
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
MALIA
Aku membulatkan tekad untuk keluar dari apartemen dan membebaskan diri dari Rei untuk beberapa waktu.
Ingin menyenangkan hatiku yang sedang amat kesal pada Rei ini, sekaligus aku ingin membeli ponsel baru.
Namun kali ini aku akan lebih berhati-hati untuk pergi keluar, selain aku didera was-was---bukan was-was takut Rei marah karena aku keluar apartemen tanpa ijin padanya terlebih dahulu.
Melainkan was-was pada orang diluaran yang tidak aku kenal, atau baru aku lihat. Sementara kalau soal Rei sih, aku tidak peduli apakah nanti setelah dia membaca note yang aku tinggalkan untuknya dan mengatakan kalau aku pergi ke kantorku---karena memang itu tujuanku, Rei akan marah padaku.
Silahkan saja kalau dia mau marah atau tersinggung, karena kali ini aku tidak mau peduli. Toh dia juga sudah sering melakukan hal-hal secara diam-diam dibelakangku bukan?
Biar Rei tahu sedikit rasanya bagaimana jika aku melakukan segala sesuatu tanpa memberitahunya terlebih dahulu, bahkan tidak meminta ijinnya.
Bagus aku masih meninggalkan pesan pada selembar kertas kepadanya dan mengatakan kemana aku pergi, tidak sepertinya yang baru mau menjelaskan padaku setelah aku tahu kebohongannya perihal si bibit pelakor sialan itu.
Aku cari berondong dan aku biayain itu hidup berondong pakai duitnya, tau rasa itu si Rei!
Tapi sayang aku tidak segila itu.
Dan lagi buat apa cari berondong?
Wajahku saja masih cocok untuk menjadi sugar baby.
Aigoo!
Aku jadi melantur kemana-mana.
Fuuuh.
--
Singkat kata, aku pergi ke kantorku---dan atas rasa was-wasku, aku meminta satu mobil yang memang tersedia di komplek apartemenku untuk disewakan jika ada penghuni yang membutuhkan kendaraan mendadak atas suatu kondisi. Karena setidaknya, aku merasa dapat meminimalisir ancaman jika menggunakan kendaraan dari apartemen.
Soalnya kan, aku mengikuti prosedur. Dan prosedur itu melibatkan beberapa orang di komplek apartemen yang harus mempertanggung jawabkan segala hal jika ada sesuatu hal yang tidak diinginkan pada penghuni apartemen yang menggunakan kendaraan tersebut.
Kesimpulannya, akan lebih mudah mencari informasi tentangku, apabila aku tahu-tahu menghilang karena diculik seseorang---tapi coy, coy.
Jangan sampai hal itu terulang lagi padaku. Cukup satu kali itu saja, aku mendapatkan pengalaman buruk seperti itu dalam hidupku.
--
Tak ada yang tahu dengan apa yang menimpa diriku hingga tidak masuk kantor selama kurang lebih tiga hari.
Hanya mereka mengatakan---bertanya lebih tepatnya, apakah aku sudah merasa baikan setelah sakit dan beristirahat di rumah. Heran sih, karena seingatku aku tidak mengatakan jika aku sakit pada mereka?
Namun aku ingat Rei mengatakan jika dia sempat menghubungi Pak Andra, lalu cerita yang sebenarnya tentang apa yang menimpa diriku.
Jadi mungkin Pak Andra yang menciptakan alibi pada rekan satu divisiku tentang aku yang tidak masuk selama tiga hari kemarin.
Tapi nyatanya tidak.
Teman paling dekatku dalam divisi kerjaku mengatakan dia sempat menghubungiku namun tidak pernah aku jawab.
Lalu dia mengirimkan pesan chat dan mendapat jawaban dari nomor kontakku, dan aku yakin jika saat rekan terdekatku di kantor ini mengirim pesan chat tersebut, ponselku sedang berada di tangan Irsyad.
Tapi untungnya, tidak ada pesan chat lain yang Irsyad kirim ke rekan terdekatku itu, ataupun foto-foto aneh seperti---mungkin saat aku tidak sadarkan diri Irsyad mengambil fotoku untuk disalahgunakan?---Fuuhhhh.
**
“Eh iya, Nda. Waktu abis lo wa gue itu, lo ada liat gue majang status ga?”
Malia yang sudah duduk di kursi kerjanya dan sudah menyalakan komputernya itu, kemudian bertanya pada rekan kerja terdekat dirinya, yang kubikelnya tepat berada di samping kubikel Malia.
“Ga ada,” jawab rekan kerja terdekat Malia tersebut.
“Ya udah.” Malia merasa lebih lega lagi.
**
“Eh, tapi ngomong-ngomong, kok lo nanya soal lo yang pasang stats di wa?—“
“Gue lagi di luar pas bales chat lo, ga lama gue baru sadar kalo hp gue ilang.”
Malia berdusta---terpaksa, setelah ia menangkap keheranan dari rekan kerja terdekatnya tersebut.
“Ya ampuunn????.... Kok bisa sih????—“
“Meneketehe? Namanya kecopetan—“
“Terus udah beli hp baru?—“
“Belom. Hari ini rencananya.”
“Nah dua hari lo di rumah emang ga sempet gitu jalan beli hp sama laki lo yang ulala itu?....”
__ADS_1
‘Iih kenapa si Nanda pake nyebut Rei sih?!....’ Malia sontak membatin kesal dalam hatinya, karena perkataan rekan kerja terdekatnya itu menyebut Reiji.
Bukan Malia kesal pada rekan kerjanya itu, melainkan kesal lagi ingat Reiji dan kelakuannya terkait Shirly. Malia pun menghela nafasnya dengan sedikit berat kemudian.
“Eh iya, kan lo sakit ya?” rekan kerja Malia yang bernama Nanda itu keburu menjawab pertanyaannya sendiri, saat Malia sedang memikirkan alasan kenapa dia baru bergerak untuk membeli ponsel baru sekarang, setelah sebelumnya ia menggerutu dalam hati karena ingat Reiji dan kelakuannya terkait Shirly.
“Nah tuh tau,” sahut Malia.
“Eh tapi kebetulan kalo lo mau beli hp nanti pas jam maksi. Pak Andra bakal ga ada di kantor hari ini sama besok karena dia ada temu bisnis di Sin.”
“Serius lo? Cus lah kalo gitu nanti pas maksi,” sahut Malia lagi. “Temenin gue ya?”
“Siiip....”
**
“Ya?....”
Malia kini berbicara di interkom yang tersedia di meja kerjanya.
“Mba Lia, Pak Andra on the line—“
“Oke, cantik.”
“Halo, Lia?....” Suara atasan Malia tak lama terdengar dari ujung interkom.
“Ya, Pak?” jawab Malia.
Dimana setelahnya, atasan Malia itu sedikit merepet dari menanyakan kondisi Malia, sampai sedikit mengomel karena Malia yang ia berikan cuti tak terbatas setelah mendengar apa yang sudah menimpa istri teman lamanya itu, malah masuk kantor juga.
‘Ada bos begini? Karyawannya rajin malah diomelin.’ Malia membatin geli dalam hatinya. ‘Eh sekalian aja gue minta ijin sama dia buat pergi dan balik agak telat nanti pas jam maksi?....’
Yang mana rencana Malia itu kemudian ia suarakan kepada atasannya tersebut, yang langsung memberikannya ijin.
Lalu Malia tersenyum dan berterima kasih dengan santun, karena atasannya itu mengagaskan ide agar Malia mengajak salah satu rekan kerjanya untuk menemani sebelum Malia menyuarakan jika ia memang ingin memintakan ijin untuk rekan dekatnya menemani Malia yang tidak hanya ingin membeli ponsel baru, namun juga mengurus beberapa hal terkait apa-apa yang termasuk di dalam ponsel lamanya.
Bahkan wownya bagi Malia, dia disuruh hengkang dari kantor sekarang juga tanpa perlu menunggu jam makan siang untuk mengurus apa yang ingin Malia urus.
Yang mana hal itu tentu saja tidak mau Malia sia-siakan.
Dimana tak lama setelah atasannya memutuskan sambungan telepon dengannya dengan melalui interkom, Malia langsung bersiap pergi dari kantornya dan mengajak serta rekan kerjanya untuk menemani dirinya mengurus beberapa hal penting yang terkait ponselnya.
**
Sementara Malia berada di kantornya, Reiji masih berada di apartemen mereka. Sedang dilanda kegalauan, setelah mendapat pesan chat dari Malia yang meminta dirinya untuk tidak datang dan menjemput Malia di kantornya. Lalu mendapat juga kiriman uang dari Malia yang diyakini Reiji adalah uang yang selama ini ia berikan untuk Malia.
Gumaman frustasi Reiji yang telah mengecek m-bankingnya, tak lama setelah ia mendapat pesan chat dari Malia perihal uang dalam jumlah yang cukup besar dari Malia yang ditransfer ke rekeningnya itu.
**
Reiji yang habis menggumam frustasi sambil meremat sendiri rambutnya itu, kemudian terdiam dan termenung setelahnya.
Sedang merenungkan apa yang harus dia lakukan sekarang, agar hubungannya dan Malia bisa membaik. Namun sedikit banyak, Reiji juga dilanda kebingungan untuk bagaimana menenangkan Malia yang Reiji yakini sedang sangat marah padanya itu.
‘Lo harus tenang, supaya otak lo bisa nemu solusi cara buat baikin Lia, Reiji Shakeel!’ bisik hati Reiji, ditengah kegalauan dan kebingungannya itu, yang mana kemudian Reiji coba menenangkan dirinya yang tengah gusar itu sambil memikirkan solusi untuk hubungannya dan Malia karena suatu kesalahan yang dia buat terkait Shirly.
Lalu setelah sejenak berpikir, Reiji memutuskan untuk tetap akan menyambangi Malia ke kantornya. Dan kemudian Reiji bangkit dari duduknya untuk bersiap. Namun gerak Reiji untuk bersiap terjeda, karena interkom dalam apartemennya dan Malia itu berbunyi.
‘Lia?’
Reiji langsung berucap dalam hatinya, ketika interkom apartemennya itu berbunyi.
Yang mana Reiji mengira mungkin saja Malia menghubunginya ke nomor telepon apartemen, lalu meminta resepsionis untuk menyambungkan ke unitnya dan Malia tinggal.
Tanpa Reiji ngeh jika nomor ponsel Malia sudah aktif. Padahal belum lama dia menerima pesan chat dari Malia.
Namun harap maklum, karena kepala Reiji sedang cenat-cenut, dan otaknya sedikit kusut, makanya Reiji berpikir jika Malia yang seingatnya tidak sedang memiliki ponsel itu menghubunginya via nomor telepon gedung apartemen.
Reiji yang mengira jika interkomnya yang berbunyi adalah sambungan telepon dari Malia melalui resepsionis apartemen, langsung bergegas untuk menjawabnya.
“Ya?”
***
“Pak Reiji Shakeel?"
Suara seorang wanita yang Reiji yakini adalah resepsionis apartemennya itu terdengar setelah Reiji menerima panggilan yang masuk ke interkom pada unit apartemennya dan Malia.
"Iya," jawab Reiji dengan cepat. ‘Tapi bukan suaranya si Tari ini?..’
"Ini Pak, Ada seorang wanita yang cari Bapak.”
‘Iya bukan Tari. Lagian si Tari udah biasa sapa gue pake Pak Reiji doang.’
Reiji membatin masih membatin saat perempuan yang adalah memang resepsionis apartemen bicara lagi dari seberang interkom.
“Wanita?” Namun meski sempat membatin, Reiji tetap memperhatikan ucapan resepsionis tersebut. “Siapa? Apa dia ada sebut nama?” tanya Reiji lagi.
***
__ADS_1
***
“Perasaan centang di chat yang aku kirim ke kamu tertanda udah terbaca deh?”
Ini Malia yang berkata. Disaat jam kantornya telah selesai, dan dirinya telah mencapai lobi gedung perkantoran bersama beberapa rekan kerjanya---Malia melihat keberadaan Reiji yang sedang menatap ke arahnya.
Dimana memang, dari sejak arlojinya menunjukkan jika sudah sampai ke batas jam kerjanya Malia, Reiji langsung memperhatikan satu per satu orang yang seliweran di lobi utama gedung perkantoran tersebut.
Reiji sudah saling berhadapan dengan Malia, ketika Malia memisahkan diri dari rekan-rekannya, dan langsung menghampiri dirinya dengan wajah malas. Lalu langsung menegur Reiji dengan cibiran, yang Reiji tanggapi dengan santai kemudian.
“Iya, emang udah aku baca..“ jawab Reiji sambil menyertakan senyum kecil. Yang sayangnya senyuman itu tidak ampuh untuk menghilangkan ekspresi malas Malia padanya, bahkan ketus berkata.
“Terus ngapain tetap dateng ke sini?—“
“Tanggung jawab aku sebagai suami untuk memastikan keselamatan istri aku.“
Reiji mengatakan yang sejujurnya. Namun kejujuran Reiji, dipandang remeh oleh Malia.
“Tanggung jawab..”
Malia menggumam, seraya tersenyum miring.
“Berapa persen rasa tanggung jawab kamu ke aku sih? Udah kebagi kan soalnya ke Ma-Mi Shirly dan anaknya?..“
Lalu cibiran melingkupi sindiran keluar dari mulut Malia.
Dimana Reiji langsung menghela nafasnya dengan berat.
“Kamu mau kita berdebat di sini?“ ucap Reiji kemudian.
Sambil Reiji menatap sedikit tak percaya pada Malia yang seolah sengaja menyulut pertengkaran di tempat umum.
Meski tidak terbawa emosi, namun Reiji sedikit tidak setuju dengan sikap Malia sekarang ini.
“Kenapa engga?”
Malia dengan cepat menanggapi ucapan Reiji dengan tatapan yang seolah menantang, walau tanpa membelakakkan matanya.
Membuat Reiji menghela nafas sedikit beratnya sekali lagi. Ingin menanggapi ucapan Malia yang seolah menantangnya itu, namun Malia sudah keburu mendahuluinya.
“Mumpung aku ada waktu. Dari sini aku mau pulang ke rumah mama papa soalnya. Sen-di-ri.”
***
“Ada Avi di apartemen. Tadi siang dateng. Dan sekarang lagi nunggu kamu di sana. Ini, telfon aja kalau kamu ga percaya.”
Reiji yang sempat terkejut ketika Malia mengatakan jika istrinya itu ingin pulang ke rumah orang tuanya, kemudian langsung menguasai dirinya.
Lalu langsung saja memberitahukan apa yang barusan ia katakan pada Malia. Bahwasanya memang adik perempuannya itu datang tadi siang ke apartemennya dan Malia, dan masih berada di sana saat Reiji ingin pergi ke kantor Malia.
Selain Reiji enggan berdebat lebih panjang dengan Malia di tempat umum---karena jika Malia ngotot ingin pulang ke rumah orang tuanya, Reiji pun akan sama ngotot untuk menyertai Malia. Dimana Reiji yakin, jika dirinya dan Malia akan terlibat cekcok kekeraskepalaan versus bujukan.
“Makasih, tapi aku udah punya ponsel baru.”
Balasan Malia pada Reiji yang menyodorkan ponselnya.
“Ya udah. Kamu bisa hubungi Avi dan tanya sendiri bener ga yang aku bilang tadi.”
***
“Kamu kapan beli hp barunya?” tanya Reiji pada Malia yang akhirnya mau tidak mau ikut pulang ke apartemennya bersama Reiji, karena dia sudah memastikan sendiri jika sahabat yang merangkap adik iparnya itu memang sedang menunggunya di apartemennya dan Reiji.
“Ga usah khawatir aku ga pake uang kamu..” namun jawaban Malia tidak nyambung dengan apa yang Reiji tanyakan, membuat Reiji lagi–lagi menghela nafasnya dengan berat. Sebal sih mendengar jawaban Malia yang ga nyambung itu, ditambah Malia juga menjawab tanpa menoleh ke arahnya.
Namun hati Reiji berbisik, jika baiknya hal itu tidak perlu ia bahas.
Jadi Reiji tidak memberikan komentar apa-apa atas jawaban tidak nyambungnya Malia itu.
“Dokter Dewi hubungi aku tadi. Dan katanya sempet hubungi kamu sebelumnya, tapi ponsel kamu ga aktif menurut dia.”
***
***
“Sabtu nanti kita kan ada janji sama dia, tapi aku bilang aku diskusiin dulu sama kamu, soalnya—“
“Udah aku batalin.”
“Terus udah kamu jadwalin hari gantinya jadwal konsultasi promil kamu dengan Dokter Dewi?”
“Ga.”
“Ya udah nanti kita diskusikan lagi soal jadwal ketemu Dokter Dewi buat konsul ya?”
“Ga perlu karna aku udah batalin promil aku—“
****
Bersambung....
__ADS_1