WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 83


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Memang sesungguhnya aku tidak mau membahas lagi soal masa laluku dengan Irsyad, sebagaimana aku tidak ingin Reiji untuk mengingat masa lalunya bersama Shirly.


Aku ingin menjadikan kisahku dengan Irsyad yang bahkan rasanya tak pas disebut sebagai ‘kisah’-karena memang tidak ada cerita disana-selain kedekatan yang entah apa namanya itu-sebagai kenangan saja.


**


“Nama?!”


“Malia.”


“Jurusan?!”


“Ekonomi”


“Saya kasih tahu ke kamu ya, jangan mentang-mentang kamu cakep, terus seenaknya dateng telat saat MOS!”


“Saya---“


“Setelah ini kamu minta tanda tangan seluruh mahasiswa di angkatan kamu, lalu kamu kasih ke saya!”


**


Pertama kali aku melihat dan bertemu Irsyad saat MOS atau OSPEK Universitas.


Kala itu, Irsyad adalah seniorku yang pernah memarahiku, karena dihari pertama Ospek aku datang terlambat.


Namun hingga Ospek selesai, aku tidak pernah lagi berbicara secara langsung padanya, hingga sampai aku bertemu dengannya lagi saat aku masuk kedalam satu UKM di Kampus.


Sejak itulah aku dan Irsyad mulai dekat. Akrab. Tapi tidak pacaran.


Tapi sering jalan berdua. Ga bisa juga disebut sebagai kencan.


Hingga mereka yang kenal denganku dan Irsyad berpikir jika kami adalah sepasang kekasih.


Padahal tidak begitu.


Jangankan pacaran, jadian.


Bagaimana perasaan Irsyad padaku pun itu masih menjadi misteri untukku.


Namun dari perlakuan dan sikapnya padaku, aku merasa jika Irsyad memiliki perasaan yang sama sepertiku.


Tapi hingga Irsyad pergi ke London, tak pernah ada ungkapan pernyataan atas perasaannya terhadapku.


Kami hanya berteman.


Berteman dekat.


Mungkin seperti Reiji dan Shirly.


Jika dari kisah mereka berdua, aku tidak tahu bagaimana tepatnya.


Dua foto yang aku temukan mengenai mereka menggambarkan jika keduanya sama-sama memiliki rasa.


Tapi Reiji mengatakan, jika mereka tidak pernah pacaran.


Sama, seperti halnya aku dan Irsyad. Dimana bagiku, pertemananku dan Irsyad yang saling membagi perhatian itu sudahlah terasa cukup.


Pertemanan yang menjadi kamuflase atas perasaan terpendam ku pada Irsyad. Yang membuatku rela menunggu hingga cintaku pada Irsyad berbalas suatu hari nanti darinya.


Dan sampai Irsyad pergi ke London, hatiku masih tetap seperti itu. Sampai setelah bertemu kembali sebelum pertemuan ini-kala telah setahun Irsyad tinggal di London dan aku akan diwisuda, pun, perasaanku masih sama.


Dan juga, hubunganku dengan Irsyad tetap sama.


Tak ada obrolan mengenai perasaan lebih dari sekedar pertemanan.


Tak ada ‘senggolan’ pembicaraan dari Irsyad mengenai hal itu. Dan aku juga tak berani mengungkapkan perasaanku padanya.


Setelahnya, aku dan Irsyad tak lagi bertemu, namun aktif mengobrol di dunia maya. Dan setelahnya lagi, obrolan aktifku dan Irsyad di dunia maya itu, berkurang keaktifannya.


Sampai menjadi singkat, lalu tak ada lagi obrolan, bahkan sekedar sapaan dari Irsyad. Yah, mungkin Irsyad terlalu sibuk bekerja dan mengejar mimpinya di Negeri orang.


Kan, persaingan disana pasti keras dan ketat, jadi Irsyad tidak bisa terlalu berleha-leha.


Setidaknya, itu yang aku percayai, hingga hari ini. Tapi aku, tetap setia menunggunya.


Well, penantianku pada Irsyad akhirnya berakhir, setelah pencetusan perjodohan aku dan Reiji.

__ADS_1


Tepatnya, terpaksa aku akhiri demi melihat kebahagiaan di wajah kedua orang tuaku.


Dan pikiran jika Irsyad telah memiliki seseorang di London pun, terbersit dalam otakku.


Bisa jadi karena hal itu, Irsyad tak lagi mencoba berinteraksi denganku walau hanya sekedar mengirim surel bertanya apa kabar.


Membuatku mentertawakan diriku sendiri pada akhirnya. Yang mana itu pada akhirnya membuatku, menerima perjodohan antara diriku dan Reiji. Dimana cetusan perjodohan itu, kini telah terwujud dan telah berjalan hampir tiga bulan.


Hm, ngomong-ngomong, apa kabar suamiku itu ya yang sedang berada di Monaco?.


***


Ponsel Malia berdering kala ia dan Avi sedang memakan bubur di tempat dirinya dan Reiji kadang sarapan diluar saat weekend.


Melirik siapa yang menghubunginya dipagi hari, yang ternyata ada panggilan telepon dari Reiji.


Malia pun segera menerima panggilan dari Reiji tersebut.


Panggilan yang tak seberapa lama, hanya sekedar Reiji yang mengabarkan jika ia telah sampai di Monaco beberapa jam yang lalu. Namun ia pending untuk menghubungi Malia karena perbedaan waktu.


“Kapan balik Abang gue itu katanya, Ya?’...” tanya Avi setelah Malia selesai berbicara dengan Reiji di sambungan telepon.


“Besok.”


Malia menjawab singkat, karena ingin melanjutkan untuk menyantap bubur pesanannya lalu menghabiskan seporsi bubur tersebut.


Avi pun manggut-manggut dan meneruskan juga untuk menyantap buburnya. “Eh Ya’...” panggil Avi.


“Hm? ....” sahut Malia.


“Kalo seandainya lo ketemu lagi sama Irsyad gimana?....”


Avi bertanya dan Malia langsung menjeda makannya. Lalu melirik pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.


“Ya ga gimana-gimana ...” jawab Malia. Lalu meneruskan lagi menyantap buburnya.


Avi kembali manggut-manggut. “Trus soal abang gue, perasaan lo ke dia gimana?.. Lo udah ada rasa sama dia?..”


Avi kembali bertanya.


“Mau jawaban dari gue sebagai sahabat lo, atau sebagai kakak ipar lo?...”


Malia balik bertanya, dan Avi terkekeh kecil.


“Kalo lo mau gue jawab pertanyaan lo soal perasaan gue ke Reiji sebagai sahabat lo, gue akan jawab dengan sejujur-jujurnya ...” jawab Malia. “Kalo sebagai kakak ipar, ya gue jawab manis-manis aja sama lo ...” sambungnya.


Avi terkekeh lagi.


Malia mendengus geli. Lalu meneguk teh manis hangat yang berada dalam gelasnya.


“Gue baru sebatas sayang sama Rei, Vi. Yah, udah beda sayangnya dari yang dulu waktu gue masih jadi ade-ade-an abang lo itu ...”


Avi pun tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Malia barusan.


“Yah, paling engga ada kemajuan deh hubungan lo sama Bang Rei ...”


“Iya, paling engga gue ga merasa bersalah-bersalah amat sama Rei, Vi ...” ujar Malia.


“Ye ngapain elo merasa bersalah coba?... elo kan nikah sama Bang Rei karena dijodohin. Ya bukan salah lo juga kalo seandainya elo belom punya perasaan apa-apa sama dia ..”


“........”


“Gue juga ga bakal nge-judge lo seandainya lo bilang hati lo belum ngerasain apa-apa sama Bang Rei...”


“Thanks ya Vi...” Malia tersenyum teduh pada Avi. Merasa beruntung memiliki Avi yang dewasa dan logis itu pemikirannya.


“Sama-sama bestih!”


Avi menyahut dengan ceria.


Lalu Malia dan Avi terkekeh bersama, dan melanjutkan makan mereka kembali.


Terkadang Malia merasa iri pada Avi.


Bukan perasaan iri yang gimana-gimana.


Malia hanya iri dengan sifat Avi yang santai orangnya, berbeda dengan dirinya.


Avi juga pernah memiliki kisah soal cinta yang tidak berbalas, seperti halnya Malia.


Namun Avi yang santai itu, cepat move-on-nya. Tidak seperti dirinya yang masih merasa ‘tersangkut’ dengan masa lalu yang Malia miliki pada seseorang yang pernah lama sekali Malia harapkan.


Bahkan mungkin sampai detik ini.

__ADS_1


Hal terlarang bagi seorang wanita yang telah berstatus istri, jika ada pikiran soal laki-laki lain selain suaminya.


“Ya’...” Avi memanggil Malia lagi, saat buburnya telah tandas, berikut teh manis hangatnya.


Malia menyahut dengan deheman. "Hm?"


“Kalo tau-tau si Irsyad ngajak lo ketemuan lagi, gimana?....”


Malia yang tadinya ingin beranjak untuk membayar buburnya dan Avi, kemudian urung untuk bangkit dari duduknya.


Malia tersenyum tipis. “Ya ga gimana-gimana,” jawab Malia.


Lalu Malia memberikan selembar uang lima puluh ribu pada si penjual bubur yang kebetulan melewati meja tempatnya dan Avi duduk, setelah mengantar pesanan ke meja yang lain.


“Lagipula, sepertinya ga akan ada juga pertemuan lagi antara gue sama dia, Vi.” Ucap Malia.


***


Keesokan harinya....


Satu hari bekerja telah Malia lalui hari ini.


Malia sudah akan bergegas pulang bersama beberapa teman satu divisinya.


Hanya bersama menuju lift dan sampai lobi saja, karena setelahnya mereka akan pulang dengan kendaraan yang mereka gunakan masing-masing.


Malia yang sedang menunggu lift sampai ke lantai tempatnya bekerja itu melirik ponselnya.


‘Rei baru sampe Jakarta sekitar jam sebelas malem. Bisa jadi bakalan sampe apartemen sekitar jam dua-an,’ batin Malia. ‘Perlu masak apa engga ya gue?...’


Malia menimbang-nimbang dalam hatinya.


‘Ga usah kali ah!’


Kemudian Malia menjawab sendiri pertanyaan dalam hatinya.


‘Eh tapi nanti taunya si Rei ga makan dulu pas selesai markirin pesawat? ...’


Malia masih membatin.


‘Mending gue tanya aja Rei-nya langsung!’


***


Malia mengirimkan pesan chat pada Reiji saat aku hendak pulang dari kantor. Menanyakan pada suaminya itu, apakah Reiji ingin Malia masakkan atau gimana.


Namun pesan chat Malia itu masih centang satu sampai ia tiba di apartemennya dan Reiji.


‘Oh iya, si Rei kan ga pernah aktifin ponselnya kalo lagi tugas! ... Jadi gimana yah? ... Gue perlu masak ga ya?’


Malia membatin sembari membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin yang ia ambil dari sana, lalu meneguk air dalam botol plastik dengan merek sejuta umat, yang memang adalah botol minum pribadi Malia.


Hingga Malia dapat langsung meneguk isi dalam botol tersebut untuk membasahi tenggorokannya yang Malia rasa sedikit kering. Setelahnya, Malia menelisik isi kulkas dengan matanya, sambil menimbang-nimbang apakah ia harus memasak atau tidak.


‘Delivery order aja deh ah ... Yang penting ada makanan siap makan pas Reiji balik ...’


Malia pun langsung meraih ponselnya, untuk memesan makanan pada salah satu restoran dalam sebuah aplikasi pesan makan online.


Lalu Malia bergegas membersihkan diri dengan cepat, setelah ia selesai memesan beberapa menu makanan pada restoran pilihannya di aplikasi pesan makan online tersebut.


Waktu pun berlalu, hingga malam menjelang.


Mulut Malia sudah menguap, dan ia memutuskan untuk segera masuk ke kamarnya dan Reiji, karena matanya terasa sudah tidak kuat lagi untuk terbuka, guna menunggu Reiji tiba di apartemen.


Malia dengan segera merebahkan tubuhnya di atas kasurnya dan Reiji, dan tanpa menunggu lama, Malia sudah terlelap ke alam mimpi.


***


Malia terjaga dari tidurnya, saat alarm pada ponselnya berbunyi.


‘Masih rapih tempat tidur Rei.’ Batin Malia sambil melirik pada sisi ranjang tempat Reiji biasa tidur.


Ranjang bagian Reiji masih kosong, bahkan masih nampak rapih. Malia kemudian mengernyit kecil.


‘Harusnya Rei udah pulang dari tiga jam yang lalu kan?. Seenggaknya, dari dua jam yang lalu seharusnya dia udah sampe sini? ....’


***


Bersambung ...


Enjoy, dan jangan lupa bahagia.


Loph-Loph,

__ADS_1


Emaknya Queen.


__ADS_2