WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 59


__ADS_3

Selamat membaca....


***


REIJI


Shirly.


Sahabat lamaku selain Abbas dan beberapa orang teman akrabku yang lain. Hanya memang, pada Shirly aku lebih dekat dan cukup lebih perhatian padanya.


Karena Shirly satu-satunya perempuan dalam tongkrongan ku dari sejak kuliah bersama Abbas, dan dua teman lelakiku yang lain.


Kami masih solid, yah, setidaknya masih saling menyapa di grup chat dalam sebuah aplikasi. Hanya sudah jarang berkumpul saja.


Lumayan jarang sih. Udah lama ga ngumpul malah. Setahun kira-kira. Apa dua tahun ya?.


Ah entahlah. Lupa.


Tapi satu yang jelas, kalo ponselku yang tadi berdering dan bergetar, adalah panggilan dari Shirly.


Yang pada akhirnya membuatku urung untuk menggoda Malia yang sudah masuk ke kamar mandi.


Udah lama juga sih ga ngobrol sama Shirly.


Waktu ketemu di bandara ga sempet ngobrol banyak dan ga ketemu lagi sampe hari pernikahanku dan Malia, dimana Shirly datang ke resepsi pernikahanku dan Malia bersama Abbas dan anak-anak yang lain.


Belum sempat mengobrol banyak juga di telpon, karena kadang Shirly menghubungiku disaat aku sedang bertugas atau saat ponsel sedang aku abaikan kala aku sedang fokus pada Malia. Jadi sejauh ini kami hanya kadang berbalas pesan saja, yang tak sering juga. Shirly mungkin memahami profesiku sekarang.


Well, aku mengobrol santai dengan Shirly pada akhirnya.


Memang Shirly jago kalo bikin aku betah ngobrol berlama-lama dengannya.


Yah, karena memang Shirly itu gampang akrab sama orang pembawaannya. Sedikit ekstrovert.


Shirly berencana pindah ke Jakarta setelah ia tinggal di Australia selama beberapa waktu ini. Tapi sebelumnya, dia ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dulu di Jakarta baru mantap pindah ke kota Metropolitan ini.


Dan aku berjanji akan membantunya untuk mencari informasi dan sebagainya. Setelahnya, aku dan Shirly mengobrol santai ngalor ngidul, sedikit bernostalgia.


Membuat ide berkumpul buat nongkrong bareng lagi dengan tiga orang teman akrab kami yang lain terpikir di otakku dan aku cetuskan itu pada Shirly.


Aku selalu betah dan senang mengobrol dengan Shirly, bahkan kadang sampai kuping dan ponselku panas.


Tapi itu dulu.


Sebelum Malia mengambil alih duniaku.


Bukan sekarang aku enggan mengobrol dengan Shirly.


Hanya saja, setelah aku merasa jatuh cinta pada Malia, dia akan selalu bisa menyita perhatianku. Terlebih setelah kami menikah, dan sudah sama-sama melakukan hak dan kewajiban kami sebagai suami dan istri.


Meski Malia belum mencintaiku, tapi aku tak bisa menyangkal bagaimana istriku yang sedikit perasa itu sudah bulat dapat membuat duniaku teralih padanya.


Dan bagaimana Malia sudah mengalihkan duniaku, adalah saat aku mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Dimana aku ingin memutuskan sambungan teleponku dengan Shirly setelah aku ketahui Malia sudah selesai mandi.


Shirly mengiyakan saat aku mohon ijin untuk mengakhiri sambungan telepon kami. Tapi yah tidak langsung terputus begitu saja, karena ada sedikit senda gurau yang terlontar sebelum sambungan telepon aku putuskan.


Tapi pada akhirnya benar-benar aku ingin akhiri sambungan teleponku dengan Shirly saat ini, kala aku menoleh dan mendapati makhluk cantik nan bohay berjalan masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


Semakin duniaku teralih pada makhluk cantik dan seksi bergelar istriku itu. Malia, kekasih halalku. “Oke deh Ly, gue tutup sekarang ya? Bye.” Lalu aku menekan simbol berwarna merah di layar ponselku.


****


Malia langsung saja masuk ke kamarnya dan Reiji, setelah ia keluar dari kamar mandi, dan setelah sebelumnya memperhatikan Reiji yang sedang berbicara di ponselnya saat ia keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya.


Tanpa Malia sadari, jika ada sepasang mata yang berbinar sedang melihat dan memperhatikannya saat ia masuk ke kamar.


Tujuan Malia tak lain dan tak bukan adalah walk in closet kecil yang ada dalam kamarnya dan Reiji. Dan segera berpakaian.


Waktu belum terlalu malam, jadi Malia berpikir untuk beberes ke kamar sebelah yang akan dijadikan ruang ini itu, selain untuk ruang bacanya Reiji.


Karena memang ruangan yang berupa kamar tersebut masih belum sempat ditata oleh Malia dan Reiji dengan serius.


Bahkan barang-barang printilan Reiji rasanya lebih banyak daripada milik Malia, dan Malia jengah melihat sesuatu yang berantakan.


Niat hati ingin berganti pakaian, namun oh namun, sepertinya akan tertunda kala Malia merasakan ada tangan yang melengkapi pinggangnya.


Pinggang yang masih terbalut dengan handuk itu telah direngkuh dengan posesif bersamaan dengan hembusan nafas yang Malia rasakan di lehernya.


Rengkuhan yang membuat Malia sempat terkejut dan hembusan nafas lembut namun meresahkan itu, sudah Malia terka milik siapa. Siapa lagi kalau bukan Si Bapak Pilot Yang Gampang Turn On itu?. Yang langsung membalikkan tubuh Malia, hingga akhirnya Malia saling berhadapan dengan Reiji, yang menatapnya lembut namun kelembutan yang memiliki maksud terselubung didalamnya.


Yang kemudian membuat jantung Malia mulai berdebar cepat saat Reiji mengecup bibir Malia.


Kecupan yang awalnya lembut, namun perlahan menjadi bergairah. Ditambah Reiji sudah tak lagi mengenakan atasan seragam pilotnya. Dan Malia hanya bisa memejamkan matanya, saat bibir Reiji bergulir ke lehernya.


Mengecup dengan lembut, namun membuat penasaran, hingga rasanya menyerap ke pori-pori Malia dan membuat bulu-bulu halus di tubuhnya meremang seketika. ‘Kenapa lah selalu setiap gue udah mandi baru dia minta jatah.’

__ADS_1


Malia merutuk dalam hatinya, namun seperti biasa, akhirnya ia pasrah dengan perlakuan Reiji pada dirinya saat ini, yang sudah Malia pastikan jika mereka akan kembali melebur menjadi satu di atas ranjang mereka.


****


Reiji mengecup kening Malia seperti selalunya, setelah acara peleburan mereka di atas ranjang selesai, dengan peluh yang masih menempel di kedua tubuh sepasang suami istri itu, dan tubuh Malia yang berada dalam dekapan Reiji.


“Makasih ya Yang..”


Tak hanya kecupan yang selalunya Reiji berikan di kening Malia selepas mereka bercinta.


Namun Reiji tak pernah juga absen untuk mengatakan terima kasihnya pada Malia, yang telah melayani kebutuhan biologisnya sebagai laki-laki dengan sempurna di mata Reiji.


Dan Malia akan meresponnya dengan angguk-kan yang disertai senyuman selain kalimat,


“Iya, sama-sama Rei...”


Dimana Reiji akan tersenyum dengan tampannya, lalu mendekap erat tubuh Malia.


**


“Eh iya Rei .. Itu barang-barang kamu yang ada di kamar sebelah aku rapiin ya?” ucap Malia, kala Reiji hendak bangkit dari ranjang untuk membersihkan dirinya.


“Iya nanti rapiin nya sama aku aja,” ujar Reiji. “Tunggu aku pulang dari Korsel aja,” sambungnya. “Lagian aku belum sempet beli rak untuk buku-buku aku juga.”


“Tapi aku jengah ngeliat berantakan gitu.”


Reiji urung sejenak untuk keluar dari selimut yang menutupi tubuh polosnya dan Malia.


“Itu kan ada dalem kontainer, Yang... ga berantakan-berantakan amat.”


“Ya iya sih, tapi aku ga betah aja ngeliatnya begitu.”


Reiji tersenyum lalu menjawil hidung Malia. “OCD dasar ..”


“Ih siapa juga yang OCD?...”


Malia mencebik. Dan Reiji mendengus geli.


“Aku Cuma ga betah aja ngeliat barang-barang berantakan gitu..”


“Ya jangan kamu liat dulu, sampai nanti aku beli rak buat taro itu buku-buku sama printilan aku ..”


“Ya udah besok kita cari aja rak nya gimana?” kata Malia. “Tapi besok kamu ada jadwal ga?” tanyanya pada Reiji.


“Ada, tapi pulang hari kayak hari ini” jawab Reiji.


Reiji mendengus geli sekali lagi. Dan Reiji tak bisa rasanya menolak setiap keinginan Malia.


“Iya, oke.”


Lalu setelahnya Reiji beringsut dari atas ranjang dan berdiri dengan santainya.


“REI!!” Dimana Malia langsung memekik dan memalingkan wajahnya.


“Apa?!”


Dan Reiji memasang wajah tanpa dosa, sambil ia bertanya dengan santainya.


“Tau Malu Sedikit Kenapa Sih?!”


“Emang kenapa siiih? ....” tanya Reiji tanpa dosa.


“Emang kenapa! Emang kenapa!” Malia menggerutu kencang. “Itu tuh, itu kamu ..”


“Itu apa? ..”


Reiji cengengesan, karena ia tahu apa yang membuat Malia memekik setengah histeris.


Reiji yang berdiri tanpa dosa dengan santainya tanpa sehelai benang-pun yang menempel di tubuhnya itulah yang membuat sang istri menjadi setengah histeris dan memalingkan wajahnya yang nampak bersemu sekarang.


“Iiihh! Itu ‘adek tanpa tulang’ kamu yang ga ada akhlaknya tutupin keekk!!”


**


MALIA


“Yang ..” Suara Reiji terdengar di sebrang ponselku, kala aku sedang makan siang bersama beberapa rekan kerjaku.


Dan aku pun langsung menyahut tanpa menunggu lama.


“Sorry ya Yang, kayaknya kita batal pergi buat cari rak hari ini ..”


Kemudian itu yang Reiji ucapkan padaku. Dan aku spontan bertanya kenapa.


“Ada Pilot yang berhalangan hadir, jadi aku yang diminta menggantikan dia.” Kata Reiji kemudian.


Dan akupun menerima alasan Reiji itu, karena Reiji sudah pernah memberitahuku perihal dia yang bisa kapan saja diminta untuk menggantikan jika ada Pilot lain yang berhalangan. Jadi aku iyakan ucapan Reiji kemudian.

__ADS_1


“Kamu ga marah kan, Yang? ....” tanya Reiji padaku.


“Ya enggalah Rei .. Masa Cuma gara-gara ga jadi pergi cari rak aku marah? ..” jawabku.


“Ya siapa tau?”


“Engga, laahhh ...”


Aku menampik dugaan Reiji yang sebenarnya candaan aja itu.


“Aku kan istri yang pengertian ..” Aku pun berkelakar.


“Ca elaaahhhhhh...” Lupa, kalo aku lagi ga sendirian sekarang.


Karena mulut lemes seseorang yang sedang duduk dihadapanku ini, sementara yang beberapa orang lagi cengengesan.


“Siapa itu, Yang?” Reiji langsung bertanya padaku, setelah salah seorang rekan kerjaku itu meledek-ku. “Kamu lagi dimana emang?” Reiji bertanya lagi, rasa seperti mencecar.


“Aku lagi makan siang, Rei...” jawabku begitu.


“Sama?”


“Sama beberapa rekan kerja aku yang pernah kenalan sama kamu”


“Kok aku Cuma denger suara satu cowo aja, ya, Yang?” Suara Reiji terdengar tidak sesantai sebelumnya sekarang.


“Bentar ya? ...”


Membuatku kemudian berdiri dari tempat dudukku, karena aku merasakan gelagat aneh dari suara Reiji.


Aku beralasan untuk pergi ke toilet pada rekan-rekan kerjaku kemudian, padahal aku sedikit mencari privasi untuk menjawab omongan Reiji barusan.


Dan lagian aku takut si Riza yang emang slengean itu dan dia lah yang cie-cie in aku tadi, jadi merasa bikin hubungan aku dan Reiji jadi kurang baik. Malah hubunganku sama orang-orang di lingkungan kerja jadi ga enak nantinya. Terlebih pada si Riza slengean itu, yang kadang suka jadi hiburanku kalo dia sedang stand up comedy.


“Yang? ...” suara Reiji terdengar lagi di sebrang ponsel. Mungkin karena aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, yang entah kenapa aku merasa itu seperti sebuah sindiran.


“Iya Rei .... aku rame-rame ini pergi makan siang ....”


Aku segera menjawab, sambil berlagak berjalan menuju toilet resto tempat aku berada sekarang.


“Iya, tapi kenapa aku kok kayaknya Cuma denger suara satu cowo aja?”


Dan pertanyaan yang terdengar bak sindiran di telingaku itu keluar lagi dari mulut Reiji yang sedang berbicara di sebrang telepon.


“Itu tadi Riza yang nyeletuk Rei. Lainnya ngekeh aja .... jadi mungkin kamu ga denger suara mereka.” Kataku pada Reiji. Karena memang begitu adanya.


“Riza itu cowok yang pernah aku liat ngerangkul kamu kan ya?” tanya Reiji kemudian.


Entah kenapa aku merasa pertanyaan Reiji penuh selidik.


“I, ya.” Jawabku sedikit ragu. Dan pertanyaan Reiji berikutnya sedikit membuat ambigu.


“Sering makan siang sama dia?”


“Aku sama Riza kan kerja di satu lantai yang sama, dulu dia di Divisi aku sebelum naik pangkat....”


“Yang aku tanya itu, apa kamu sering makan siang sama dia?. Riza?” tenang sih suara Reiji, tapi kok kesannya nge-gas?.


“Ya engga sering-sering amat. Namanya kenal, pernah satu tim juga. Kayaknya juga wajar-wajar aja kalo aku makan bareng Riza, Rei ..”


Aku jadi sedikit sebal dan risih pada Reiji. “Kamu kan juga pasti sering makan bareng sama rekan-rekan sejawat kamu, bahkan sama para pramugari yang kerja bareng kamu kan? ..”


Jadi pertanyaan seperti itu, yang aku sontak lontarkan pada Reiji.


“Iya sering.”


“Nah tuh, so, no big deal kan kalo aku ..”


“Tapi tidak setelah menikah dengan kamu, Yang ..”


Reiji dengan cepat memotong kalimatku.


“Aku selalu menolak ajakan makan dan kumpul bareng dengan para kru saat kami telah lepas tugas, saat aku sudah menikah. Jangankan dengan para pramugari yang perempuan, dengan para pramugara dan sesama pilot pun udah engga aku lakuin lagi sekarang.”


Suara Reiji tenang, namun sepertinya dia sedang memberi penegasan.


Terus maksudnya Reiji ngomong begitu ini apa sih? ..


“Rei ..” ucapku kemudian.


“Nanti aku telpon lagi.”


Klik!


Sambungan telpon-ku dan Reiji pun, diputuskan oleh Reiji secara sepihak.


**

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2