
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Yang, aku mau beli sarapan dulu ya?”
Adalah Reiji yang berbicara, ketika ia melihat pintu kamarnya tidak tertutup dengan sempurna.
Lalu Reiji memanfaatkan hal itu untuk segera masuk ke dalam kamarnya dan Malia, setelah semalam Reiji tidak diperkenankan masuk ke dalam kamarnya dan Malia itu–karena Malia mengunci pintu kamar mereka dari dalam.
“Ya.” Malia menjawab dengan sedikit acuh. Dengan Malia yang sengaja tak mau melihat ke arah Reiji.
“Kamu mau sarapan apa?”
“Apa aja.”
Reiji yang menyadari sikap Malia yang acuh padanya, memaklumi saja sikap istrinya yang sekarang itu kepada dirinya.
“Bubur ayam yang biasa mau?”
“Terserah.”
Malia masih acuh tak acuh menjawab Reiji.
Dan kali ini Reiji menghela nafasnya dengan berat.
Karena saat menjawab pertanyaan yang terakhir, Malia bahkan tidak menoleh padanya.
Namun begitu, Reiji tidak melayangkan sedikit pun protes pada Malia. Apalagi cibiran dan sindiran.
Reiji sudah paham betul sifat Malia yang apabila sedang kesal itu, lebih baik didiamkan saja dulu.
Dan memang juga Reiji ogah memicu emosi Malia lebih dari sekarang. Yang walau tenang, namun nampak datar dan dingin–membuat Reiji merasa tidak nyaman.
***
“Ya udah, aku beli sarapan dulu ya, Yang? Aku bawa hp kalo – kalo kamu ada yang mau dipesen.” Reiji yang pasrah tidak diacuhkan oleh Malia, kemudian berpamitan. “WA aja kalo males ngomong—“
“Nyindir?” tukas Malia.
Reiji pun langsung menggigit bibirnya sendiri.
Karena ia paham dengan satu kata yang Malia cetuskan itu.
“Sorry aku lupa kalo hp kamu ga ada—“
“Of course lah lupa. Pikirannya cuma ke bantuin janda anak satu plus anaknya yang jadi kesayangan.”
‘Salah lagi gue kan?..’
Reiji langsung membatin frustasi saat kalimat cibiran keluar dari mulut Malia barusan.
“Ya ga gitu maksud aku, Yang..” sergah Reiji kemudian. “Aku emang lupa soal hp kamu yang ga ada. Ga ada hubungannya sama Ir—“
“Dah sana katanya mau beli sarapan.”
Malia dengan cepat menyambar, memotong ucapan Reiji yang belum selesai.
Dimana Reiji lagi-lagi menghela nafasnya dengan berat.
“Ya udah aku jalan dulu. Hp aku, aku tinggal aja kalo gitu—“
“Sengaja biar susah dihubungin?..”
‘Salah teros aja gue!’ seru Reiji frustasi dalam hatinya. “Ya terus jadinya aku harus gimana? Aku bawa ga nih ponsel aku?” tanya Reiji kemudian pada Malia, agar dia tidak merasa serba salah. Namun Malia diam saja.
Reiji mendengkus samar karena. Lalu memilih untuk pergi keluar saja dari dalam kamarnya dan Malia untuk segera membeli sarapan. Reiji lalu melirik ponselnya yang tergeletak di meja ruang tamu. Kemudian meraihnya dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
‘Gue bawa aja lah. Kalau Lia iseng mau hubungin gue, dia bisa interkom ke resepsionis bawah buat minta dibantu hubungin gue kan? Nanti kalo gue ga bawa, terus ngantri itu tukang bubur dan gue lama balik—yang ada dia mikir gue pergi ngunjungin Irly..’
***
REIJI
Aku teringat cibiran Lia kemarin perihal aku yang tadinya ingin keluar selepas makan untuk pergi ke ATM yang ada di lantai bawah gedung apartemenku dan Lia. Makanya aku putuskan untuk membawa saja ponselku ketika aku hendak pergi membeli sarapan.
Aku tidak berpikir untuk membuat sarapan sendiri, karena aku sedang malas dan tidak mood untuk memasak. Meskipun aku hanya bisa memasak sekedarnya saja. Dan jika aku sedang tidak ada jadwal terbang, biasanya aku yang akan berinisiatif untuk membuat sarapan. Sementara Lia aku suruh untuk fokus saja bersiap pergi bekerja.
Tapi saat ini, meskipun aku sedang mendapat cuti terbang, aku sedang malas untuk membuat sarapan—untukku dan Lia.
Lagipun, aku belum mengecek isi dapur kami yang seingatku hanya tinggal buah dan camilan saja di dalam kulkas.
Sementara di kabinet hanya ada mie instan.
---
Aku bergerak cepat untuk membeli sarapan, bahkan aku macam orang yang mau lomba lari sebelum aku keluar dari apartemenku dan Lia—melihat jam yang tertera pada ponsel yang sempat aku keluarkan sebentar dari saku celanaku.
Lalu berniat untuk memperhatikan waktu di dalam ponsel—karena aku tidak sedang memakai arloji yang tidak aku ingat untuk aku kenakan, agar aku dapat memperhatikan berapa lama aku pergi untuk membeli sarapan.
Coba?
Sampai sebegitunya aku yang saking takut dicurigai oleh Lia.
Mau keluar apartemen melirik waktu yang tertera di ponselku. Begitupun saat masuk lift. Lalu dari lift menuju tukang bubur ayam yang mangkal di belakang gedung apartemen pun aku sedikit – sedikit melirik jam.
__ADS_1
Begitu juga saat aku selesai membeli bubur ayam hingga sampai ke apartemen, aku mengecek estimasi waktu kepergianku untuk membeli sarapanku dan Lia.
Hanya sekitar lima belas menitan.
Kelewatan kalo Lia masih curiga aku pergi mengunjungi Irly.
***
Sementara Reiji pergi membeli sarapan, Malia menghela nafasnya juga dengan sedikit berat dengan dirinya yang masih berleha – leha di atas ranjang.
“Gabut banget!..” gumam Malia.
Lalu Malia bangkit dari posisinya.
Membuat dirinya yang sebelumnya rebahan, kini terduduk di atas ranjang sambil bersandar pada sandaran ranjangnya dan Reiji.
“Gue harus beli hp baru sama ngurus sim card gue nih kayaknya.” Malia menggumam lagi kemudian.
Lalu Malia bangkit dari ranjang. Kemudian celingukan melihat sekitaran kamarnya.
“Laptop gue dimana ya?” Sambil Malia menggumam lagi. “Oh iya..” lalu Malia mendekati satu buffet di dalam kamarnya dan Reiji itu, kemudian menarik salah satu lacinya hingga terbuka.
***
“Ck! Banyak banget nih yang mesti gue urus. Tapi yang penting gue beli hp dulu.” Malia yang sudah menemukan laptop miliknya di dalam laci buffet yang tadi ia buka itu, kemudian membawa laptopnya tersebut dan Malia kembali mendudukkan dirinya di atas ranjang sambil kembali juga bersandar di sandaran ranjang.
Lalu Malia menyalakan laptopnya tersebut, dan pergi ke laman pencarian untuk melihat-lihat ponsel sebagai bahan referensinya untuk membeli ponsel baru.
“Kalo gue beli online, lama pasti datengnya.” Malia bermonolog. “Mending beli langsung aja deh.”
Masih Malia bermonolog.
“Ah tapi nanti pas gue liat gue mau pergi, si Rei pasti bakal sok – sok an jadi suami perhatian mau nganterin gue. Padahal tukang ngibul!”
Didetik berikutnya Malia menggerutu.
“Males banget gue deket-deket sama dia sekarang. Selain gue masih kesel tingkat dewa sama dia yang selama ini nafkahin itu si bibit pelakor plus ngasih duit 300 juta pula! Gue ga rela dunia akhirat! Cih!”
***
MALIA
Aku menimbang-nimbang ponsel apa yang ingin aku beli untuk mengganti ponsel lamaku yang entah dimana rimbanya.
Meski si Ammar itu berjanji untuk menyuruh bawahannya mencari ponselku di villanya Irsyad atau di daerah sekitar situ, namun aku tidak bisa berharap banyak jika ponsel lamaku itu bisa ketemu.
Dan aku memang tidak bisa jauh – jauh dari yang namanya ponsel, makanya aku putuskan untuk segera membeli ponsel baru saja. Kalau soal sim card dapat aku urus ke kantor provider yang aku gunakan.
Namun sungguh aku ingin melakukan hal itu sendirian.
Aku sedang tidak ingin berbicara atau berdekatan dengan Rei saat ini.
Sungguh menggores harga diriku sebagai seorang istri.
Selain memicu emosiku.
Jadi lebih baik, aku menjaga jarak dulu dari Rei.
Yang orangnya kemudian muncul kembali ke dalam kamar, setelah ia pergi yang katanya mau membeli sarapan.
Cepet banget perasaan?
“Bubur ayamnya aku udah taro di meja makan..” ucap Rei yang sudah muncul kembali ke dalam kamar kami itu.
“Hm.”
Begitu saja aku menyahut.
Masa bodoh jika Rei tersinggung atau tidak.
Silahkan saja kalau mau protes, maka akan aku suarakan ketersinggunganku tanpa jeda padanya, atas kelakuannya di belakangku itu terkait si Shirly.
***
Apa yang Malia pikirkan soal Reiji yang kemungkinan melontarkan ucapan tentang sikapnya yang acuh tak acuh pada suaminya itu, tidak terjadi.
Reiji tidak memberikan komentar apapun yang terkesan mendiamkan Reiji itu, walau tidak sepenuhnya.
Sikap Malia lebih kepada acuh tak acuh pada Reiji.
Dan Reiji memilih bertahan untuk sabar menghadapi sikap Malia padanya sekarang itu.
“Makan dulu gih.. Keburu dingin bubur ayamnya, malah nanti kamu ga selera..”
Reiji berucap lembut pada Malia yang matanya tidak sedang terarah padanya. Yang Reiji tahu betul, Malia memang sengaja melakukannya.
Dan memang begitu sih, Malia jika sedang kesal padanya. Jika ditanggapi, terkadang akan merepet.
Tapi jika dibiarkan, ya begitu.
Tak acuh.
Dingin menanggapi.
Diam jika tidak ditanya duluan.
__ADS_1
Ujungnya akan membuat Reiji jadi serba salah saja.
***
REIJI
Aku biarkan saja Lia yang sedang tak acuh padaku.
Tanpa aku berani juga menyindirnya, atau sekedar menasehati agar jangan seperti itu sikapnya padaku.
Bukan takut yang bagaimana – bagaimana, namun pertimbanganku karena sesekali Malia bersikap kenakakkan jika sedang kesal.
Nanti ujungnya jika aku membahas sikapnya itu sekarang ini, Lia akan mengajakku adu mulut. Dan aku tidak ingin jika kami sampai melibatkan emosi yang berlebihan nantinya.
Jadi aku biarkan saja dahulu sikap Lia yang seperti itu padaku sekarang ini, untuk beberapa waktu.
Tapi kemudian aku kecolongan.
Karena aku yang memutuskan untuk mandi akibat aku olahraga tidak sengaja dengan berjalan sangat cepat kala memberi sarapan dan tubuhku menjadi berkeringat, nyatanya ditinggal pergi oleh Lia yang berdasarkan dari catatan yang aku temukan di meja makan—Lia pergi ngantor.
Plus tambahan,
Ga usah lebay pake ngejar.
Haish!
Ampun.. ampun..
---
Aku menghubungi Andra setelah aku membaca note yang ditinggalkan Lia di meja makan, dimana bubur ayam yang aku belikan untuknya sarapan pun tidak Lia sentuh.
Lalu aku mengatakan pada Andra jika Lia ngotot untuk pergi bekerja, dan aku meminta tolong pada Andra untuk memastikan apa benar Lia ada di kantornya.
Dan satu jam kemudian aku mendapatkan konfirmasi dari Andra jika Lia memang berada di kantornya itu.
Sedikit banyak, aku pun tenang. Lalu berencana untuk datang saat waktu makan siang Lia tiba nanti, serta juga menungguinya sampai ia selesai bekerja.
Karena meskipun si bibit pebinor bajingan itu telah diamankan, aku masih memiliki kekhawatiran soal keselamatan Lia. Jadi aku akan menyusul Lia ke kantornya saat waktu menjelang makan siang nanti, yang selanjutnya niatanku itu dipatahkan Lia yang seolah tahu rencanaku.
Aku ngantor. Ga usah dateng pas maksi dan ga usah jemput. Ga perlu khawatir aku bakal langsung pulang ke apartemen.
Begitu kalimat Lia dalam pesan chat yang masuk ke ponselku dari nomor yang tidak aku kenal.
Namun aku tahu jika itu dari Lia, karena sebelum pesan chat tersebut ada chat pemberitahuan bahwasanya itu adalah Lia.
***
Reiji spontan berdecak dan mendengkus setelah membaca pesan dari Malia yang seolah memberinya peringatan itu.
‘Gue ikutin ga ya maunya Lia ini? serba salah lagi kan?.. gue ikutin, gue khawatir kalo Lia sendirian di luar sana. Ga gue ikutin, yang ada gue makin dijudesin sama Lia..’
Lalu Reiji membatin mempertimbangkan apa yang baiknya ia lakukan terkait peringatan Malia dalam chatnya.
Dan disela Reiji sedang menimbang–nimbang itu, sebuah nada notifikasi terdengar masuk ke ponselnya.
Bukan nada notifikasi chat, melainkan notifikasi dari m–banking milik Reiji.
***
Yang kemudian spontan Reiji ketuk balon notifikasi tersebut yang langsung menghubungkan dengan aplikasi m-bankingnya yang terinstal dalam ponsel itu.
Jumlah uang yang tertera di balon notifikasi m-bankingnya yang Reiji lihat sekilas itu, cukup jelas terbaca olehnya. Dimana membuat Reiji mengernyit tajam, karena jumlahnya cukup besar.
Dan tentunya Reiji penasaran, selain tangannya spontan mengetuk balon notifikasi. Lalu Reiji langsung saja membuka kode keamanan m-bankingnya itu, kemudian langsung juga mengecek bagian pada mutasi rekening.
Namun disaat yang sama, ada balon notifikasi yang mana itu adalah pesan chat masuk dari Malia. Dan Reiji langsung saja pergi untuk mengecek keseluruhan isi pesan chat dari Malia itu. Dimana apa yang Malia tulis di sana, kemudian membuat Reiji menghembuskan nafasnya dengan sangat berat.
Aku udah kirim semua uang yang pernah kamu kasih ke aku. Sorry, aku ga sudi nerima sisaan.
“Duh Liaa. Begini banget sih?..”
Reiji menggumam dengan sangat frustasi.
***
Lalu Reiji terdiam dan termenung setelahnya.
Sambil merasakan kepalanya yang sedikit ia rasakan cenat –cenut karena tindakan dan kata-kata Malia dalam pesan chatnya.
Membuat Reiji jadi bingung sendiri harus bagaimana.
Namun ia tetap berusaha membuat dirinya tenang, agar dia dapat memikirkan solusi untuk menghadapi Malia nanti.
***
Detik jam berjalan, Reiji melirik dan langsung bangkit dari posisinya yang sedang rebahan sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungannya dan Malia. Dan satu keputusan awal sudah ia ambil untuk lakukan, dimana Reiji hendak berganti pakaian. Yang mana keputusan Reiji itu adalah tetap datang menyambangi Malia ke kantor istrinya tersebut.
Namun niatan Reiji untuk berganti pakaian terjeda, karena interkom apartemennya berbunyi. Dan Reiji langsung bergegas untuk menjawabnya. Tanpa ada dugaan apa-apa. “Ya?” ucap Reiji yang telah menekan tombol untuk berbicara. Yang mana selanjutnya jawaban dari seorang wanita yang Reiji kenali sebagai resepsionis di gedung apartemennya dan Malia itu terdengar kemudian.
“Pak Reiji Shakeel? --"
"Iya."
"Ini Pak, Ada seorang wanita yang cari Bapak.”
__ADS_1
❇❇❇❇❇❇❇❇
Bersambung.....