WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 154


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Malia dan Reiji telah sampai di unit apartemen mereka.


Setelah tadi Malia sempat memiliki kecurigaan kecil karena berpapasan dengan seorang wanita cantik dengan aura seksi yang mendominasi, jika Rei mengenal wanita itu atau tidak – dan Rei langsung melontarkan jawaban atas kecurigaan Malia sebelum istrinya itu bertanya, kini Malia dan Reiji sedang saling rengkuh berhadapan.


“Kok tau sih kamu apa yang aku pikirin Rei? ....” tanya Malia jujur, dan Rei mendengus geli.


“Apa sih yang aku ga tau tentang kamu, Yang? –“


“Masa?”


“Hu’um.” Sahut Reiji. “Yang kamu pikirin, yang kamu lakuin, aku tahu lah –“


Deg!.


Seketika Malia menjadi was-was.


“Uummm Rei,”


“Kenapa?” tanya Reiji sambil sedikit menelengkan kepalanya menatap pada Malia yang terlihat ragu – ragu untuk bicara.


Dan memang begitu ragunya Malia, karena ia tidak langsung menjawab pertanyaan Reiji. Selain Malia sedang menimbang – nimbang emosi Reiji.


Reiji menatap Malia dengan tatapan sedikit heran.


Malia menggigit kecil bibir bawahnya sendiri, masih nampak ragu untuk bicara.


Cup!


Reiji yang merasa gemas pada Malia itu langsung saja menyambar bibir Malia untuk ia kecup saking ia tak sabar menunggu Malia bicara.


“Kelamaan!. Ga tau suaminya kangen berat apa? ....”


Malia sontak mendengus geli setelah bibirnya di kecup oleh Reiji.


“Ada yang mau aku omongin sama kamu –“


Malia akhirnya memantapkan hati untuk bicara jujur pada Reiji tentangnya yang tadi bertemu, bahkan makan siang dengan Irsyad.


“Rei!” Namun belum lagi Malia sempat melanjutkan kata-katanya, Malia lalu memekik terkejut.


“Sekalian mandi bareng aja ngomongnya,” tukas Reiji yang dengan cepat mengangkat tubuh Malia ke udara.


“Bentar lagi maghrib,” sambar Malia.


“Oh iya,” sahut Reiji sambil ia menggendong Malia menuju kamar mereka. “Ganjet nanti kita ...”


Sontak Malia terkekeh geli mendengar kalimat asal dari Reiji itu.


“Nih mulutnya kalo ngomong suka asal jeblak!”


Sambil tangan Malia yang bebas itu meraup bibir Reiji dan membuatnya jadi mengerucut.

__ADS_1


Reiji pun terkekeh geli, namun langkahnya tidak terhenti untuk membawa Malia ke dalam kamar mereka.


***


REIJI


Aku mengatakan pada Lia jika aku akan sampai sore hari di Indonesia hari ini. Yang mana pada kenyataannya aku sudah sampai di Indonesia jam sepuluh pagi.


Aku sengaja memang, bukan karena aku mencurigai Lia lalu aku ingin diam-diam mengawasinya, melainkan aku hanya ingin memberinya kejutan sekaligus memberi kabar baik pada Lia soal pekerjaanku.


Jadi aku sengaja ingin mengejutkan Lia, dengan datang ke kantornya saat waktu istirahat Lia.


Senang, iya.


Kangen sih lebihnya.


Sejak Lia blak-blakan mengatakan jika ia sudah mencintaiku, aku jadi gampang kangen pada istriku yang mulai sembuh dari kelabilan.


Hehehe ...


Mudahan aja kelabilan Lia ga pernah kambuh lagi, terutama soal perasaannya padaku.


Aamiin! ...


--


Well, singkat kata, aku telah menyelesaikan tugasku yang diberikan oleh Maskapai tempatku bernaung selama ini dan aku bergegas pulang dengan menggunakan mobil jemputan khusus pilot.


Dan aku menahan diri untuk tidak mengaktifkan ponselku sampai aku bertemu dengan Lia nanti di kantornya.


Aku ingin lihat reaksinya yang kalau sedang saat video call denganku dikala aku sedang berada di Hotel ketika aku sedang di London saat aku menunggu jadwal kembali ke Indo, selain aku ada kepentingan lain disana.


Soalnya kerjaanku akan cukup longgar, namun penghasilan melebar. Mantul lah pokoknya menurutku.


Istri mana juga rasanya pasti akan senang jika suaminya bekerja dengan santai namun bisa punya penghasilan lebih dari sebelumnya.


Bukan begitu ibu-ibu?...


--


Singkat kata lagi, aku sudah berada di dalam mobil jemputan khusus pilot yang menjadi fasilitas dari maskapai tempatku bernaung. Dan mobil jemputan tersebut telah melaju, menuju kantor Lia.


“Pak Ucup, kalo lengang langsung gaspol ya?” kataku pada supir jemputan yang sudah akrab denganku itu.


“Siap Pak Reiji!” sahut Pak Ucup dengan semangat. “Udah ga sabar pengen ketemu istri yak?” godanya. Dan aku terkekeh.


“Banget!” sahutku, dan gantian Pak Ucup yang terkekeh.


“Tapi ini ketemuan di kantor istri Bapak, ga bisa langsung maen sosor dong Pak?-“ celetuk Pak Ucup dan aku terkekeh lagi.


“Yang penting ketemu dulu, lepas kangen. Nanti di apartemen baru saya eksekusi,” aku menyahut asal dan Pak Ucup terkekeh geli.


“Jangan kasih kendor Pak.”


“Weits, pastinya!” sahutku lagi dan kemudian aku dan Pak Ucup terkekeh bersama.

__ADS_1


--


Aku dan Pak Ucup mengobrol santai ngalor ngidul hingga ia telah sampai mengantarku ke gedung perkantoran tempat Lia bekerja, dan aku sangat bersemangat untuk segera keluar dari mobil jemputanku itu.


Aku turun hanya membawa navy bag ku saja, dan koperku aku minta Pak Ucup mengantarnya ke apartemenku dan menitipkannya pada resepsionis di gedung apartemen tempat tinggalku dan Lia. Baru nanti aku ambil saat sampai disana. Dan aku sudah mengkonfirmasi resepsionis yang berada di lobi bagian unit apartemenku dan Lia berada tentang Pak Ucup yang akan mengantar koperku kesana.


Jadi aku bisa melenggang santai datang ke kantor Lia untuk mengejutkannya.


--


Aku senang sekali dan tak sabar melihat Lia muncul di lobi gedung perkantoran tempatnya bekerja. Dan hatiku kian senang saat sosok Lia aku tangkap keluar dari dalam lift.


Aku berdiri saja di tempatku, dimana aku sengaja berdiri dengan sedikit bersembunyi agar Lia tak langsung dapat melihatku.


Karena aku ingin mengejutkan istriku itu, dan mau lihat bagaimana reaksinya-yang aku terka pasti selain terkejut, bibirnya akan mengerucut setelah tahu aku bohong padanya tentang jadwal kepulanganku.


Dan setelah aku rasa lihat Lia telah mulai berjalan menuju pintu lobi dengan beberapa temannya yang aku kenali wajahnya, akupun mengayunkan santai kakiku untuk kuposisikan diriku dibelakang Lia, lalu akan aku tutup matanya dari belakang, sekaligus aku kecup pipinya.


Masa bodoh dengan keadaan lobi gedung perkantoran Lia yang agak ramai dengan para karyawan yang sudah mulai bertaburan untuk pergi makan siang di jam istirahat mereka. Aku hanya ingin segera menyalurkan rindu karena tiga hari tak bertemu, walau hanya sedikit saja aku bisa menyalurkan rindu sebelum kami berdua pulang ke apartemen nanti.


Aku ingin segera memeluk Lia, dan menghirup aroma tubuhnya walau sekilas saja. Aku berjalan sambil mengulum senyum dengan hatiku yang riang. Namun kemudian, aku spontan menghentikan langkah ketika aku ingin melebarkan langkahku, saat aku melihat seorang lelaki berkulit putih dan berkacamata menghampiri Lia.


Aku rasanya tak kenal wajahnya.


Tapi entah kenapa aku bisa menerka siapa lelaki itu. Yang kemudian diladeni Lia, bahkan Lia akhirnya memisahkan diri dari temannya dan kemudian berjalan berdua bersama lelaki-yang aku tebak jika lelaki itu adalah si bibit pebinor. Dan aku merasakan sedikit gemuruh di dadaku.


Namun begitu aku mencoba bersikap tenang dengan menahan diri untuk tidak menghampiri Lia yang kemudian berjalan berdua dengan lelaki yang selalu menebar senyumnya pada Lia.


Entah kenapa kakiku kemudian terasa enggan bergerak lagi, padahal aku ingin sekali mengikuti Lia dan lelaki itu.


Karena jujur saja, aku merasa cemburu. Selain hatiku rasanya gelisah, hingga membuat sekelebat pikiran negatif tentang Lia muncul di pikiranku.


Yang kemudian aku tepiskan, dan aku langsung mencamkan hal positif jika aku jangan sampai cemburu buta, jangan sampai aku memfitnah Lia yang main kotor dibelakangku dengan lelaki yang bersamanya itu.


Aku mempercayai Lia. Mempercayai semua ucapannya padaku, yang memang seharusnya begitu.


Lia sudah mencintaiku, dan si bibit pebinor itu hanya bagian dari masa lalu Lia.


Jadi aku memilih untuk tinggal, membiarkan Lia dengan lelaki dari masa lalunya itu yang kemungkinan besar mereka akan pergi makan siang bersama.


Cemburu?


Tentu saja.


Tapi aku masih bisa menahan.


Aku ingat perkataan Lia, jika lelaki itu hanya tinggal sepotong kenangan yang ingin segera Lia lupakan dan lepaskan.


Untuk itu aku membiarkan Lia pergi bersama lelaki yang aku yakin adalah si bibit pebinor. Mensugesti positif diriku, mungkin di pertemuan mereka sekarang ini, Lia ingin menyelesaikan semua dengan lelaki itu.


Lalu setelahnya, Lia hanya akan terpaku padaku. Hati dan cintanya, hanya untukku seorang.


Iya, seperti itu.


Aku percaya kamu, Lia.

__ADS_1


--


Bersambung ...


__ADS_2