WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 56


__ADS_3

Selamat membaca..


***


REIJI


Aku dan Malia sudah pindah ke apartemen kami, setelah seminggu kepulangan kami dari berbulan madu.


Apartemen yang sebenarnya aku sempat pertimbangkan untuk kubeli sebagai investasi masa depan sebelum perjodohanku dengan Malia.


Namun pada akhirnya aku memutuskan untuk membeli saja apartemen yang akan aku tempati bersama Malia ini dengan uang tabunganku sendiri.


Aku tidak tahu apa Malia akan menyetujui tinggal di apartemen, karena aku membelinya tanpa berdiskusi dulu dengannya. Aku hanya berdiskusi dengan kedua orang tuaku, yang sebenarnya menginginkan aku dan Malia tinggal bersama mereka saja.


Bahkan Avi merengek padaku untuk itu.


Hingga akhirnya sebuah keputusan kuambil untuk membeli dulu saja apartemen yang positif akan aku tinggali bersama Malia ini setelah kami menikah.


Apartemen yang kubeli dengan cash, karena aku tidak mau dibebani oleh hutang yang harus ku bayar setiap bulan.


Toh tabunganku cukup untuk membeli satu unit apartemen yang tak seberapa besar ini, namun fully furnished. Yah, sesuai dengan harganya sih.


Dengan catatan, jika Malia tidak menyetujui untuk tinggal di apartemen yang kubeli ini, maka aku tidak boleh memaksakan kehendak pada istriku itu untuk meninggali apartemen ini.


Dimanapun Malia hendak tinggal, aku akan menurutinya, meskipun bila dia meminta tinggal di rumah orang tua kami saja.


Rumah orang tuaku, atau rumah orang tuanya.


Mengingat di rumah orang tuaku ada Avi, adikku. Yang memang adalah sahabat kental Malia. Atau di rumah orang tuanya, karena rumah itu memang tidak seramai rumahku, berhubung Malia anak tunggal.


Selain itu keluarga dari mama dan papaku memang cukup banyak, dan sering mampir untuk berkunjung.


Jadi kondisi rumah orang tuaku lebih ramai adanya, pada saat weekend dan hari libur sih biasanya. Tapi ga sering juga.


Jadi, jika Malia ingin tinggal bersama kedua orang tuanya pun aku akan menyetujui hal itu.


Atau mungkin jika yang diinginkan Malia adalah tinggal di sebuah rumah hunian minimalis, aku rasanya akan mencari hunian yang sesuai dengan keinginan Malia andai dia tidak setuju untuk tinggal di apartemen yang lingkungannya sangat masing-masing.


Tapi ternyata, Malia menyetujui untuk tinggal di apartemen yang aku beli. Ditambah Malia bilang kalau dia sangat menyukai apartemen kami.


Syukurlah kalau begitu.


Setidaknya tabunganku yang tersisa, setelah terpotong membeli apartemen dan untuk biaya bulan madu yang cukup Wah di Pulau Moyo dapat aku fokuskan untuk aku tambah lagi setiap ada pemasukan baik dari gajiku sebagai Pilot, maupun laba bersih yang masuk dari usaha pribadiku.


Mungkin, akan aku fokuskan menabung untuk membeli rumah nanti, andai aku dan Malia sudah memiliki buah hati. Karena menurutku, apartemen kurang cocok untuk perkembangan anak-anak.


Buah hati....


Hh, aku rasanya tak sabar ingin memiliki anak dari Malia.


Jika Tuhan memberikan kami momongan dengan sangat cepat, mungkin saja Malia akan dengan cepat juga mencintaiku.


Ah sudahlah.


Yang penting Malia mau menerimaku sebagai suami sepenuhnya saja sudah cukup untuk sekarang ini.


Dan disinilah kami, dihari ini perdana kami akan tinggal sebagai suami-istri di tempat tinggal kami sendiri. Setelah sebelumnya selepas acara akad dan resepsi di sebuah hotel, aku dan Malia tinggal sehari di rumah orang tuaku.


Dan keesokan harinya kami langsung pergi berbulan madu selama lima hari, lalu menginap bergantian di rumah orang tuaku, lalu orang tua Malia sebelum kami pindah kesini, sembari menyiapkan perlengkapan hidup di tempat yang baru.


Kalau furniture sudah tak lagi kami repotkan, karena memang apartemen yang aku beli sebagai tempat tinggalku dan Malia sudah lengkap perabotan intinya. Seperti, Kitchen Set, AC tentunya, sofa dan tempat tidur serta televisi sudah tersedia. Aku dan Malia hanya tinggal membeli peralatan tambahan saja.


Macam peralatan dapur dan sebagainya, yang hanya tinggal dibeli beberapa saja, karena ada beberapa kado pernikahan yang berupa alat rumah tangga, serta warisan perabot dari mamaku dan mama mertua yang luar biasa itu banyak dan beragamnya perabotan yang merupakan harta karun dua ibu hebring yang masih cantik diusianya.


Sepertinya aku dan Malia ga perlu lagi deh beli barang-barang tambahan, setelah itu harta karun perabotan ditunjukkan oleh dua ibu hebring padaku dan Malia yang disuruh memilih kemudian. Heran, seneng amat ngumpulin perabot, padahal jarang ada yang dipake kayaknya. Bisa buka katering itu kayaknya kalo diniatin. Hadeeehh, dasar ibu-ibu.


Aku dan Malia sudah kembali bekerja sejak dua hari yang lalu, jadi apartemen masih agak sedikit berantakan dan saat ini kami datang untuk merapihkan sekaligus langsung menempatinya.


Hanya berantakan dengan koper-koper berisikan pakaian dan beberapa kontainer plastik berisikan barang-barang pribadi aku dan Malia masing-masing, serta beberapa barang yang kami bawa dan diperkirakan mungkin bisa jadi pajangan untuk mempermanis apartemen kami.

__ADS_1


Aku dan Malia berbagi tugas, Avi dan orang tua kami juga datang membantu, dan apartemenku dan Malia yang tak seberapa luas ini jadi lumayan rame. Padahal bantuan mereka aku rasa tidak perlu juga.


Toh paling hanya merapihkan pakaian ke dalam lemari dimana aku dan Malia bisa melakukannya. Menata barang pajangan juga tidak terlalu gimana-gimana. Barang-barang pribadiku dan Malia juga rasanya tidak akan aku dan Malia biarkan untuk merapihkannya.


Tapi ya sudahlah biarkan saja. Aku sangat hargai niat baik Avi dan orang tuaku serta mertua yang sudah datang dan berniat membantu kami pindahan.


Paling engga bisa makan masakan itu dua ibu hebring yang hobi banget masak dan tentunya masakan mereka sangat enak. Dan aku serta Malia lagi-lagi bisa berhemat, karena kulkas kami penuh dengan sendirinya.


Haha, bukan deng.


Orang tua dan mertuaku yang membelikan itu isi kulkas lengkap pake banget!


***


Unit apartemen yang dibeli Reiji bukanlah terhitung unit apartemen mewah.


Tapi sekiranya masuk dalam kategori layak dan nyaman tentunya.


Selain itu, letak gedung apartemen yang dibeli Reiji untuk tempat tinggalnya dan Malia, masuk ke dalam area segitiga Jakarta, yang notabene nilai investasinya cukup tinggi, walaupun tidak seberapa besar.


Hanya ada dua kamar dalam apartemen tersebut, dan kamar mandi terletak di luar. Yang berada di tengah dua kamar tersebut.


Pantri ada di selurusan pintu masuk, dengan meja makan kecil yang bersebrangan dengan Kitchen Set. Lalu sebuah ruang tamu yang tak seberapa besar dan merangkap sebagai ruang santai juga dengan dua sofa membentuk siku, serta televisi yang menempel pada dindingnya.


Jendela kaca yang ada di dekat ruangan kecil yang merangkap sebagai ruang tamu dan ruang santai itu lebarnya seluas dinding dan tingginya mencapai plafon.


Hingga pada saat mentari ada di pagi dan siang hari, cahaya akan leluasa menerangi ruangan tersebut, kecuali bila hari sedang mendung atau saat hujan turun.


Di sisi satunya, ada pintu kaca yang berhubungan dengan balkon yang juga tidak seberapa besar. Tapi cukup dapat digunakan untuk dua orang berada disana.


Meskipun apartemen yang akan menjadi tempat tinggal Reiji dan Malia jauh lebih kecil dari rumah orang tua mereka, tapi keduanya merasa akan betah tinggal disana.


**


“Yang...” panggil Reiji pada Malia.


“Ya? ..”


“Kenapa, Rei?”


Malia yang mendengar Reiji memanggilnya itu segera menoleh setelah ia menutup pintu kamar mandi.


Kini Reiji dan Malia hanya tinggal berdua saja, karena Avi beserta orang tua mereka sudah pamit pulang sebelum waktu maghrib tiba.


Alih-alih langsung menjawab, Reiji malah nampak terpaku di tempatnya.


‘Ish! Sejak udah ngerasain yang namanya ulala beibeh sama Lia, otak gue ngeres aja perasaan asal liat Lia buka-bukaan dikit!’


Reiji membatin, akibat salah fokus melihat Malia yang handukan dan nampak segar menggoda selepas mandi.


“Rei!”


Malia yang tidak mendapat jawaban itu pun segera memanggil Reiji lagi dengan sedikit berseru, hingga suaminya yang sedang memandangi Malia dari mulai kaki jenjangnya itu segera terkesiap.


“Heu?”


Reiji yang sedang gagal fokus itu menyahut sekenanya.


“Manggil aku kenapa?” tanya Malia.


“Aku lapar....”


Reiji menjawab cepat.


“Udah laper lagi?”


Malia bertanya dengan polosnya.


Tanpa dia paham maksud lapar yang Reiji katakan bukanlah mengenai perutnya yang baru setengah jam lalu diisi martabak telor yang ia pesan online untuknya dan Malia setelah tadi sama-sama sedang menginginkan makanan tersebut untuk sekedar menjadi makanan iseng.

__ADS_1


“Iya....”


Reiji menyahut dan mengangguk.


“Kalo gitu aku pake baju dulu deh, baru aku panasin itu makanan yang tadi dibawain sama duo Mama....”


“Ga usah.”


Reiji langsung menyergah.


“Hm terus mau makan yang lain aja?....”


Reiji mengangguk dengan pandangannya yang masih fokus pada Malia.


“Mau pesen online atau mau jalan keluar?....”


“Di rumah aja.”


Jawaban Reiji tak sesuai dengan pertanyaan Malia. Dan Malia pun mengangkat alisnya.


“Ya udah kamu aja yang pesen makanannya deh, aku mau pake baju dulu ini ah!”


Namun kemudian Malia menganggap maksud Reiji adalah makan di rumah aja, ya di apartemen. Jadi Malia yang meminta Reiji untuk memilih makanan.


“Makanan yang aku mau ga ada di jalur online.”


Reiji menggumam sembari melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Malia yang sudah berbalik untuk masuk ke kamarnya dan Reiji, namun menjeda langkahnya setelah mendengar Reiji yang terdengar bersuara namun kurang jelas telinga Malia tangkap.


“Kamu ngomong apa, R---“ Malia menggantungkan kalimatnya karena Reiji sudah berada dihadapannya.


Malia memicingkan matanya, saat Reiji sudah berdiri dihadapannya sekarang.


Pancaran mata Reiji itu sedang Malia artikan, yang setelahnya ia tahu kemana arahnya kala Reiji mengusap pelan pipinya.


“Yang....”


Reiji dengan suaranya yang sedikit serak dan dalam sembari menatap teduh, namun juga sorot matanya nampak mendamba.


“Besok kan aku ada penerbangan, baru pulang lusa ...”


‘Teruss???’


Malia membatin resah.


“Iy—mmphh—“


Dan didetik berikutnya bibir Reiji sudah menyerang bibir Malia, tanpa Malia bisa mengelaknya.


Selanjutnya Reiji mendorong tubuh Malia hingga berbenturan dengan dinding, namun pelan.


Dengan tangan Reiji yang menahan kepala Malia agar tak terbentur dengan dinding yang berada sejajar dengan pintu kamar mereka.


Nafas Reiji sudah sedikit memburu sekarang, seiring dengan serangannya pada bibir Malia.


Dan selanjutnya, Reiji menarik Malia hingga dada mereka bertabrakan, hingga Malia spontan meletakkan tangannya di pinggang Reiji.


Malia pun hanya bisa pasrah, kala Reiji menendang pelan pintu kamar yang setengah terbuka itu untuk melebarkan nya agar ia dapat leluasa membawa Malia masuk ke kamar.


Yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah ranjang.


‘Ish ini si Rei. Kalo mau minta jatah tadi kek sebelom gue mandi!’ protes Malia.


Namun hanya dalam hati Malia saja. Karena bibirnya sedang dibungkam Reiji tanpa jeda.


Dan kini Malia sudah tergolek pasrah, dengan handuk yang sudah terlepas jauh dari tubuhnya.


“Oh, Rei....”


**

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2