WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 130


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


Dan Mohon maaf untuk lambatnya update.


Diusahakan per bulan ini update akan teratur hingga tamat nanti.


***


Selamat membaca...


***


REIJI


"Makasih Ya Yang. Makasih udah mau memberi aku kesempatan lebih."


Aku berucap tulus kemudian, dengan hati yang menghangat, kala Lia tersenyum dengan cantiknya padaku di dalam mobil saat kami akan pergi ke Puncak untuk menghadiri acara Family Gathering untuk para keluarga Pilot, Co – Pilot, Pramugari & Pramugara, serta kru yang biasanya terlibat dalam penerbangan.


"You deserve it ( Kamu pantas mendapatkan itu ), Rei ....."


Dimana ucapan Lia barusan, membuatku melambung tinggi.


Entah apa yang membuat Lia berubah dalam satu malam, tapi yang jelas aku bahagia.


Meski rasanya aku masih penasaran, apakah Lia berubah karena melindungi si bibit pebinor itu dariku yang Lia pikir sedang menargetkannya-karena Lia merasa aku mulai terganggu dengan keberadaan si bibit pebinor yang membuat Lia seolah ‘lupa diri’.


Apa sebegitunya Lia mencintai laki-laki bernama Irsyad itu sampai sebegitu Lia ingin melindunginya?. Sampai-sampai Lia benar-benar menyerahkan dirinya dengan pasrah padaku semalam, bahkan hingga tadi pagi-dimana Lia tetap menerimaku yang mengajaknya bercinta sekali lagi di kamar mandi sebelum berangkat.


Tapi juga, ada seberkas keraguan di hatiku mengenai hal itu.


Ekspresi dan sikap Lia dari semalam hingga saat ini-meski ia nampak masih sebal padaku karena banyaknya jatah bercinta yang aku minta sejak semalam, tidak menunjukkan keterpaksaan atau adanya rasa tertekan untuk bercinta denganku.


Aku memang menikmati momen disaat aku dan Lia ‘menyatu’, namun aku juga memperhatikan Lia dengan seksama-dalam hal ini gesturnya saat kami bercinta.


Natural.


Sama seperti gestur Lia jika kami bercinta selama ini, sebelum ada masalah perihal cerita masa laluku dan kehadiran kembali lelaki dari masa lalu Lia.


Dan lagi, semalam aku dengar Lia menggumam-dimana gumaman itu terdengar tulus, selain sepertinya Lia berkata tanpa berharap aku mendengar gumamannya itu.


Lia seperti bicara pada dirinya sendiri, namun ucapan itu tertuju untukku.


Well, itu yang menjadi landasanku untuk berpikir positif saja tentang perubahan sikap Lia sejak semalam padaku.


Mungkin, aku akan tetap mencari tahu soal ketulusan sikap Lia yang menerangkan jika ia ingin memulai segalanya dari awal denganku.


Tapi untuk sekarang, lebih baik aku nikmati saja dulu momen kebersamaanku dengan Lia yang kembali normal tanpa adanya pertikaian argumen soal masa lalu.


****


“Yang....”


Reiji berucap lembut, pada Malia yang nampak terlelap disampingnya.


Setelah beberapa jam mengemudi, akhirnya Reiji telah sampai membawa mobil yang ia kemudikan ke sebuah Villa yang berada di kawasan Puncak.


“Udah sampe Yang.....”


Reiji kembali berucap pada Malia, sambil ia menyentuh lembut garis rahang Malia.


“Sorry-“


Malia yang kemudian langsung terbangun itu, langsung meminta maaf pada Reiji yang ia tinggalkan tertidur sekitar setengah perjalanan.


Habis Malia benar-benar merasakan kantuk yang teramat sangat, selain badannya yang ia rasakan masih bak tanpa tulang karena ‘digarap’ habis-habisan oleh Reiji semalam, bahkan saat mandi pagi tadi.


“Sorry buat apa coba? ...”


Reiji pun menanggapi ucapan maaf Lia padanya.


“Ya sorry karena ketiduran, jadi ga nemenin kamu ngobrol selama perjalanan.”


Reiji tersenyum lebar.


“Makasih ya, udah mikirin aku?”

__ADS_1


“Nanti kalo aku mikirin orang lain kamu marah ...”


Malia asal menjawab sih sebenarnya, namun kemudian tersadar, jika ucapan yang ia maksudkan sebagai kelakar, salah penempatan-mengingat hal tentang orang lain itu adalah sesuatu yang sensitif dalam hubungannya dan Reiji saat ini.


“Sorry Rei, aku ---“


“Santai Yang. I’m fine kok.”


Reiji menyahut lembut, sambil ia mengacak pelan rambut Malia.


“Yuk turun? ---“ ajak Reiji.


Malia pun mengangguk seraya tersenyum.


“Hawanya bikin udin petot ya Yang? ..” ucap Reiji tanpa saringan, saat ia dan Malia telah keluar dari mobil yang telah Reiji parkirkan di area parkir dalam Villa tempat acara Family Gathering Reiji bekerja itu diadakan.


“Astagaa!!---“ Membuat Malia berdecak tak percaya mendengar ucapan Reiji yang tanpa saringan itu, yang Malia paham betul arti dua kata yang tersemat dalam ucapan Reiji barusan-yang bermakna vulgar. “Mulut bisa disaring dulu ga kalo ngomong?! ..”


Malia yang jadi gemas sekaligus sebal itu langsung saja meraup mulut Reiji yang barusan berucap vulgar menurut Malia itu. Membuat Reiji jadi tergelak karenanya.


Meski sebal karena Reiji suka asal nyeletuk itu, namun dalam hati Malia tersenyum melihat gurat bahagia Reiji saat ini.


‘Aku kok seneng ya, liat kamu ketawa begitu Rei?---‘ batin Malia.


“Kenapa? –“ Reiji bertanya pada Malia yang Reiji sadari sedang memperhatikannya, dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.


“Ga apa – apa,” jawab Malia.


“Ya udah yuk? –“ ajak Reiji pada Malia yang langsung mengangguk untuk menjawab ajakannya.


Reiji  pun langsung merengkuh posesif pinggang Malia dengan satu tangannya, sementara tangan satunya memegang tas yang berisikan pakaian gantinya dan Malia.


Seperti yang Reiji katakan dalam hatinya, jika ia akan menikmati saja momen kebersamaannya dengan Malia saat ini. Sambil Reiji akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat Malia bisa jatuh cinta padanya.


Siapa tahu akan ada keajaiban lain yang bisa Reiji dapatkan dalam momen satu harinya bersama Malia, walau bukan dalam rangka liburan kedua. Tapi paling tidak, ini dapat Reiji ambil sebagai langkah untuk mengeratkan hubungannya dengan Malia.


Dan mudah-mudahan saja juga, Malia tidak memikirkan Irsyad-meski hanya sebentar, selama mereka menghabiskan waktu di Villa milik owner Maskapai tempat Reiji bernaung untuk bekerja.


‘Ya semoga aja begitu.’


*


“Ini Villa, sumpah!----“ ucap Malia yang sudah berada di dalam kamar yang disediakan untuk Reiji dan dirinya – sebagai istri Reiji, dalam sebuah Villa tempat acara family gathering tempat Reiji bekerja diadakan, dengan ekspresi Malia yang nampak takjub. “Gila ya, beneran ada Villa segede ini disini dan oh my aku malah mikir ini resort ..”


“Kamu suka? ..”


Reiji berucap seraya ia bertanya pada Malia, sambil juga Reiji tersenyum geli melihat gerak – gerik Malia yang nampak amat sangat mengagumi sebuah Villa tempat mereka berdua berada sekarang.


“Ya ampun Rei, ga usah ditanya kali apa aku suka atau engga sama ini Villa yang bagusnya kelewatan begini!”


“Mau Villa kayak begini?”


“Ya ilah –“


Malia menyahut.


“Aku Cuma suka dan takjub ajalah.”


“Jadi ga minta beliin Villa kayak gini? ..”


“Ya enggalah .. matre aku masih dalam batas normal kali ..”


Reiji pun terkekeh kecil mendengar celotehan Malia.


“Lagian, ngebayangin berapa harga ini Villa terus pengeluaran buat perawatannya aja udah bikin aku merinding.”


Malia lanjut bicara dan Reiji pun tersenyum kecil. Kemudian mensejajarkan dirinya dengan Malia yang berdiri di balkon kamar mereka dalam Villa tersebut.


“Bagus deh ---“ tukas Reiji. “Kalo kamu minta juga ga bakal aku kasih ---“ sambung Reiji. “Soalnya gaji aku seumur hidup sebagai Pilot juga kayaknya ga bakal bisa cukup buat beli ini Villa plus biaya perawatannya – aduh!“


Reiji terdengar mengaduh disela ia berbicara.


“Terus tadi ngapain nanya aku suka apa engga sama ini Villa?! –“


Malia melirik dan berkata sebal pada Reiji yang sedang meringis sambil mengusap lengannya yang baru saja dikepret Malia.

__ADS_1


“Ya nanya aja, kan ----“ sahut Reiji.


“Pertanyaan kamu itu bikin ambigu.”


Malia menyambar, sambil ia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam kamar.


“Untung aja aku bukan tipe cewek yang gampang kegeeran! ---“ lanjut Malia. “Plus bukan cewe matre tingkat dewa .. kalo engga udah aku cecer kamu buat beliin aku Villa kek gini .. biarpun harus segala pake pesugihan.”


Sontak Reiji pun terkekeh geli sambil mengekori Malia untuk masuk juga ke dalam kamar.


“Well, aku bersyukur kalo kamu bukan tipe cewe matre tingkat dewa.”


“Tapi bicara soal kegeeran, aku justru pengen kamu jadi cewe yang seperti itu. Biar kalo aku gombalin, kamu bisa melted dan jadi gampang jatuh cinta sama aku.”


Malia sontak membalikkan tubuhnya dan membuat dirinya dan Reiji berhadapan. Reiji tersenyum penuh arti pada Malia.


“Supaya kamu juga bisa percaya sepenuhnya sama aku, Yang...”


“.....”


“Tanpa lagi membahas yang namanya masa lalu.”


“Rei,” tukas Malia.


“Hm? –“


“Inget ucapan aku semalem saat aku pikir kamu masih nyenyak tidur?”


Malia lanjut bicara seraya bertanya pada Reiji yang langsung mengangguk.


“Untuk membantu kamu agar dapat menerima aku seutuhnya serta mencintai aku?”


“Iya ...” Malia menganggukkan kepalanya, dan Reiji menampakkan seutas senyuman. “Dan untuk itu, aku sedang berusaha, untuk melupakan soal kamu yang pernah punya cinta pada Shirly dan membawa jejak masa lalu kamu itu ke dalam kehidupan kita yang baru. Serta aku yang ...”


Malia menggantungkan kata – katanya.


“Kalau begitu, kita tinggalkan itu cerita masa lalu-“ tukas Reiji yang tahu kemana arah kalimat yang Malia gantungkan. “Kita fokus pada masa sekarang dan masa depan kita-“


Reiji lalu lebih mendekat pada Malia, serta langsung melingkarkan tangannya di pinggang belakang Malia.


“Seperti kamu yang ingin aku bantu untuk dapat menerima aku seutuhnya serta mencintai aku sepenuhnya, aku juga mau minta bantuan sama kamu.”


Reiji hendak menyampaikan keinginannya pada Malia.


“Buka hati kamu lebar – lebar, agar segala hal yang aku lakukan buat bikin kamu percaya, buat bikin kamu yakin kalau aku memang udah bener – bener mencintai kamu, akan mudah masuk kesana dan kamu ga lagi punya keraguan sama aku, Yang ... bisa?”


“Itu yang sedang aku lakukan, Rei ... aku ingin kembali ke komitmen aku ke kamu, saat aku pernah bilang kalo aku akan berusaha jadi istri yang baik untuk kamu, saat resepsi kita itu ... dan tanpa kamu minta, itu yang sedang aku lakukan, Rei ---“


Malia menampakkan senyuman, sambil satu tangannya menyentuh rambut Reiji lalu menyelipkan jemarinya diantara lembaran – lembaran surai Reiji, kemudian turun perlahan dan menyentuh satu sisi pipi Reiji.


“Membuka hatiku lebar – lebar ...” sambung Malia. “Buat kamu-“


“Makasih ya, Yang? ...”


Terima kasih Reiji pun berlanjut kepada tempelan bibir Reiji ke bibir Malia.


“Eh iya Rei,”


Malia berucap kala Reiji telah mengurai ciuman mereka, dimana Reiji memang tidak ada niatan untuk membawa ciuman itu berlanjut dengan mendorong Malia ke atas ranjang.


Reiji menyahut dengan deheman, dengan masih melingkarkan tangannya di pinggang belakang Malia.


“Kata kamu, kamu udah bilang kalo kamu ga ikut ke ini acara ---“


Malia lanjut bicara.


“Tapi kok masih tetep dapet jatah kamar? Harusnya kan kamar jatah kita ini udah dikasih ke orang lain bukannya?”


“Um, itu---“


*


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan dukungan apresiasi pada karya ini yaa ...

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2