
Selamat membaca....
**************************
MALIA
Aku langsung memfokuskan pandanganku pada Rei sesaat setelah ia bilang,
“Kalo gitu kamu berenti kerja ya?....”
Beberapa saat setelah Rei memulai pembicaraan soal program memiliki momongan yang sudah pernah kami bicarakan sebelumnya, serta memang sudah kami sama-sama rencanakan untuk segera direalisasikan.
“Emang kenapa aku harus berhenti kerja karena kita mau program punya bayi, Rei?....“ responsku kemudian.
“Ya kayaknya kan kamu yang bekerja saat program punya anak kita udah berjalan nanti, sedikit banyak akan mempengaruhi hasil.”
Begitu jawaban Rei. “Gitu ya?....” tanggapku, sambil melipat bibirku.
“Yaa paling engga, dengan kamu yang ga kerja itu, kalo menurut aku sih ya....”
Lalu Rei menimpali tanggapanku.
“Kamu bisa lebih rileks dengan tanpa memiliki tekanan pekerjaan, jadi kemungkinan kita ikut salah satu dari promil kamu nanti bisa mencapai hasil yang maksimal dengan kamu mengistirahatkan diri dari pekerjaan kamu yang suka hectic itu kan?”
“hm,” responsku, yang tidak yakin ingin mengiyakan penuturan Rei barusan. “Kita bahas soal ini nanti aja ya, Rei?....” ucapku seraya menoleh pada Rei yang mengangguk kemudian.
--
“Mau makan malem dimana?” tanya Rei padaku dengan biasa.
“Bebas aja, Rei....” jawabku pun dengan biasa.
“Tentuin dong, Yang-“
“Ya terserah aja, Rei. Aku ikut aja....”
Aku menukas ucapan Rei sambil aku menyalakan monitor yang ada di tengah mobil.
Rei berdecak kecil. Lalu kudengar ia bicara, “Nanti kalo gue yang nentuin dan ternyata ga sesuai, sama aja boong....”
Hanya saja ucapan Rei itu lebih terdengar seperti gumaman, namun aku masih bisa mendengarnya meski aku nampak sibuk dengan menyentuh layar monitor kecil yang ada di dalam mobil Rei itu.
Dan saat aku berucap untuk bertanya kenapa, “Hm?....” Rei merespons dengan deheman, yang langsung aku jawab dengan ucapan yang bernada pertanyaan.
“Tadi kamu ngomong apa?....”
Seraya aku bertanya pada Rei, seolah aku tidak mendengar gumamannya yang terdengar seperti sedang merasa sebal.
Karena gumaman Rei yang sempat tertangkap di indera pendengaranku itu terdengar seperti sebuah gerutuan, dengan dirinya yang memandang ke arah jalanan di depannya saat ia menggumam tadi.
“Aku ga ngomong apa-apa kok, Yang.”
“Tapi perasaan aku denger kamu ngucapin sesuatu.”
Aku coba memancing Rei, namun ia menggeleng sembari menoleh sesaat padaku. “Perasaan kamu aja kali?” ucap Rei kemudian. “Aku ga ngomong apa-apa kok-“
“Hmm-“
--
“Rei ....” panggilku pada Rei, saat kami telah sampai ke apartemen kami.
“Ya?-“
“Soal permintaan kamu tadi-“
“Ga usah kamu pikirin soal itu ....” Rei menukas ucapanku seraya ia tersenyum. “Nanti jadi beban,” lanjutnya dengan tetap menampakkan senyuman.
Namun aku tahu, sedikit banyak hati Rei sedang merasa tidak nyaman karena diriku.
--
“Mau pesen apa, Yang? ..”
Rei yang tidak langsung masuk ke kamar kami dan duduk di sofa ruang tamu itu bertanya padaku.
“Jangan bilang terserah loh ya? ..” Rei berucap. “Bingung nanti aku.”
Sambil Rei menoleh ke arahku dan tersenyum tipis.
“Kan percuma nanti kalo kamu bilang terserah ke aku, trus aku pilih eh nanti malah kamu ga mau sama pilihan aku.”
Lalu Rei berucap lagi sedikit panjang. Dan rasanya kalimat sedikit panjang yang barusan Rei ucapkan itu, adalah sebuah sindiran untukku.
“Setelah aku pikir-pikir, kayaknya aku mau makan mi instan aja deh-“
“Kamu udah makan mi instan kemarin,” tukas Rei. “Ini, pilih sendiri makanan yang kamu mau ..”
Rei menyodorkan ponselnya kepadaku yang sudah berdiri setelah melepas sepatu kerjaku. “Kamu aja yang pilihin makanya, aku mau ganti baju.”
__ADS_1
Aku menjawab dan mengulas senyuman.
“Apapun pilihan aku jangan protes.”
“Iya-“
“Ya udah.”
--
Meskipun Rei bersikap sama perhatiannya padaku seperti biasa, namun aku tau jika ada rasa tidak nyaman dalam hatinya karena aku yang terkesan menolak sarannya untuk berhenti bekerja saat program kehamilan sudah benar-benar direalisasikan nanti.
Aku sih tidak menolak betul saran Rei itu yang memang sudah pernah aku pikirkan sebelumnya. Hanya saja, aku mungkin membutuhkan waktu untuk berpikir jika aku sampai benar-benar berhenti bekerja dimana aku setidaknya harus memiliki kesibukan ringan daripada hanya stay di apartemen.
Orang hamil kan, bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa?
Dan aku bukan tipe perempuan yang betah ga ngapa-ngapain, sekalipun aku sedang hamil dan punya anak nanti.
***
Malia tidak langsung bergegas untuk mandi, setelah berpamitan dari hadapan Reiji untuk bebersih diri.
Malia hanya membersihkan wajah serta berganti pakaian saja dan menunda mandi sampai setelah makan nanti.
Lalu setelahnya Malia keluar dari kamar mandi.
“Ga mandi? ..” Malia disambut oleh pertanyaan Reiji saat ia telah keluar dari kamar mandi.
“Nanti aja abis makan-“
“Hmm,” tukas Reiji.
“Udah pesen makanan?”
Gantian Malia yang bertanya.
Reiji mengangguk.
“Udah.”
Seiring dengan jawaban yang singkat saja Reiji berikan pada Malia.
“Kalo kamu mau mandi, mandi aja. Biar aku yang tunggu pesenannya ..”
“Santai aja, aku juga cuma mau cuci muka sama ganti baju doang,” sahut Reiji yang kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Malia.
***
Aku sama sekali tidak berniat untuk bersikap sedikit ketus pada Lia.
Hanya sedikit terganggu dengan sikap dan ucapannya saat di mobil tadi yang terkesan dia menolak sekali untuk berhenti kerja.
Padahal dia nampak sangat antusias waktu kami membicarakan soal melakukan program untuk memiliki anak, dan sempat berucap kalau dia akan melakukan apa yang aku minta untuk itu jika memang demi kebaikan.
Jadi dengan Lia bersikap seperti saat di mobil tadi, sedikit banyak membuatku agak kecewa mendapati Lia lupa pada ucapannya sendiri.
Ucapan yang keluar dari mulutnya tanpa aku yang meminta Lia untuk melakukan segala hal yang aku inginkan.
Namun kurasa sikap setengah ketusku ini jangan sampai keterusan, karena ego meraja.
Hubunganku dan Lia sudah cukup harmonis, dan jangan sampai terganggu oleh ego.
“Rei ..” aku mendengar suara Lia yang memanggilku.
“Iya?”
Aku menyahut seraya menoleh pada Lia yang menyusulku masuk ke kamar.
“Pesenannya udah dibayar apa belum, Rei?-“
“Udah-“
“Hmm. Ya udah, kalo gitu aku siapin buat tips driver ojolnya aja.”
“Yang,” Aku menahan Lia yang hendak meraih tas kerjanya. Lia pun terkesiap. Karena aku sedikit menarik tubuhnya, hingga kini tubuh kami rapat. “Maaf ya?”
“Maaf buat? ..”
Lia lalu bertanya.
Sambil ia memegangi lenganku yang menahan pinggangnya lalu satu tangannya bergerak membelai rambutku.
“Aku agak ketus sama kamu,” jawabku. “Maaf, cuma agak baper tadi sama sikap kamu waktu di mobil pas bahas kamu buat berhenti kerja.”
“Iya. Ga apa-apa. Aku paham kok, Rei ..” tutur Lia lembut.
“Ga marah kan?”
“Menurut kamu dengan sikap aku begini, aku marah?”
__ADS_1
Lia kemudian melingkarkan tangannya di leherku. Akupun tersenyum senang.
“Ya takutnya.”
Aku berucap kemudian.
“Kalo kamu marah kan berabe. Bisa hilang jatah kegiatan produksi bayi.”
Lia terkekeh geli.
Lalu setelahnya ia mengecup singkat bibirku.
“Abis makan ya, Yang? ..” Dan aku memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan proposal ‘jatah’ suami malam ini.
***
Dibeberapa hari berikutnya Reiji dan Malia benar-benar menjadwalkan diri mereka untuk bertemu dengan salah satu dokter yang direkomendasikan oleh salah seorang kerabat keluarga Reiji yang akan membantunya dan Malia dalam usaha mereka memiliki momongan.
Serangkaian tes juga Reiji dan Malia lakukan, dan mereka ikuti dengan tenang dan tertib selain memperhatikan dengan seksama setiap perkataan dokter mengenai promil yang akan dijalani Malia, termasuk juga Reiji yang akan berpartisipasi tentunya.
“Nanti biar aku aja yang ngambil hasil tesnya,” ucap Reiji saat ia dan Malia telah selesai di rumah sakit tempat keduanya berkonsultasi sekaligus melakukan serangkaian tes untuk promilnya Malia. “Lusa pagi udah bisa diambil ini,” tambah Reiji. “Nanti pas aku pulang dari Denpasar, aku sekalian mampir ke sini dari bandara,” ucap Reiji lagi. “Tapi mungkin sore aku ambilnya.”
“Bukannya bisa kalo minta dikirim via email aja ya hasil tes kita, Rei?” ujar Malia. “Daripada repot?” tambahnya.
“Ga apa, aku ambil langsung aja. Siapa tau ada yang dokter Dewi mau sampaikan atau tambahkan perihal promil kamu? ..”
“Aku perlu ikut?-“
“Ga usah, Neng cukup tunggu Abang di rumah, sambil pake baju seksi.”
“Amit deh.”
Malia mendengus geli.
“Yah itu program utama promil, Yang. Harus sering-sering ‘bercocok tanam’”
“Kalo kamu mah kelewat sering, Rei. Ga ada puasnya perasaan ..”
Reiji terkekeh mendengar sahutan Malia barusan.
“Eh iya, Rei .. lusa nanti kamu ultah kan?-“
“Asik mau ngasih kado spesial nih kayaknya?”
“Pasti mesum otaknya nih.”
Reiji pun tergelak.
“Tau aja, istrinya Abang Rei.”
Malia mendengus geli lagi.
“Candle light dinner, mau? ..” tanya Malia.
“Mau tapi dengan satu syarat.”
“Apa?” tanya Malia.
“Kadonya kamu, dipakein pita-“
“Ga jauh-jauh!”
Setelahnya Reiji dan Malia terkekeh bersama dan masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah sakit yang mereka datangi untuk berkonsultasi sekaligus periksa kesuburan dalam rangka program untuk memiliki anak dengan segera.
***
Hingga lusa yang direncanakan oleh Malia dan Reiji untuk sebuah candle light dinner dalam rangka merayakan ulang tahun Reiji yang sudah Malia siapkan dengan sebaik mungkin pun tiba, selain ucapan selamat ulang tahun yang berujung dengan ritual terfavorit Reiji dari Malia yang memang sudah menyiapkan dirinya karena permintaan ‘jatah’ suami dari Reiji saat jam 12 malam ketika waktu penambahan usia Reiji tiba itu datang, sudah Malia perkirakan.
“Kalo kiranya ada perubahan rencana kepulangan kamu ke Jakarta, kasih tau dari siang loh ya, Rei? ..” cetus Malia saat Reiji sudah hendak berangkat bekerja. Reiji pun mengangguk.
“Insya Allah engga akan ada perubahan, karena kamu tau sendiri kalau orang-orang di keluarga Adjieran Smith terlalu jarang untuk asal mengubah jadwal mereka,” ucap Reiji kemudian.
Malia pun mengangguk senang.
***
Dan rasa senang Malia masih terus menyelimutinya, saat Reiji memang pulang sesuai jadwal.
Dimana Malia gegas pergi menuju hotel tempatnya membooking sebuah tempat dalam satu restorannya untuk candle light dinnernya dan Reiji selepas bekerja.
Sebuah kamar hotel juga di booking Malia sebagai satu dari hadiahnya untuk Reiji, dan kini Malia sudah berada di dalamnya untuk mempersiapkan diri sampai Reiji datang.
Namun sudah setengah jam dari waktu yang sudah ditentukan untuk candle light dinnernya dan Reiji, tapi batang hidung suaminya itu belum juga nampak.
Lalu Malia juga tidak berhasil menghubungi Reiji dalam selang waktu tersebut.
**
Bersambung ..
__ADS_1