WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 214


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“Setting handphone kamu supaya setiap panggilan yang masuk ke nomor kamu dialihkan ke nomor aku, karena aku mau antisipasi telfonnya si bibit pelakor itu...”


Ucapan yang keluar dari Malia itu sontak membuat Reiji terperangah, hingga Reiji yang sedang menyesap kopinya itu jadi sedikit tersedak. Saking Reiji tak sangka jika Malia sampai memiliki pikiran ke sana.


‘Ya Tuhan, aku tarik kembali permintaanku tentang ingin dicemburui Lia saking ingin yakin kalau dia memang sudah benar-benar mencintaiku kalau ternyata separah ini kecemburuannya – meski hanya pada satu perempuan lain saja.’


Reiji berkesah dalam hatinya.


***


“Sampe batuk segala?.... ga rela?.... jangan-jangan di depan aku aja telpon itu Miss – Irly dan chatnya ga kamu angkat dan ga kamu bales?....”


‘Astaga dragon.... astaga dragon....’


Reiji berkesah lagi dalam hatinya setelah mendengar kalimat cibiran dari Malia itu.


“Makanya saking kaget aku minta setiap panggilan yang masuk ke hp kamu supaya dialihin ke nomor aku, sampe kamu keselek batuk – batuk begitu.”


‘Ya ampun. Sampe begitu amat Lia curiga sama gue???’ kesah Reiji lagi dalam hatinya mendengar ucapan Malia barusan itu.


“Bener apa bener?....”


Malia kembali berujar santai, namun ekspresi wajahnya menggambarkan sedikit kecurigaan pada Reiji yang kemudian mengulum senyumnya itu.


***


“Ga bener sama sekali tuh....”


Tak seberapa lama Reiji merespons ucapan Malia yang sedikit mencurigainya itu.


“Dugaan anda itu sepenuhnya salah, Nyonya Reiji Shakeel....”


Reiji berkata lagi, sambil ia meletakkan cangkir berisikan kopi buatan Malia yang sempat ia sesap lalu terbatuk kecil setelah mendengar permintaan istrinya tersebut sebelumnya.


***


“Oh ya?-“


“Ya ya ya-“


“Aku lagi serius ish!....”


Malia segera mencebik sebal setelah Reiji menukas ucapannya dengan berguyon.


Dan Reiji lantas terkekeh kecil melihat Malia yang sedang memasang wajah jengkelnya itu.


“Jangan-jangan selama ini aku kamu bego-begoin,” sinis Malia.


“Duh ini mulut....” Reiji meraup pelan bibir Malia, sampai bibir istrinya itu sedikit maju. “Minta dimakan abis sampe sesek nafas.”


“Silahkan aja.... tapi itu yang tadi aku minta dilakuin dulu-“


Cup!

__ADS_1


“Dp dulu....”


Reiji mencuri satu ciuman dari bibir Malia yang tidak memberikan protes, bahkan saat Reiji sempat meraup bibirnya itu.


***


Reiji lalu langsung menarik pelan tubuh Malia yang kemudian Reiji kunci dengan dekapan di atas sofa tempatnya dan Malia berada saat ini.


Dimana posisi Reiji sekarang sedang mengurung tubuh Malia dari belakang dengan Malia yang dibuat bersandar punggungnya pada dada Reiji.


“Sini hp kamu.”


Reiji berkata sambil menadahkan tangannya pada Malia.


“Nih-“


“Ga usah pake segala alihkan panggilan....” tukas Reiji sembari menerima ponsel Malia yang di sodorkan si empunya setelah Reiji menanyakannya. “Kita tukeran hp aja, oke?”


***


REIJI


Haish, perempuan itu rumit ya. Dalam hal ini, entah memang rata-rata perempuan itu rumit.... atau hanya Lia-ku saja yang begitu kupikir rumit selain terkadang membingungkan.


“Kenapa harus tukeran hp?....” respons Lia setelah aku menawarkan solusi yang lebih gampang daripada harus mengalihkan panggilan telepon, meskipun aku tahu caranya.


“Ya kan lebih simpel supaya kamu lebih detail taunya siapa aja yang hubungi aku, pesan macam apa aja yang aku terima termasuk dari siapa aja pengirim pesannya....“ jawabku.


“Ya ga usah sampe gitu juga....”


Tuh, rumit kan Lia?


Aku langsung saja mengatakan alasanku kenapa aku menyarankan agar aku dan Lia sekalian saja bertukar ponsel daripada ribet.


“Jadi daripada kamu curiga berkepanjangan sama aku yang diam-diam masih suka berkomunikasi dengan akrab dan sering sama Irly seperti sebelumnya, terus nanti ribetnya kalau panggilan dialihkan. Yang mana ujungnya juga bakal ngeribetin diri kamu sendiri-“


“Ribetnya?....” Lia menukas penuturanku.


“Kalau ada yang menghubungi aku saat jam kerja kamu, atau kamu sedang meeting dan sebagainya.... Ga terganggu dan repot kamunya harus ngabarin aku?....”


Aku menerangkan resiko jika harus sampai membuat panggilan yang masuk ke nomor kontak ponselku, dialihkan ke nomor ponsel Lia. Makanya aku sarankan tukeran ponsel aja sekalian.


Walau aku yakin juga akan ada kerepotan lain jika aku dan Lia bertukar ponsel, tapi paling tidak cetusan-cetusan kalimat curiga aku rasa tidak akan keluar lagi dari mulut Lia akibat urusan ponsel yang didasari kecemburuan Lia ---- Aku yakin itu.


Karena di kepalaku tidak ada lagi jawaban yang bisa kupikirkan jika Lia cemburu berat pada hubungan persahabatanku dan Irly yang memang sangat akrab itu, makanya Lia sampai menjadi istri yang super posesif.


Yang sebenarnya tidak aku permasalahkan dengan besar, sikap Lia yang sekarang menjadi super posesif itu sekarang ini. Namun sedikit banyak aku merasa senang dengan sikap posesif Lia.


Setidaknya, meski cemburunya Lia pada Irly sedikit merepotkanku ---- tapi dengan Lia yang menjadi posesif sekarang ini, setidaknya aku dapat menilai kadar cintanya padaku.


Dan untuk satu alasan tersebut ---- meski Lia memberikan label sadis pada Irly setelah kegeramannya hari itu di kala aku dan Lia sempat adu argumen sedikit tajam, namun ada bahagia yang menyelimuti relung hatiku dengan sikap posesif Lia itu.


Karena bagiku, rasa cemburu pada pasangan tidak akan muncul tanpa adanya rasa sayang yang berlebih yang mana adalah cinta.


Maka atas dasar cinta itu, maka cemburu pun muncul. Jadi, ya seperti itu.


Aku tidak mempermasalahkan jika Lia menjadi sangat lebih posesif dan seolah begitu mengikat gerakku, atau mengatur kehidupanku hingga sampai ke dalam titik mengekang ---- dimana aku menerima permintaan Lia untuk menjauhi sahabatku sendiri yang sudah lama sekali akrab denganku, bahkan aku sudah menghindarinya sekarang.

__ADS_1


Semata karena aku ingin hubungan pernikahanku dan Lia berjalan dengan sangat harmonis sampai nanti kami diberi momongan hingga seterusnya. Walau konsekuensi dari aku yang menghindari Irly, berimbas kepada hubungan persahabatanku dengan tiga sahabatku yang berjenis kelamin laki – laki. Yang sempat bertanya padaku secara personal, kenapa aku sampai keluar dari grup chat kami itu.


---


Hubunganku dan Lia berjalan kian baik dan harmonis seperti yang aku harapkan, meski ideku untuk bertukar ponsel pun ditolak Lia.


Namun ada sisi baiknya juga tawaranku untuk bertukar ponsel dengan Lia itu berimbas.


Lia juga tidak lagi memaksa untuk mengatur ponselku agar setiap panggilan yang masuk ke dalam nomor kontak pada ponselku itu dialihkan ke nomor kontak ponselnya.


Mungkin Lia dapat menangkap bahwasanya memang benar tidak ada yang aku tutupi darinya, selain memang aku santai saja menanggapi keinginan Lia yang aku yakini sebagai rasa cemburunya pada Irly.


Yang mana seharusnya tidak perlu Lia punya rasa cemburu itu pada Irly. Karena memang tidak ada yang perlu Lia cemburui darinya, mengingat aku telah melakukan apa yang istriku itu inginkan ---- yaitu menjauhi Irly, agar tak lagi aku berbincang dengannya disaat aku sedang berada di apartemen di waktu yang sama dengan Lia.


Ataupun mengobrol dengan Irly di sambungan telepon saat Lia sedang mencoba menghubungiku, dimana kala itu aku belum peka jika Lia terganggu dengan hal tersebut. Yah, sedikit banyak aku tidak bersalah sebenarnya.


Salahku mungkin hanya kurang peka.


Tapi diluar itu, Lia juga tidak mau terbuka dengan rasa terganggunya itu hingga aku tak paham apa yang Lia rasakan pada interaksiku dengan Irly selama ini. Walaupun aku rasa wajar saja interaksiku dengan Irly itu.


---


“Yang....”


Panggilku pada Lia, kala kami sedang berada di dalam mobil setelah aku menjemputnya.


Aku sedang libur, jadi seperti biasa jika aku sedang bebas tugas, aku akan senantiasa mengantar jemput Lia ke kantor.


“Iya, Rei....” sahut Lia.


“Engga, aku cuma mau nanya soal program anak sesuai rencana kita-“


“Oh-“


“Kita mulai seriusin dari sekarang, gimana?”


“Ya udah, terserah aja. Aku sih tergantung kamu....”


Aku pun tersenyum mendengar jawaban Lia yang membuat hatiku berdesir hangat.


Yang kemudian aku raih satu tangan Lia untuk aku genggam dengan lembut. “Thanks, ya?”


“Ngapain bilangthanks, coba?.... punya anak kan bukan akan jadi kebahagiaan kamu sendiri nantinya.”


Lia bertutur lembut sambil mengusap lembut punggung tanganku yang sedang menggenggam satu tangannya itu.


“Tapi kebahagiaan aku juga.”


Lia menambahkan ucapannya.


Aku pun kembali mengulas senyuman.


Lia pun membalas senyumanku itu dengan senyum hangatnya yang sangat aku kagumi itu.


“Kalo gitu kamu berenti kerja ya?....” ucapku kemudian, dimana senyuman hangat Lia kemudian perlahan terlihat memudar.


****

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2