
Selamat membaca....
***
REIJI
“Jadi siapa itu Irsyad?”
Aku mendesak Avi yang aku ajak untuk bertemu dan mencari tahu tentang laki-laki yang bernama Irsyad itu.
Laki-laki yang membuat Lia memilih untuk menemuinya ketimbang menerima ajakanku yang notabene suaminya.
“Harusnya lo tanya langsung sama Lia soal itu, Bang. Jangan malah lo tanya sama gue .. Ga etis tau ga?”
Avi yang melempar pertanyaanku membuat emosiku sedikit naik, hingga ia sampai mengkode padaku dengan matanya, yang seketika langsung aku pahami dan sadari bahwa kami sedang berada di tempat umum.
Aku yang tadi sempat sedikit berapi-api pada Avi, mencoba menguasai diri dan mengontrol emosiku agar tidak muncul di permukaan.
Aku tahu, jika aku tidak sepatutnya bersikap emosional pada Avi.
Toh Avi bukanlah Lia, yang kasarnya memilih menghabiskan waktu dengan laki-laki lain daripada denganku, suami sahnya.
Tapi mengingat Avi adalah sahabat karibnya Lia, aku menjadi sedikit merasa geram. Dimana gelagat Avi memang menunjukkan bahwasanya adik kandungku ini tahu siapa itu Irsyad, atau mungkin kenal.
“Ngomong. Siapa Irsyad?”
Aku kembali bertanya pada Avi dengan nada yang datar, namun aku memandang tajam pada adik kandungku ini.
“Dan apa mereka punya hubungan khusus?”
“Lo jangan asal nuduh ----“
“Gue nanya bukan nuduh!”
Aku langsung memotong kalimat Avi.
“Orang yang namanya Irsyad itu punya story dengan Lia dimasa lalu kan?” cecar-ku.
Lalu Avi menghela nafasnya kasar.
Dan Avi menatapku sejenak sebelum ia berbicara.
“Kakak senior Lia waktu kuliah----“ jawab Avi kemudian.
“Mantan?” Aku langsung menyambar. Avi juga langsung menggeleng.
“Lo kan tau sendiri kalo Lia ga pernah pacaran? Gebetan aja dia ga punya ...”
“Ya terus ada hubungan apa Lia sama dia??? ...”
Aku kembali mencecar Avi.
“Irsyad bagi Lia, kurang lebih sama seperti Shirly bagi lo dimasa lalu ---“
Aku terhenyak selepas mendengar ucapan Avi barusan.
“Jadi ...” aku sedikit tergugu. “Lia cerita soal Irly ke elo? ...”
Kaget juga setelah mendengar Avi yang menyebut nama Irly. Pasalnya, meski Avi adalah adik kandungku, namun Avi tak begitu mengenal para sahabatku itu.
Aku jarang mengajak mereka main ke rumah.
Hanya beberapa kali saja mereka main ke rumah orang tuaku, itupun saat masih sekolah.
Dan begitu juga aku yang jarang main ke rumah para sahabatku itu, karena kami seringnya berkumpul di suatu tempat untuk hang out.
__ADS_1
Jadi kami tidak akrab dengan keluarga satu sama lain.
Terlebih, Irly tidak pernah mau ikut jika kami mengajak berkumpul di salah satu rumah kami para sahabat lelakinya.
“Takut diapa-apain.”
Kelakar Irly waktu itu.
Dan saat Avi menyebut nama Irly, aku menebak jika Lia telah bercerita padanya.
“Bang, Lia itu sahabat gue... Dan kami pasti saling berbagi cerita...”
Tepat seperti dugaanku, bahwa Lia telah menceritakan soal Irly pada Avi.
“Dan tentunya dia juga berbagi cerita sama lo tentang Irsyad secara detail kan?...”
Aku berkata seraya bertanya sinis kemudian.
Lalu aku terkekeh sinis juga sesaat. “Dia mati-matian menggali masa lalu gue, tapi dia sendiri mengunci goa masa lalunya dari gue rapat-rapat.”
“Tapi lo juga harusnya cerita soal masa lalu lo dan Irly.” Kata Avi.“Gue aja kaget waktu denger cerita kalo pernah punya rasa sama sahabat cewe lo yang notabene gue ga merhatiin kalo cewe yang pernah gue liat di album foto lo itu, adalah sahabat deket lo, bahkan lo jatuh cinta sama dia...”
Aku terdiam, memutuskan untuk mendengarkan Avi bicara terlebih dahulu.
“Gue kaget kalo lo beneran pernah jatuh cinta sama cewe sebelum Lia.”Kata Avi lagi. “Karena setahu gue, lo bahkan ga pernah naro hati sama cewe-cewe yang bahkan pernah berstatus jadi pacar resmi lo..”
“Ya terus?.. Salah gue jatuh cinta sama cewe?..”
“Ya ga salah emang. Masalahnya lo ga jujur sama Lia!” sewot Avi. “Lo penasaran sama Irsyad tapi lo sendiri ga terbuka soal Shirly!”
“Ga usah ngegas..”
Aku berucap sambil memandang malas pada Avi.
“Masalah gue pernah jatuh cinta sama Irly itu udah masa lalu, Vi—“
“Dan gue udah bilang soal itu berkali-kali ke Lia.” Sambungku. “Lagian itu cerita lama yang gue rasa ga perlu-perlu amat gue cetuskan ke Lia, yang ga perlu diungkap, karena perasaan gue dimasa lalu sama Irly itu udah ga ada pentingnya lagi buat gue.”
Aku menjelaskan dengan tegas pada Avi.
Namun dengan nada suara yang aku kontrol agar tidak meninggi.
Yah walau rasanya aku tidak dapat menyembunyikan ekspresi kesalku.
“Gue udah terbuka sama Lia, soal hubungan masa lalu gue sama Irly. Terus gue harus terbuka bagaimana lagi? Udah sejujur-jujurnya gue ceritain sama Lia. Bahkan ponsel gue aja ga gue password asal di apartemen. Navy bag gue, seragam , sampai koper yang gue bawa saat tugas gue umbar begitu aja asal di apartemen .. Sampe situ kurang pembuktian gue?”
Aku merasakan urat leherku mulai menegang. Avi mendengus lalu menghela nafasnya seperti orang yang sedang putus asa. “Ya meski gitu juga, lo tetep ada salahnya, Bang---“
“Dimananya? ..”
“Salah lo itu karena lo bawa album foto kenangan lo sama si Shirly itu ke apartemen lo dan Lia!”
“Ya ampun ..” gumamku sambil mendengus geli sekaligus miris. Tak habis pikir, kenapa membawa album foto kenangan dengan para sahabatku menjadi sebuah kesalahan di mata Avi.
Benar-benar klop ini Avi dan Lia. Bisa sama juga cara berpikirnya. Karena seingatku Lia juga sempat mempermasalahkan aku yang membawa album foto kenangan dengan para sahabatku. Lalu foto yang ada catatan kaki dari Irly di belakangnya.
Catatan kaki yang hanya menyiratkan rasa terima kasihnya saja padaku, tanpa ada unsur keromantisan.
Satu hal dari foto yang salah bagiku, ya hanya foto close up Irly yang Lia temukan terselip disalah satu novelku, dimana di belakang foto tersebut ada goresan simbol love yang aku buat.
Yang seharusnya memang aku sudah singkirkan setelah aku melepaskan harapan dan perasaanku pada sahabat perempuanku itu. Tapi ya itu, bukan aku sengaja menyimpan foto close up Irly karena masih memiliki perasaan padanya.
Karena yang sebenarnya aku sudah tidak lagi mengingat soal foto tersebut dan bagaimana ada itu foto dalam selipan salah satu novel koleksiku. Foto yang akhirnya membuat Lia berpikir jika dia adalah pelarianku dari Irly.
“Penting gitu bawa jejak masa lalu lo sama perempuan yang pernah elo cintai ke tempat tinggal lo bersama istri lo?” sinis Avi. “Biar lo kapan aja bisa liat itu muka cewek yang lo cintai itu asal lo kangen dia?---“
__ADS_1
“Lo jangan asal nuduh Vi.” Sergahku pada adik perempuanku itu.
“Sekarang lo gusar karena orang dari masa lalu Lia datang lagi ke hidup Lia, nah elo pikirin deh tuh gimana perasaannya Lia waktu nemuin foto si Shirly itu yang ada tanda cinta lo dibelakangnya.”
Avi masih sinis padaku, tampak tak menggubris sergahan-ku.
“Menemukan fakta kalo laki-laki yang udah jadi suaminya membawa jejak cinta masa lalunya ke dalam apartemen yang seharusnya menciptakan kisah kalian!”
Dan ku-nilai saat ini, Avi sedang memposisikan dirinya sebagai sahabat Lia, ketimbang sebagai adikku.
“Kalo elo emang masih cinta sama si Shirly itu, ngapain lo terima perjodohan lo sama Lia?!”
Avi mendelik tajam padaku. Dan aku spontan terkekeh getir sambil geleng – geleng kepala.
“Pikiran lo sama aja kek Lia, Vi ..”
“Ya cewek mana juga pasti bakal mikir begitu kalo tau pasangan mereka pernah jatuh cinta sama seorang cewek sebelum dia, terus nemuin album foto yang banyak lembaran foto itu cewe sama pasangannya. Nemuin jejak masa lalu pasangannya, yang dibawa dalam kehidupan baru mereka.”
Avi masih mendelik dan ketus padaku.
“Intinya lo seharusnya ga pernah bawa jejak masa lalu sama cewek yang namanya Shirly itu!”
Tajam Avi bicara padaku, bak jaksa penuntut yang meminta penjatuhan vonis pada seorang terpidana.
“Dan disitu salah lo.”
“Lo denger baik-baik ya Vi,”
Aku langsung berucap kala Avi menyeruput minumannya.
“Itu album foto yang gue bawa, karena bukan cuma foto-foto gue sama si Irly aja yang ada disana!”
Aku menegaskan.
“Itu album foto bersama para sahabat gue, bukan album foto khusus gue sama Irly .. Kalaupun ada foto gue yang berduaan sama Irly, itu Cuma foto biasa, yang bahkan ga ada unsur kemesraan dan keromantisan didalamnya, yang bahkan udah lama ga gue tengok dan ga gue inget foto-foto yang gimana bentuknya.”
Setelahnya aku menjelaskan panjang lebar pada Avi.
“Kenapa?!” sambungku dengan mendelik pada Avi. “Karena perasaan gue sama Irly dimasa lalu udah ga pernah harapkan lagi, dan gue anggap itu juga udah ga penting lagi!”
“Meskipun begitu Bang ..”
Kini Avi tak nampak lagi ngotot dan ketus padaku.
Adikku itu berkesah setelah aku bicara barusan. “Harusnya emang ga usah lo bawa itu album kenangan lo. Atau setidaknya kalo lo mau bawa, ya lo sortir dulu itu foto-foto mesra lo sama si Irly—“
“Lo ngerti bahasa Indonesia ga sih, Vi?”
Sarkasmeku pada Avi dengan suara datar.
“Udah gue bilang, ga ada satu pun foto yang menunjukkan kemesraan antara gue dan Irly di itu album foto!” sambungku. “Karena emang pada kenyataannya, gue dan Irly ga lebih dari sahabat!”
Aku menekankan lagi. Mungkin Avi akan menceritakan pada Lia apa yang aku katakan dan jelaskan pada adik perempuanku ini, yang merupakan sahabat karib istriku.
Dan semoga saja, setelah ini-setelah Avi menceritakan pada Lia tentang sikapku yang mati-matian menyangkal dengan tegas dan serius soal aku yang tidak ada perasaan spesial apapun lagi pada Irly, Lia akan kembali seperti Lia yang aku nikahi empat bulan lalu.
Lalu hubunganku dan Lia akan membaik lagi, dan tak lagi Lia temui laki-laki yang bernama Irsyad itu!.
Hish!
Aku teringat Lia yang sekarang ini sedang bersama Irsyad itu, dan itu membuat dadaku panas.
Selain merasa tolol karena aku membiarkan begitu saja Lia pergi tadi untuk bertemu dengan si Irsyad itu.
Seharusnya aku menyusul Lia dan menahannya pergi, atau bahkan mengikutinya lalu mendamprat laki-laki sialan bibit pebinor bernama Irsyad itu.
__ADS_1
**
Bersambung ..