
Selamat membaca...
Semoga bahagia selalu...
***
REIJI
“Tapi sebelumnya aku mau nanya, dan aku mau kamu jawab sejujur-jujurnya-“
Aku berujar, saat aku membawa Lia duduk di atas sofa landai dalam kamar kami.
“Aku ga akan marah, ataupun tersinggung, jika jawaban kamu mungkin tidak memuaskan aku..”
Lia mengangguk. “Kamu mau tanya apa?..”
“Perasaan cinta kamu, ke laki-laki itu, apa masih ada?..”
Aku memperhatikan wajah Lia dengan seksama, saat aku melontarkan pertanyaan itu.
Aku benar-benar ingin mencari kebenarannya sekarang, tentang apakah Lia masih memiliki rasa cinta pada laki-laki yang kusebut sebagai bibit pebinor itu?
“Cinta-“
Aku menggigit bibir dalamku setelah mendengar jawaban Lia barusan itu.
Ada kecewa yang menyusup ke dalam hatiku ketika mendengar jika Lia masih memiliki cinta pada si bibit pebinor itu.
Namun aku tetap menunjukkan senyuman pada Lia.
Senyuman getir sih.
Tapi kemudian ...
“Cinta yang aku punya sekarang udah aku pastikan cuma milik kamu seorang, Rei ...”
Lia berucap sambil menangkup wajahku. Menatap teduh dan tersenyum lembut padaku.
Dimana hal itu, bak air sejuk yang menyirami hatiku.
“Aku udah pastikan itu.”
Cup.
Lia mengecup bibirku kemudian.
“I love you Rei, just you ...” kata Lia setelahnya.
Dan hatiku? ...
Rasa bak taman bunga yang isinya sedang merekah semua.
Dasar bulol!.
Diperlakukan sweet macam begini sama Lia, aku dah macam ABG yang baru jadian sama cewek inceran yang jadi idaman.
---
“Love you more, Yang----“ aku membalas kalimat cinta Lia, dan gantian aku yang mengecup bibirnya. Bukan kecupan sih, karena aku tidak segera melepaskan salah satu canduku pada tubuh Lia itu.
Dan tanganku sudah meraih pinggang Lia untuk lebih rapat padaku, hendak memangkunya.
Minum susu langsung dari pabriknya setelahnya. Hehehehehe ...
“Rei ...”
Tapi kemudian Lia melepaskan pagutan kami.
Duh Neng Lia, Abang aus ini ...
“Ranjang?”
Iseng aja sih, mudahan aja Lia ambil serius. Nerusin yang tadi kepotong sama Adzan Maghrib.
“Ish otaknya kesitu terus!----“
Lah emang apaan lagi di otak laki yang melintas kalo ga soal maen kuda-kudaan di atas ranjang kalo udah begini situasinya coba? ...
“Ya orang lagi pengen, gimana?. Tiga hari ga ketemu, ya otak aku ke situ lah ...”
Aku menjawab santai, dan Lia mendengus geli. “Dasar!” katanya kemudian.
“Yuk?” godaku.
Aku memegang pergelangan tangan Lia, sambil tersenyum konyol.
Lia pun terkekeh.
“Masih sore udah yuk yak yuk aja.”
Gantian aku yang terkekeh setelah mendengar balasan Lia.
“Justru karena masih jam segini, bisa dapet banyak ronde kita.”
__ADS_1
Aku menggoda Lia lagi yang kemudian mencebik.
“Dih doyan!”
“Enak gitu, laki-laki mana yang ga doyan? ...”
Akupun menyahut enteng.
“Ya ampun mesum banget suamiku, Tuhan----“
Aku tersenyum geli mendengar celotehan Lia barusan, namun hatiku juga menghangat.
Suamiku ...
Lia menyebutku.
Entah sadar atau tidak, tapi aku senang sekali. Bahkan jika Lia tidak sadar mengucapkan itu pun aku tetap senang.
Karena alam bawah sadarnya sudah mengakuiku sebagai suaminya, yang aku yakini atas cinta Lia yang memang sudah ada untukku, hanya milikku.
“Nanti aja ya Rei? ...”
Lia berucap manja kala aku menariknya dan membuat Lia berada di pangkuanku sekarang.
“Aku laper ...” imbuhnya, seraya setengah merengek dengan ekspresi wajah Lia yang membuatku gemas untuk kucabik-cabik pakaiannya tanpa sisa.
“Laper beneran?----“ tanyaku iseng.
“Iya.”
“Ya udah mau makan dimana?” tanyaku.
“Mana aja deh----“ jawab Lia. “Delivery juga boleh, atau kalo engga aku olah aja yang ada di kulkas? ...”
Aku menggeleng. “Kita makan diluar aja ...” ucapku kemudian.
Menyanggah keinginan Lia untuk delivery makanan yang pasti akan lama milihnya.
Dan menyanggah keinginan Lia untuk memasak, meskipun kalau bukan weekend, yang Lia olah pasti makanan frozen.
Yang tinggal goreng atau steam.
“Ga cape emang kamu Rei, kalo harus nyetir lagi buat pergi makan? ...” kata Lia.
Aku menggeleng lagi dengan kedua tanganku yang melingkar di pinggang Lia.
“Aku sih Cuma pengen makan kwetiau di kios bawah, tapi kalo emang kamu lagi pengen makanan yang lain atau pergi ke tempat lain yang out dari gedung ini, ya hayo aja. Masih sanggup kalo nyetir mobil mah. Abis itu langsung ‘nyetirin’ kamu juga masih sanggup sampe lebih dari dua puteran ---“ selorohku.
“Mulai ...” tukas Lia dan aku terkekeh sambil memencet gemas hidungnya.
“Ya udah itu yang tadi kamu bilang, makan kwetiau di kios bawah. Aku pengen pangsit gorengnya ---“
“Ya udah ...”
“Cus ah ...” Lia hendak bangkit dari pangkuanku tapi aku menahannya.
Lalu Lia merengek manja.
“Ayo, nanti keabisan.”
Aku mengangguk saja, tapi belum membebaskan Lia.
“Aku mau nyampein sesuatu bentar ...” ucapku dan Lia kembali anteng.
“Apa?” tanya Lia.
“Dari waktu ini, kita mulai semua dari awal ya? ---“ pintaku.
Lia pun mengangguk, kemudian tersenyum dengan begitu manis. “Iya ...” sahut Lia kemudian, sambil mengusap lembut kepalaku dan menelusupkan jemarinya di sela rambutku.
Lalu menurunkan jemarinya untuk mengusap lembut wajah hingga ke garis rahangku, dan setelahnya ia mengecup dalam keningku.
“Kalo gitu aku akan mulai dengan kita yang menikah bukan karena dijodohin, tapi memang saling mencintai ... Gimana? ...” ucap Lia kemudian.
Oh Lia, andai kamu tau betapa bahagianya aku denger kamu ngomong begitu.
“Yah, anggep aja kita emang udah kenal lama-which is memang itu kenyataan kalo kita udah kenal lama, lama banget bahkan, ya kan? ---“
Lia memandangku meminta persetujuan dan aku pun mengangguk.
“Iya ---“
Lalu Lia tersenyum lagi dengan manisnya.
“Ya karena kita yang kenal lama itu, terus kita saling jatuh hati, menjalin hubungan, lalu menikah ---“
Lia melingkarkan tangannya di leherku.
“Gitu ya, story kita mulai sekarang? ...”
Yang tentu saja aku angguki dengan antusias ide Lia itu.
“Jadi ga usah diungkit lagi tentang kita yang nikah karena dijodohin ---“
__ADS_1
“Makasih ... Yang ...”
Aku tidak sanggup berkata lain, saking aku bahagia, kata-kata itu tercetus dari mulut Lia.
“Sama-sama Rei ...” sahut Lia.
Dan setelahnya kami saling tatap dan melempar senyuman.
Ah andai Lia tidak bilang kalau dia sedang lapar, sudah aku angkat ke atas kaosnya.
---
Ting!
Pintu lift terbuka di lorong dekat lobi lantai bawah gedung apartemen yang aku dan Lia tinggali.
Aku dan Lia hendak pergi ke salah satu merchant gerai makanan yang tersedia di area gedung apartemen kami tersebut.
“Jadi mau makan pangsit goreng?” tanyaku pada Lia, pada saat kami sudah keluar dari lift lalu berjalan bergandengan ke arah luar lobi.
Lia mengangguk.
“Ga mau makan itu mi potong korea?”
Aku kemudian menunjuk sebuah gerai makanan khas Negerinya para K – Pop Idol itu.
Yang setahuku, Lia menyukai makanan Korea dan Jepang. Tapi Lia menjawabku dengan gelengan.
“Bukannya kamu suka makanan begitu?”
Lalu Lia manggut – manggut.
“Suka, tapi ga bisa beli disitu lagi.”
“Kenapa gitu?” aku sontak bertanya.
“Mereka jual makanan olahan si bebi,” kata Lia sambil mengerucutkan bibirnya.
“Masa?”
Aku bertanya lagi, karena paham si bebi yang dimaksud oleh Lia.
Lia manggut – manggut. “Pantes enak banget.”
Aku mendengus geli.
Kemudian aku dan Lia langsung pergi ke meja pemesanan saat sudah mencapai kedai makanan chinese yang memiliki logo halal di depan restonya.
❇❇❇
‘Eh??’
Malia sontak mengernyit sambil memandang ke arah luar kedai makan tempatnya dan Reiji berada sekarang, kala ia telah memberitahukan pada Reiji apa yang ia inginkan untuk dipesan, lalu Reiji mewakilkan untuk memesan makanan yang mereka berdua inginkan.
“Kamu ada tambahan lain ga Yang?” tanya Reiji pada Malia saat ia telah selesai menyebutkan pesanannya dan Lia pada seorang pegawai kedai. “Yang?” panggil Reiji sambil menyentuh lengan Malia yang nampak bengong itu.
“Heu?..” Malia yang terkesiap itu menoleh pada Reiji dengan pandangan tanda tanya.
“Bengong kenapa?..” tanya Reiji.
“Ga apa – apa kok –“
Malia menjawab dengan mengulas senyuman pada Reiji.
“Kamu tanya apa tadi?” sambung Malia dengan bertanya pada Reiji.
“Kamu ada tambahan lain ga?” jawab Reiji.
“Oh –“ sahut Malia. “Itu aja dulu Rei ....”
Rei mengangguk pada Malia.
“Itu aja dulu Mas,”
Kemudian Reiji beralih ke pegawai kedai dan melakukan pembayaran untuk pesanannya dan Malia.
Sementara itu Malia kembali mengalihkan pandangannya ke arah yang tadi membuatnya sedikit bertanya – tanya.
‘Eh udah ga ada? ..’ ucap Malia dalam hatinya.
Malia melirik pada Reiji yang sedang melakukan pembayaran, kemudian ia menatap lagi ke arah yang tadi dia tatap dari balik kaca transparan gerai makanan tempatnya dan Reiji berada saat ini.
‘Perasaan gue aja apa?’ Malia bertanya – tanya dalam hatinya. ‘Karena tadi gue liat mobilnya kayak dia seolah nungguin gue pulang kantor, jadi gue agak – agak paranoid gini? ....’ Malia masih bertanya – tanya dalam hatinya.
Namun kemudian lamunannya teralih, karena suara Reiji sekaligus rangkulan kecil Reiji di pinggangnya untuk mengajak Malia duduk. Malia pun merespon dengan anggukan dan senyuman pada Reiji sambil mengikuti langkah Reiji yang membawanya untuk duduk di satu sudut gerai makanan tempat mereka berada tersebut.
Disaat Malia berjalan santai bersama Reiji untuk duduk, Malia sejenak kembali pada pikirannya atas apa yang tadi ia lihat.
‘Tapi gue kok yakin kalo itu beneran mobilnya Irsyad ya?...’
*****
Bersambung ...
__ADS_1
Mohon maaf jika masih ada typo betebaran.
Terima kasih masih setia ...