
Selamat membaca...
***
REIJI
“Ambil Rei, sayang rezeki jangan ditolak. Jangankan seminggu, ditinggal sebulan juga ga apa – apa kok aku. Istri yang baik harus pengertian kan sama kerjaan suaminya?”
Ocehan Lia saat kami sedang membahas tawaran pekerjaan suatu keluarga kaya, sebagai Pilot Pribadi mereka.
Lia tersenyum setelah ia selesai memberikan komentarnya tentang tawaran tersebut. Tersenyum dengan sangat manisnya.
“Jadilah suami yang baik, dengan menaikkan taraf hidup perekonomian keluarga. Istri pasti bahagia... Pahala juga kan bahagiain istri? –“
“Lebih terkesan matre.”
Aku langsung merespon geli dan Lia pun terkekeh.
“Terima ya itu tawaran?” ucap Lia kemudian. “Reiji Shakeel kan suami yang baik?...”
Lia memainkan alisnya dan berekspresi setengah konyol. Membuatku terkekeh.
“Ayo aaaak Rei sayang,” Lia sudah menempatkan garpu berikut kwetiau di depan mulutku.
Aku dibuat terkekeh lagi oleh tingkah Lia yang setengah konyol itu. Dan Lia tetap memintaku membuka mulut.
“Pinteeerrr –“
Lia berucap seolah aku anak umur lima tahun yang baru saja berhasil ia bujuk untuk makan.
Lalu aku dan Lia terkekeh bersama.
--
“Jadi gimana?-” tanyaku pada Lia, setelah kami telah selesai di gerai makanan yang sebelumnya kami sambangi.
Dan saat ini, aku dan Lia telah berjalan menuju lobi bawah gedung apartemen untuk kembali ke unit apartemen kami.
“Beneran aku ambil itu tawaran jadi Pilot Pribadi? ...” sambungku bertanya pada Lia yang kemudian tersenyum seraya menoleh padaku. “Emang butuh emas berapa kilo buat perawatan muka sama badan?”
Lia sontak tergelak geli.
“Yang aku kasih ke kamu selama ini emang kurang ya?-“
“Emang kamu pernah kasih aku emas, selain waktu hantaran nikah sama mas kawin? ..”
Lia menyambar ucapanku, namun ia berbicara dengan gurat wajah bercanda dan aku tersenyum tipis.
Jadi sedikit kepikiran kalo aku memang ga pernah belikan Lia perhiasan selain emas hantaran dan mas kawin untuknya. Aku hanya membelikannya macam-macam barang jika aku sedang bertugas dan punya waktu kosong untuk menghabiskan waktu di tempat pesawat yang kukemudikan bersandar.
Tapi memang tidak pernah memberikan Lia perhiasan emas. Apa itu menjadi masalah? .. Tapi aku memberikan Lia uang bulanan yang cukup rasanya, dan Lia bahkan pernah menanyakan apa uang yang aku berikan sebagai ‘jatah istri’ untuknya tidak kebanyakan.
Yang mana artinya, uang pemberianku lebih dari cukup untuk Lia, bukan? Jadi Lia kan bisa membeli perhiasan emas sendiri jika memang dia menginginkannya? .. apa mungkin sebenarnya uang yang aku berikan pada Lia masih kurang untuknya, tapi Lia tidak mau mengatakannya padaku?.
“Sorry ya Yang?”
Aku berucap dengan sedikit rasa bersalah juga.
Lia mengernyit. “Sorry buat? ..” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Aku ga tau kalau kamu suka perhiasan emas,” jawabku. “Soalnya aku lihat kamu hanya pakai perhiasan tuh ini ..” imbuhku sambil mengangkat tangan Lia, dimana di satu jarinya tersemat cincin kawin. “Trus satu cincin kamu itu tuh,”
Aku menunjuk tangan Lia yang satunya.
“Sama cuma pakai jam tangan dan gelang emas yang biasa kamu pakai kalau ke kantor.”
Aku lanjut bicara.
“Jadi aku ga tau kalau kamu suka koleksi emas ..”
Aku menampilkan wajah ‘I’m sorry’ pada Lia, yang orangnya malah terkekeh.
“Rei, Rei .. Pak Pilot kaku banget-“
“Kakunya?” tanyaku tak paham, dan Lia terkekeh lagi.
“Ya kaku! ..” jawab Lia. “Gitu aja diambil serius!-“
Lia mencubit sebelah pipiku sambil kami mengobrol sebelum sampai ke unit apartemen kami.
“Ya aku ngerasa kalo kamu bilang aku ga pernah beliin kamu perhiasan emas sejak kita menikah ..”
“Ck! Aku ga ada maksud gimana – gimana Rei.”
Lia mengelus lenganku dengan tangannya yang bebas.
“Canda lah ..”
“Serius juga ga apa –apa Yang,” tukasku.
“Ya ampun Rei, aku bukannya lagi nyindir kamu lah ..”
“Aku cuma ga mau kamu berpikir kalau aku masih kurang peka sama keinginan kamu.”
“Gajian bulan ini aku tambahin,” ucapku. "Nanti yang tabungan untuk rumah, aku sisihin dari pendapatan Distro aja."
“Ga usah! Aku ga mau! Mendingan kamu tabung, tambahin aja jatah para mama kita, atau sedekahnya ditambahin.”
Aku jadi tersenyum mendengar jawaban Lia, lalu aku merapatkan tubuhnya denganku, sambil kami berjalan dengan berangkulan pinggang.
“Pokoknya aku terserah kamu Rei-“ ujar Lia. “Untuk tawaran sebagai Pilot Pribadi itu, silahkan kamu yang pilih. Karena yang menjalani kamu, dan yang tau medan itu kamu,” sambungnya. “Aku dukung apapun keputusan kamu.”
--
“Besok kira-kira kamu sibuk ga Yang?” tanyaku pada Lia saat kami sudah masuk ke dalam unit apartemen kami.
“Engga sih, kalo sesuai dengan list kerjaan aku,” jawab Lia. “Kenapa emangnya Rei? ..”
“Ga apa-apa, aku cuma pengen ngajak kamu jalan aja besok pulang kamu kerja,” sahutku. “Lusa kan sabtu, pengen aja ajak kamu kencan besok-“ imbuhku. “Udah agak lama kayaknya kita ga kencan kan?”
“Iya boleh .. Udah lama emang kita ga jalan berdua kayak waktu pendekatan sebelum nikah.” Lia menyambut baik ideku.
Aku pun tersenyum sambil memerangkap Lia dalam rengkuhan ku yang longgar, memandangi sosok cantik walau tanpa make up didepanku ini.
“Pak Reiji Shakeel sibuk terbang sih ..” ucap Lia.
“Bukannya Ibu Malia yang ga mau jalan sama saya?” balasku tanpa ada maksud apa-apa.
“Maaf soal itu.”
__ADS_1
Tapi kemudian Lia nampak sedikit sendu. Dan aku segera sadar, mungkin Lia berpikir aku menyindirnya ketika ia sedang dibutakan oleh cintanya pada si bibit pebinor.
--
“Aku ga ada maksud nyindir kamu Yang.”
Aku segera mengklarifikasi ucapanku sebelumnya pada Lia.
“Sumpah,” imbuhku sungguh-sungguh.
Dan Lia tersenyum lembut, sambil ia menggeleng dan menyentuh garis rahangku.
“Aku ga mikir kalo kamu nyindir aku Rei,” ucapnya kemudian. “Aku yang memang ngerasa sendiri.”
Aku tersenyum lurus pada Lia.
“Udah ya, ga usah dipanjangin?-“ pintaku.
Lia pun mengangguk, dan mengiyakan permintaanku.
--
Aku dan Lia saling diam sesaat.
Namun tatapan kami saling mengunci, dengan senyuman lembut yang kami ulas dimasing-masing bibir kami.
Tak tahan dengan godaan bibir Lia yang menjadi canduku itu, aku sedikit merunduk dan menyambar bibir yang bagiku rasanya semanis madu itu.
Dimana manisnya makin bertambah, setiap kali Lia membalas dengan ritme yang sama, ciumanku padanya itu. Damn, baru tahap berciuman saja, Lia sudah bisa membuatku on. Dan untuk itu, ciumanku kian memburu.
Entah Lia, tapi nafasku sudah rasanya mulai tidak beraturan. Hasrat kelakianku mulai merambat, dan aku tidak mau menunda.
“Rei ..”
Suara Lia yang sedikit serak membuat apa yang sedang merambat di sekujur tubuhku, mulai merambat dengan pesatnya.
We’re so ready to make love!
Tapi ..
Triinngggg! ..
Dering ponselku memecah perhatianku dan Lia.
Namun aku tak mau pedulikan.
Tapi sialnya ..
Triinngggg! ..
Dering ponselku yang mengganggu itu tak berhenti dan terus saja berbunyi, hingga membuat Lia melepaskan dirinya dariku.
“Lihat dulu ponsel kamu,” ucap Lia. “Siapa tau penting. Jawab dulu aja,” imbuh Lia.
Dan aku mendengus kasar, namun pada akhirnya merogoh saku celanaku untuk meraih ponsel milikku.
Ingin sekali aku memaki si pemanggil yang sedang menghubungiku disaat yang tidak tepat ini. namun setelah aku lihat nama pemanggilnya, aku tak kuasa untuk mengabaikan panggilan tersebut.
“Siapa? ..”
__ADS_1
**
Bersambung ..