
Selamat membaca....
****************
MALIA
Aku sempat ketakutan ketika aku membuka mata, lalu menyadari jika aku berada di dalam sebuah kamar. Dan posisiku ada di atas sebuah ranjang, yang mengingatkanku saat Irsyad hendak memperkosaku di villa tempat dia menawanku setelah membiusku.
Dan dikala aku tersadar itu, aku juga ketakutan dan berpikir jika Rei yang menyelamatkanku adalah sebuah mimpi. Ditambah, aku tidak melihat keberadaan Rei di dekat dan sekitarku. Termasuk juga, aku sadari jika sebuah kamar tempatku berada sekarang ini, bukanlah kamar apartemenku dan Rei.
Jadi aku mencoba bangkit, setelah sebelumnya aku sempat menarik sebuah bed cover yang menutupi bagian pinggang ke bawahku hingga sampai ke leher. Yang mana sempat aku cek, jika aku masih berpakaian lengkap. Dan aku merasa sedikit lega seketika. Lalu aku beringsut dari ranjang kemudian.
---
Ceklek ...
Suara pintu yang sepertinya dibuka, aku dengar saat aku sudah tengah berdiri dari ranjang tempatku berada.
Tubuhku spontan menegang ketika aku mendengar suara pintu dibuka itu.
Yang mana aku takut, jika orang yang membuka pintu itu adalah Irsyad. Meskipun aku menyadari jika kamar tempatku berada sekarang ini bukanlah dua kamar yang pernah aku masuki di villa tempat Irsyad menawanku.
Siapa tahu memang benar aku yang merasa Rei sudah menyelamatkanku dari Irsyad lalu menggendong kemudian memasukkanku ke dalam sebuah mobil hingga aku lihat Rei hendak menembak Irsyad adalah sebuah mimpi, dan orang yang membuka pintu sekarang itu adalah tetap si biadab Irsyad.
Pasalnya aku tidak melihat tanda – tanda jika Rei ada bersamaku juga, jadi aku sangat was – was dan takut.
***
Namun rasa was – was Malia bercampur ketakutannya itu tak lama hilang, ketika ia sudah benar – benar melihat dan memastikan jika Reiji lah yang ada di hadapannya sekarang ini.
Tapi Malia juga menjadi panik, karena sadar jika ia telah melukai Reiji yang nampak sedikit meringis setelah menahan figura foto besi berpinggiran tajam dengan satu lengan Reiji yang nampak berdarah.
“Ya ampun Rei ... maaf.“
Malia berucap penuh penyesalan, dengan dirinya yang sudah membuang figura foto sebagai senjatanya untuk membela diri --- karena berpikir jika ia masih dalam tawanan Irsyad.
Malia meminta maaf sekali lagi pada Reiji, dengan memegang lengan Reiji yang mendapatkan goresan panjang serta berdarah itu.
“Ga apa – apa Yang ...” ucap Reiji, menanggapi kepanikan Malia yang melihatnya sedikit terluka. Karena walau memang perih dan berdarah, namun luka itu hanya goresan saja.
Setelahnya, Reiji menenangkan Malia lagi. Dan Malia lalu langsung saja berhambur memeluk Reiji dengan eratnya. Malia pun terisak kemudian.
***
MALIA
Ada satu hal yang baru aku sadari setelah Rei mengurai pelukan kami lalu mendudukkanku dengan perlahan ke sisi ranjang. Yang membuatku spontan meneguk salivaku.
Rei bertelanjang dada, dan dia hanya menggunakan selembar handuk saja. Walau entah dibalik handuk itu Rei menggunakan sebuah dalaman atau tidak, namun otakku mulai menjadi ngeres seketika saat aku memikirkan apakah Rei memakai lagi sebuah dalaman di balik handuk yang sedang ia kenakan itu atau tidak.
Seketika, aku merasakan tubuhku menjadi gerah --- karena dalaman Rei yang sedang aku pikirkan itu membuatku teringat pada ‘benda mati nan elastis’ milik Rei, yang bisa membuatku begitu lelah dalam kenikmatan. Yang mana bentuknya, kini sudah aku bayangkan di otakku. Seketika aku merasa menjadi perempuan dengan otak termes*m di dunia.
Dan aku sudah merasa semakin gerah.
“Ada yang sakit Yang?”
Suara Reiji membuatku terkesiap dari pikiran mesum yang sedang menari – nari di kepalaku ini.
“Eng- engga ... aku cuma haus ...” jawabku.
---
“Sebentar ya? ...” Yang Reiji katakan padaku, setelah aku bilang kalau aku haus padanya sebagai alibiku yang sedang berpikir sangat ngeres saat ini.
Tapi memang aku merasa jika diriku sangat haus saat ini, selain aku merasakan kepanasan. Yang mungkin karena jaket yang sedang aku kenakan ini.
“Yang? ...” Aku terkesiap saat mendengar Rei menyebut panggilan sayangku, yang memang ia Rei menyematkan panggilan itu darinya khusus untukku.
Membuatku menjadi kikuk sendiri, karena sebelumnya aku benar – benar memperhatikan Rei dari ujung rambut sampai ujung kaki saat dia tengah berjalan ke sebuah lemari pendingin.
Lalu saat Rei berbalik dengan sebotol air mineral di tangannya, aku semakin memperhatikannya --- galfok dengan bagian dada dan perut Rei yang ingin aku raba setiap incinya, dan aku kian merasakan tubuhku semakin panas.
Namun panas yang sedang aku rasakan sekarang ini, bukan seperti rasa panas seperti orang yang demam. Sulit untuk aku jabarkan.
__ADS_1
Karena bersamaan dengan hawa panas yang sedang aku rasakan menjalar di tubuhku ini, aku merasakan api gairah yang berkobar menjalar di tubuhku.
Dan atas hal itu, aku menarik Rei dengan cepat hingga tubuh kami menempel seraya aku mengalungkan kedua tanganku di tengkuknya. Dan dengan cepat juga aku menyambar bibir Rei tanpa ba – bi – bu.
“Y – Yang ...” gugu Rei yang sepertinya kaget karena kelakuanku yang tiba – tiba itu, sambil ia sedikit mengurai tubuh kami yang aku buat rapat itu.
Dan aku merasakan kedua tangan Rei yang memegang pinggangku, dengan ia yang menatapku dengan ekspresi kaget. Bahkan kekagetannya karena ‘seranganku’ pada bibirnya itu, membuat botol air mineral yang Rei pegang sampai terlepas dari genggamannya.
---
“Kamu –“
“Makasih udah nyelamatin aku ...” Aku beralibi seperti itu, agar Rei berpikir aku yang tadi menyerang bibirnya tanpa ba – bi – bu, adalah sebagai tanda terima kasihku padanya.
“Itu udah kewajiban aku, Yang.”
Rei menjawab ucapanku. Dengan ia yang tersenyum lembut.
Sambil satu tangannya menyentuh daguku hingga membuatku sedikit mendongak dan membuat kami menjadi saling tatap.
Sementara satu tangan Rei yang lain, masih berada di pinggangku.
“Maafin aku lama datengnya.”
Rei berucap kemudian dengan melipat bibirnya.
Menampakkan wajah penyesalan. Dan aku langsung menggeleng manja.
“Justru kamu dateng tepat waktu, Rei –“
***
“Ada sakit yang kamu rasa, Yang? Kamu agak keringetan, tapi tangan kamu dingin gini? –“
“Panas ...”
Malia menukas ucapan Reiji, yang menyapu sedikit keringat yang muncul di keningnya.
Membuat Reiji spontan celingukan ke arah pendingin ruangan yang tadi sempat ia lirik suhunya saat datang.
Reiji berujar lagi.
“Aku sih ngerasanya sejuk. Tapi coba aku liat –“
“Rei –“
***
REIJI
Lia menahanku dengan memegangi tanganku ketika aku hendak beranjak mengecek pendingin ruangan yang mungkin saja punya setelan otomatis yang berubah suhunya dalam waktu tertentu.
Sekali lagi aku dibuat sedikit kaget olehnya, karena Lia yang tiba – tiba menyerang bibirku.
Bahkan Lia kemudian menarikku, hingga tubuh kami terhempas ke atas ranjang dengan posisiku berada tepat di atas badan Lia yang sudah cukup rapat denganku --- dan tangan Lia melingkar erat di leherku.
Lia yang katakanlah menjadi super aktif untuk menciptakan sesi kemesraan denganku ini, membuatku heran.
Namun tak lama aku mengingat kata – kata Ammar jika Lia telah diberikan obat perangsang oleh si bibit pebinor b*jingan itu.
Dan sepertinya obat itu kini tengah bekerja di tubuh Lia. Setelah sebelumnya aku merasakan tubuh istriku itu panas dingin.
Lia erat merangkul leherku, bahkan ciumannya cukup ganas juga.
Dan tangannya sudah meraba dadaku yang tidak terbungkus baju ini.
Membuat pandanganku jadi mengabur oleh gairah yang mulai menjalar di tubuhku.
Termasuk membuat juniorku perlahan menggeliat di tempatnya.
“Yang ...” ucapku.
Namun begitu, aku menghentikan aksi Lia yang mulai kian aktif mencumbuku, dimana ciumannya itu sudah bergeser ke garis rahang dan leherku.
__ADS_1
Bukan apa --- meski Lia istriku, dan gelora keinginan untuk menggaulinya sudah cukup berkobar di tubuhku sekarang ini karena aksinya yang mencumbuiku dengan penuh hasrat, aku tidak mau aji mumpung juga.
Aku tidak banyak tahu tentang efek pemberian obat perangsang pada seseorang, selain beberapa jenis obat tersebut dapat membuat korbannya tidak sadarkan diri.
Dan efek yang tidak aku tahu itu, aku ingin pastikan pada Lia.
Biarpun Lia tengah dikuasai obat perangsang, tapi aku teringat pandangan kebenciannya padaku saat di apartemen Irly.
Dan aku tidak ingin hubungan intim antara kami yang mungkin akan terjadi --- pada dasarnya Lia tidak ingin melakukannya denganku, karena Lia kan mengira jika aku dan Irly terlibat hubungan terlarang.
Yang ingin aku bahas setelah nanti kami berada di apartemen kami sebenarnya, namun melihat kondisi Lia sekarang ini, aku mungkin akan membahasnya sekarang saja.
Mungkin saja jika aku memulai pembicaraan serius dengan Lia, dia akan teralih dari efek obat perangsang itu.
Karena biar bagaimanapun aku memang gila pada tubuh Lia, aku tidak mau melakukannya dengan ada hal yang mengganjal di hati Lia.
---
Aku sudah mengurai tangan Lia dari leherku. Membawa Lia ke kamar mandi dan mengucurkan air dingin dari shower mungkin dapat membantu menghilangkan efek obat perangsang yang tengah bekerja di tubuh Lia sekarang --- pikirku.
Dan ingin aku cetuskan ideku itu pada Lia.
Namun sebelum hal itu terjadi, Lia kembali merangkul leherku lebih kuat dari sebelumnya, menciumku pun lebih ganas lagi.
Sedikit membuatku agak kewalahan.
Semakin kewalahan ketika Lia mulai menghisapi leherku, dengan tangannya yang sudah turun bermain di ujung dadaku.
Sial!
Pandanganku yang agak mengabur, mulai tambah mengabur oleh desir gairah yang mulai menjalar lebih kuat dari sebelumnya di tubuhku.
Dan entah kapan, jaket yang membungkus tubuh Lia, kini telah terbuka resletingnya dengan cukup lebar --- membuat mataku semakin berkabut saja.
***
Didetik berikutnya, mata Reiji yang berkabut dengan kobaran api gairah yang disulut Lia lewat cumbuannya, serta Reiji yang sedang membentengi dirinya untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan --- akhirnya runtuh juga pertahanannya, ketika tangan Malia menarik lepas handuknya dan langsung menyentuh ‘milik’ Reiji.
Reiji melayani ‘sulutan’ Malia pada akhirnya, dengan membuat jaket yang sedang Malia kenakan itu lepas dari tubuh Malia. Hingga sampai keadaan tubuh Malia sudah polos seperti dirinya.
Bibir dan tangan Reiji kian aktif menyusuri tubuh Malia yang sudah tidak terbungkus sehelai benangpun itu.
“Reeii ...”
Malia melirih dengan sedikit menjambak rambut Reiji yang orangnya sedang ‘bergerilya’ dengan bibir dan tangannya di tubuhnya itu.
Reiji yang memahami lirihan dan jambakan Malia di rambutnya itu kemudian merangkak naik, mensejajarkan tubuhnya dan Malia yang wajahnya sudah nampak merah.
Tak lama, Reiji melakukan penyatuan.
Dan di saat yang sama, Malia merasakan kelegaan yang sulit ia jabarkan ketika ‘milik’ Reiji telah masuk ke dalam ‘goa’ nya.
Hingga kelegaan itu berangsur menjadi sebuah kenikmatan yang seolah Malia amat sangat rindukan.
***
Terlalu Malia rindukan, seolah sudah berabad – abad Malia tidak melakukan hubungan intim.
Hingga Malia ingin merasakannya lagi dan lagi, entah sampai berapa lama dan berapa kali ia sampai di puncak kenikmatan.
Dan Malia yang belum lama menggelinjang karena pelepasannya, kini sudah menduduki Reiji.
Dimana Reiji sedikit terkesiap, karena Malia yang sudah mendudukinya itu.
“Lagi, Rei ...”
“Heu? ...”
Reiji melongo kemudian.
******
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih masih setia.