malia.


Hanya mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan memang Reiji seringnya blak-blakan soal perasaannya. Tapi tadi memang Reiji hanya berucap saja, tak ada maksud menyindir sama sekali.


Selain dirinya memang berpikir, jika Malia tidak menanyakan dirinya terlebih dahulu sebelum janjian dengan temannya.


‘Padahal sebelum dia janjian kan gue bacain chat dari Shirly yang bilang untuk ngajak Lia juga....’


Reiji membatin.


‘Gue aja belum jawab itu chatnya Irly. Eh Lia malah janjian sama temennya.’


“Jadi kamu ngomong kayak tadi itu maunya aku gimana? Nge-batalin janjian aku sama temen aku itu?” Malia bersuara saat Reiji sedang sibuk membatin.


Reiji menghela nafasnya kemudian. “Terserah kamu deh Li....”


Lalu Reiji berbalik pergi.


“Nanti kalau aku larang, aku salah lagi....” gumam Reiji.


***


“Aku berangkat dulu Rei....” ucap Malia yang tetap akan pergi siang ini.


“Aku anter ya?....” tawar Reiji.


“Ga usah. Makasih. Kamu mau dateng ke acaranya Shirly kan pasti? Secara sahabat gitu loh.”


Dan penolakan halus yang keluar dari mulut Malia, namun disertakan pertanyaan yang seolah menyindir Reiji.


“Yuk ah, aku pergi dulu....”


Malia dengan cepat berlalu dari hadapan Reiji dan keluar dari apartemen mereka tanpa memberikan kesempatan pada Reiji untuk menjawab sindiran Malia tentang Shirly.


Membuat Reiji jadi mendengus kesal karenanya.


*


REIJI


Weekend ku sebenarnya diawali dengan sebuah ketenangan pada sabtu pagi ini.


Masih begitu tenang, hingga aku memutuskan sebuah buku lagi yang menjadi satu dari favoritku di ruang serbaguna dalam apartemenku dan Malia.


Yang mana menurutku sih lebih cocok disebut sebagai ruang baca, karena buku-buku milikku, selain patung-patung action figures koleksiku yang mendominasi ruang serbaguna di dalam apartemen kami.


Tapi Lia menyebutnya ruang serbaguna, karena ada space untuk kegiatan Yoga-nya di dalam ruangan tersebut.


Jadi yah, aku ikuti saja apa kata Lia.


-


Setelah sempat sedikit cekcok saat Lia pulang sangat terlambat ke apartemen, keesokan harinya aku mencoba bersikap biasa saja.

__ADS_1


Hanya pertengkaran mulut kecil menurutku yang tak perlu dibesar-besarkan. Buang energi aja.


Dan untungnya Lia juga tidak nampak ingin membahas hal itu lagi, walau sikapnya aku rasakan sedikit ketus padaku.


Tapi aku biarkan.


Daripada nanti aku layangkan protes, istriku yang moody itu jadi bad mood lagi.


Jadi lebih baik aku diam dan bersikap biasa saja. Minus ber-ganjen ria pada Lia.


Padahal weekend ini sudah aku jadwalkan sebelumnya, meski tidak dari jauh hari.


Tapi aku ingin saja menghabiskan waktu berdua dengan Lia dalam momen yang menyenangkan.


Pikiran suami yang normal dengan istri cantik yang bodinya aduhai dan tidak suka mengumbar bentuk kemolekan tubuhnya itu, membuatku membayangkan jika weekend ini aku bisa habiskan bergelung dalam selimut dengan tubuh kami yang sama-sama polos.


Tapi yah rencana tinggal rencana.


Malah ada hal yang memicu pertengkaranku dengan Lia, walau hanya cekcok mulut kecil saja.


Tapi ya itu, Lia sensi banget kalo dirinya sedang tak senang. Apa aja salah sepertinya dimata Lia jika dia sedang seperti itu meski jauh dari jadwal PMS-nya.


Dan lagi, Lia kenapa senang sekali mengungkit soal aku dan Irly yang bahkan sudah aku hancurkan dan serpihannya aku terbangkan ke angkasa hingga tanpa sisa ada lagi sedikit pun sisa perasaan spesial-ku pada Irly di dalam hatiku ini.


Tapi Lia sepertinya masih belum percaya padaku soal itu. Padahal waktu itu dia bilang dia akan berusaha untuk percaya, dengan tanpa lagi mau membahas tentang masa laluku dan Irly. Tapi nyatanya tidak begitu yang aku lihat dan rasakan.


Ya seperti pagi ini. Aku yang sedang asik membaca mendengar Lia memanggil namaku dari luar ruang serbaguna dengan berseru. Tadi saat aku berleha-leha di depan televisi setelah sarapan, dia malah ngerem di kamar. Sekarang aku sedang menikmati waktu baca dengan tenang yang jarang-jarang aku punya, Lia memanggilku dengan seenaknya.


Aku tak menyahut.


Hingga kemudian aku dengar suara Lia kian dekat.


Ketus. Cara bicara Lia yang aku tangkap di telingaku. Tapi, aku tetap santai menanggapi.


Entah Lia mau apa memanggilku sebenarnya, karena tahu-tahu dia mengambil tempat duduk disampingku.


Aku tanya ada apa mencariku, tapi dia malah menanyakan apa aku membeli buku baru. Aku jawab tidak, dan mengatakan padanya aku sedang membaca ulang salah satu buku favorit-ku.


Dan saat aku hendak merekomendasikan soal salah satu buku favoritku yang sedang aku baca ulang ini, Lia dengan cepat memotong ketus ucapanku.


Namun kemudian Lia melembut, dan mengatakan padaku untuk lanjut membaca dengan dirinya yang hendak bangkit dari tempatnya disampingku.


Tapi sebentar saja, karena setelahnya keketusan dan kesinisan Lia padaku naik levelnya, dan itu bersumber   dari panggilan telepon Irly yang masuk ke ponselku.


Hanya sebuah panggilan telepon yang enggan ku angkat karena aku sedang asyik membaca, malah membuat Malia menjadi blingsatan ga karuan.


“Kalo karena aku kamu ga mau angkat panggilan dia, ga usah sok-sok cuek nyebelin begini!”


Begitu kata Lia dengan nada suaranya yang meninggi sambil meletakkan dengan kasar ponselku di atas halaman buku yang terbuka yang ada di atas pangkuanku, setelah aku merubah posisi tiduranku menjadi duduk kala Lia menyambangiku di ruang serbaguna kami.


Aku mulai merasa kesal dengan sikap Lia sebenarnya. Tapi aku tetap menjaga kestabilan emosiku dengan tetap santai menanggapi sikap Lia dengan mengatakan padanya agar dia bicara dengan biasa saja, ga pake nyolot.


Yang mana aku juga tidak tahu siapa pemanggil atau pengirim pesan yang masuk hingga membuat ponselku itu bergetar, selain aku masih ingin menikmati waktu senggang-ku membaca buku, aku juga semata-mata sedang menjaga perasaan Lia, untuk tidak terlalu fokus pada ponsel.


Aku membaca buku, karena Lia sedang ogah-ogahan menanggapi-ku sedari pagi.


Mungkin efek karena aku bertanya padanya dengan sedikit ketus kala ia pulang begitu malam pada suatu hari.


Bukan karena aku mencurigai Lia gimana-gimana, tapi aku khawatir saja.


Tapi nyatanya Lia malah menjadi kesal padaku. Semakin menjadi hari ini. Dan pada akhirnya aku berucap seraya bertanya pada Lia.


“Ga apa-apa emang kalo aku terima teleponnya Irly?....” begitu kataku.


Jika Lia mengiyakan, akan aku loudspeaker panggilan dari Irly itu, agar Lia tidak berpikir macam-macam.


Tapi alih-alih mendapat jawaban, Lia malah balik bertanya padaku dengan pertanyaan yang sedikit konyol.


“Kamu masih berhubungan sama dia emangnya?....”


Ya ampun, aku dan Irly masih berteman, tentu saja kami masih berhubungan.


Hubungan pertemanan. Titik.


Lagipula bukan hanya aku yang bersahabat dengan Irly, masih ada tiga teman cowokku yang lain. Tapi kemudian Lia mencetuskan pertanyaan yang terdengar macam sindiran atas pertemananku dan Irly.


“Teman tapi mesra?”


Begitu kata Lia dengan roman muka yang nampak meremehkan.


Sungguh, aku terganggu dengan ucapan Lia itu.


Namun aku berusaha lagi agar tidak terpancing emosi.


Aku tidak merasa hubungan pertemananku dan Irly seperti yang Lia tuduhkan.


Jadi sindiran Lia itu aku patahkan. “Please deh Yang, aku udah jelasin ke kamu tentang aku dan Irly. Udah jelas ju-gaaa kan aku bilang ke kamu siapa perempuan yang aku cintai sekarang?.... aku harus nge buktiin lagi ke kamu? Udah deh, please, tolong, jangan mikir macem-macem lagi.”


Dan aku bicara sedikit panjang, memohon agar Lia percaya padaku. Tapi...


“Gimana ga mikir macem-macem, kalo saat weekend aja dia nelponin kamu?.... Mau minta dianter kemana lagi?” Malia nyinyir.


Astagaa! ..


Aku benar-benar tak habis pikir dengan sikap Lia yang terkesan seperti cemburu buta ini.


Iya kalau memang Lia sedang cemburu, aku senang adanya. Tapi ga juga cemburu buta pada Irly.


Disaat aku hendak mengekori Lia dengan memegang ponselku, benda pipih itu bergetar lagi. Dan ada pesan chat dari Irly.

__ADS_1


Pesan chat yang kemudian langsung aku baca dimana pesan chat itu adalah sebuah undangan berkumpul di apartemennya yang baru.


Mungkin aja Irly ingin selametan kecil-kecilan bersama kami para sahabat lelakinya.


Kebetulan.


“Nih, Irly kirim pesan.... Aku bacain biar kamu ga curiga.”


Kalimat itu yang aku cetuskan setelah aku membaca pesan chat dari Irly, sambil mengekori Lia yang telah keluar dari ruang serbaguna kami.


Aku bacakan pesan dari Irly itu dengan lantang dihadapan Lia agar dia sadar jika dia tidak perlu curiga padaku. Bahkan Irly juga mengatakan agar aku membawa Lia serta.


Tapi Lia bergeming tak berkomentar. Hanya duduk diam sambil matanya menatap ke arah televisi di ruang tamu, dengan Lia yang mendudukkan dirinya di sofa. Membuat aku jadi sedikit kesal karena diabaikan seperti itu saat aku sedang serius bicara.


Mempertanyakan bagian mana dari pesan chat Irly yang salah dan apa ada yang perlu dicurigai dari pesan Irly yang mengundangku dan Lia datang untuk sekedar berkumpul di apartemen Irly karena dia resmi akan kembali tinggal dan menetap di Jakarta.


Aku masih menunggu respon Lia, tapi dia malah terus abai sampai kemudian ponselnya berbunyi.


Dan Lia langsung meraihnya tanpa memperdulikan-ku yang masih berdiri di dekatnya. Membuat kesalku sedikit bertambah lagi.


“Pesan dari siapa?.”


Aku langsung saja bertanya perihal pesan chat yang masuk ke ponsel Lia itu dan langsung ia baca.


“Temen.” Jawab Lia singkat dengan melirik padaku.


“Oke, aku percaya. Aku ga akan tanya siapa temen kamu yang nge-chat kamu itu, dan apa isi chatnya.” Dan pada akhirnya aku jadi nyinyir berbicara pada Lia.


Aku kesal beneran. Dan entah Lia menyadarinya atau tidak.


Setelah nyinyir, aku langsung berbalik dan pergi kembali menuju ruang serbaguna.


Hingga sampai beberapa waktu aku berada di ruangan itu, tetapi Lia tidak mengejarku untuk bicara. Setidaknya agar melunturkan ketegangan diantara kami.


--


Dan yah, aku kembali mengalah, meski ada sisa kesal dalam hatiku atas tuduhan Lia, termasuk sikapnya padaku.


Aku mengajaknya makan siang diluar, untuk kemudian aku ajak ke tempat Irly, agar Lia dapat melihat sendiri bagaimana hubungan pertemananku dan Irly.


Akan ada para sahabat yang lain, yang aku yakin akan membawa pasangan mereka. Dan yah memang Abbas pun mengatakan ia akan datang bersama calon istrinya.


Jadi aku coba menghampiri Lia yang masih nampak asik berkirim pesan di ponselnya dengan temannya yang entah siapa.


Tapi penolakan yang aku dapat, karena katanya dia sudah keburu janjian dengan temannya.


Aku tak langsung menyerah, jadi aku mengusulkan agar temannya Lia itu pergi saja bersamaku dan Lia.


Toh aku juga ingin tahu, ingin kenal-jika bisa, dengan setiap teman yang Lia punya. Tapi tetap, Lia menolak.


“Temen aku ga akan nyaman kalo ada kamu dan dia sendirian....” Alasannya Lia.


Dan aku?.


Kesal lagi.


Bertambah kesal lagi setelah aku masuk ke kamar, dan Lia sedang berdandan ria.


Lia tetap mewujudkan janjian-nya dengan temannya itu, tanpa lagi bertanya padaku.


Aku mengingatkan, tapi Lia kembali menudingkan tuduhan jika aku sedang menyindirnya.


Aku beri penjelasan, tapi Lia malah bertanya dengan ketus apa aku mengijinkannya atau tidak.


Jadi aku pasrah saja. Sambil menetralkan emosi. Aku ingin melarang, karena ingin menghabiskan waktuku dengannya hari ini.


Tapi jika aku menahan Lia pergi, aku rasa sampai esok hari dia akan terus ketus padaku.


Jadi ya sudah, aku serahkan keputusan padanya. Jika Lia tetap mau pergi ke tempat janji temunya dengan temannya itu ya sudah, aku mau bilang apa.


Tapi jika Lia tidak jadi pergi, aku akan mencari cara untuk menyenangkannya. Melunturkan keketusannya. Sayangnya Lia tetap tidak membatalkan janji temu dengan temannya itu.


Bahkan tawaranku untuk mengantar Lia pun, ia tolak.


Dengan kalimat penutup sebelum ia menghilang di balik pintu apartemen, dan pamit pergi.


“Kamu mau dateng ke acaranya Shirly kan pasti? Secara sahabat gitu loh.”


Entah apa maksud kalimat Lia itu, yang jelas setelahnya aku menarik nafas dalam-dalam lalu ku-hembuskan sedikit kasar.


Mencoba-lagi-menerima dan memaklumi sikap Lia padaku. Mengingat kembali nasehat kedua orang tua kami, jika pernikahan itu tidaklah mudah.


Masalah akan datang silih berganti, bahkan dalam pernikahan pasangan yang sebelum menikah sudah saling mencinta.


Sementara aku dan Lia, menikah karena dijodohkan. Meski aku memang sudah menyayanginya sejak lama. Sekarang sudah mencintai Lia.


Tapi Lia?.


Entahlah.


Lia belum terbuka sepenuhnya padaku.


Hanya bilang dia sudah menyayangiku, namun aku masih merasakan Lia masih menjaga jarak denganku. Ada yang dia simpan dalam hati, yang sepertinya enggan untuk ia bagi denganku.


Hhh... Perjalananku ke depan dalam pernikahanku dan Lia rasanya tidak akan mudah.


Akankah kita baik-baik saja, Lia?...


**

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2