WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 139


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


MALIA


“Mau kemana?...” tanyaku saat Reiji mengurai dekapannya dariku selepas sesi bercinta kami yang jauh lebih menggebu daripada yang sebelum-sebelumnya.


“Mau ngecek makanan.”


Jawab Reiji yang hendak menyingkap selimut.


“Aku aja yang ngecek Rei.”


Aku sambil menegakkan diriku, dengan memegangi selimut yang membalut tubuh polosku.


“Ga apa-apa aku aja. Kamu pasti cape...”


“Kamu pasti lebih cape Rei.” Sahutku, sambil bergegas bangkit dari tempat tidur. “Kamu kerja bawa pesawat, sementara aku Cuma ngecek berkas-berkas, bisa sambil leha-leha.”


“Mengemudikan pesawat.”


Reiji menyambar omongan.


“Aku bukan gatot kaca yang ototnya kawat yang tulangnya besi terus bisa terbang ke angkasa tanpa sayap nenteng itu pesawat ---“


Dan aku spontan ngakak mendengar celotehan Reiji barusan. Ada aja celotehannya suamiku itu.


Reiji tersenyum sambil menahanku yang hendak bangkit mendahuluinya dari tempat tidur kami, lalu menarikku pelan, dan menempelkan dahi kami.


Satu tangannya memegang daguku, dan satu tangannya menyelipkan sedikit rambutku di belakang satu sisi telingaku. Lalu Reiji bilang,


“Seneng liat kamu bisa ketawa lepas gini didepan aku.” Kata Reiji yang kemudian mengecup lembut pipiku. “Dan aku seneng melayani ratu hati dan hidup aku----“


Kemudian Reiji bangkit dari tempat tidur dan ia dengan cepat menyambar handuk yang tadi ia pakai, dimana handuk tersebut tergeletak di lantai setelah Reiji melepasnya.


“Kamu tunggu disini aja. Biar aku yang cek makanan yang udah kamu siapin yang mungkin perlu dipanasin... nanti aku bawain kesini kalo udah siap—“


Lalu Reiji berucap lagi sambil ia melangkahkan kakinya menuju walk in closet kami.


“Kamu mau diambilin baju sekalian Yang? –“


Dasar suami perhatian.


****


Malia menatap laki-laki yang sedang berkutat di pantri yang mana hanya menggunakan celana pendek rumahan saja dan bertelanjang dada.


“Dibilang suruh tunggu di kamar aja.”


Laki-laki yang sedang berkutat di pantri, yang adalah Reiji lantas berucap saat melihat kehadiran Malia yang menyusulnya.


Malia tersenyum sambil terus mendekati Reiji yang nampak sedang memanaskan makanan dalam microwave pada pantri di unit apartemen mereka itu.


“Gabut di kamar.”


Malia kemudian menyahut untuk menanggapi ucapan Reiji sebelumnya.


Reiji lantas mendengus geli mendengar sahutan Malia barusan. “Kirain kangen makanya disusulin.”


“Lebay banget!” cebik Malia.


Reiji terkekeh kecil.


“Ya kan katanya udah cinta sama aku? Kan kalo orang sedang jatuh cinta, semenit rasa seabad?“ ucap Reiji kemudian.


“Lebay kuadrat...” ledek Malia, dan Reiji terkekeh kecil sekali lagi.


****


Malia membantu Reiji mempersiapkan makan malam mereka yang tertunda. Sambil menunggu Reiji selesai memanaskan makanan, Malia mengulurkan tangannya untuk mengambil peralatan makan untuknya dan Reiji. “Piring sama gelasnya satu aja, Yang.” Ucap Reiji.


“Loh, kamu ga makan emangnya?....” tanya Malia.


“Makan –“ jawab Reiji. “Tapi sekali-sekali pengen makan sepiring berdua. Biar romantis kan?....”


Malia berdecak pelan.


“Orang susah itu sih namanya.” Tukas Malia dan Reiji terkekeh lagi.


“Nyinyir banget mulutnya, Nyonya Reiji?-“

__ADS_1


Reiji memencet gemas hidung Malia.


“Abis suaminya lebay banget!” sahut Malia.


“Suami romantis plus ganteng gini dibilang lebay-“


“Ya, ya.”


Malia menyahut malas.


“Jadi ini makan satu piring?” tanya Malia.


“Kalau anda berkenan, ya jadi dong. Lebih bagus lagi kalo istrinya Bapak Reiji mau nyuapin suaminya ini ...” kekeh Reiji.


****


MALIA


Aku mengernyit saat aku sedang meletakkan satu piring dan gelas berisikan air minum diatas meja makan, kala Reiji baru saja meletakkan makanan yang aku beli saat pulang kantor dan sudah dipanaskan.


Reiji menelisikku dengan tatapan aneh, termasuk senyumnya yang mengisyaratkan sesuatu. “Masih mau lagi emang? ...” ucapan Reiji yang berupa pertanyaan itu terdengar ambigu.


Aku makin mengernyitkan dahiku. “Mmm ... maksud?---“ tanyaku, tapi tak selesai.


Karena tubuhku telah ditarik Reiji hingga tubuh kami jadi rapat. “Ini masih pake bathrobe?” lalu ia melirikkan matanya ke bawah, kemudian menatapku lagi sambil memainkan alisnya jahil nan mesun.


“Ck!”


“Masih mau, makanya sengaja masih pake bathrobe begini? ...”


“Omes banget kamu sumpah, Rei!-“


“Ya gimana suaminya ga omes kalo istrinya cuma pake bathrobe begini?”


Reiji dengan wajah mesumnya yang menyebalkan. Untung gantengnya kelewatan.


“Masih mau?”


“Apaan sih ah.” Cebikku.


Sekaligus aku coba melepaskan diriku dari Reiji.


“Abis makan aku mau mandi lagi! Makanya males ganti baju. Lagian ini gara-gara kamu sih, jadi aku harus mandi lagi! Tau gitu ngapain bilas tadi?! ---“


“Heits fitnes aja! ...” tukas Reiji atas protesku barusan. “Enak aja nyalahin aku ... gara-gara berdua sih. Kamu aja tadi agresif banget.”


Aku mengalihkan pembicaraan Reiji yang udah agak-agak menjurus itu. Reiji mendengus geli dan melepaskan dekapannya padaku.


“Jadi nih sepiring berdua?-“


“Jadi dong!” sahut Reiji. Sembari ia mengambil sendok dan garpu pada tempat sendok transparan dengan dalamnya yang dapat diputar.


Aku tersenyum geli melihat antusiasnya Reiji, dengan wajah ceria dimana binar bahagia terpancar dari sorot matanya, dimana bahagia itu menghampiri aku juga.


**


“Segini dulu ya biar ga kepenuhan piringnya?---“ ucap Malia yang sudah selesai menyendokkan makanan untuknya dan Reiji yang ia beli saat pulang kerja. “Kalo kurang kan gampang ambil lagi.”


“Iya---“


Reiji menyahut.


“Duduknya disini...” ucap Reiji.


“Hm?...”


“Duduknya disini...” Reiji mengkode Lia dengan matanya yang menunjuk ke arah pahanya sendiri yang ia tepuk-tepuk pelan.


“Ih gimana makannya kalo aku dipangku gitu?...”


Malia menolak.


“Aku suapin---“ tukas Reiji. “Sini...”


Reiji membujuk lagi.


“Please?”


Pada akhirnya Malia pun mengiyakan keinginan Reiji, lalu mendudukkan dirinya di atas pangkuan Reiji yang duduk di kursi meja makan mereka.


**


“Kamu tahu Yang?”


“Apa?...”

__ADS_1


“Dari saat aku udah merasa yakin emang beneran jatuh cinta sama kamu trus kita nikah, moment ini yang aku tunggu-tunggu ---“


Reiji menatap teduh Malia yang sudah duduk diatas pangkuannya itu.


“Ngarep banget bisa mesra-mesraan gini sama kamu, dengan kamu yang tanpa merasa tertekan, dengan kamu yang menatap aku hangat...”


Malia yang tadinya hendak menyendokkan makanan yang sudah ada di satu piring-karena Reiji yang menginginkan hal itu, akhirnya fokus menatap Reiji yang sedang mengajaknya bicara.


Reiji tersenyum, lalu mengusap lembut satu sisi pipi Malia dengan ibu jarinya.


“Dan aku bener-bener bersyukur hal itu terjadi sekarang. Doa aku diseperempat malam-meskipun kadang-kadang, di ijabah sama Yang Di Atas.”


“Maafin aku ya Rei?” tukas Malia.


Ekspresi Malia menyiratkan penyesalan.


“Maafin sikap aku ke kamu selama ini.” tambah Malia.


Malia bicara sambil menatap netra Reiji, semata-mata agar Reiji tahu jika apa yang ia katakan barusan itu tulus dari dasar hatinya yang paling dalam.


“Terlebih... aku yang memilih menghabiskan waktu dengan---“ sambung Malia. Tapi ...


Cup!


Ucapan Malia terpotong, karena Reiji mencuri sebuah ciuman singkat dari bibir Malia.


“Things happened was happened ( Yang sudah terjadi biar aja terjadi )... Fokus sama Kita aja sekarang oke?”


Reiji berucap seraya menegaskan keinginannya, namun dengan santai.


Malia pun mengangguk seraya tersenyum.


“Dan satu lagi.” Reiji kembali berucap.


“Apa?...”


Malia spontan bertanya.


“Jangan menyebut nama laki-laki lain didepanku, terlebih nama dia yang pernah merajai hati kamu. Yang entah dia masih ada atau tidak disini---“


Reiji menunjuk dada kiri Malia.


“Meskipun kamu bilang kalau aku udah ada disini.”


Reiji tersenyum tipis dan menatap Malia lagi.


“Aku percaya saat kamu bilang kamu sudah mencintai aku Yang. Tapi tolong, jika memang masih ada secercah perasaan kamu buat dia, jangan kamu tunjukin depan aku... Aku ga menuntut kamu untuk lekas mengeluarkan dia dari hati kamu, karena hati manusia adalah milik si pemilik hati itu sendiri ---“


“Kamu pemilik hati aku sekarang Rei...”


Malia memotong ucapan Reiji lalu melingkarkan tangannya posesif di leher Reiji, dengan mengulas senyum yang terpatri cantik dan tulus di wajahnya.


“Boleh percaya atau engga, dia sudah aku keluarkan dari hati aku. Hanya sisa rasa aja, biar gimana dulu kan pernah punya kenangan sama dia. Tapi cinta yang seperti dulu punya ke dia, aku pastikan udah ga ada Rei.”


“Kamu beneran udah ga cinta sama dia Yang? Beneran udah ga ada perasaan cinta kamu itu ke dia, atau kamu hanya ingin membesarkan hati aku?... Walaupun aku sebenarnya-walau dongkol kalau memang masih ada bekas perasaan kamu ke dia, aku---“


Cup!


“Pak Reiji bawel.”


Malia berucap setelah memotong ucapan Reiji, dan gantian dirinya yang mencuri ciuman dari bibir Reiji.


Lalu Malia tersenyum pada Reiji yang kini memandanginya, sambil satu tangannya membingkai wajah Reiji.


“Seperti yang aku bilang tadi ---“ ucap Malia. “Tentang dia hanya sisa rasa, tapi bukan lagi cinta... Hanya sebatas kenangan, tapi aku janji akan segera aku hilangkan.”


“Buktikan.”


“Iya pasti aku buktikan Rei.”


Reiji tersenyum penuh arti.


“Kalau begitu ayo kita cepat lekas makan, habis itu balik ke kamar. Atau entar dulu deh makannya...”


Set!.


Dengan cepat Reiji membuka bathrobe Malia hingga terpampang dua benda favorit Reiji di tubuh Malia.


“Aku mau minum susu dulu!”


“REEEIIII!!!!”


**


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan jika berkenan.


Terima kasih


__ADS_2