
Selamat membaca...
***
Reiji dan Malia sudah menghentikan sesi mesra – mesraan kecil mereka di atas ranjang pada kamar keduanya yang ada di rumah orang tua Malia.
“By the way, Yang ..” ucap Reiji setelah ia bangkit dari posisinya untuk pergi ke kamar mandi.
“Hm?”
Malia menanggapi Reiji yang seperti ingin bertanya padanya dengan deheman, namun mata Malia fokus pada suaminya itu.
“Kamu tiba – tiba mau kesini, kenapa? ..” lanjut Reiji seraya bertanya, sambil ia mengusap lembut kepala Malia, lalu menyelipkan sedikit rambut istrinya itu ke belakang telinga.
“Itu ..”
“Lagi dateng isengnya?” tebak Reiji dan Malia langsung mengangguk-angguk.
***
MALIA
“Lagi dateng isengnya?”
Tebakan Rei atas aku yang tiba – tiba mampir menginap ke rumah orang tuaku tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Hehe, iya ..”
Yang langsung aku angguki tebakan Rei itu.
Sambil kuciptakan ekspresi cengengesan sebagai pembenaran agar terlihat natural.
“Dasar.“
Iya emang dasar, aku ini orangnya isengan kalo ada disatu ruangan sendirian.
Ga sering sih, tapi kalau si iseng dalam diriku itu datang, ya macam-macam hal aneh seliweran di otakku.
Sebal sih memang, tapi sekarang sindrom ‘iseng’ yang aku punya itu cukup membantu.
Membantuku menciptakan alibi di depan Rei, kenapa aku tiba-tiba memutuskan datang ke rumah orang tuaku dan menginap disini.
“Ya udah aku mandi dulu ya, Yang? –“ pamit Rei namun tidak melepaskan seragam pilot yang masih menempel di tubuhnya. Bahkan kancing atasannya pun tidak ia segerakan buka.
Ih, kenapa ga dibuka aja sih itu atasan seragamnya?
Amal sama istrinya kek gitu, kasih liat itu roti sobek.
Kan istrinya jadi agak-agak penasaran? ..
Udah empat hari ga liat itu roti sobek.
Biasanya juga buka – bukaan? ..
Ga cuma atasan bahkan, tapi sekaligus bawahan.
Abis itu maksa mandi bareng. Nah sekarang woles aja ke kamar mandi sendirian.
__ADS_1
Tumben banget? ..
Eh? ..
Kok ponselnya dibawa ke kamar mandi? ..
Sekali lagi tumben? ..
Kayak ada yang dirahasiain?.
Apa di Inggris? ..
-
Aku penasaran. Curiga, mungkin lebih tepatnya.
Hingga saat Rei telah berada beberapa saat di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar kami pada rumah orang tuaku itu, aku ketuk pintunya.
“Masuk aja, Yang. Ga aku kunci kok,” sahut Rei dari dalam kamar mandi. Cepat tanggapan Rei.
Membuat curigaku sedikit hilang.
Karena kalau sampai pintu kamar mandi dikunci lalu baru agak lama Rei buka, fix aku akan curiga ada sesuatu yang Rei sembunyikan.
Jejak perempuan lain, mungkin? ....
-
“Sorry ganggu ---“
“Lagi nungguin malah ini diganggu.”
Dimana mataku memperhatikan setiap inci tubuh bagian atas Rei dari tempatku. Bukan hasrat ingin melihat perut Rei dengan otot-ototnya yang meresahkan itu.
Ada hal lain yang ingin aku periksa.
‘Tanda merah’ misalnya ....
Atau cakaran di punggung, mungkin?.
Iya, seketika aku jadi curiga dengan tingkah Rei yang tak biasa menurutku. Yang biasanya suka langsung ‘serbu’, minimal mencumbuku habis-habisan selepas ia pulang bekerja dan belum mandi.
Membuatku jadi ingat sebuah novel yang aku baca soal seorang wanita bersuamikan pilot yang terlihat begitu mencintai istrinya, tapi ternyata ‘main belakang’ dengan seorang pramugari di maskapai tempatnya sama bekerja.
Dan sejak perselingkuhan itu, sehabis bertemu dengan si selingkuhan, pilot tersebut akan selalu menggunakan ragam alasan agar dia langsung pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan jejak perselingkuhannya.
Didepan istrinya dia setia, bersikap bak bucin gila pada istrinya, tapi busuk taunya.
Maka karena itu, aku jadi ada di hadapan Rei sekarang. Walau aku percaya pada Rei sih, yang kayaknya ga bersikap busuk dibelakangku dengan menjajah bodi perempuan lain.
Tapi namanya istri lagi dateng curiganya, gimana?
Lalu aku dengar Rei bicara, “Jadi mau gangguin aku ga?” ucapnya, jika tidak salah.
Tapi aku sedang tidak fokus pada suara Rei, melainkan tubuh bagian atasnya.
Yang mana ingin aku scan tubuh suamiku itu, meskipun tidak ada harum yang mencurigakan selain parfum yang memang biasa Rei gunakan dalam keseharian – ketika tadi ia bersamaku di atas ranjang.
__ADS_1
Ditambah, Rei membawa ponselnya ke kamar mandi, yang selama ini tidak pernah ia lakukan. Dimana ponsel itu tergeletak di atas permukaan wastafel. Yang ingin aku sambar dengan segera, mengecek dengan siapa barusan Rei berbicara, sampai harus bertelepon ria di dalam kamar mandi segala.
-
“Pasti lagi curigain aku?-“ ucap Rei yang membuatku memandang padanya. “Nih. Barusan telfon dari supir yang anter aku tadi. Ada satu paper bag ketinggalan di mobil yang anter aku tadi,” jelasnya kemudian. “Itu yang bikin kamu ada disini sekarang kan?-“ tambahnya sambil menyodorkan ponselnya padaku.
Membuat aku jadi cengengesan. “Abis, kamu kan ga biasa-biasanya bawa handphone ke kamar mandi?-“
“Lupa ngeluarin dari kantong tadi,” tukas Rei. “Udah keburu fokus sama kamu yang sempet bikin aku panik ... Nih, silahkan cek seragam aku, ada bau aneh-aneh ga?”
Rei mengambil kembali seragamnya dari keranjang pakaian kotor, lalu menyodorkannya juga padaku yang cengar-cengir saja, karena Rei seolah bisa membaca pikiranku.
“Ya ga ada emang ...”
Aku tidak mau menerima seragam atasannya yang Rei sedang sodorkan padaku itu.
Ya karena memang aku tidak sempat mengendus bau lain selain jejak parfum Rei yang sudah bercampur dengan scent tubuh habis bekerjanya.
“Terus, kenapa masih curiga?” tukas Rei dan aku mencebik.
“Namanya lagi curiga.” Lalu aku mengerucutkan bibirku.
Rei terkekeh. “Ya udah, mau periksa apalagi?.. Badan aku?”
Dan dengan polosnya aku mengangguk.
“Ya udah nih cek sendiri.”
Rei mendekatkan dirinya padaku.
“Udah?-“ ucap Rei kemudian, setelah aku selesai memeriksa bagian depan dan belakang atas tubuhnya. Aku mengangguk seraya menyahut.
“Iya udah-“
“Ada tanda-tanda mencurigakan di badan aku?”
Aku pun menjawab Rei dengan gelengan lemah.
Malu hati.
Siapa suruh punya muka ganteng di atas rata-rata?..
Plus bentuk tubuh proporsional dengan dada yang senderable?
Wajar dong, istrinya langsung curiga kalau lihat sedikit aja gelagat yang ga biasa?..
“Ya udah bikin,” ucap Rei.
“Bikin apa?-“
Aku yang tak paham.
“Bikin tanda-“
Heem, aku paham maksudnya sekarang-karena Rei telah mengukungku di batas wastafel.
****
__ADS_1
Bersambung ..