WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 174


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Dari sejak Malia terpaksa harus mengajukan ijin untuk tidak masuk kantor karena ‘perbuatan’ Reiji pada malam harinya, hingga kemudian lanjut terus-terusan libur karena Reiji juga libur selama tiga hari, Malia dan Reiji benar-benar memanfaatkan waktu yang ada untuk menjalin keharmonisan diantara mereka.


Dan setelah itu, hingga sudah dua minggu ini, hubungan Malia dan Reiji memang harmonis saja adanya. Setelah libur tiga hari Reiji ada jadwal terbang lagi, meskipun sebenarnya Reiji sudah dialihkan untuk menjadi pilot pribadi bagi Bos Besar-berikut keluarga si Bos maskapai yang menaunginya.


Namun Reiji tidak serta merta melepaskan tugasnya yang sudah terjadwal sebelumnya begitu saja.


Suami Malia itu tetap bersikukuh menyelesaikan tanggung jawabnya, meski Bos Besar telah memberikan kebebasan untuk bertugas padanya.


Hanya tugas penerbangan Domestik saja, itupun pulang hari, dan Reiji bertugas hanya per dua hari sekali, hingga kemudian dia libur lagi sampai hari sebelum hari ini.


Hari pertama Reiji menjalankan tugasnya sebagai pilot pribadi dari Big Bossnya berikut keluarga Sang Bos.


“Aku berangkat dulu Ya, Yang?”


Rei berpamitan pada Malia setelah ia sedikit tergesa menghabiskan sarapannya.


Karena Reiji tidak ingin sampai terlambat dihari pertamanya bekerja secara pribadi pada Bos Besar dan keluarganya itu, dimana sebagian dari keluarga Bos Besarnya itu akan pergi ke Inggris. Karena sebagian besar dari keluarga Bosnya Reiji itu berdomisili di Negaranya Ratu Elizabeth tersebut.


Selain itu, Reiji juga tergesa, karena ia akan diperkenalkan terlebih dulu oleh si Big Boss, pada seluruh anggota keluarga intinya. Yang mana orang-orang itu memanglah harus Reiji kenal satu per satu, mengingat Reiji pasti akan kebagian mengantar masing-masing anggota keluarga Sang Big Boss jika mereka hendak bepergian lewat jalur udara.


***


REIJI


“Aku berangkat dulu Ya, Yang?” pamitku pada Lia, yang akan aku tinggal terbang selama beberapa hari.


“Iya, hati-hati ya, Rei? –“


“Belum nemu emang? ...”


Aku memotong ucapan Lia.


“Nemu apa? –“


“Panggilan khusus buat aku ...”


Aku menyambar cepat untuk menjawab.


Lia pun tersenyum padaku, sambil sedikit mendongak dengan dia yang berada dalam rengkuhanku. “Aku bingung mau manggil kamu apa abisnyaa.”

__ADS_1


“Ah, alesan,” gerutuku tak serius. Lia pun terkekeh.


-


“Eh, Rei, tapi bareng deh ke bawahnya.”


Lia menahanku, selepas aku berpamitan untuk yang kedua kali padanya.


“Sekalian aku mau ke laundry juga,” lanjut Lia, yang libur karena ini hari sabtu. “Firasat aku ga enak.”


Aku mengernyit. “Firasat apa Yang? –“


“Firasat ada perempuan ganjen yang nungguin kamu di lorong.”


“Heu?-“


“Itu tuh, perempuan yang unitnya pas dibelokan arah lift. Yang suka tebar pesona sambil duduk-duduk di sofa deket jendela lift.”


Ah ya ampun, perempuan yang selalu dikomplain Lia jika kami berpapasan sesekali itu toh? “Cie, yang takut suaminya digodain –“


“Aku bukannya takut. Tapi aku jagain milik aku supaya itu nyamuk betina ga sampe coba ‘gigit’ kamu, dimana gigitannya itu bisa menimbulkan penyakit.”


Aku terkekeh geli mendengar cerocosan Lia dengan wajah merungutnya itu.


“Jadi istrinya Akang Rei cemburu ceritanya?”


Dan istriku itu mencebik, dengan tetap merungut.


Bikin gemes aja.


Berharap sekali hari ini aku libur bekerja seperti Lia, maka akan aku angkat tubuh Lia dan membawanya ke kamar, lalu kupreteli semua kain di tubuhnya itu.


-


Bicara tentang cemburu, aku senang jika Lia memiliki perasaan itu untukku.


Asal jangan cemburu buta, lalu kelabilannya kembali mendera. Atau parahnya, menuduhku yang bukan-bukan.


Tapi bagaimanapun aku senang jika Lia menunjukkan sisi kecemburuannya seperti itu. Tandanya kan, dia takut kehilanganku?..


Meski Lia tidak perlu memiliki ketakutan itu. Takut kehilanganku. Karena aku sendiri takut kehilangan Lia. Yang mana akan aku pertahankan Lia sekuat tenaga.


-

__ADS_1


“Cemburu sih engga.”


Lia menanggapi ucapanku.


“Sebel aja ngeliat perempuan begitu.”


Sambil lagi Lia mencebik jengah.


“Ya udah liat aku aja kalo gitu.”


“Jangan ngelirik loh kalo kita papasan sama dia.”


Aku pun mendengus geli dengan peringatan Lia barusan itu. “Iya sayang.”


Iyain aja, karena kalo engga, bisa merepet panjang itu Lia. Kalau aku ga sedang buru-buru, akan aku goda habis-habisan itu si Malia Shakeel.


“Ya udah,” kataku tak seberapa lama. “Pegangin dulu tas aku sebentar,” lanjutku sambil memberikan tas travelku pada Lia. “Aku yang ambilin baju kita yang mau di laundry. Udah disiapin kan?“


Lia mengangguk, dan aku langsung bergegas menuju kamar kami untuk mengambil baju kami yang akan dibawa Lia ke gerai laundry yang ada di bagian bawah gedung apartemen tempat tinggal kami.


****


“Udah, jangan cemberut.”


Reiji berucap, sambil mengecup gemas puncak kepala Malia, saat mereka telah dekat dengan lift, dimana seorang perempuan yang nampak rapih dalam pakaiannya, sedang berdiri di dekat lift yang juga akan Reiji dan Malia gunakan.


“Bener kan firasat buruk aku? –“


“Aku balik lagi ke unit kalo gitu ya? –“


“Ngapain?”


“Ambil semprotan nyamuk? .....”


Malia pun tertawa lebar mendengar kelakar Reiji itu.


Dimana Reiji tersenyum dan mengecup lagi puncak kepala Malia dengan sayang.


Dan sesuai dengan janji Reiji pada Malia, jangankan melirik perempuan yang sering curi-curi pandang padanya sejak sebelum lift terbuka, bahkan saat perempuan itu menyapa Malia-Reiji bahkan tak menggubris sapaan wanita tersebut.


Biarlah dia dibilang belagu, sok kegantengan.


Asal bagi Reiji, Malia bisa merasa nyaman.

__ADS_1


******


Bersambung ...


__ADS_2