WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 20


__ADS_3

Selamat membaca..


***


*C**atatan kecil untuk diperhatikan:*


Sebenarnya bukan diulang-ulang tulisannya, tapi jika ada yang dirasa seperti diulang, itu lebih ke sudut pandang masing-masing tokoh utamanya aja.


Begitu kira-kira.


Terima kasih masih setia.


***


MALIA


“Eh Bas..”


“Rei...”


Aku bersuara setelah Reiji seperti ingin mengatakan sesuatu pada temannya itu.


Dimana Reiji dan temannya itu sama-sama menoleh ke arahku, dimana aku sudah berdiri sedikit berjarak dari mereka berdua dan menampakkan senyuman sewajarnya.


“Eh ini...”


Dimana aku sedikit terkejut, saat melihat siapa laki-laki yang bersama Reiji yang sedang berucap sambil menunjuk ke arahku, lalu melihat pada Reiji.


Oh my God! Abbas Ramdan!.


Demi Dewa, kalau kata neneknya Tapasya.


Beneran ini Abbas Ramdan?? .. Aktor tamvan nan macho itu?!.


“Abbas Ramdan? ....”


Aku segera menyambar saat Reiji sepertinya hendak memperkenalkanku dan Abbas.


Aku yakin itu Abbas Ramdan, satu-satunya aktor negeri ini yang aku kagumi sejak aku melihat debutnya di salah satu film Box Office Hollywood yang baru release di bioskop beberapa bulan lalu.


“Apa kalian saling kenal?”


Tau-tau Reiji melontarkan pertanyaan itu.


Ya engga lah!


Aku ga kenal Abbas Ramdan, tapi tau dia itu siapa.


Aku sedang menahan rasa girangku bisa ketemu dengan aktor yang aku kagumi itu, sampai aku mendengar celetukan dari mulut Reiji soal Abbas.


Ah sabodo deh, ga fokus sebenarnya sama celetukan si Reiji.


Tapi aku tetap menampakkan senyum.


Senyum yang aku buat senormal mungkin, dan sikap se-jaim mungkin.


Mudahan si Reiji ga tau kalo aku sedang jaim.


Kalo engga nanti dia bahas deh tuh, kalau seandainya aku jaim depan dia ada hukumannya.


Apa coba?.


“Hai, aku Abbas ....”


Abaikan si Reiji, karena Abbas mengulurkan tangannya padaku. Oh Em Jiii!..


Ganteng banget aslinya Abbas Ramdan, ya Tuhaann..


Ramah banget lagi. Senyumnya itu apalagi, haduhh.. Bikin cenat-cenut hati.


Aku girang ini, pake banget bisa ketemu sama Abbas Ramdan, si aktor yang aku kagumi itu.


Tapi sekali lagi, aku jaim. B – aja, B, gitu. Sok cool.


Kalau aku heboh, pasti si Reiji langsung bilang, “Ndeso!”


Jadi aku terbitkan senyum ramah nan elegan sembari menerima uluran tangan Abbas yang ternyata lembut banget tangannya.


Sayang banget mau dilepasin buru-buru. Tapi..


“Udah ga usah lama-lama salaman nya..”


Si Reiji melepaskan begitu saja jabatan tanganku dan Abbas.


Nyebelin ih si Reiji!.


Ga bisa liat orang senang!.


Terus ga lama Abbas cus deh dari hadapan.

__ADS_1


Setelah Abbas hengkang dari hadapan, aku langsung menanyakan Abbas pada Reiji. Secara penasaran aja kok Reiji bisa kenal dengan aktor yang sangat aku kagumi itu.


Ya aku manggut-manggut mendengar setiap ucapan Reiji tentang Abbas.


“Eh iya Abbas ajakin kita gabung di mejanya.. Mau?”


Terus Reiji bilang begitu.


Sekaligus menanyakan persetujuanku untuk gabung di mejanya Abbas.


Ya masa ga mau?.


Dan aku memberikan jawaban dengan anggukan.


“Jangan bilang kamu fansnya si Abbas?”


Ini aku ketara banget apa ya ngefans sama si Abbas meski bukan fans fanatik juga sampe Reiji nanya begitu.


Terus si Reiji geleng-geleng saat aku jawab iya.


“Ayo .. katanya mau gabung ke mejanya Abbas?..”


Dan sebelum keluar cemoohan dari mulut Reiji, buru-buru aku tegaskan ajakan untuk gabung ke mejanya Abbas, yang tidak mau ku lewatkan. Rencana berfoto ria bareng Abbas pun, hinggap di kepala.


Tapi ..


“Nanti gue bisa minta foto bareng Abbas ga?..”


Saat pertanyaan itu tercetus dari mulutku, Reiji langsung bilang,


“Ga bisa!”


“Emang kenapa?”


“Abbas sama cewenya, dan cewenya itu cemburuan berat”


Yaahh ....


***


Reiji dan Malia sudah pergi meninggalkan Kafe bernama NB, setelah puas berbincang dengan Abbas dan wanita yang Abbas perkenalkan pada Reiji dan Malia sebagai kekasihnya. Kebetulan saat Reiji ingin pamit untuk keluar dari Kafe duluan, Abbas dan kekasihnya juga hendak pergi dari Kafe tersebut.


Kini Reiji dan Malia sudah berada di dalam mobil, dan hendak meneruskan perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Namun sebelumnya mereka akan mampir terlebih dahulu untuk pergi ke pusat oleh-oleh yang berada tidak jauh dari Kafe, demi Malia yang ingin membeli bolen favoritnya langsung dari tempat pembuatan bolen tersebut.


***


“Yakin?..” Reiji memastikan lagi pada Malia, yang mengatakan jika ragam oleh-oleh yang ada di keranjang belanja mereka sudah Malia rasa cukup.


Reiji dan Malia sudah berada di Pusat Oleh-oleh yang mereka tuju, dan keranjang mereka sudah terisi beberapa jenis makanan khas yang dijual di Pusat Oleh-oleh tersebut.


Malia mengangguk saat Reiji menanyakan kalau apa yang ada dalam sebuah keranjang belanja toko tersebut sudah Malia rasa cukup. “Iya udah lumayan banyak ini”


Malia berucap dan Reiji manggut-manggut.


Lalu Reiji dan Malia berjalan menuju kasir toko dan membayar makanan belanjaan mereka, termasuk enam box bolen aneka rasa yang sudah mereka pesan untuk dipisahkan terlebih dahulu saat mereka sampai.


“Gue yang bayar ya?”


“Lupa..”


“Iya canda ..” Sambar Malia sebelum Reiji menyelesaikan ucapannya.


“Yakin ga ada tambahan lagi nih?”


Reiji memastikan sekali lagi sembari menunggu seorang karyawan toko di belakang mesin kasir menghitung belanjaan dalam keranjang yang sudah Reiji berikan pada si karyawan toko tersebut.


“Udah cukup sih kalo menurut gue.. Nah elo perasaan Cuma dikit milihnya? ..”


“Udah cukup ini juga. Cuma buat cemilan di rumah aja”


“Memang lo ga mau bawain oleh-oleh buat temen-temen kantor lo gitu? ..”


Reiji seketika mendengus geli mendengar pertanyaan Malia. “Aku ga punya kantor lah ..” Tukas Reiji.


Malia sedikit mengernyit.


“Lupa kerjaan aku nih apa?..”


Reiji berucap lagi sambil melirik pada Malia sekilas, lalu membuka dompetnya dan memberikan sebuah kartu pada kasir toko setelah kasir tersebut selesai menghitung barang belanjaannya dan Malia.


“Ya tau, lo itu Pilot, tapi emang lo ga punya kantor atau ruangan khusus gitu? ..”


“Ga sih. Aku kan bukan CEO..”


“...........”


“Kalau aku punya jadwal terbang, ya langsung datang ke Bandara .. Briefing dengan kru pesawat yang akan terbang bareng aku, terus melakukan pemeriksaan teknis sebelum dan sesudah terbang. Paling ke kantor maskapai yang menaungi aku. Kalau ada meeting tertentu itu juga. Selebihnya aku di lapangan ..”


“Hmmmmm..”

__ADS_1


Malia manggut-manggut.


“Yuk!..” Ajak Reiji pada Malia setelah ia selesai dengan urusan di kasir toko.


Malia pun mengangguk dan melangkahkan kakinya bersama Reiji untuk kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan untuk kembali ke Jakarta.


****


“Lo beneran oke-oke aja nyetir sampe Jakarta, Rei? ..” Tanya Malia saat ia dan Reiji sudah masuk ke dalam mobil, setelah meletakkan belanjaan oleh-oleh mereka di jok penumpang belakang.


Reiji menoleh pada Malia sembari mengangguk dan tersenyum.


“Serius nih ga mau gue gantiin nyetirnya?. Perjalanan jauh loh ini..” Tanya Malia lagi dan Reiji langsung mengangguk dan menyahut.


“Serius Lia”


“Atau gini, lo nyetir sampe nanti kita ketemu rest area, habis itu kalau lo cape gue gantiin. Gimana, mau?”


“Maunya kamu, dan hati kamu aja”


“Mulai deh..” Cetus Malia menanggapi gombalan receh Reiji yang keluar lagi. Dan Reiji langsung terkekeh kecil.


“Ga apa Li, aku masih sanggup kalau Cuma nyetir mobil Jakarta Bandung, Bandung Jakarta sih ...” Ucap Reiji.


“Ya udah kalau begitu”


Malia kemudian mengiyakan Reiji menyetir sesuai keinginan calon suaminya itu.


“Tapi kalo mau gantian ngomong aja, jangan sungkan ..” Ucap Malia.


Reiji pun segera mengangguk dan menyahut.


“Okeeee”


“Jangan oke, oke aja”


Malia berucap.


“Awas aja kalo ngantuk!”


“Ya udah, biar aku ga ngantuk mendingan kamu melakukan satu hal, Lia ..”


Reiji menyahut sembari melirik Malia.


“Apa? Mau gue nyanyiin?” Canda Malia.


“Bukan ..”


“Terus apaan?..”


“Senyum aja sambil ngeliatin aku nyetir. Yakin aku ga bakal ngantuk”


“Ya elo ga ngantuk, bibir gue keram yang ada!” Celoteh Malia.


Reiji pun terkekeh mendengar celotehan Malia barusan. “Lia.. Lia..”


Tangan kiri Reiji terulur ke kepala Malia dan mengacak rambut Malia pelan.


Malia jadi kikuk dibuatnya. Selain ada rasa yang entah bagaimana Malia menggambarkan nya, saat Reiji mengacak gemas rambutnya.


Dan untuk sesaat Malia dan Reiji saling diam dalam perjalanan. Hanya suara lagu yang terdengar di dalam mobil.


Malia mengeluarkan ponselnya dan fokus pada ponsel itu, sementara Reiji fokus membelah jalanan menuju Jakarta dengan menikmati lagu yang terputar di tape mobilnya.


Lagu yang menceritakan sebuah kisah asmara yang diharapkan tidak pernah berakhir.


Seperti halnya harapan Reiji, atas hubungannya dengan Malia di depan nanti hingga sampai hari pernikahan mereka tiba.


Baik-baik saja untuk seterusnya.


****


Denganmu, Takkan Pernah Habis Waktu


Semua Gelombang Rasa Hanya Denganmu


Denganmu, Romansa Tetap Menggebu


Percikan Awal Pesona, Engkau Terindah


Tetaplah Mewangi..


Semuanya Kembali Ke Masa Depan ..


--- Romansa Ke Masa Depan by Glenn Fredly ---


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2