WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 255


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


“LIA!“ suara teriakan yang memanggil Malia terdengar lantang, saat Reiji sedang akan membawa Malia memasuki mobil yang sudah disiapkan untuk mengantar suami Reiji dan Malia pergi dari sebuah villa yang berdasarkan dari penyelidikan anak buah dari keluarga bos besarnya, adalah villa milik keluarga Irsyad.


Rahang Reiji sudah mengetat kuat saat melihat Irsyad ketika ia keluar dari dalam villa, dan semakin mengetat saat Irsyad menyerukan panggilan Malia dengan lantang. Namun Reiji coba untuk menahan emosinya, karena lebih memilih untuk membawa Malia yang kembali nampak ketakutan setelah mendengar Irsyad yang menyerukan namanya tadi -- segera pergi dari villa tersebut.


“Rei...” lirih Malia, saat ia mendengar Irsyad menyerukan namanya sambil mencengkeram erat kaos kerah yang Reiji kenakan. Dan nampak tidak mau melepaskan Reiji, saat suaminya itu hendak mendudukkannya ke dalam mobil yang sama yang sebelumnya Reiji tumpangi bersama Ammar dan beberapa anak buah lelaki itu.  Reiji pun melipat bibirnya.


Kemudian Reiji menarik sudut bibirnya. Dan mempertahankan senyumnya itu, pada Malia yang Reiji dudukkan di kursi penumpang tengah mobil.


Memandang teduh pada Malia, sambil Reiji mengusap lembut wajah istrinya itu—dan mengatakan kalimat untuk menenangkan Malia, meski sebenarnya hati Reiji tak tenang saat ini. Gatal, ingin menghajar Irsyad habis-habis. Namun Reiji harus meredam emosinya itu.


Mau tidak mau. Karena membawa Malia pergi dari villa dan membawa istrinya itu pulang ke apartemen mereka, adalah satu hal yang harus Reiji prioritaskan sekarang.


Karena Malia juga masih nampak syok. Dan kembali lagi terlihat ketakutan saat Irsyad menyerukan namanya tadi. Jadi, alih-alih menghajar Irsyad, Reiji lebih baik segera membawa istrinya itu pulang.


“Ga perlu takut... keparat itu udah diamankan...” ucap Reiji pada Malia, menanggapi lirihan Malia yang ketakutan setelah Irsyad menyerukan namanya itu.


***


“Untuk apa kamu masih mau bersama suami kamu itu Lia?! Dia udah selingkuh di belakang kamu!!!!... Harusnya kamu jijik sama suami yang punya simpanan di belakang kamu!...”


Reiji tadinya tidak menghiraukan Irsyad yang sebelumnya berseru memanggil Malia.


Meski Reiji amat sangat ingin menghajar Irsyad habis-habisan. Namun keinginannya itu ia simpan dalam-dalam, karena Malia yang nampak syok itu ingin segera Reiji bawa jauh dari villa milik keluarga Irsyad dan pria itu, agar Malia bisa tenang.


Namun setelah Reiji mendengar perkataan Irsyad barusan, emosinya yang sempat ia simpan dalam-dalam, mencuat ke permukaan.


‘KEPARAT!!---‘


***


‘Emang harus dibinasakan si bibit pebinor bjingan itu!’*


Reiji yang menggeram dalam hatinya setelah mendengar ucapan Irsyad yang ditujukan pada Malia.


“TUAN!”


Lalu di detik berikutnya pekikan terkejut campur panik terdengar dari mulut laki-laki yang merupakan anak buah Ammar.


Dimana laki-laki itu, sebelumnya sedang menahan pintu mobil untuk memudahkan Reiji memasukkan istrinya ke dalam mobil yang akan mengantar sepasang suami istri itu pergi dari villa milik keluarga Irsyad.


Lalu alasan satu anak buah Ammar yang sedang memegangi pintu mobil yang akan Malia dan Reiji tumpangi itu, adalah karena Reiji menarik keluar pistol miliknya yang ia selipkan di pinggang. Dan memang, orang-orang Ammar yang adalah para bodyguard dari keluarga besarnya---yang Reiji anggap begitu, masing-masing dibekali dengan pistol.


***


REIJI


“REI!...” Aku mendengar seruan Lia memanggilku dengan panik, setelah berbalik dengan langsung menyambar pistol milik anak buah Ammar yang jatuhnya sih anak buah Tuan Alvarend dan keluarganya.


Dimana saat aku hendak mencapai mobil yang telah dipersiapkan untuk mengantarku dan Lia saja, karena Ammar ingin mengurus dulu si bibit pebinor bajingan itu---pistol milik laki-laki bertubuh tegap yang sedang menahan pintu mobil yang terbuka, itu aku lihat ada di selipan pinggang celananya.


Karena jaket kasual yang laki-laki itu kenakan, sedikit tersingkap. Dan pegangan pistol yang ada di selipan pinggang celana anak buah Ammar itu, terlihat oleh mataku.


Yang mana sebelumnya tidak aku hiraukan.


Namun setelah mendengar ucapan si bibit pebinor dengan bernafsu---yang mana berkata jelek tentangku dan ia mengalamatkan ucapan itu pada Lia, membuat tanganku dengan spontan meraih pistol anak buah Ammar yang sempat aku hiraukan.


Lalu aku berjalan dengan cepat ke arah bibit pebinor bajingan itu.


Sambil aku berpikir dengan geram, untuk menghabisi saja laki-laki keparat yang sudah membius---menculik---bahkan hampir memperkosa Lia. Tak peduli pada konsekuensi hukuman penjara yang akan aku dapat karena membunuh orang, bahkan tak memikirkan hal tersebut ketika pikiranku terbungkus total dengan keinginan untuk menghabisi si bibit pebinor b*jingan itu.


--


Mengabaikan juga Lia yang aku dengar memekik memanggilku, pandangan dan langkahku tak bergeming sedikitpun dari si bibit pebinor b*jingan yang memandangku dengan tajam. Yang mana aku yakin betul jika dia melihat pistol di tanganku ini, namun dia tidak nampak ketakutan.

__ADS_1


Besar juga nyali laki-laki sialan itu!


“Rei!”


“Reiji. Tahan diri kamu.” Ammar lalu menyentuh tanganku, ketika aku sudah menempelkan ujung pistol ke jidat si bibit pebinor b*jingan tersebut. Bersamaan dengan suara panik Lia yang terdengar lagi di belakangku.


“B*jingan ini harus mati karena udah melecehkan istri gue\, Am!” Menanggapi ucapan Ammar yang menahanku itu\, aku langsung bicara dengan geram. Dengan pandanganku yang tak beralih dari si bibit pebinor b*jingan itu.


Saking geramnya, aku menggunakan bahasa informal pada Ammar----yang sebelumnya aku menggunakan ‘saya’ ketika bicara dengannya, walau kami sepakat untuk tidak bersikap terlalu formal satu sama lain----tapi aku tetap menggunakan bahasa ‘saya’ dan ‘anda’ saat berbicara dengan Ammar, walau kami sudah saling memanggil nama saja tanpa embel-embel ‘pak’ lagi.


--


“Saya ta---“


“Nyonya!”


Saat Ammar hendak bicara lagi ketika aku sudah akan menarik pelatuk pistol yang aku genggam ini, lebih dari satu suara laki-laki aku dengan memekik panik----membuatku spontan memalingkan wajahku ke sumber suara.


Yang mana, mataku spontan membulat sempurna kemudian.


“Lia!” Aku spontan memekik panik setelah aku menoleh ke arah suara yang tadi memekik panik juga sebelumnya, ketika aku melihat Lia ambruk di dekat mobil.


Namun untungnya Lia tidak sampai jatuh ke tanah, karena dirinya di tahan oleh salah seorang anak buah Ammar.


Spontan aku memekik panik melihat Lia yang sepertinya pingsan itu, aku pun spontan berlari ke arahnya dan langsung mengambil alih untuk memegangi tubuh Lia yang nampak lemas itu.


Dimana sebelumnya aku membuang pistol yang tadi aku pegang, ke sembarang arah.


Aku sempat juga mendengar si bibit pebinor b*jingan itu melirihkan nama Lia. Tapi sudah tidak aku pedulikan laki-laki sialan itu lagi.


Aku serahkan saja dia pada Ammar dan anak buahnya, yang pasti tidak akan melepaskan si bibit pebinor b*jingan itu begitu saja.


Lagipun aku sempat mendengar Ammar berseru di belakangku. “Amankan dia dan serahkan pada Tuan Sony!---“


--


Aku yakin yang Ammar maksud dengan ‘Dia’ adalah Irsyad, karena sayup-sayup aku mendengar suara anak buah Ammar yang mana adalah para bodyguard Tuan Alvarend dan keluarganya----menyahut, dengan mengatakan, “Baik, Tuan Ammar,” saat aku tengah berlari untuk menggapai Lia.


“Yang...”


“Maafkan saya, Tuan. Jika lancang menyentuh istri anda. Saya hanya spontan bergerak agar tubuh istri anda tidak sampai membentur lantai ini...”


Anak buah Ammar dan keluarga Tuan Alvarend yang memegangi Lia tadi bicara seperti itu padaku, saat aku sudah menggapai Lia dan langsung mengangkatnya untuk aku masukkan ke dalam mobil.


“Ga masalah...”


Aku menanggapi satu bodyguard itu selepas dia meminta maaf padaku.


“Justru saya berterima kasih karena kamu sudah menolong agar istri saya tidak sampai jatuh dan membentur lantai,” sambungku berterima kasih pada satu bodyguard itu.


***


Laki-laki dengan perawakan seorang bodyguard yang menolong agar tubuh Malia tidak sampai membentur tanah itu, kemudian mengangguk setelah Reiji berucap menanggapi permintaan maafnya dengan sebuah ucapan terima kasih.


Dimana Reiji juga sama mengangguk dan tersenyum tipis pada laki-laki itu, namun bermakna ramah, membalas sikap laki-laki berperawakan bodyguard tersebut----setelah Reiji berada di dalam mobil sambil memegangi Malia.


Setelahnya, satu bodyguard itu menutup pintu mobil di samping kanan Reiji dengan perlahan namun tetap membuat pintu mobil tersebut rapat.


“Yang...” Lalu Reiji kembali fokus pada Malia yang sedang pingsan itu, dimana kepala Malia kini telah berada di atas paha Reiji. Sambil Reiji panggil istrinya itu dengan lembut, dan mengusap lembut juga wajah Malia----guna membangunkan istrinya itu.


Tak lama, kaca di samping kanan Reiji terdengar di ketuk.


Reiji pun langsung menoleh, dan menekan tombol pembuka kaca.


Ammar yang barusan mengetuk kaca mobil di samping Reiji itu---dimana kemudian Ammar langsung bicara pada Reiji, setelah Reiji membuka kaca mobil yang barusan Ammar ketuk.


“Iya, Am?...” tanya Reiji spontan. Memandang pada Ammar.

__ADS_1


“Orangku akan mengantarmu dan istrimu ke penthouse milik Tuan Jonathan dan istrinya yang ada di kota ini.”


Ammar pun langsung menjawab Reiji.


“Karena istri kamu tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk dibawa ke Jakarta, dengan keadaan dirinya yang pingsan saat ini...”


“Iya, sih...” sahut Reiji yang kemudian melirik pada Malia.


“Dan lagi, walaupun dari sini ke tempat heli parkir dan ke Jakarta hanya menempuh belasan menit----jika istri kamu sadar di tengah perjalanan, saat dari landasan ke tempat tinggal kalian---dia pasti akan tersiksa...”


***


REIJI


Aku tidak mengerti apa maksud ucapan Ammar dengan mengatakan jika Lia pasti akan tersiksa andai dia sadar di tengah perjalanan, sampai Ammar kemudian bicara lagi.


“Pria itu telah memberikan istri kamu obat perangsang.”


Aku spontan memekik terperangah sambil membulatkan mata.


“B*ngsat.”


Aku juga mengumpat kasar sambil memandang ke belakang Ammar, di mana laki-laki keparat itu sedang di seret masuk ke mobil yang berbeda dengan yang aku tumpangi bersama Lia saat ini----dan wajah si bibit pebinor b*jingan itu agak babak belur.


“Jadi lebih baik istri kamu dibawa dulu ke penthouse milik Tuan Jonathan dan istrinya di kota ini, demi kenyamanan beliau...”


Aku kembali menoleh pada Ammar setelah laki-laki itu bicara lagi, beberapa detik kemudian setelah aku melirik ke arah si Irsyad itu.


--


‘Terus harus gimana Am?---‘


‘Ada yayasan milik teman Tuan Alva di kota ini yang mungkin dapat mengirim orang untuk memberikan penawar dari obat perangsang yang diberikan pada istri kamu itu.’


‘Ya udah langsung ke sana aja kalo gitu---‘


‘Lokasi yayasannya agak jauh dari kota... Tapi akan aku coba hubungi temannya Tuan Alva itu.’


Aku mengingat percakapanku dengan Ammar sebelum aku dan Lia diajak ke sebuah penthouse milik adik Tuan Alvarend dan istrinya, dimana aku dan Lia sudah diberikan sebuah kamar yang merupakan kamar si pemilik penthouse.


‘Akan sedikit memakan waktu bagi pekerjanya teman Tuan Alva untuk datang ke penthouse Tuan Jonathan dan istrinya, atau kamu yang pergi ke sana.’


‘Jadi gimana?---‘


‘Yaa... tidak gimana-gimana...’


Aku ingat ekspresi Ammar yang meringis salting.


Dimana setelahnya dia bicara sambil cengar-cengir.


‘Atas nama obat perangsang... penawarnya ya dengan istri kamu ‘menyalurkan’ efek yang dia rasa karena obat perangsang itu, dan kamu menerima ‘saluran’ efek yang istri kamu rasa dari obat perangsang yang saat dia sadar nanti pasti efeknya akan nampak nyata...’


Dimana aku paham maksud Ammar yang memberikan penekanan pada kata menyalurkan-menerima saluran itu.


Membuat aku jadi cengengesan setelah mendengar ucapan Ammar tersebut.


Dan terus saja cengengesan sambil memandangi Lia yang masih belum sadarkan diri itu.


Dimana Lia telah aku baringkan di atas sebuah ranjang dalam kamar utama di dalam penthouse tempat kami berada sekarang ini.


Dengan otakku yang jadi melanglang buana.


Ah, aku jadi tidak sabar menunggu Lia sadar dari pingsannya, lalu melakukan kegiatan tentang menyalurkan dan menerima saluran---seperti yang Ammar katakan.


Apakah ini yang dinamakan sengsara membawa nikmat?---


*****

__ADS_1


Bersambung......


Terima kasih masih setia.


__ADS_2