WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 135


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


MALIA


Dari sejak aku mendengar Reiji mengeluarkan ancaman untuk Irsyad-meski tidak secara langsung, aku telah dalam berpikir.


Setahuku, jika mode resenya lagi ga on-dulu suka cerewetin aku dan Avi, atau sejak menikah kadang Reiji terlihat masa bodoh denganku dan sibuk dengan hobinya pada buku dan meninggalkanku gabut sendirian sementara dia betah berlama-lama dengan bukunya, Reiji adalah tipe orang yang tenang-selain santai.


Jadi kalau Reiji nampak tersulut emosi, bahkan saat itupun Reiji masih berbicara dengan tenang, aku merasa kesabaran Reiji sudah diambang batas.


Entah padaku, entah pada Irysad.


Entahlah.


Apapun itu, aku mulai merasa tidak nyaman.


Yang aku pikir ketidaknyamanan itu adalah takut Irsyad diapa-apakan oleh Reiji.


Tapi ternyata bukan hal itu yang membuat hatiku rasa tak nyaman.


Ketidaknyamanan hatiku adalah karena Reiji.


Bukan karena Reiji ingin mengapa-apakan Irsyad, tapi karena ada gelungan rasa bersalah dalam hatiku pada Reiji.


Hingga aku membuat keputusan, aku akan kembali lagi kepada komitmenku, kala aku menyatakan kesediaanku untuk dinikahkan dengan Reiji.


Aku ingin memenuhi janjiku pada Reiji, menjadi istri yang baik baginya, dan menerima pernikahan kami yang berlandaskan perjodohan ini dengan lapang dada.


Sulit.


Untuk menguburkan kembali impianku-dan menghentikan sendiri kebahagiaan yang sedang aku rasa, kala aku tahu Irsyad memiliki rasa yang sama padaku, seperti halnya aku padanya.


Meski aku tidak mengatakan secara langsung bagaimana perasaanku pada Irsyad, tapi aku selalu mengiyakan ajakan bertemu Irsyad untuk menghabiskan waktu bersama.


Namun tidak menghabiskan waktu dengan cara yang rendah.


Hanya bertemu, makan bareng atau hangout ke tempat-tempat yang kami cetuskan masing-masing atau bersama.


Hanya seperti itu saja, dan aku merasa bahagia. Berharap akan terus seperti itu dengan Irsyad.


Tadinya.


Tadinya seperti itu.


Sebelum aku sadar, jika ada hati yang terluka dibawah kebahagiaanku.


Hati yang seharusnya aku jaga, hati suamiku.


Laki-laki yang mengayomiku, begitu sabar padaku.


Memang pernah, nada suara Reiji meninggi padaku.


Tapi itupun karena sikap menyebalkanku padanya-katakanlah cukup kurang ajar pada suami.


Dimana aku dengan tidak tahu malunya, mengatakan yang sejujurnya jika aku janjian dengan Irsyad tanpa aku pikirkan perasaan Reiji.


Dan untuk itu, aku menyesal.


Aku dibutakan oleh cintaku pada Irsyad, sampai aku sengaja tidak memperdulikan curahan perhatian dan kasih sayang Reiji padaku, serta usahanya untuk menghilangkan pemikiran skeptisku-kata Reiji tentang aku yang selalu berpikir dirinya masih memiliki rasa pada perempuan bernama Shirly. Sahabatnya.


Yang nyatanya, memang, aku tidak pernah menemukan bukti apapun akan itu, selain jejak masa lalu yang dibawa Reiji ke dalam kehidupan kami. Yang mana kata Reiji, dia tidak ada maksud apapun membawa album foto kenangannya, dan sudah lupa akan satu foto yang kutemukan terselip di bukunya.


Dimana foto itu pernah aku cari lagi di selipan buku-buku Reiji yang ada di ruang serbaguna kami, tapi tidak aku temukan. Termasuk foto-foto Reiji yang hanya berdua dengan Shirly, tak ada satupun lagi yang aku lihat di album kenangannya. (Yah, saat satu foto Shirly dengan goresan lambang cinta dari Reiji tidak aku temukan di tempat aku menemukannya, aku mencarinya di album foto kenangan Reiji bersama para sahabatnya, di dalam kotak biru tempat aku menemukan satu foto yang tergores tulisan tangan Shirly, yang menyebut Reiji sebagai ‘My Man’).


Foto itu tidak pernah aku temukan lagi. Hingga akhirnya aku menemukan fakta dari Avi, kalau Reiji sudah membakar foto-foto pemicu renggangnya hubunganku dan Reiji karena kepercayaanku goyah padanya-termasuk karena pikiran skeptisku.


Dan Reiji tak pernah mengatakan hal itu padaku. Entah kenapa.


Tapi ya sudahlah, yang penting foto close-up perempuan itu serta foto-foto Reiji yang hanya berduaan sama dia walau ga mesra itu udah ga ada.


Mungkin kapan-kapan aja aku tanyakan kenapa Reiji sampai membakar foto-foto itu.


Itupun kalo aku inget.


Lebih baik aku fokus saja hubungan baruku dengan Reiji pada kesempatan kedua kami ini-terutama aku, untuk benar-benar menerima Reiji sebagai suamiku lahir dan batin. Mencintainya, sebagaimana ia mencintaiku.

__ADS_1


----


Jika mengingat perasaanku pada Irsyad, aku rasa berat untuk mengambil langkah mundur, dengan-katakanlah menjauhinya.


Tak bisa aku pungkiri, ada getir dalam hatiku saat aku menuliskan pesan untuknya, dimana pesan chat yang aku kirimkan untuknya, secara tidak langsung mengingatkan Irsyad jika aku adalah wanita bersuami.


Yang juga secara tidak langsung mengatakan, jika pada akhirnya aku memilih suamiku. Toh memang tidak ada masa depan untukku dan Irsyad. Dia datang sangat terlambat, hingga kesempatan itu telah musnah.


Dan lagi, aku memang tidak mengatakan apapun tentang perasaanku padanya.


Tidak lantang memberikan harapan padanya.


Sedih, tapi aku telah memilih.


Dan Reijilah yang aku pilih, bukan Irsyad.


Dengan secercah harapan jika aku tidak salah memilih, meski hatiku masih gamang.


Namun, ternyata, kegamanganku atas keputusanku apakah salah atau benar memilih untuk bertahan bersama Reiji hanya berlangsung sebentar.


Aku ingat pesan kedua orang tuaku, untuk coba meminta jawaban pada Sang Maha Segalanya untuk segala permasalahan.


Dan aku melakukannya.


Aku coba mengikhlaskan semuanya.


Cinta dan impianku pada Irsyad.


Dan Sang Maha Segalanya memberikanku jawaban-Nya.


Hatiku yang gamang, kini telah mantap memilih Reiji.


Yakin, jika pilihanku tidak salah untuk kembali pada jalur yang benar.


Pada hakikat seorang istri.


Yang harus fokus saja pada suaminya.


Sangat fokus bahkan.


Terlalu fokus, hingga akhirnya aku menyadari, jika aku sebenarnya telah mencintai Reiji.


Entah sejak kapan aku telah mencintai Reiji.


Tapi kini, aku merasa, jika Irsyad adalah obsesi masa laluku saja. Mungkin aku pernah mencintainya saat kuliah, dan merasa terus mencintainya selama ini.


Namun jika aku ingat-ingat lagi, rasa-rasanya aku tidak pernah merasa kesal jika ada perempuan-perempuan yang melirik Irsyad saat kami sedang bersama.


Hal yang tidak aku rasakan saat aku sedang bersama Reiji, setelah aku memutuskan kembali pada komitmenku sebagai istrinya.


----


Aku benar-benar kesal melihat perempuan-perempuan yang mencuri pandang pada Reiji saat kami sedang belanja bulanan untuk persediaan makanan kami di apartemen.


Bahkan ada yang terang-terangan melempar senyum pada Reiji, padahal ada aku di samping Reiji.


Buta kali matanya itu perempuan!. Udah jelas-jelas laki-laki yang ia senyumin ga sendirian!. Atau emang dasarnya aja itu perempuan gatel?!.


Membuat aku ingin mencolok biji mata itu perempuan rasanya.


Dan hal itu, membuatku menyadari kecemburuanku yang timbul dan terasa kuat itu, karena aku tak lagi sekedar menyayangi Reiji.


Terlebih, empati pada Reiji yang telah aku rasakan lebih dulu saat acara family gathering yang diadakan oleh tempat Reiji bekerja, dan malam sebelum itu.


Reiji seolah punya caranya sendiri untuk menyentilku. Namun begitu, aku dapat jelas melihat luka yang ia rasa, karena tahu istrinya yang skeptis ini, ternyata memiliki perasaan pada laki-laki lain.


Entah bagaimana bentuk hati Reiji.


Karena walau seperti itu, meski ia pun sempat menjaga jarak denganku.


Yang aku maklumi, karena ia pasti sedang sangat kesal padaku hingga Reiji menjaga jarak denganku.


Tapi hal itu tak berlangsung lama, karena sikap Reiji kembali lagi seperti semula padaku. Namun Reiji sedikit berubah menjadi pemaksa, menjadi seseorang yang seperti bukan Reiji yang aku kenal.


Tapi itupun tak lama, karena kemudian dia kembali menjadi Reiji yang biasa. Namun sedikit berbeda.


Bedanya, ada sorot mata terluka setiap kali ia menatapku kala ia sedang berbicara padaku.


Yang mana hal itu, mengusik relung hatiku.


Belum lagi ucapan-ucapan Reiji yang menggambarkan jika dia ingin bertahan, namun tak ingin juga memaksakan.

__ADS_1


Hal, yang berhubungan dengan kebahagiaanku. Tanpa Reiji peduli atas kebahagiaannya sendiri. Hal, yang menguatkanku untuk memutuskan, untuk melepaskan Irsyad, dan menggenggam tangan Reiji.


Walau begitu, Reiji tak serta merta terlihat ingin menguasaiku, walau aku telah menunjukkan sinyal jika aku akan ‘kembali’ padanya.


Reiji, tetap memikirkan keinginanku, kenyamananku.


Hal, yang membuat empatiku kian besar padanya. Hingga saat Reiji menyambangiku di kamar mandi, setelah dengan vulgarnya dia menggodaku dan nampak ingin ‘memangsaku’ di dalam bathtub, yang mana hal itu, tidak Reiji lakukan.


Reiji tidak bertanya memang, namun sepertinya ia khawatir aku enggan untuk bercinta dengannya.


Reiji ‘melepaskanku’, setelah dengan vulgarnya ia menggodaku, bahkan ia sempat ******* bibirku. Yang mana aku pikir hal itu akan berlanjut dengan sesi bercinta di dalam bathtub.


Tapi tidak. Reiji ‘melepaskanku’ dengan mengatakan jika aku bisa sakit kalau kelamaan berendam. Lalu ia mengecup keningku penuh perasaan, dan kalimat “I love you ...”, terucap lembut dari bibirnya setelah Reiji mengecup lembut penuh perasaan keningku.


Dan rasa hangat begitu kentara aku rasa di hatiku. Hingga aku tak lagi merasa ragu untuk bilang,


“Rei, I think I already love you. So, I love you too ...” sambil kuucap lembut satu sisi pipi Reiji seraya tersenyum padanya.


Namun Reiji diam saja.


Hingga aku merasa sebal, lalu aku melayangkan protes pada Reiji.


Yang bukannya membalasku dengan mesra, malah dia diam membeku.


Tapi kemudian, aku digelung lagi dengan rasa bersalah yang hebat.


Hatiku rasa getir kala melihat reaksi Reiji.


“Ulangi, Yang? ... ulangi yang kamu bilang tadi ... Takutnya aku cuma halusinasi.”


Ya ampun Rei, sampai begitunya ya kamu tercengang atas pengakuanku yang sudah mencintai kamu? ...


Aku merasa miris pada diriku sendiri, karena aku sadar telah sedikit banyak menyakiti hati Reiji.


Aku memang pantas merutuki diriku sendiri atas sikapku pada Reiji selama ini. Maaf ya Rei? ...


Aku tangkup wajah Reiji dengan kedua tanganku, dan menatap netranya lekat-lekat.


Lalu aku bilang,


“Kamu, udah ada disini, Reiji Shakeel ---“


Sambil aku menunjuk dada atasku di bagian kiri dengan satu telunjukku.


“Bukan lagi sekedar sayang.. tapi cinta ---“ kataku selanjutnya, tulus dari hatiku yang paling dalam.


Iya, cinta, bukan kasihan.


Aku memang telah mencintai laki-laki ini.


Reiji Shakeel, suamiku.


Yang orangnya langsung berhambur dan memelukku begitu erat.


Terlalu erat, sampai aku merasa sedikit sesak.


Namun aku biarkan.


Aku biarkan suamiku memelukku sepuasnya, meskipun rasanya kulit telapakku mulai menyusut karena lama berada di dalam air.


Aku tersenyum saja dalam pelukan Reiji, juga memeluknya balik.


Namun setelahnya aku mencelos, melihat sudut mata Reiji yang basah setelah aku mengurai pelukannya.


“Sorry jadi melow deh.” Kata Reiji sambil ia terkekeh kecil dan mengusap ujung matanya.


Oh Rei, sebegitu bahagianya kah kamu, mendapatkan cinta dari aku?...


“Lebay ya? ---“ kata Reiji lagi sambil menatapku dengan tersenyum seraya terkekeh kecil lagi. “Abis... Aku terlalu bahagia, Yang ---“


Aku tak berpikir apa-apa lagi, tak mau mendengar lagi Reiji berucap tentang ungkapan kebahagiaannya atas pengakuan cintaku padanya yang membuatku bahagia serta bersalah disaat yang sama.


Jadi,


Cup.


Aku mencium Reiji tepat di bibirnya.


“I love you, Rei...”


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2