
Selamat membaca....
****************
“Lia...”
Suara yang sayup-sayup Malia dengar di telinganya.
“Lia... aku antar ya?...”
“Tidak perlu!”
“Tapi kamu terlihat kurang sehat, Lia—“
“Jangan kurang ajar kamu!”
“Maaf aku ga bermaksud untuk itu...”
‘Eugh...’
“Lia...”
“Hah!”
Adalah Malia yang terbangun dengan wajah seperti orang yang baru saja mendapatkan mimpi buruk dalam tidurnya.
“Minum dulu, Lia...”
Sebuah suara membuat Malia langsung menengok tajam, meskipun ia sendiri sedang menetralkan nafasnya.
“Kamu!” Malia melotot tajam ke arah orang yang menawarkannya minum itu.
****
MALIA
Hal terakhir yang aku ingat sebelum pandanganku mengabur lalu gelap dan aku tidak merasakan apa-apa lagi setelah aku merasakan juga tubuhku melemas, adalah aku berada di lift sebuah restoran dan bar yang terletak di puncak sebuah gedung tinggi sebuah Bank di Jakarta.
Dimana sebelumnya, aku yang masih baik-baik saja, mendengar Irsyad memanggilku hingga ia mendekat padaku lalu menawarkan diri untuk mengantarku yang mana aku tolak dengan ketusnya. Lalu aku ingat juga, jika si bibit pebinor itu tahu-tahu sudah ada di depanku ketika sejenak aku teringat pada Rei.
Dan dengan lancangnya, Irsyad menyentuh pipiku sambil bilang, “Tapi kamu terlihat kurang sehat, Lia.“
Yang aku langsung tepiskan tangan sekaligus menyergah kasar tindakan Irsyad itu sambil aku melotot tajam padanya.
__ADS_1
“Maaf aku ga bermaksud untuk itu...”
Ucapan terakhir Irsyad yang masih dapat aku dengar jelas sebelum pandanganku mengabur dan tubuhku mulai lemas.
Saking lemasnya, bahkan ketika Irsyad meraih tubuhku yang aku rasa sangat limbung itu aku tidak memberikan penolakan dan merasakan jika aku dibawa masuk dengan perlahan oleh Irsyad ke dalam lift.
Aku masih dapat menyadari yang Irsyad lakukan padaku hingga sampai di dalam lift, dimana dia menopang tubuhku dengan satu tangannya, dan satu tangannya menekan tombol lift yang entah nomor berapa.
Lalu setelah lift bergerak dan aku merasakan seperti lambungku lepas dari tempatnya, aku tidak merasakan dan melihat apapun lagi.
Dan sekarang, aku ada di atas sebuah ranjang. Yang aku belum tahu di ranjang siapa aku berada saat ini.
Karena belum sempat aku memfokuskan pandanganku yang masih agak blur, aku dikejutkan oleh sebuah suara yang sangat aku kenal, dimana pemiliknya adalah orang yang terakhir bersamaku.
Irsyad.
Yang mana ia sedang tersenyum sambil menyodorkan segelas air dalam gelas yang sempat aku lirik.
Dan ah, ya. Aku ingat satu hal lagi.
Saat Irsyad menyentuh pipiku, aku mencium bau yang sedikit agak menyengat dari tangannya.
****
Malia kembali memekik, setelah rasanya ia yakin jika Irsyad telah katakanlah membiusnya. Dimana Malia menarik mundur tubuhnya yang terduduk di atas sebuah ranjang itu, lalu melirik keadaannya.
Ada lega ketika Malia melihat dirinya masih berpakaian lengkap, dan masih menggunakan pakaian yan ia kenakan sebelumnya. Namun hal itu tidak menampik kekhawatiran berikut ketakutan dalam dirinya yang sempat tak sadarkan diri itu, tentang apa yang bisa saja Irsyad lakukan padanya selama ia tidak sadarkan diri karena biusan.
“Tenang saja, Lia... Aku hanya membius kamu dan membawa kamu ke tempatku, dan tidak melakukan hal yang lebih dari itu... Meskipun aku ingin sekali membuat kamu menjadi milikku seutuhnya. Dan kita bersama selamanya,” ujar Irsyad dengan tenangnya, sambil tersenyum pada Malia yang langsung menatap Irsyad lebih was-was.
****
MALIA
Jijik!
Setelah aku mendengar Irsyad mengatakan secara tidak langsung bahwasanya dia memiliki pikiran kotor tentangku saat aku tidak sadarkan diri akibat perbuatannya. Namun ada hal lain yang aku tangkap dari kalimat Irsyad lainnya, kala ia menyadari jika aku memeriksa keadaan diriku.
Tidak waras.
Kata lain yang rasanya tepat untuk menggambarkan Irsyad yang ada di hadapanku sekarang ini.
Bagaimana tidak waras kalau di sampai membawa kalimat ‘Dan kita akan bersama selamanya’ sementara dia tahu kalau aku ini istri orang.
__ADS_1
****
“Apa maksud semua ini Irsyad?!... Untuk apa kamu melakukan ini semua?!...” Malia yang panik, kini sudah bangkit dari posisinya. Lalu bertanya dengan menatap sangat tajam pada Irsyad yang nampak tenang saja di tempatnya duduk sambil memandang pada Malia.
“Untuk kita tentu saja,” jawab Irsyad kemudian. “Bukankah aku pernah bilang kalau aku kembali ke sini buat kamu?” tambahnya. “Untuk memperjuangkan kamu?... dan hal itu yang sedang aku lakukan sekarang—“
“Aku udah nikah Irsyad!” tukas Malia dengan cepat dan tajam.
“Aku tidak peduli!” sambar Irsyad yang kini telah berdiri dan menatap serius pada Malia.
Dan Malia spontan memundurkan langkahnya, namun Irsyad bergerak maju mendekatinya. Membuat Malia mulai merasa takut sekarang pada Irsyad yang menatapnya bak predator yang sedang menatap bakal mangsanya.
“Kamu mau bilang kamu mencintai laki-laki yang sudah menjadi suami kamu itupun aku tidak peduli. Karena kamu milik aku sekarang, Malia Leonard.”
“Kamu gila Irsyad!” seru Malia dengan berani. “Aku ga akan pernah jadi milik kamu!” serunya lagi, walau sebenarnya Malia sudah takut setengah mati sekarang. “Aku ga sudi!”
“Terserah,” tukas Irsyad. “Tapi sekarang, tempat kamu adalah di sisi aku, Lia.”
“Kamu udah gila Irsyad!”
“Memang!” sambar Irsyad. “Dan kamu yang membuat aku gila!”
Irsyad meracau.
“Kamu dan kemunafikan kamu yang tidak mau mengakui bahwa kamu sebenarnya mencintai aku!”
“Aku mencintai suamiku! Reiji Shakeel!”
Malia menukas tajam.
“Akh!” namun kemudian Malia memekik.
“Jangan pernah menyebut namanya di depanku, atau aku tidak segan melucuti pakaian kamu.”
“Ja-jangan –“
“Tapi sepertinya itu ide bagus. Mengirimkan foto-foto kebersamaan kita di kamar ini pada suamimu itu—“
“Ja-ngan, Irsyad... aku mohon—“
******
Bersambung....
__ADS_1