WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 39


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Reiji dan Malia juga telah sampai di Hotel tempatnya dan Malia akan melangsungkan pernikahan dalam waktu kurang dari dua bulan kedepan.


Dan saat ini, Reiji dan Malia juga telah selesai dengan urusan di Hotel, dimana Ballroom-nya akan mereka gunakan untuk kepentingan pernikahan yang akan dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan itu.


Selesai pembicaraan mengenai dekorasi dalam Ballroom, Reiji dan Malia makan siang bersama para orang tua, serta Avi yang ternyata juga ikut menyusul ke Hotel tersebut, demi makan siang bersama bersama orang tuanya, orang tua Malia, kakak, serta calon kakak iparnya, yang merupakan sahabatnya sendiri.


Setelah acara makan siang bersama, Reiji meminta ijin kepada kedua calon mertuanya, karena ia tidak akan mengantar Malia untuk langsung pulang kerumah.


“Iya, iya, kita paham deh yang mau pacaran ..” Ucap Mama Ralisa, ibundanya Malia, selepas Reiji meminta ijin padanya dan pada sang suami, karena hendak mengajak Malia pergi ke suatu tempat setelah dari Hotel tempat mereka berada sekarang.


“Ya emang kudu begitu! Sering-sering pergi berdua, biar cepet cocoknya..” Mama Alice, ibundanya Reiji, menimpali. “Jadi nanti pas nikah udah mesra aja kan?!..”


Ke tujuh orang itu kemudian terkekeh kecil bersama.


‘Untung ini para orang tua Hebring pengertian sama ini anak bujang yang masih pengen berduaan ama anak perawan.’ Reiji membatin geli.


**


“Emang lo mau ajak gue kemana sih Rei?..”


Malia bertanya pada Reiji saat mereka berdua telah memisahkan diri dari kedua orang tua mereka masing-masing dan Avi.


“Nanti kamu liat sendiri.”


“Du ilah, sok misterius deh ah.”


Reiji terkekeh kecil mendengar celetukan Malia.


“Eh, tapi lo ga ajak gue ke luar kota kan, Rei? ....”


Malia bertanya lagi untuk memastikan.


“Kenapa emang?.”


“Ya bukan apa-apa, gue kan masih harus masuk kerja besok biar harpitnas juga.”


Reiji mengulas senyuman. “Iya engga kok....”


Tangan Reiji terulur ke puncak kepala Malia, lalu mengusapnya pelan.


“Ini juga dah hampir sore ....” Ucap Reiji. “Ga mungkin aku ajak kamu ke luar kota jam segini biar Cuma Bandung atau Bogor.... Lagian besok juga aku ada jadwal pagi.”


“.............”


“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu aja kok ke kamu....”


Malia pun mengangguk.


****


REIJI


Hubunganku dan Malia sudah cukup ada peningkatan kalau dalam pandanganku.


Dan aku rasakan itu, setelah aku dengan lancangnya mencium bibir rasa cherry milik Malia.


Hehehe.


Tapi setidaknya, rasanya aku dan Malia kini sudah seperti pasangan ‘normal’ pada umumnya, meskipun embel-embel dijodohkan ada dibelakang kami.


Ya paling tidak, aura kecanggungan sudah tidak ada lagi jika aku dan Malia sedang berdua saja.


Meskipun sampai detik ini, hanya sekali itu saja aku mencium Malia tepat di bibirnya. Ciuman pertamanya Malia, dan juga ciuman pertamaku.


Ga percaya?.


Serah!.


Ada senang dan bahagia yang menyeruak, karena Malia sudah menerima kehadiranku yang akan menjadi suaminya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan lagi.


Well, setidaknya, aku dan Malia layaknya orang pacaran pada umumnya sekarang ini.


Sering berkomunikasi baik lewat chat atau sambungan telpon, hanya sekedar untuk bertanya,

__ADS_1


“Lagi apa?.”


Atau,


“Udah makan?.”


Hal-hal receh macem itu lah pokoknya.


Bahkan Malia sudah tak canggung lagi untuk berjalan dengan bergandengan tangan denganku, atau menyandarkan kepalanya di pundakku saat kami nonton di bioskop.


Namun walau begitu, aku masih cukup menyadari, jika Malia belum mencintaiku.


Belum kulihat sorot akan rasa itu di mata Malia padaku. Tapi tetap, aku akan bersabar untuk itu.


Meskipun, seandainya sampai aku dan Malia sudah menikah nanti, Malia belum juga mencintaiku.


Tapi aku akan tetap dan terus bersabar.


Walaupun aku sangat-sangat berharap, jika cinta untukku sudah datang menyapa hati Malia sebelum hari pernikahan kami tiba.


Pun, jika belum juga, ya sudah tak apa.


Toh, hal itu tidak dapat dipaksakan bukan?.


Jadi, aku akan terus bersabar, selain berusaha untuk meluluhkan hati Malia. Cinta itu emang gila ya?....


Dan aku yakin, kelak, saat itu akan datang, saat dimana Malia memiliki perasaan yang sama denganku padanya.


Toh aku dan Malia bukan musuh bebuyutan juga. Jadi jalanku untuk memenangkan hati Malia akan lebih mudah aku rasa, meskipun dulu kami banyak juga ga akur nya.


Tapi aku percaya, hari itu akan datang, hari dimana Malia akan bilang,


“I love you, Rei ....”


Walau entah kapan.


Tapi mungkin hal itu layaknya taruhan, ya? ....


Berusaha untuk memenangkan hati seseorang, saat kita sudah lebih dulu jatuh hati pada orang yang ingin kita menangkan hatinya.


Ah entahlah....


Memikirkan bagaimana memenangkan hati Malia, membuatnya selalu merasa nyaman, dan tentunya membuat Malia merasa senang atau bahkan bahagia di sisiku, hidup bersamaku.


Yang mana atas dasar itu, aku sudah membuat komitmen, bahwa aku akan berusaha menjadi suami yang baik serta dapat diandalkan.


Jadi aku mulai menata semuanya.


Termasuk mempersiapkan hal yang ingin aku tunjukkan pada Malia ini.


Tempat dimana aku dan Malia, akan memulai semuanya setelah kami menikah nanti.


****


“Ini, kita mau ke tempatnya siapa, Rei?....”


“Kita.”


Dimana Malia sontak langsung menoleh pada Reiji, saat mereka sudah sampai di salah satu unit dalam sebuah gedung hunian jangkung yang kiranya berada dalam area strategis di pusat kota.


“Maksudnya ini ....”


“Tempat tinggal kita setelah menikah nanti.” Ucap Reiji sembari menempelkan kartu akses di sebuah platform magnet yang tertempel di pintu sebuah unit apartemen yang ada di hadapannya dan Malia saat ini.


Reiji mengulas senyuman.


“Yuk.”


****


Malia mengekor saja, saat Reiji meraih tangannya, saat Reiji telah selesai menempelkan kartu apartemen di sebuah platform magnet, hingga kemudian pintu salah satu unit apartemen dihadapannya terbuka.


“Suka ga? ....”


Reiji bertanya pada Malia yang nampak sedang terpana itu.


“Rei ini ....”

__ADS_1


“Tenang aja, aku beli ini cash, jadi nanti setelah nikah kamu ga puyeng soal bayar cicilan apartemen ....”


Reiji berseloroh.


“Ih apaan sih!.” Cebik Malia.


Reiji mendengus geli.


“Suka ga?.”


Kembali Reiji bertanya.


“Lo nyiapin ini ....”


“Buat kita.”


Reiji langsung menyambar, kemudian ia mengulas senyuman, sembari menatap Malia.


“Anggap aja ini hadiah pernikahan dari aku.”


“Rei....”


“Semoga tempat yang ga seberapa ini, akan menjadi tempat pulang yang nyaman dan hangat bagi kita, setelah kita menikah nanti, meskipun saat itu kamu masih belum mencintaiku.”


‘Oh Rei....’


Rasanya hati Malia langsung menghangat mendengar kalimat Reiji barusan.


Namun beberapa kata terakhir Reiji, membuat rasa bersalah sedikit menyeruak juga dalam hati Malia.


“Maafin gue ya, Rei?. Kalo gue ....”


“Sstt....”


Reiji meletakkan telunjuknya di bibir Malia.


“Aku tahu, Lia ....”


Reiji berucap.


“Aku akan sabar menunggu ....”


Reiji melanjutkan ucapannya.


“Hingga saat itu datang ....”


Cup!.


Reiji mengecup kening Malia.


“Saat dimana saat aku pulang, ada kamu yang menunggu aku, lalu menyambut aku dengan tatapan, dan pelukan penuh cinta.”


****


“Makasih ya Rei ....”


Sekali lagi Malia merasa, bahwa tidak ada alasan untuknya agar tidak membuka hatinya lebih lebar untuk Reiji.


Agar Reiji bisa dengan cepat meluluhkan hatinya untuk bisa mencintai calon suaminya itu, yang memang tanpa cela.


Dari mulai perawakan bahkan sampai sikapnya pada Malia.


Seharusnya, Malia mudah untuk membuat hatinya mencintai Reiji, sebagaimana Reiji padanya.


Setidaknya itu yang Reiji katakan pada Malia, meski sampai detik ini Malia kadang masih tak percaya jika Reiji sudah jatuh cinta padanya.


Namun melihat dan merasakan semua yang Reiji lakukan untuknya, bahkan kadang kata-kata Reiji yang menggugah hatinya, membuat Malia pada akhirnya mempercayai perasaan Reiji padanya.


Hanya saja, masih ada yang mengganjal di hati Malia untuk dengan mudah mencintai Reiji.


Tapi mungkin mulai sekarang, Malia akan mencoba untuk menghilangkan ganjalan itu dari hatinya, agar Reiji bisa masuk dengan cepat kesana.


Ya, Malia akan berupaya, membantu Reiji untuk bisa masuk ke dalam hatinya.


“Makasih, atas pengertian lo sama gue .... Tapi gue janji akan jadi istri yang baik buat lo ....”


“Kalo gitu, boleh aku minta satu hal sama kamu?....”

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2