WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 52


__ADS_3

Selamat membaca..


***


Author’s POV


Reiji membawa Malia keluar dari kamar untuk mengajak istrinya itu pergi sarapan, karena Reiji yakin perut Malia pasti sudah keroncongan sama seperti dirinya.


Tenaga Reiji sudah cukup terkuras semalam, dan dikuras sekali lagi tadi saat mandi.


Tapi, meski setelah tenaganya sudah terkuras beberapa waktu lalu di kamar mandi, Reiji merasakan tubuhnya sangat segar.


Berbeda dengan Malia yang nampak kikuk saat keluar dari kamar. Ia merasa sedikit malu pada orang-orang yang ada di rumah Reiji karena merasa tak tahu diri berada di rumah mertua akibat bangun kesiangan.


Yah, meskipun bukan salah Malia juga sebenarnya.


Reiji yang menguras habis tenaganya tadi malam, karena suaminya itu tak cukup melakukan sekali malam pengantin membuat tubuh Malia benar-benar tak bertenaga, hingga tidurnya sampai begitu lelap dan kebablasan bangun saat matahari sudah muncul dan mulai meninggi di atas langit.


Sudah begitu\, Reiji juga mengajak Malia mengarungi bahtera g*irah saat seharusnya ia mandi dan menyegarkan diri. Padahal Malia masih sedikit merasakan ngilu di bagian intinya. Tapi yang membuat Malia merutuki dirinya adalah\, ia seolah tidak bisa menolak ajakan Reiji untuk mengarungi bahtera g*irah itu lagi.


Bener sih kata Reiji, kalau Malia iya-iya aja, waktu Reiji mengajak untuk ‘berolahraga’ di dalam bathtub. Jadi Reiji benar-benar menggunakan waktu mandi yang tertunda, untuk ‘berolahraga’ nikmat di dalam bathtub.


Belum lagi, Reiji lumayan lama untuk mencapai pelepasan yang entah harus Malia syukuri atau rutuki karena stamina Reiji yang seolah tak padam itu membuat Malia merasakan nikmat yang cukup lama juga.


Jadilah semakin siang saja Malia keluar dari kamar, menurutnya. Hingga rasa tak enak pada keluarga Reiji yang kini benar-benar terikat sebagai keluarganya juga itu ada di hati Malia sekarang. Meskipun kata Reiji mereka pasti memaklumi pengantin baru kalo siang baru keluar kamar, dan Reiji mengatakan itu dengan santainya.


Tapi Malia tidak bisa se-santai itu menanggapinya.


Malia sungkan.


Karena Malia memang suka ga enakan orangnya.


Belum lagi, dengan bangun dan keluar dari kamar kesiangan begini, pastinya ledekan dari Avi atau bahkan mertuanya akan terlontar saat ia muncul bersama Reiji, mengingat betapa frontalnya mertua Reiji semalam dalam meledek Reiji soal menuju malam pengantin.


Jadi, sekarang Malia sudah merasa malu duluan.


Author’s POV off


***


“Masih sakit memang, Yang?” tanya Reiji yang melihat Malia nampak hati-hati dalam berjalan.


“Agak perih aja sih ..” jawab Malia.


Dan Reiji jadi merasa bersalah karenanya.


“Maaf ya, Yang? ..”


“Iya ..” sahut Malia.


“Seharusnya kamu nolak aja Yang, semalem waktu aku minta lagi.”


Reiji menatap Malia dengan sorot mata penyesalan akibat rasa bersalahnya pada Malia karena minta ‘nambah jatah’ malam pengantin pada Malia semalam.


Habis Reiji rasanya ketagihan dengan tubuh Malia, dan apa yang bisa membuat tubuh istrinya itu bak sebuah narkoba tingkat tinggi , membuat Reiji rasa kecanduan.


“Kalau kamu nolak, aku ga akan maksa untuk main sekali lagi semalam, ga akan juga tadi minta lagi waktu mau mandi ...”


Reiji sedikit melirih, sembari mengusap kepala Malia, dengan mereka yang berhenti sejenak sebelum mencapai tangga.


Malia mengulas senyuman sembari menatap Reiji. “Aku ga apa-apa, Rei,” ucap Malia kemudian.


Malia menunjukkan wajah baik-baik saja pada Reiji yang Malia lihat sedang merasa bersalah padanya.


“Maaaf banget ..” tukas Reiji pada Malia. “Aku ga peka waktu kamu bilang masih sakit sedikit,” sambungnya. “Kamu habisnya iya aja sih, waktu aku tanya boleh sekali lagi apa engga ..”


“Kan dosa nolak suami?” jawab Malia sembari masih tersenyum pada Reiji.


“Yaa .. ga gitu juga,” balas Reiji.


“Udah ah,” cetus Malia. “Ga usah dipikirin deh soal itu ..”


“Ya mana bisa aku ga mikirin, Yang .. kamu kesakitan karena aku.”


“Kan aku bilang agak perih aja .. bukan sakit banget .. nanti juga hilang ga berapa lama .. ini kan normal ..”

__ADS_1


“Iya sih ..” tukas Reiji.


“Ya udah yuk ah ..” ajak Malia.


“Aku gendong ya? ..”


“Ih .. apaan sih?!” sergah Malia.


“Biar kamu ga ngerasain perih karena jalan, Lia sayaang ..” kata Reiji. “Jadi biar aku gendong sampai ruang makan.”


“Ih engga ah!”


“Dosa loh membantah suami ..”


“Engga kalo suaminya lebay ..”


Namun ..


Syut!.


Tubuh Malia sudah terangkat ke udara.


“Rei!”


Dan Malia dengan spontan memekik atas perlakuan Reiji yang menggendongnya ala bridal style itu.


“Turunin ga!” protes Malia sembari mendelik pada Reiji.


“Ga!” tukas Reiji.


“Turunin ih!” protes Malia lagi.


Tidak Reiji gubris protes Malia itu yang sedikit meronta untuk diturunkan dari gendongannya.


“Diem sayang, kalo kamu ga bisa diem, nanti kita nge gelinding bareng kebawah gimana? ..” ucap Reiji.


“Lebay!”


Setelahnya Malia pasrah, dan Reiji terkekeh saja sembari membawa Malia turun untuk pergi ke ruang makan dan mengisi perut mereka.


**


Hatiku berdebar tak karuan kala berdiri di dekat jendela yang sedikit aku singkap gordennya sambil menunggu Malia keluar dari walk in closet.


Setelah Malia menyatakan kesediaannya untuk memberikan hakku sebagai suaminya, dan aku memastikan jika Malia tidak merasa terpaksa untuk memberikannya, aku merasa lega dan hatiku menjadi berbunga-bunga.


Dan sesuatu yang sedikit nakal terbersit di otakku.


Aku ingin melihat Malia memakai gaun tidur seksi seperti yang ia pakai saat kemarin malam di hotel.


Yang mana katanya dipersiapkan oleh Avi, Mamaku serta Mama mertuaku untuk malam pengantinku dan Malia.


Dan dipakai Malia karena mungkin ia berpikir jika aku akan meminta hakku kemarin malam saat di hotel.


Yang membuat kepalaku pening, baik kepala atas dan kepala bawah, melihat Malia dalam balutan baju tidur seksi nan menggoda seperti itu.


Benar-benar membuatku hampir gila menahan hasrat, demi kenangan akan indahnya malam pengantin yang aku inginkan terjadi di kamar yang selama ini aku tempati sebelum aku menikah dengan Malia.


Dan aku ingin melihat Malia dalam balutan gaun tidur nan seksi itu saat kami akan benar-benar melakukan ritual malam pertama kami sebagai suami istri. Dimana saat Malia keluar dari walk in closet, aku tak kuasa menahan salivaku untuk ku telan.


Tuhan yang selama ini baik padaku, rasanya semakin baik saja dengan memberikan Malia menjadi istriku.


Paras cantik dan kulit kuning langsat nan mulus saja sudah membuatku bahagia sebagai seorang pria, memiliki istri nan cantik jelita.


Dan dengan balutan gaun tidur seksi yang Malia pakai itu, membuatku benar-benar meneguk saliva dengan kerasnya. Belum lagi bagian atas yang menyembul seolah mengajakku bermain petak umpet itu, sungguh menggetarkan jiwa kelakianku yang tak sabar buat ngikutin iklan salah satu biskuit warna hitam itu.


Dibuka, diputar, dijilat, di...


Ah aku merasakan si ‘dedek’ dibawah mulai menggeliat tanpa akhlak.


Betapa aku ingin cepat-cepat mengoyak Malia tanpa sisa, membayangkan tubuh yang bentuknya bak gitar spanyol dibalik gaun tidur seksi berwarna marun itu.


Tapi tidak, aku ingin menikmati dulu buruan ku itu inci demi inci sebelum aku melahapnya bulat-bulat.


Dan memang akhirnya aku berhasil menelan Malia bulat-bulat, bahkan sampai dua kali aku telan, meskipun aku tahu jika untuk berhubungan badan yang pertama kali, pastinya perempuan akan merasakan sakit di pusat inti mereka.

__ADS_1


Aku sempat menanyakannya pada Malia, tapi Malia bilang hanya sakit sedikit.


Dan saat aku bertanya, apa boleh aku ‘nambah’, Malia menganggukkan kepala.


Ya ga mungkin aku lewatkan buruan lezatku itu kunikmati untuk yang kedua kalinya.


Karena Malia begitu lezat. Terlalu lezat hingga membuatku ketagihan rasanya. Dan berat untuk aku lepaskan.


Lalu saat pagi datang, aku kembali menikmati santapan lezatku di kamar mandi sembari berendam di dalam bathtub bertabur kelopak mawar.


Ah, indahnya dunia, kala pagi sudah melihat tubuh polos Malia dan merasakannya bergerak seksi di atasku dengan wajah serta sesekali suara seksinya terdengar melirih nikmat, yang membuatku mengumpat dalam hati, akibat sensasi yang membuatku menggelepar setelahnya.


Aku bahagia. Sungguh-sungguh bahagia.


Dan semoga aku dan Malia bisa diberikan rezeki seorang atau bahkan lebih, bayi lucu yang akan menambah kebahagiaanku ini.


Okelah, nanti saat bulan madu aku akan memaksimalkan waktuku dan Malia dalam kamar hotel tempat kami berbulan madu nanti.


Biar aku dan Malia bisa lebih fokus membuat bayi.


**


“Rei turunin ga!” ketus Malia.


“Ga!”


“Turunin ih!”


“Diem sayang, kalo kamu ga bisa diem, nanti kita nge gelinding bareng kebawah gimana? ..”


“Lebay!”


Sepasang pengantin baru yang berdebat karena sang suami yang menurut sang istri lebay itu karena menggendongnya dengan alasan mengurangi sakit pada pusat intinya jika berjalan, akibat telah tiga kali dikoyak oleh sang suami. Dua kali pada malam, dan sekali saat pagi. Dan perdebatan tersebut berakhir dengan sang istri yang akhirnya pasrah digendong ala bridal style oleh sang suami, setelah sebelumnya sempat meronta.


Berhubung apa yang dikatakan Reiji benar, jika Malia tetap meronta, bisa-bisa mereka jatuh bersama, karena sudah berada di tangga untuk turun ke lantai bawah.


“Malu tau, Rei..” gumam Malia yang sudah membayangkan akan kena ledekan habis si Avi, bahkan kedua mertuanya dengan Reiji menggendongnya begini. “Di cengin pasti nanti aku nih! ..”


“Nanti aku belain.. tapi ada hadiahnya, ya?” tukas Reiji. Malia segera mencebik.


“Katanya gendong aku buat mengurangi perih aku .. kalo ujung-ujungnya minta hadiah, yang mana aku tahu apa yang akan kamu minta, sama aja boong kamu gendong aku gini, nanti dibikin perih lagi!”


Dan Reiji sontak tertawa renyah mendengar gerutu dari Malia yang bibirnya sedikit maju itu.


“Ngegemesin banget sih Nyonya Reiji?”


Reiji kemudian cengengesan setelah mencuri ciuman singkat di bibir Malia yang tadi sempat dikerucutkan oleh si empunya.


“Rei, ih!”


“Haha!..”


Reiji tertawa lagi karena Malia kembali mencebik melayangkan protes dengan meremas bibirnya.


Reiji bahagia. Sikap Malia yang sudah tak lagi canggung padanya itu, meski sempat meremas bibirnya bak sedang melakukan KDRT tadi justru malah membuat Reiji senang.


Bagi Reiji, itu artinya pernikahan dia dan Malia berjalan normal seperti pasangan pada umumnya. Saling bercanda, dan tentunya ada pengharapan dapat berbagi suka dan duka sampai seterusnya tanpa ada masalah yang kiranya bisa menimbulkan perpisahan yang terpaksa dilakukan.


Jangan, jangan sampai – Reiji berharap.


Biar ajal saja yang memisahkannya dengan Malia.


Tapi nanti, kalo udah tua.


Saat rambut kian memutih dan kulit pun menyusut.


Dan sudah juga punya anak-anak bahkan cucu yang banyak.


Kalo sekarang mah sayang. Jangan sampe ketemu ajal cepat- cepat – kalo kata Reiji.


Umur panjang ia minta pada Yang Kuasa untuknya dan Malia. Supaya bisa produktif bikin bayi.


Orang lagi hot-hot nya gini. Jadi, Reiji akan rajin berdoa, agar selain jodohnya panjang dengan Malia, umurnya pun juga, dan umur Malia tentunya.


**

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2