
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
“Termasuk kalau ada pesan masuk dan kamu mau baca, ya baca aja,” ucap Reiji pada Malia.
“Iy –“ sahutan Malia tak lengkap, karena ia langsung teralih, kala dering ponsel milik Malia berbunyi.
Dimana Malia langsung menjadi merasa tak nyaman lebih ke salah tingkah, saat ia melihat nama pemanggil di layar ponselnya tersebut.
‘Ish, kenapa lah Irsyad telfon pas banget ada Rei disamping gue?! ...’
Malia menggerutu dalam hatinya, karena dia tak bisa berkelit saat ponselnya berdering dan Malia refleks mengangkat ponselnya yang hendak ia masukkan ke saku celana jeansnya itu-untuk melihat siapa yang sedang berusaha menghubunginya lewat sambungan telepon di ponsel pintarnya itu.
Bagaimana bisa berkelit, karena Reiji memang pas sekali berdiri disisinya-yang satu tangan mereka saling bertautan tadi. Malia menggigit bibir bawahnya, sambil takut-takut melirik pada Reiji yang menampakkan seutas senyuman padanya.
“Terima aja kalau kamu emang mau terima telfonnya dia, Yang.” Ucap Reiji.
Satu tangan Reiji terulur ke puncak kepala Malia.
“Tapi kalau bisa tolong diloud speaker.” Kata Reiji.
“Engg.”
Malia menggumam kikuk serta canggung. Sungguh Malia berada dalam posisi yang ia rasa tidak bagus.
“Atau kalo boleh aku aja yang terima itu telfon dari si Irsyad dan bicara dengan dia?”
Reiji berucap, dan Malia langsung saja menatapnya.
Namun Malia tidak menatap Reiji dengan tajam, sinis atau dengan tatapan permusuhan.
“Aku mau terima telefonnya ga apa-apa kan? ... Jadi baik aku atau kamu tidak ada yang perlu bicara dengan dia ...”
“Aku ga serius soal aku yang mau terima telfon dari si Irsyad itu kok Yang.”
Reiji menampakkan seutas senyum.
“Jadi kalau kamu mau terima telfonnya ya silahkan aja...” ucap Reiji. “Tapi kalau bisa ya kamu bicara dengan dia walau ditelfon, tetep di depan aku ---“
Malia juga menampakkan seutas senyum pada Reiji, seperti halnya Reiji padanya.
“Rei,” kata Malia “Aku udah memutuskan untuk kembali ke komitmen aku disaat aku telah jadi istri kamu.”
Malia menanggapi ucapan Reiji yang mempersilahkan dirinya untuk menerima telfon dari Irsyad.
“Jadi baiknya aku lebih konsen ke kamu aja kan?... Toh aku kesini juga buat nemenin-dampingin kamu. So, lebih baik, jika Kak Irsyad menghubungi lagi, aku abaikan aja dulu ya?” pinta Malia dan Reiji pun mengangguk.
“Thanks ya.”
“Iya sama-sama ---“ sahut Malia. “Tapi mungkin aku akan men-chat Kak Irsyad nanti ---“ sambungnya. “Ada yang mau aku sampaikan ke dia. Boleh? ----“.
“Iya boleh.” Sambar Reiji.
Dengan Reiji tersenyum sambil mengacak sedikit rambut Malia, yang kemudian kembali ikut tersenyum juga seperti Reiji.
__ADS_1
****
Jika dibaratkan dengan taman bunga, wajah Reiji adalah taman bunga yang ditumbuhi oleh ragam bunga-bunga indah yang sedang bermekaran sejak Malia yang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa istri Reiji itu mau memulai lagi dari awal hubungan mereka untuk sebuah pernikahan yang berlandaskan rasa saling percaya, dengan adanya cinta-walau berawal dari sebuah perjodohan.
Terlalu dini untuk Reiji mengatakan pada dirinya sendiri, jika Malia telah jatuh cinta padanya karena keputusan yang dibuat oleh istrinya itu untuk kembali kepada komitmen yang ia janjikan pada Reiji saat hari pernikahan mereka.
Tapi untuk saat ini, Malia yang mau kembali pada komitmennya pada pernikahan mereka, sudah Reiji rasa cukup.
Dalam satu minggu setelah acara Reiji membawa Malia ikut dalam acara yang diadakan oleh tempat Reiji bekerja, selama itu Malia telah kembali menjadi bagaimana Malia pada Reiji ke masa saat setelah bulan madu, sebelum menjadi seseorang yang skeptis setelah mengetahui jika Reiji pernah mencintai sahabat perempuannya, lalu menganggap Reiji belum dapat move on dari perasaannya itu, hanya karena perkara foto dan goresan tangan.
Dan entah apa alasannya Malia tahu-tahu memutuskan untuk kembali kepada komitmennya saat pernikahan mereka itu, sampai masa satu minggu itu Reiji belum juga mengetahui alasannya. Hendak bertanya, namun Reiji punya beberapa pertimbangan. Ada sedikit kekhawatiran, jika pertanyaan mengenai alasan kenapa Malia-katakanlah berubah dengan meninggalkan-atau mungkin mengabaikan laki-laki dimasa lalunya itu, Reiji tanyakan.
Mood Malia yang menjadi pertimbangan Reiji, karena meskipun skeptisnya sudah tidak terlihat dalam masa satu minggu ini, namun Malia moody orangnya.
Reiji khawatir jika ia menanyakan hal tentang kenapa Malia memutuskan untuk kembali pada komitmennya untuk menjadi istri yang baik untuknya itu, malah akan memicu pemikiran skeptis Malia timbul lagi.
Dimana efeknya pasti akan merembet kemana-mana.
Jadi untuk sekarang ini, lebih baik Reiji nikmati saja keberuntungannya itu. Keberuntungan dimana Malia, telah kembali ke masa awal pernikahan mereka, saat kecanggungan telah menguar dan berinteraksi layaknya suami istri.
***
MALIA
Dimalam aku mendengar Reiji mengatakan jika ia hendak memberi pelajaran pada Irsyad, aku benar-benar tercenung.
Semua hal yang terjadi dalam hidupku berurutan aku ingat.
Dari aku yang jatuh cinta pada Irsyad, hingga perjodohanku dan Reiji yang pada akhirnya bermuara juga pada pernikahanku dan Reiji yang terlaksana dengan begitu lancarnya.
Jujur saja aku khawatir saat mendengar kalimat yang sarat akan sebuah ancaman keluar dari mulut Reiji, yang mana itu, aku tahu ditujukan untuk Irsyad.
Dan jujur, aku langsung berpikir untuk bersikap baik pada Reiji, demi agar suamiku itu tidak nekat ‘mengapa-apakan’ laki-laki yang aku cintai itu.
Meski yah, pada akhirnya ungkapan cinta dari Irsyad aku dengar dan membuat hatiku berbunga-bunga.
Dan yah, aku memang sudah cukup sering menghabiskan waktu dengan Irsyad-bahkan jauh lebih sering daripada aku menghabiskan waktu dengan suamiku yang tak punya banyak waktu luang itu.
Tapi setiap pertemuanku dengan Irsyad, tidak dilalui dengan sesuatu yang disebut dengan ‘gairah terlarang’.
Kami hanya saling bertemu untuk sekedar makan, yah kongkow, nonton.
Masih dalam batas kewajaran.
Menurutku.
Pun tak ada skinship antara aku dan Irsyad setiap kami bertemu. Well, hanya waktu itu saja sekali Irsyad pernah menggenggam tanganku, dan aku biarkan.
Selebihnya hingga terakhir kali aku bertemu dengan Irsyad, tak pernah ada lagi yang namanya skinship diantara kami, walau hanya sekedar berjabat tangan.
Selain jika ada ketidaksengajaan.
Jadi aku tidak perlu takut Reiji dengan kenekatannya yang berniat menghajar Irysad bukan?.
---
Namun begitu, meski aku sudah mensugesti diriku, untuk tidak perlu khawatir jika Reiji akan berbuat nekat pada Irsyad, tetap saja aku khawatir.
Hal itu yang mendominasi diriku untuk bersikap patuh lebih ke pasrah pada Reiji satu minggu yang lalu.
__ADS_1
Tadinya.
Aku pikir seperti itu.
Menjadi munafik didepan Reiji hanya agar dia tidak melukai laki-laki yang masih ada di hatiku meski aku sudah menikah dengan laki-laki lain.
Tapi kemudian, pikiranku berubah dengan sendirinya.
Potongan-potongan semua hal tentang Reiji dalam hidupku selama ini mulai bermunculan, satu per satu.
Dan saat potongan-potongan sekian banyaknya hal tentang Reiji selesai berputar di kepalaku, lalu potongan-potongan tentang Irsyad juga ikut mampir, sebersit perasaan tidak nyaman muncul dalam hatiku, dan itu mengarah pada Reiji.
Perasaan tidak nyaman, atas sikapku padanya sejak aku mencurigai Reiji hanya membuatku sebagai pelarian dari kasihnya yang tak sampai pada Shirly.
Lalu kehadiran Irsyad yang kembali dalam hidupku, memperparah perlakuanku pada Reiji.
Hingga aku sampai pada titik, digelung rasa bersalah yang cukup besar pada Reiji.
Aku mencoba untuk berhenti menjadi skeptis pada perasaan Reiji ke Shirly, dan hatiku terasa lebih tentram.
Aku sedang mengingat Irsyad, tapi gambaran wajah Reiji yang lalu lalang di pikiranku. Aku mencintai Irsyad, tapi aku sadar betul jika Reiji yang sedang berada dihadapanku.
Hatiku tak karuan melihat ekspresi Reiji yang tersenyum namun ada sorot terluka di matanya saat menatapku.
Dan entah kenapa, hal itu mempengaruhiku.
Aku tidak suka Reiji memandangku dengan cara seperti itu.
Aku lebih suka pandangan Reiji yang seperti biasanya, bahkan mungkin wajah tengilnya jika sedang menjurus pada kemesuman.
Dimana malam itu, seminggu yang lalu, aku rasanya merasakan rindu pada Reiji yang sedikit menggebu. Rindu yang membuatku mendamba Reiji berlaku mesra padaku.
Hingga undangan Reiji untuk melebur rasa yang disebut gairah itu, aku iyakan.
Yang aku pikir adalah sebuah pengorbanan, untuk melindungi Irsyad.
Tapi pada kenyataannya, wajah Irsyad tak sedikitpun melintas saat aku dan Reiji berhadapan pada malam di satu minggu yang lalu itu.
Saat Reiji perlahan menyentuhku, baik mulut dan hatiku pun berucap selaras menyebutkan satu nama.
Rei, Reiji.
Seiring wajahnya yang ingin sering aku lihat saat kami telah ‘menyatu’ pada malam seminggu yang lalu.
Wajah laki-laki yang akhirnya membuatku mencapai keputusan, aku akan mencoba lagi dari awal komitmenku menjadi seorang istri Reiji Shakeel.
Yang pada akhirnya membuatku mengirim pesan chat pada Irsyad,
‘Kak, sepertinya intensitas pertemuan kita perlu dibatasi mulai dari saat ini. Termasuk kewajaran berkomunikasi. Dan aku rasa, Kak Irsyad paham maksudku. Kita tetap berteman seperti dulu, namun rasanya panggilan telefon lebih harus mempertimbangkan waktu, pun intensitas bertemu. Silaturahmi kita tidak akan aku hilangkan, namun ada hati yang harus aku jaga.’
Iya, ada hati yang harus aku jaga, hati yang selama ini aku abaikan, bahkan sempat aku lupakan.
Hati suamiku.
Reiji Shakeel.
Jadi, apakah riak cinta untuk Reiji sudah mulai ada di hatiku?.....
****
__ADS_1
Bersambung..
Salam enjoy