WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 247


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


MALIA


“Lia.”


Suara seseorang yang sering aku dengar dari kemarin, aku dengar lagi di telingaku.


Irsyad.


Laki-laki yang menculikku.


Atas dasar obsesi yang ia katakan sebagai cinta yang mendalam.


“Kenapa belum kamu makan makanannya, Li?...”


Irsyad bersuara lagi, dan aku merasakan ia mendekat padaku.


Dan aku enggan bersusah payah menolehkan kepalaku untuk menanggapi Irsyad.


Kini Irsyad telah berdiri di sampingku yang sedang berdiri di dekat jendela dalam sebuah kamar sebuah bangunan yang kemarin Irsyad bilang adalah Villa milik keluarganya yang sudah lama tidak dikunjungi.


“Aku suapi mau?---“


“Aku bukan anak kecil. Dan tolong, tinggalkan aku sendiri...”


Aku menukas tawaran Irsyad dengan dingin dan ketus seperti selalunya, dari sejak kemarin Irsyad mengatakan terang-terangan padaku bahwa dia memang sudah menculikku untuk menjauhkanku dari Rei yang menurut pemikiran Irsyad telah menekanku dengan sangat bersama orang tuaku agar menikah dengannya dan menjadi istri penurut.


Karena menurut Irsyad, aku ini sebenarnya mencintainya.


“Apa maksud semua ini Irsyad?!... Untuk apa kamu melakukan ini semua?!...”


“Untuk kita tentu saja... Bukankah aku pernah bilang kalau aku kembali ke sini buat kamu?... Untuk memperjuangkan kamu?... dan hal itu yang sedang aku lakukan sekarang—“


“Aku udah nikah Irsyad!”


“Aku tidak peduli!... Kamu mau bilang kamu mencintai laki-laki yang sudah menjadi suami kamu itupun aku tidak peduli. Karena kamu milik aku sekarang, Malia Leonard. ”


“Kamu gila Irsyad!... Aku ga akan pernah jadi milik kamu!... Aku ga sudi!”


“Terserah... Tapi sekarang, tempat kamu adalah di sisi aku, Lia.”


“Kamu udah gila Irsyad!”


“Memang!... Dan kamu yang membuat aku gila!... Kamu dan kemunafikan kamu yang tidak mau mengakui bahwa kamu sebenarnya mencintai aku!”


“Aku mencintai suamiku! Reiji Shakeel!... Akh!”


“Jangan pernah menyebut namanya di depanku, atau aku tidak segan melucuti pakaian kamu.”


“Ja-jangan –“


“Tapi sepertinya itu ide bagus. Mengirimkan foto-foto kebersamaan kita di kamar ini pada suamimu itu—“


“Ja-ngan, Irsyad... aku mohon—“


“Makanya kamu harus patuh sama aku, Lia. Oke?...  Kamu aku larang keras untuk menyebut nama suami kamu itu didepanku,”


“I-iya...”


Hhh...


Irsyad begitu mengerikan saat itu.


Dan aku pun masih lumayan takut padanya, meski aku tak menampakkan ketakutan itu lagi didepan Irsyad saat ini.


Aku bahkan seringkali mengabaikan Irsyad yang mengajakku bicara. Semata-mata agar dia bosan, lalu putus asa dan melepaskanku.


Tapi kenyataannya, Irsyad yang sebelumnya seolah tak menganggap protes atau keketusanku, sekarang mulai lebih intens menekanku.


“Lia... Makan atau aku paksa?”


Oh Tuhan, bantu aku menemukan cara untuk kabur dari orang gila ini...


*


*


“Istrimu datang sendiri ke SBR, Tapi meninggalkan tempat itu bersama seorang pria.”


Seorang laki-laki yang merupakan orang kepercayaan dari satu keluarga yang mempekerjakan Reiji sebagai pilot mereka, angkat suara setelah Reiji memberikannya nomor ponsel Malia.


“Anda kenal dengan pria ini?...”


Laki-laki kepercayaan satu keluarga yang mempekerjakan Reiji itu menyodorkan sebuah tab yang ia pegang kepada Reiji.

__ADS_1


‘Ir-syad.’ Reiji menggeram dalam hatinya. ‘Jadi Lia janjian sama dia?!’ sudah buruk pikiran Reiji. ‘Jadi Lia selama ini sebenarnya masih berkomunikasi dengan si bibit pebinor keparat ini di belakang gue?!’


Wajah Reiji nampak mengetat seketika ketika melihat wajah Irsyad di layar tab yang disodorkan padanya oleh orang yang Reiji ketahui adalah orang kepercayaan salah satu bos besarnya. Terlebih setelah Reiji melihat, ada juga Malia di dalam gambar pada layar tab tersebut.


Dimana di dalam video yang sedang di tonton Reiji dalam tab yang sedang berada di tangannya itu, terlihat jika Irsyad sedang merangkul Malia yang terlihat sedang bersandar pada laki-laki yang Reiji beri julukan sebagai bibit pebinor itu. ‘Jangan bilang mereka ke hotel setelah ini!...’


Reiji membatin lagi dengan prasangka buruknya.


‘Karena gue tidak akan bisa menahan diri gue.’ Kembali Reiji membatin geram. ‘Ga pada si bibit pebinor yang akan gue hajar habis-habisan, atau juga pada Lia!—‘


“Istrimu ada di sebuah Villa di satu daerah di Puncak... Bersama pria itu sekarang ini..." suara bos Reiji yang bernama Alvarend itu terdengar.


Semakin membuat emosi Reiji sampai ke ubun – ubun.


‘ARGHH!‘ teriak Reiji dalam hatinya. ‘Begini,cara kamu membalasku yang kamu pikir kalo aku selingkuh dengan Irly?!... Dengan kembali menjalin hubungan dengan Irsyad?! bahkan kelakuan kamu lebih parah?!...’


“Jangan berprasangka buruk dulu pada istrimu...”


***


REIJI


Aku yang sedang geram setengah mati setelah mendengar ucapan orang kepercayaan Tuan Alvarend yang bernama Kafeel dimana ia mengatakan jika Lia datang ke sebuah restoran yang juga merangkap sebuah bar di satu gedung Bank terkemuka di Jakarta, disertai juga rekaman video dalam tab yang diberikan padaku----dimana dalam rekaman video itu aku lihat Lia nampak bersandar pada si bibit pebinor yang merangkulnya, lalu aku tenggelam dalam kemarahanku itu lantas terkesiap setelah mendengar suara Tuan Alvarend yang seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini.


“Dia bersama pria itu diluar kuasanya, karena *she was sedate*d ( Dia telah dibius )”


“A-apa?” Aku terperangah kemudian.


“Tunjukkan padanya, Ka.” Tuan Alvarend berbicara pada Kafeel yang kemudian mengangguk dan berdiri dari duduknya.


“Bisa saya ambil dulu tabnya, Pak Rei?...”


Kafeel kini telah berdiri tepat di sampingku.


Aku yang sedang membeku seketika karena terperangah atas ucapan Tuan Alvarend yang mengatakan jika Lia telah dibius itu, langsung lagi terkesiap setelah mendengar suara Kafeel yang telah berdiri tepat di sampingku itu sambil tangannya mengarah kepadaku.


“Oh, i-iya” aku tergugu, sambil aku menyodorkan tab di tanganku itu pada Kafeel.


Kafeel tersenyum tipis padaku sambil mengambil tab yang aku telah sodorkan padanya itu.


“Jadi, apa kau mengenalnya, Reiji?” Tuan Alvarend bersuara lagi. Bertanya padaku.


“I-ya...” jawabku, masih agak sedikit tergugu. “Ah, engga kenal----banget , tapi saya tau dia...”


“Kau ada masalah dengannya?...“ Tuan Alvarend mengajukan pertanyaan, yang sedikit ragu untuk aku jawab.


---


“Dejavu, eh?...”


Salah seorang ayah angkat Tuan Alvarend kemudian bersuara sambil melirik satu ayah angkat Tuan Alvarend yang ada di sampingnya itu. Dan satu ayah angkat dari satu Tuan Muda yang dicandai itu terkekeh kecil kemudian.


“Sepertinya virus pria gila yang ingin memaksakan kehendak pada wanita milik pria lain mulai tersebar lagi sekarang.”


Ayah angkat Tuan Alvarend yang dicandai oleh satu ayah angkat lainnya dari Tuan Muda Alvarend itu menanggapi ucapan saudaranya yang bertanggung jawab penuh di maskapai tempatku bernaung.


Aku tidak paham sih, pembicaraan dua orang itu yang membuat Tuan Alvarend yang pelit senyum itu kemudian tersenyum geli.


Jadi aku diam saja, meski aku ingin bertanya lebih lanjut soal Lia yang katanya dibius oleh si bibit pebinor itu.


Benarkah seperti itu?...


“Pak Reiji.” Aku yang sedang memperhatikan dalam diam dua ayah angkat Alvarend dan Tuan Alvarend sendiri, segera menoleh ke sampingku saat aku mendengar Kafeel memanggilku.


“Ya?...” Pun, aku langsung menyahut.


“Duduk saja Pak Rei...” ucap Kafeel saat aku hendak berdiri untuk menanggapinya.


“Santai saja, Rei. Tidak perlu terlalu kaku padanya atau pada kami.” Tuan Alvarend bersuara.


“Terima kasih, Tuan Alva,” jawabku santun.


“Jika anda memiliki keraguan tentang dugaan kami jika istri anda memang dibawa paksa tanpa istri anda sadari, coba perhatikan video ini..”


Kafeel lalu bersuara, dengan dirinya yang menyodorkan kembali padaku, tab yang sebelumnya aku kembalikan padanya.


Dan Kafeel mengambil tempat dengan santai di sampingku----duduk di sandaran lengan sofa single yang sedang aku duduki.


***


Dimana Reiji kemudian memperhatikan dengan seksama layar tab yang masih di pegang oleh orang kepercayaan keluarga bosnya yang bernama Kafeel itu, yang kemudian bertanya pada Reiji setelah video yang merupakan rekaman CCTV itu dihentikan Kafeel di saat Malia sudah dalam rangkulan Irsyad.


“Apa anda menangkap sesuatu yang janggal?..”


“Bisa tolong diulang lagi?..”


Kafeel mengangguk, namun beberapa detik bagian video ia percepat dan kemudian di hentikan pada satu titik pergerakan dari Irsyad.

__ADS_1


“Pria itu sepertinya sudah mengikuti istri anda dari sejak di apartemen teman anda.. namun kami tidak mendapatkan gambar dari eksistensi orang tersebut di CCTV gedung apartemen teman anda itu—“


“Bisa jadi pria itu hanya duduk diam di dalam mobil dan ia memarkirkan mobilnya di area outdoor gedung, yang mana sayangnya CCTV di area parkir outdoornya hanya CCTV standar yang tidak dapat difokuskan untuk menembus setiap kaca mobil yang ada di sana.”


“Dan rasanya sih, dia sudah memperhatikan istrimu atau kalian selama beberapa hari ke belakang..” salah seorang pria paruh baya yang Reiji kenal sebagai ayah angkat bos mudanya itu menimpali ucapan Alvarend yang menukas ucapan Kafeel.


“Rasanya begitu.. Dia sudah merencanakan untuk membawa istri anda dengan memanfaatkan situasi. Dia tak lama masuk ke gedung setelah istri anda masuk dan menyusulnya ke restoran yang istri anda sambangi itu. Jadi memang istri anda tidak janjian dengannya, karena ini..”


Kafeel lalu memutar satu video lain dalam tab.


“Terlihat ekspresi istri anda yang sepertinya ingin menghindari pria itu, karena istri anda itu berjalan dengan cepat menuju lift..”


Kafeel lanjut bicara seraya menerangkan dengan lugas, dan Reiji tetap dengan seksama memperhatikan video serta mendengarkan penuturan Kafeel.


“Dia menyimpan sesuatu di sakunya yang merupakan jenis obat bius ilegal namun dapat dengan mudah didapatkan di pasaran. Anda bisa lihat istri anda limbung setelah pria itu menyentuh wajahnya setelah saat menyusul dia memasukkan tangannya sebentar ke saku celananya—“


‘Irsyad! Kalo sampai lo berani sentuh Lia. Gue pastikan lo akan mati di tangan gue!’


Reiji tak lagi berprasangka buruk tentang Malia, dan kini teramat sangat geram pada Irsyad.


“Tolong berikan saya alamat Villa tempat si brengsek itu membawa istri saya jika memang anda semua tahu persis lokasinya..”


Reiji sudah tak sabar, untuk segera menyelamatkan Malia yang sudah dipastikan diculik oleh Irsyad atas penjelasan dan rekaman video yang sudah ditunjukkan padanya.


“Ammar, temani dia.”


Alvarend bersuara, berbicara pada salah satu orangnya.


“Tak apa Tuan Alvarend, saya pergi sendiri aja. Anda dan anda semua..”


Reiji melayangkan pandangan hormat pada Alvarend dan dua ayahnya.


“Serta anda..” lalu menoleh pada Kafeel. “Sudah sangat membantu saya sampai sini.. Jadi sisanya, biar saya yang menyelesaikan..”


Reiji berkata dengan lugas kemudian.


“Jadi, berikan saja alamat Villa tempat pria itu membawa istri saya.”


Reiji sungkan memaksa, tapi ia ingin buru-buru menyelamatkan Malia.


“Orang kami akan menemanimu. Dan sudah ada juga orang kami yang sudah on the way pergi ke Villa itu untuk melihat situasi—“


“Kami tau kau gusar, tapi kau tidak bisa bertindak gegabah. Pria yang terobsesi dengan istrimu itu mungkin bukan kriminal kelas kakap yang pernah mencari masalah dengan keluarga kami. Tapi kau tidak bisa meremehkan orang gila, karena keselamatan istrimu taruhannya—“


***


Di tempat berbeda..


“Cepat atau lambat suamiku akan menemukanku, Irsyad...”


Ada Malia yang mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menekan Irsyad yang menculiknya itu.


“Haha...”


Irsyad tergelak.


“Kita ditakdirkan untuk bersama Lia. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi kamu takut pada suami kamu kan?...”


Lalu Irsyad bicara dengan percaya dirinya. Membuat Malia menjadi kesal.


“Ngaco kamu!”


Malia menyergah tajam ucapan Irsyad kemudian.


“Dia terlalu menekan kamu Lia, dan aku tidak akan membiarkannya—“


“Rei ga pernah menekan aku—“


“DIAM!” Irsyad berteriak dengan wajahnya yang nampak geram.


Membuat Malia seketika menjadi merasa takut, karena Irsyad menatapnya nyalang.


“Ini peringatan kedua! Kamu yang sudah aku larang menyebut nama suami sialan kamu itu di depan aku!”


Malia bungkam serta mengambil sikap waspada, dengan spontan memundurkan langkahnya.


“Dia sudah mencuci otak kamu, tau?..”


Sejenak kemudian, Irsyad kembali bicara dengan normal.


Namun begitu, Malia tidak mau menyahuti Irsyad yang benar-benar terlihat menakutkan di mata Malia saat ini atas emosi pria itu yang dapat berubah dalam sekejap mata.


“Tapi tenang saja, karena aku akan menghentikannya.. dia tidak akan menemukan kamu sih..” ucap Irsyad lagi. “Tapi jika dia sampai bisa menemukan kamu di sini, maka aku tidak akan segan untuk membuatnya berhenti menekan kamu, untuk selama-lamanya—“


‘Ya Tuhan..’ Malia melirih takut dalam hatinya, ketika Irsyad mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam saku celananya.


******

__ADS_1


Bersambung..


Terima kasih masih setia.


__ADS_2